
"Antyka" Luthfi menatap tajam ke arah Antyka. Namun Antyka malah tersenyum nakal.
" Aw...aw...aw. Sakit kak Luthfi, lepasin telinga Anty. Nanti Anty bilang pak Alif, kalau kak Luthfi menjewer telinga istri cantiknya ini"
"Bilang saja sana, sekalian kak Luthfi bilangin istrinya suka ngintip orang"
" Anty gak ngintip loh, Cuma ..., memergoki adegan romantis" ucap Antyka yang masih bisa tertawa setelah mendapat jeweran dari kakaknya.
" Mana suami kamu, katanya mau kesini ?"tanya Luthfi setelah melepas telinga adiknya
"Nanti sore"
"Hmm" kemudian mereka duduk
"Anty..." suara dari gadis kecil. Livia namanya, putri kedua dari Luthfi dan Karin
"Ponakan Anty yang cantik, apa kabar?" Antyka menggandeng Livia untuk duduk di dekatnya.
Di ruang keluarga, Karin meletakan camilan kesukaan adiknya.
"Kamu masih doyan donat kan, Anty?" tanya Karin
" My favorite" jawab Antyka sambil langsung menyomot satu donat dengan toping kacang.
"Kak Luthfi sudah dengar sih, rencana resepsi pernikahan kalian, Mama yang kasih kabar. Oh ya .., Ibra sudah berangkat lagi ke Singapura, Anty. Tidak usah kasih kabar lagi. Dia lagi sibuk banget" Luthfi memulai pembicaraannya dengan Antyka.
"Kok gitu sih? kemarin bilang sama Anty mau stay di Jakarta"
" Yah sudahlah, tiap orang kan punya agenda masing masing. Mungkin saja, ada hal yang terjadi di luar prediksinya, Who know..?" Ucap Kak Luthfi pada Antyka. Dalam hati Luthfi, tidak ingin membuat Ibra makin terluka dengan mengabari tentang resepsi pernikahan.
"Mungkin juga" balas Antyka ragu dan ada kecewa.
"Antyka.., kak Luthfi harap kamu bisa membatasi diri. Sekarang kamu sudah bersuami. Jaga kehormatan suamimu. Bagaimanapun Ibra tetap pria lain yang bisa membuat suamimu cemburu." Luthfi berucap dengan penuh penekanan pada adiknya. Luthfi berharap semua akan baik baik saja antara Alif, Ibra, juga Antyka
Antyka hanya mengangguk. Kemudian Luthfi pergi ke kamarnya untuk mengganti baju. Sedang Antyka masih di ruang tengah bersama sang ponakan cantik, Livia.
"Anty, Livia punya sesuatu untuk Anty" Tangan gadis kecil itu mendorong dorong Antyka untuk masuk ke kamarnya.
"Apa sih via" Antyka mengikuti keinginan Livia masuk kedalam kamar.
"Lihat, ini untuk Anty dan om Alif" Livia memberikan kotak yang terbungkus cantik.
" Wah..., apa ini?" Antyka memutar mutar kotak di tangannya.
"Buka di rumah dong, sama om Alif" Livia tersenyum melihat Antyka yang penasaran
" Okey" Antyka mengusap lembut kepala Livia. "terima kasih Livia" tidak lupa pelukan hangat untuk sang ponakan yang sangat pendiam dan cantik itu.
**
Alif sudah berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak sangat lelah. Hati Antyka tersentuh
"Pak Alif capek ?" Sambil meminta Salim pada suaminya. Tidak lupa Antyka membawakan tas yang Alif bawa. " Duduk dulu, biar anty buatkan kopi ya ?" Antyka cepat bergegas tanpa menunggu jawaban dari Alif.
Alif duduk di sofa ruang tamu. sambil menatap ruangan sekitar yang tampak polos. Hanya ada sofa warna coklat tua dan di sudut ruangan ada meja kecil tempat guci ukuran sedang dengan bunga mawar yang segar.
Alif memejamkan matanya melepas lelah. Setelah seharian ia mengajar di kampus, mengisi seminar dan melawan arah untuk menjemput sang istri. Naasnya bersamaan dengan jam pulang kantor dan terjebak macet. Lengkap sudah ...
"Ini kopinya, di minum dulu!"
" Makasih ya" menerima cangkir kopi yang mengeluarkan aroma kas. Menyesap beberapa teguk, membuat perasaannya kembali membaik. Apalagi ia melihat Antyka yang sangat perhatian. Perfect.....
" Alif..." Sosok Luthfi muncul dari dalam diikuti oleh Karin dan Livia. Mereka ikut duduk di ruang tamu menyambut Alif.
Setelah berbasa basi. Alif mengutarakan maksudnya, ingin meminta doa restu pada kak Luthfi untuk mengadakan resepsi. Kemudian obrolan pun mengalir ke mana mana.. Tidak terasa waktu sudah menjelang malam.
__ADS_1
Usai menunaikan magrib bersama di rumah Kak Luthfi, Alif pun meminta ijin untuk membawa Antyka pulang.
