
Langit terlihat mendung, Semendung hati Alif dan ayah Haris. Mereka berjalan menyusuri koridor menuju lobi rumah sakit. Dari jauh sudah tampak Rajes. Begitu melihat tuan Haris ia sedikit tergopoh menghampiri.
" Saya bantu tuan" Rajes menawarkan dirinya untuk mendorong kursi roda Alif. Kentara sekali aura mendung di wajah mereka.
Ayah Haris membuka pintu mobil sendiri, memberi akses pada Rajes untuk memindahkan Alif ke dalam mobil mereka. Rintik rintik gerimis menambah sahdu perasaan hancur yang berkecamuk dalam dada.
"Terima kasih Rajes untuk bantuan mu selama ini" Ayah Haris mengucapkan terima kasih saat mereka sudah sampai di Apartemen. Rajes hanya tersenyum dan membungkuk hormat kemudian berlalu setelah tugasnya selesai.
"Tidurlah Lif, kalau kamu lelah. Ayah akan mempersiapkan keberangkatan mu ke Amerika" Ayah sudah membuka ponselnya untuk menghubungi sekretarisnya.
"Beri Alif waktu yah"
"Secepatnya Lif, jangan menunda. Ayah akan jelaskan keadaanmu pada bunda juga istrimu. Mereka pasti berpikiran yang sama dengan Ayah untuk segera melakukan pengobatan"
Alif masih termenung. Tidak lagi menjawab ucapan Ayah. Serangkaian tindakan medis harus kembali ia jalani. Jaringan abnormal yang di temukan pada tubuhnya, bersifat ganas. Sebagai dokter ia sangat tau betapa pentingnya waktu. Setiap detik sangatlah berharga untuk melawan penyakitnya.
" Ayah harus pulang besok, Mike yang akan mengurus mu di sini" Terdengar suara tegas Ayah Haris. " Kamu pasti kuat Lif, Ayah yakin itu. Klan Pradipta bukan orang cengeng. Kita pejuang tangguh" Tepukan dibahu Ayah saat ini begitu hangat.
**
Semenjak hasil biopsi keluar, Alif semakin terpuruk. Ia mengurung diri dalam kamar. Semakin enggan untuk berkomunikasi. Keadaannya sangat mengkhawatirkan. Bunda dan Ayah selalu membesarkan hatinya meski dari jarak yang jauh.
Perasaan menyesal telah membawa Antyka dalam kehidupannya. Bersalah telah menghancurkan masa depan Antyka. Meski sepenggal kenangan dengan Antykalah membuatnya masih bertahan untuk menjalani hidup.
Alif mengusap foto Antyka dengan hati tersayat. Melihat senyum wanita itu, selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Membaca semua pesan yang Antyka Kirim setiap harinya berulang. Meski Alif tidak pernah membalasnya.
Alif meminta kedua orang tuanya berjanji untuk menyembunyikan keadaannya dari Antyka. Alif tidak ingin membuat Antyka meratapi kemalangan nya, bagi Alif ini terlalu menyakitkan.
Saat matahari sudah mulai memancar, Alif membuka pintu Apartemennya. Alif mengira Mike yang datang menggantikan sang Ayah yang harus bertemu klien.
" Kamu...!" Alif memalingkan mukanya. Wajahnya kentara menyiratkan rasa tidak suka. "Mau apa kemari?" Alif terlihat nyalang begitu tau tamu yang datang adalah dr Farah
Farah mendengkus dengan sambutan Alif . Pria itu tetap angkuh seperti biasanya. Meski sambutan Alif sangat menyebalkan, dr Farah tetap memaksa masuk dan duduk diruang tamu.
"Saya ikut prihatin" Kalimat itu meluncur dari mulut dr Farah tiba tiba.
" Apa maksudmu?" Jawab Alif masih acuh dengan keberadaan dr Farah.
"Pergilah ke Amerika" Farah menatap tajam pada Alif, menunggu reaksi dari pria yang ada di depannya.
"Bukan urusanmu"
"Mungkin ini bisa mempercepatmu untuk membuat keputusan" dr Farah meninggalkan amplop coklat di atas meja. Kemudian wanita itu berdiri dan pamit meninggalkan Alif.
Alif membiarkan Farah pergi. Matanya nanar menatap amplop coklat yang Farah tinggalkan. Berulangkali Alif menarik nafas panjang, membuang sesak. Ia membawa Amplop pemberian Sarah kedalam kamarnya. Setelah pintu tertutup, Alif membuka amplop dengan menyobek satu sisinya.
Alif menahan sesak begitu melihat beberapa foto dari dalam amplop yang ia buka. Pemandangan yang menyulut api cemburu. Mengibarkan amarah.
