
Halo reader....
Kembali bertemu
Author up nih
Sebuah cerita tanpa konflik gimana ya ....hehe.. just enjoy ....
Saat ini Alif sudah ada di kamar Antyka saat masih gadis. Masih sama seperti dulu waktu pertama kali Alif memasuki kamar ini sebagai pengantin baru. Tapi sayang waktu itu mereka belum sedekat ini. Perasaan Antyka masih mengambang. Mereka hanya bisa tidur bersama tanpa bisa berbuat lebih.
Senyum Alif terlukis mengahiri kelebat kenangan saat saat itu. Gadis impiannya kini sudah sangat bergantung dengan kehadiran dirinya. Iya, perasaan hangat dan bahagia. Cintanya berbalas.
Sebuah kecupan di kening Antyka ia daratkan. Kemudian pelukan yang sebenarnya enggan ia lepas. Merasakan tubuh istrinya yang terus bergerak dan jengah. Ia tidak ingin mengurai dekapannya. Nyaman dan membuat desir desir rasa yang candu.
"Aku berangkat dulu yah, baik baik jaga Ayah dan mama disini. Besok aku jemput dan ingat, ponsel jangan sampai lupa" Alif melepaskan pelukannya dari Antyka. Mereka berpamitan seolah akan berpisah lama. Antyka hanya bisa tersenyum melepas sang pujaan untuk pergi menunaikan tugasnya.
"Iya, Anty tunggu disini, cepat pulang"
" Iya"
Keduanya keluar dari kamar, menghampiri prof Damar yang sedang duduk sambil melipat kedua tangannya . Sedang pandangannya tertuju pada aquarium yang di penuhi ikan ikan peliharaannya. Suara gemericik air dan tingkah ikan yang berenang kesana kemari membuat pria tua itu terhibur di tengah rasa sakitnya.
"Ayah, saya berangkat dulu. Saya nitip Anty di sini. Besok sore saya jemput lagi" Suara Alif mengalihkan perhatian prof Damar dari Aquarium.
" Ya, hati hati di jalan" Ucap prof Damar dengan senyum yang mengembang.
Mata tua itu beralih memperhatikan Antyka putri semata wayangnya dan juga Alif sang menantu. Ia dapat merasakan Aura bahagia terpancar di mata mereka. Hatinya sangat tenang. Tidak salah dengan restu yang ia berikan.
Alif mengulurkan tangan kemudian keluar dari ruang tengah. Menuju ruang tamu. Disana ibu mertuanya sedang mengganti bunga dari dalam vas. Kegiatan rutin setiap seminggu sekali, Mama mertuanya akan mengganti bunga dalam vas di meja ruang tamu.
" Ma , Alif berangkat dulu"
" Iya kamu hati hati di jalan" ucap mama Ajeng dengan sorot mata lembut. Wanita yang sudah menuju senja itu meletakan bunga yang sudah layu.
Antyka dan Mama mengantar Alif sampai masuk mobil. Ada rasa enggan dalam diri Alif meninggalkan rumah ini. Andai saja tidak ada pertemuan penting. Alif hanya bisa berandai, tapi ia ingat akan kewajibannya untuk membuat ayah sedikit rehat. Sudah cukup waktu untuk Alif bersikap egois selama ini. Toh akhirnya bantuan dari Ayahnyalah yang menyelamatkan dirinya dari hinaan keluarga dr Farah.
Mobilnya melaju ke jalan utama dan berbaur dengan kendaraan lain. Perjalanan diakhir pekan yang pasti akan sangat padat. Apalagi area yang ia tuju adalah kawasan wisata.
**
Ayah Damar sedang menerima telepon. Wajahnya tampak sumringah. Kepalanya mengangguk angguk. Mengiyakan setiap ucapan dari orang yang sedang menelepon dirinya.
"Iya, kapan kamu pulang? Ayah ingin ajak kamu cari bibit ikan hias yang bagus. Iya ayah baik baik saja" Kemudian terjeda obrolan mereka " Ibra ini ada Antyka di rumah. Suaminya baru berangkat ke Bogor"
Antyka yang mendengar nama Ibra langsung ceria. Kemudian meminta sang Ayah untuk memberikan ponselnya.
"Ibra ini Antyka mau bicara" prof Damar memberikan ponselnya.