"Sudah malam, apa tidak lebih baik menginap di sini lif. Kamu juga terlihat lelah"
"Kita pulang saja kak, cuma sebentar kok. Sudah jam segini insha Allah tidak macet"
"Ya sudah hati hati di jalan"
Mobil Alif melesat ke jalanan menuju Apartemennya yang jaraknya cukup jauh. Antyka duduk tenang di samping Alif. Pandangan matanya lurus menatap jalanan yang cukup lancar seperti dugaan Alif.
Alif terbangun di keheningan malam. Saat hawa dingin menusuk tulang. Alif duduk di atas ranjang bersandar disisinya. Sebuah mimpi yang membuatnya ketakutan. Alif menatap Antyka yang sedang terlelap.
Wajah itu semakin hari semakin membuat Alif tidak bisa berpaling. Otaknya hanya berputar tentang sosok istrinya saja. " Antyka kamu tau betapa besar dan dalamnya perasaanku untukmu? Aku selalu berharap cinta dari mu" Jemari Alif menyisir wajah Antyka.
Mimpi Alif :
Alif melihat Antyka sedang tersenyum ke arahnya. Saat itu, ia duduk di sebuah taman yang sangat indah. Antyka mendekat dengan segala pesonanya. Alif begitu bahagia dan antusias memeluk Antyka saat itu juga.
"Aku mencintaimu" kalimat itu begitu jelas di ucapkan Antyka untuk Alif.
" Aku lebih mencintaimu" balas Alif pada Antyka.
Alif tergugu saat Antika menghujani kecupan di wajahnya . Serasa ia melayang, terbang karena rasa bahagia.
Namun entah apa, ada kekuatan yang menarik Alif menjauh dari Antyka. Mereka saling memanggil. Antyka mengejar tubuh Alif yang kuat terbawa oleh sebuah kekuatan yang dahsyat.
Alif menatap Antyka iba, yang terus berusaha menggapainya tanpa lelah.
Alif tersentak, saat tangan Antika memeluknya erat. Bayangan buruk tentang mimpinya pun pudar.
Alif membelai rambut Antika, Dalam hatinya bermohon. Jangan pernah pisahkan dengan wanita yang sangat ia cintai. Meski hanya dalam mimpi, Rasa sakit dan kehilangan itu begitu perih.
Alif mengecup kening dan membenarkan letak selimut Antyka, Kemudian menuju kamar mandi untuk bersuci. Tak ingin terus gelisah, Ia mendirikan salat malam. Mencari damai, mengadu pada sang pemilik semesta. Bermunajat khusu berharap di beri kemudahkan untuk cinta mereka agar tetap bersatu.
" Pak Alif sudah bangun?" wajah tak berdosa Antyka itu menatap bingung. ekspresi wajah Alif membuat ia bertanya tanya.
"Sudah dari tadi. Anty, berjanjilah padaku, jangan pernah tinggalkan aku, walau pun hanya sekedar keinginan yang terlintas di benakmu" ucapan itu tiba tiba saja meluncur dari bibir Alif
Antyka yang baru saja terbangun belum bisa bereaksi apapun selain mengangguk. Kemudian lengan kokoh Alif sudah merengkuh tubuh Antyka.
Sesaat hening, hanya nafas mereka yang terdengar. Perasaan nyaman dan terlindung.
"Anty sayang pak Alif" ucap Antyka lirih. Ia sudah merasakan kedekatan yang intim. Dan perasaan disayangi oleh Alif
"Aku menyayangimu 1000 kali lebih banyak" Kecupan diujung kepala Antyka mengahiri drama romantis mereka di pagi hari ini.
"Kita subuh dulu, jangan terlambat"
Antyka menyingkirkan selimut dan bergegas untuk bersuci. Begitu juga Alif yang sudah batal sejak tadi.
**
"Sarapannya yang banyak, kenapa cuma makan sedikit, Kamu gak selera makan?" Ujar Alif saat mereka sarapan pagi.
"Anty kaya yang gak selera dan mual, pak Alif "
" Pusing, atau perutnya sakit?" Alif langsung berdiri dari kursi dan memegang kening Antyka. " Gak demam sih, Alhamdulilah. Kemarin makan apa di luar, makan pedes?" Alif terus mengintrogasi Antyka.
"Iya makan seblak bareng zeind, Tapi gak pedes banget kok"
"Dah, minum obat ini" Alif menyodorkan obat pada Antyka. " Di kunyah ya, biar cepet sembuh"
" Besar banget obatnya, ada yang kecil? Pahit gak pak Alif, kok dikunyah sih?"
"Obat mag ya sebesar itu, rasanya manis kok gak pahit. Sudah cepet diminum!" sambil menyodorkan segelas air putih.
__ADS_1
Antyka menerima dan mengunyah obatnya sembari meminum air putih untuk mengurangi rasa obat yang meski katanya tidak pahit. Namun tetap saja tidak enak.
Alif pergi ke dapur menuangkan air hangat, jahe dan ditambah madu dalam botol kusus.
"Ini nanti diminum kalau terasa mual"
" Anty kaya anak TK pak Alif, bawa bawa botol kaya gini"
"Gak papa"
Terpaksa Anty membawa apa yang sudah Alif siapkan.