Ibra menggendong Antyka, Ibra memeluk Antyka. Ibra mengusap pucuk kepala Antyka dengan senyum mesra. Marah dan benci pada dirinya sendiri. Ia tidak dapat melindungi Antyka. Hingga ada pria lain yang bisa mendekati istrinya.
Hatinya hancur, luruh, cemburu namun ia tak berdaya. Berlahan bulir bening mengalir tanpa suara. Harga dirinya terluka. Alif melempar semua foto hingga berserakan. Alif membanting apapun yang bisa ia raih. Hingga suara gedoran di pintu kamarnya menggema.
" Braaaak....., Alif apa yang terjadi" Mike masuk dalam kamar Alif begitu pintu bisa ia dobrak. Rupanya Mike sudah datang. Pria tinggi besar itu menenangkan Alif. " Kita bicara Lif, jangan seperti ini" Mike melihat kebawah lantai, berserakan beberapa foto dan juga barang barang yang Alif lemparkan.. Memunguti foto foto Antyka bersama seorang pria. Mike begitu terkejut. Pantas saja Adik iparnya ini mengamuk.
Mike mengamati foto yang ia pungut. Sepertinya semua gambar di ambil, menunjukan mata Antyka terpejam. Seolah Antyka tidak dalam keadaan sadar.
"Tapi Lif, kita bisa minta penjelasan dari Antyka. Jangan tersulut emosi" Mike memberikan nasehat.
"Keluar, aku mau sendirian" teriak Alif keras dan menunjuk arah pintu. Akhirnya Mike mengalah meninggalkan Alif dalam kamarnya setelah memastikan semuanya aman.
" Aku mau bercerai dengan Antyka, tolong Carikan aku pengacara." Ucap Alif setelah Mike dan dirinya selesai makan malam.
Seperti di sambar petir, ucapan Alif membuat Mike menegang. Mike sangat trauma dengan kata cerai. Keringat di kening Mike mengalir seketika. Perasaan Mike menjadi resah.
"Kamu sedang marah Lif. Tenangkan dulu pikiranmu" Mike mencoba meredam emosi Alif.
"Berikan ini untuk Antyka" Alif memberikan selembar kertas berisi rincian sejumlah kompensasi untuk Antyka setelah mereka bercerai. Alif tak bergeming dengan ucapan Mike.
"Lif...." Mike kehabisan kata. bibir pria itu menjadi kelu
"Lakukan secepatnya atau aku tidak mau pergi ke Amerika bahkan pengobatan dimanapun"
"Aku harus diskusikan ini dengan Ayah dan bunda, Lif"
__ADS_1
"Lebih cepat Ayah dan bunda menyetujui keputusanku. Lebih cepat juga aku pergi"
"Ini tidak benar Lif. Kamu harus menjaga perasaan keluarga Antyka"
"Sebaiknya kau telepon Ayah, Mike. Keputusanku sudah bulat"
"Lif, pasti ada penjelasan dari Antyka. Jika tiduhanmu salah, kamu akan menyesal seumur hidup. Kamu akan kehilangan dia. Lihat aku Lif. Apa benar kamu membenci Antyka?"
Alif menatap Mike tajam " Aku sangat mencintainya. Aku ingin dia bahagia. Aku tidak bisa menjanjikan apapun lagi padanya. Aku tidak mau egois Mike " Ucap Alif dengan hentakan emosi yang membuncah. Mike tertegun dengan kalimat yang Alif ucapkan.
"Kalau seperti itu kamu akan menghancurkan hatimu Lif. Berjuanglah, kamu pasti sembuh. Itu yang Antyka butuhkan"
" Sampai kapan ? kita semua tidak tahu apa yang akan terjadi padaku, Mike. Aku akan merasa sangat berdosa terus menerus, jika mengikat Antyka dalam ketidak pastian"
Mike sudah kehabisan kata untuk menentang keinginan Alif. Kemudian Mike membuka ponselnya, menghubungi ayah Haris untuk segera datang ke Singapura.
"Jangan katakan apapun pada Ayah, Mike. Aku hanya ingin ayah tau alasanku bercerai dengan Antyka karena Antyka selingkuh. Jangan katakan tentang perasaanku yang rapuh. Aku tidak mau ayah dan bunda juga kawatir tentangku. Harusnya mereka sudah tenang di masa tuanya"
"Kau menghancurkan dirimu sendiri Lif. Dan aku sangat yakin, Antyka tidak pernah selingkuh. Persetan dengan foto foto ini lif. Masih ada waktu sebelum kau menangis seumur hidupmu" Mike menggertak Alif.
" Aku tidak butuh nasihat. Aku sudah memikirkannya. Lakukan saja keinginanku" jawab Alif ketus
**
Ayah Haris terdiam, beliau seperti di sengat oleh listrik jutaan volt, Saat mendengar keputusan Alif. Jelas terlihat kekecewaan di mata pria paruh baya itu. Hatinya terasa sakit.