Antyka kemudian berbicara dengan Ibra. Bertanya kabar dan juga suasana kota tempat tinggal Ibra. Antyka juga memberi selamat untuk kebahagian Ibra yang sudah menemukan keluarga kandungnya.
Prof Damar dan mama Ajeng hari ini juga kedatangan tamu spesial lainnya. Luthfi dan Karin berkunjung di akhir pekan, mereka membawa serta Zeindra juga Livia.
Seketika suasana rumah jadi ramai dengan kedatangan anak dan cucu mama Ajeng.
"Apa kabar yah?" Karin dan Lutfi menyapa. "Eh ada Anty disini, Mana suamimu?" sapa Karin.
Antyka menyalim mereka sambil masih mengobrol dengan Ibra di telepon. Setelah menyapa kakak dan ponakannya Anty masih meneruskan berbicara dengan Ibra. Bahkan Anty pergi ke lantai atas agar lebih leluasa.
"Akhirnya kalian datang, mama udah siapkan udang asam manis kesukaan Luthfi dan Zeindra. Jangan kawatir mama juga udah masakin sup iga kesukaan Livia dan kamu, karin"
" Mama, malah jadi repot " Karin duduk di samping Luthfi. Begitu juga Livia gadis kecil yang sangat pendiam. Sedangkan Zeindra sudah asik bersama opa Damar memperhatikan ikan hias.
"Mama suka, tidak repot sama sekali"
__ADS_1
"Anty, sedang bicara dengan suaminya, ma ?"
"Bukan, dia sedang ngobrol sama Ibra"
" Ibra?" Wajah Luthfi sudah berubah menjadi merah saat tau Antyka berbicara dengan Ibra.
"Adikmu mungkin kangen, sudah lama mereka tidak ketemu"
"Anty sudah punya suami ma, lain kali jangan biarkan dia ngobrol sama Ibra" tegas Luthfi.
"Kamu itu terlalu posesif. Ibra kan sama kaya kamu. Buat Antyka Ibra hanya kakak. Bukan orang lain"
"Ma, pokoknya dia tidak boleh lagi berhubungan dengan Ibra" suara Luthfi begitu keras hingga prof Damar pun mendengar perdebatan mereka
Prof Damar sangat mengenal Luthfi. Dia tidak akan berbicara kasar atau keras. Apalagi pada ibunya. Pasti ada alasan di balik sikap Luthfi ini.
Karin menyentuh tangan Luthfi menenangkan sang suami. Ini adalah week end yang sudah mereka rancang untuk menyenangkan kedua orang tua mereka. Tapi justru Suara Luthfi menyakiti mama Ajeng.
"Fi....."
" Ma ini untuk kebaikan mereka "
"Iya..." mama Ajeng langsung terdiam.
Luthfi baru menyadari. Sikapnya membuat mama Ajeng begitu nelangsa.
"Maaf ma, saya kelepasan" Luthfi meraih tangan mama Ajeng dan bersimpuh " Ma, Ibra...., Ibra sebenarnya mencintai Anty. Kasian Ibra dia kembali ke sana karena ingin menenangkan diri. Karena itu Luthfi mohon. Jangan biarkan Anty berhubungan lagi dengan Ibra. Tidak baik untuk Ibra dan juga perasaan Alif, suami Anty" Akhirnya Luthfi berkata jujur. Tentang perasaan Ibra.
Mama hanya terkejut. Menatap Luthfi tak percaya.
"Ibra, tidak pernah berkata apapun Luthfi. Kamu jangan meng ada ada" tiba tiba suara prof Damar menggema. di ruang tengah.
" Ayah...." Luthfi terdiam
"Katakan itu tidak benar, Fi"
Prof Damar tercenung. Perasaan bersalah tiba tiba saja hinggap. Mimik wajahnya berubah sendu." Ibra pasti sangat hancur perasaannya. Ayah tidak sengaja melukai anak itu" Lirih prof Damar.
"Sudah jalannya yah. Tidak ada yang salah. Toh Anty sudah bahagia dengan Alif. Kita bantu Ibra untuk menenangkan hatinya dengan menjauhkan Anty"
"Ponsel Ayah....?" prof Damar tiba tiba gemetar. Zeindra yang dari tadi ada di belakang prof Damar segera memapah dan mendudukkan prof Damar di atas sofa agar lebih nyaman.
"Panggil Anty, Karin. Ponsel Ayah ada pada Antyka" mama meminta Karin. Mama mulai panik dan mendekati prof Damar.