"Jangan cemberut, hari ini kamu punya supir pribadi yang ganteng. Pulang dan pergi kuliah aku antar"
"Pak Alif gak ngajar hari ini?" Tanya Antyka.
"Aku free" Alif menggandeng lengan Antyka keluar dari Apartemen. Setelah mengunci pintu mereka berjalan kembali menuju lantai bawah. Jati mereka bertautan, seperti dua insan yang sedang kasmaran tidak ingin berpisah.
" Jangan lupa, teman teman kamu juga di undang, Anty. Aku ingin semua orang tau tentang hubungan kita. Tidak ingin salah paham seperti kemarin kemarin" Alif melirik Antika saat mulai menjalankan mobilnya keluar dari area Apartemen.
"Iya, Anty undang kok, tapi hanya teman dekat saja"
"Ya, sudah gak papa. yang penting ada yang tau"
" Salim pak Alif" pinta Antyka saat sudah sampai di parkiran kampusnya.
" Aku mau ini, ini, dan ini" Alif menunjukan kedua pipinya dan terakhir di bagian bibir"
Antyka langsung cemberut " Malu ah kalo disini, kenapa tidak minta tadi, waktu masih di rumah" .
" Oke nanti di rumah saja aku Mita yang banyak" Alif terkekeh
" Anty , gak mau pulang kalau begitu. Mau menginap saja di rumah mama"
"Kamu takut Anty? jangan takut, aku hanya bercanda. Sudah sana masuk! belajar yang pintar. Biar dr Alif bangga kalau memiliki istri yang tidak hanya cantik saja tapi juga pintar" ucap Alif sambil membiarkan punggung tangannya di cium.
Mobil Alif kembali berputar untuk keluar dari kampus Antyka. Perasaanya begitu bahagia. Meski bayangan banyangan mimpi buruk semalam masih menghantuinya. Namun melihat sikap Antyka, Alif menjadi nyaman dan terobati.
***
Kediaman tuan Hendro
Ibra masih menolak keinginan tuan Hendro untuk segera mengambil alih puncak pimpinan perusahaan milik sang ayah kandung. Ibra belum bisa tinggal di Jakarta. Hatinya belum kuat untuk bertemu Antyka
" Sebenarnya apa yang membuat kamu begitu berat untuk tinggal di Jakarta, Zigra? Kalau boleh, Papi bisa meringankan apa yang sudah memberatkan langkahmu. Tolong ceritakan Zigra!"
" Pi, maafkan Ibra, beri Ibra waktu beberapa tahun. Ibra janji akan membantu papi dan mami. Zigra hanya minta pengertian dari papi. Ibra belum bisa bercerita saat ini"
" Zigra, papi akan lakukan apapun untuk kamu, Papi ini orang tuamu nak. Semua yang ada ini juga milikmu"
" Pi, Ibra juga tau papi sangat menginginkan kita dekat setelah sekian lama terpisah. Begitu juga Ibra, Tapi Ibra belum bisa untuk tinggal di sini. Ijinkan Ibra mempersiapkan diri, Pi"
" Baiklah, tapi setidaknya papi akan mengumumkan keberadaan mu, sebagai ahli waris papi"
Tiba tiba saja nyonya Hendro datang dengan wajah cerianya, menghampiri anak dan suaminya yang sedang berbincang.
"Pi, ada undangan dari prof Damar. Mereka akan merayakan pernikahan putri mereka. Kita datang bareng Zigra ya Pi, Mami sudah tidak sabar untuk mengatakan pada dunia kalau putra mami masih hidup dan sangat tampan "
" Ide bagus mi, Zigra...., mau ya ikut dengan mami dan papi? teryata prof Damar berbesan dengan kolega papi, Haris Pradipta. Pasti akan banyak datang orang penting dan kolega papi yang lain disana"
" Iya Pi, di sana kita bisa mulai memperkenalkan, Ibra sebagai ahli waris kita" ucam mami lebih bersemangat lagi
Ibra tidak bisa menyalahkan orang tuanya yang begitu Antusias. Ibra hanya bisa mendesah, menyugar rambut di kepalanya. Hatinya bimbang. Antara menjaga hatinya atau menjaga perasaan kedua orang tuanya yang begitu bersemangat menghadiri pesta pernikahan wanita yang sangat ia cintai. Bisakah ia bertahan diacara itu dengan sikap yang biasa biasa saja.
Ibra berpamitan pada orang tuanya untuk kembali ke kamar. Dan saat ini Ibra berdiri di depan jendela. Ibra memandang langit pagi yang cerah. Warnanya biru muda tampa terhalang awan putih sedikitpun. " Antyka semoga kau selalu bahagia. Aku tau kau sudah menjadi milik pria lain. Tapi ijinkan aku tetap menyimpan rasa ini di dalam sudut hatiku yang kecil. Terlalu indah perasaan ini untuk aku hapus. Terlalu dalam rasa yang terukir di dadaku. Selamat menempuh hidup baru Antyka" gumam Ibra dari balik jendela kamarnya.
__ADS_1