"Ayah akan turuti keinginanmu Lif. Pegang janjimu untuk pergi menyembuhkan diri demi pria tua ini. Ayah dan bunda akan ikut bersamamu, Setelah proses perceraian mu selesai" Ayah Haris berdiri dengan memijat pelipisnya.
" Selama ini Ayah selalu memperlakukan Antyka layaknya putri ayah sendiri. Dan di saat yang sama Ayah akan memberikan dia surat gugatan cerai darimu. Ayah tidak tega, Lif. Gadis itu terlalu penurut dan pengertian. Di mata Ayah, dia begitu sempurna. Ayah tidak akan sanggup menatap matanya yang akan terluka" Ayah berjalan mondar mandir dengan suara yang bergetar menggambarkan betapa emosinya mengaduk aduk dadanya
Alif masih tak bicara. Alif sadar semua tindakannya akan sangat melukai Antyka. Wanita itu pun akan ia fitnah telah berselingkuh demi memudahkan proses perceraiannya. Tapi tekadnya sudah bulat, Semua yang ia lakukan demi kebahagiaan Antyka kedepannya. Alif rela untuk di benci sepanjang hidupnya. Ia juga rela kehilangan separuh jiwanya. Alif menganggap semua ini hukuman setimpal untuknya yang sudah memaksa Antyka masuk dalam kehidupannya.
"Ayah kirim pengacara untuk mengurus semua urusanmu besok pagi. Ayah tunggu keputusanmu besok. Tolong kamu pertimbangkan lagi" Masih ada setitik harapan dari Haris agar Alif merubah keputusannya. Meski dia tau Alif adalah jelmaan dari wataknya yang keras kepala.
Setelah menandatangani beberapa berkas yang di sodorkan oleh pengacaranya. Alif tampak pucat. Ia seperti telah membunuh dirinya saat sedang menandatangani semua berkas. Ayah Haris tetap duduk tak bergeming. Pria paruh baya itu mencoba untuk tegar.
"Semua berkas yang di perlukan sudah siap semua.Dan akan segera kami proses."
Alif terdiam sejenak. Dahinya berkerut, Kemudian ia berdeham membuang kegugupan." Tolong di prosesnya Setelah kami berangkat. Antyka pasti akan berusaha meminta penjelasan dari kami"
"Kita Akan berangkat ke Amerika besok malam. Semua sudah di persiapkan oleh Mike. Dan kamu Lif, masih punya janji pada Ayah. Berusahalah untuk sembuh, agar ayah bisa menjalani masa tua ayah dengan tenang" Ucap Ayah pada Alif.
**
Antyka tinggal kembali di rumah mama Ajeng setelah keberangkatan bunda dan Ayah ke Amerika. Tanpa Antyka tau apa yang terjadi pada suaminya. Bunda dan Ayah hanya berkata akan membuka usaha baru di sana.
Sore itu Antyka baru saja selesai solat. Tubuhnya terasa tidak baik baik saja. Sejak kejadian pingsan di Singapura hingga sekarang Antyka menjadi lebih sensitif saat pagi hari. Tapi begitu siang, makanan apapun membuatnya tergoda.
Antyka mengamati dua orang pria yang berdiri di depannya. Mereka mengenakan setelan formal.
"Bisa kami bertemu dengan ibu Antyka?" ucap salah satu pria dengan kemeja biru.
"Saya sendiri, Silahkan duduk" Antyka mempersilahkan dua orang pria itu untuk duduk di kursi teras
" Perkenalkan saya Angkasa dan ini Rahman. Saya pengacara yang di tunjuk oleh dr Alif"
" Pengacara?"
"Iya Bu, kami mewakili dr Alif untuk menyampaikan surat gugatan cerai"
Pandangan Antyka seketika menggelap. Ia tidak tau harus bereaksi apa. Yang Antyka yakini, Alif tidak mungkin melakukan hal kejam seperti ini padanya.
"Pak Alif,... tidak mungkin. Kalian salah Alamat kan?"
"Maaf Bu, ini benar. Silahkan ibu kembali baca surat gugatannya secara seksama. Maaf jika ini mengejutkan ibu, Kami hanya melaksanakan tugas kami"
Antyka masih diam dengan Amplop putih di tangannya. Menatap nanar kepergian dua orang pria pembawa berita buruk. Tulangnya terasa lemas tak bertenaga.
" Anty ada apa?" Suara mama terdengar lirih. Mama Ajeng menatap cemas Antyka yang tetap diam dengan tatapan kosong.
"Istigfar Anty, apa yang terjadi?" Mama mengguncang bahu Antyka. Namun justru tubuh Antyka lemah dan terjatuh.
"Anty......" mama Ajeng makin panik. Ia segera menghubungi Luthfi agar segera datang.
__ADS_1
Antyka mengerjapkan matanya. Pandangannya masih kabur dan belum jelas. Samar terdengar lantunan ayat suci. Batinnya berbisik semoga semua ini adalah mimpi buruk. sisi kanannya ada Luthfi dan mama yang masih melantunkan ayat suci.
" Ma, Antyka di mana?" Antika merasa tempat ini asing .
" Di rumah sakit sayang, tadi kamu pingsan . syukurlah kamu sudah sadar sekarang"
"Ma, surat itu....?"
"Kamu istirahat saja. Biar kak Luthfi yang urus" Mama mengusap lembut kepala Antyka.
"Pak Alif tega ma...." suara Antyka serak. tangisnya pecah. Ingatannya sudah kembali berkumpul.
"Masih belum jelas Anty, bukankah suamimu masih di rawat di Singapura?. Kak Luthfi akan cari tau semuanya. Kamu yang tenang nak"
***
Luthfi mendatangi kediaman mertua Antyka. Saat sampai di sana rumah mereka kosong. Menurut para pekerja, kedua mertua Antyka sedang berada di Amerika. Mau tidak mau, Luthfi harus pergi ke singapura tempat Alif dirawat. Luthfi merasa keluarga Pradipta sangat tidak sopan.
Perasaan kesal dan merasa terhina adiknya di perlakukan seperti ini. Saat ini ia pun sudah berada di depan pintu Apartemen Mike yang biasa di tempati oleh Alif selama sakit.
" Ada apa?" Ucap seorang penjaga Apartement
" Alif ....?"
" Tidak ada. Pak Alif sudah pindah "
"Kemana kalau boleh saya tau"
"Maaf saya tidak tau tepatnya tapi..."
" Tapi apa ?" Luthfi mulai emosi.
" Yang saya tau mereka pergi berobat. Karena kondisi pak Alif semakin memburuk"
Perasaan ragu juga amarah merasa adiknya di terlantarkan. Harusnya mereka memberi kabar apapun itu. Antyka lebih bisa menerima. Daripada surat gugatan cerai.
Luthfi kembali dengan tangan kosong. Tidak mendapatkan informasi apapun. Melihat Antyka yang sedang termenung hatinya terasa sakit. Gadis itu jadi lebih pemurung. Semenjak Ayah meninggal kemudian ditambah kecelakaan Alif dan kini ia mendapat surat gugatan cerai. Dunia Antyka sepertinya runtuh.
Melihat Luthfi datang Antyka menoleh. Mata sayu Antyka penuh harap. Luthfi memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap kembali bola mata Adiknya yang penuh luka.
"Kak Luthfi"
" Anty, kamu baik baik saja?"
"Apa semua benar?" Antyka tidak menggubris pertanyaan Luthfi sang kakak
" Alif dan keluarganya menghilang Anty" Mendengar ucapan kakaknya. Butiran bening luruh dari kelopak mata Antyka
"Salah Anty apa?"
"Kamu adik kakak yang paling manis Anty, Kamu tidak salah. Hanya saja kamu bertemu dengan pria yang salah" Luthfi hanya bisa mendekap tubuh adiknya yang terlihat lelah
" Anty cinta pak Alif. Anty cuma ingin pak Alif" Ucap Anty sambil mengurai pelukan dari Luthfi kemudian menutup mukanya dengan dua telapak tangan seraya berlari kedalam kamar dan mengunci pintu.
Hancur sekali perasaan Luthfi melihat semua ini. Sesaat ia merenung. Sebelum suara Mama Ajeng mengagetkan.
"Fi..., ada yang mau mama katakan"
"Ma" Luthfi menoleh. Mama sudah berdiri di belakangnya dengan menggenggam kertas.
" Apa itu ma ?"
"Anty sedang lemah sekarang, bagaimana keadaan Alif?" mama duduk di samping Luthfi
"Mereka semua menghilang ma. Tapi ada yang bilang mereka pergi berobat. Luthfi tidak habis pikir dengan kelakuan mereka, ma. Apa karena mereka berkuasa hingga begitu mudah mencampakkan orang lain?"
" Berobat...?" mama terkejut.
"Kenapa ma? kok mama kaget" Mama diam sejenak
"Sebaiknya kita turuti saja keinginan Alif untuk menceraikan Antyka" tegas mama.
"Ma..., trus Anty bagaimana?"Luthfi heran dengan sikap mamanya yang tiba tiba saja berubah.
__ADS_1
"Untuk apa bertahan Fi, mereka tidak mempercayai kita. Mama yakin Antyka anak yang kuat dan satu lagi" Mama menghela nafas sejenak menunda kata yang ingin ia ucap. " Antyka hamil...."