"Ayah baik baik saja, apa dada Ayah terasa sesak?" tangan mama ikut bergetar. ia limbung melihat sang suami seperti syok.
Dari kening prof Damar sudah mengalir keringat dingin. Keadaan semakin memburuk.
"Zein siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!" Luthfi mengambil keputusan cepat. ada rasa menyesal telah mengatakan hal yang membuat prof Damar syok.
" Baik pa" Seketika Zein keluar dan menyiapkan mobil untuk membawa Oppa ke rumah sakit. Luthfi memapah Ayah Damar di batu mama Ajeng.
Dalam kamar Antyka baru saja menutup ponsel. Ia mengahiri obrolan panjang dengan ibra. Karin mengetuk pintu kamar Antyka cukup kencang.
" Anty...., Anty buka pintunya"
" Iya mbak" Antyka membuka pintu. Di depannya sudah ada kakak iparnya yang berwajah panik dan tegang " Ada apa mbak ?"
" Ikut mba Karin, Ayah di bawa kerumah sakit. Oh iya, mana ponsel Ayah" tanpa menunggu jawaban dari Antyka Karin langsung meminta ponsel dan juga menyeret lengan Antyka agar turun kebawah.
"Ayah sakit mba..., tadi gak papa kok"
" Sudah mau ikut tidak?"
__ADS_1
" iya, iya mba Anty ikut " Antyka mengekori Karin. Perasaannya tidak bisa di jelaskan bercampur aduk. Sedih, cemas dan juga kalut. Belum lagi pikiran pikiran buruk terus berkelebat. Hanya bisa menangis. Antyka sangat mencintai Ayahnya.
Prof Damar Ayah yang sangat penyayang. Sepertinya selalu banyak cinta untuk Antyka. Meski terkadang Antyka ini sering membuat sang Ayah cemas dengan segala tingkahnya.
"Jangan nangis, kamu harus kuat. Lihat mama, dia lebih dari kamu cemasnya. Kalau kamu terlihat rapuh, apa jadinya mama?"Ucap Luthfi saat sudah berada di depan ruang UGD. " Ini salah kakak juga, Anty" lirih Luthfi saat duduk. Sesak di dadanya menguat ingin berontak.
Tapi sebagai pria dan yang paling bertanggung jawab setelah Ayah adalah dirinya. Luthfi bersikap rasional dan tegar. Paling tidak dalam keadaan ini keluarganya masih bisa memegang erat tangannya sebagai pengayom.
Dokter keluar dari ruangan UGD dan mencari keluarga prof Damar. Kabar bahagia keadaan prof Damar sudah stabil dan sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan kusus.
"Bagaimana Fi, keadaan Ayah?" lirih mama Ajeng.
"Alhamdulillah ma, Ayah sudah stabil bisa langsung di pindah di ruang rawat" Hembusan nafas lega dari Luthfy terdengar halus.
Semua yang ada di ruangan itu pun kembali tenang.
" Mama pulang saja dengan Karin dan Zeindra. Biar Luthfy dan Antyka yang jaga Ayah"
" Mama ingin disini Fi, mama tidak bisa tidur jika ada di rumah"
"Tapi ma...,"
"Biarkan mama di sini Fi, mama ingin dekat dengan Ayah. Mama tidak ingin melewatkan waktu untuk bisa bersama" Mama tetap bersikeras dan Luthfy pun mengalah.
" Anty, kamu pulang dengan Karin dan Zeindra, kakak titip Livia. Dia sebenarnya ingin ketemu dengan kamu. Kami berencana mengunjungimu di Apartemen. Tanyakan apa yang Livia inginkan. Anak itu sepertinya sangat mengagumi kamu" ucap Luthfi pada Antyka.
" Ingat jangan racuni Livia dengan hal hal aneh " wajah Luthfy sudah kembali ramah.
" Mama ikut pulang?" tanya Antyka ketika menyalim pada ibunya. Tapi mama Ajeng hanya menggeleng dan mengusap kepala Antyka.
"'Anty..." lirih suara mama Ajeng. ia harus memberi wejangan pada putrinya. Setidaknya dia akan tenang. " ingat jadilah dewasa. Kamu sudah punya suami. Jangan ganggu Ibra, mama tidak ingin Alif cemburu. Kamu harus tau itu" hanya kata kata singkat yang keluar dari bibir mama Ajeng.
"Iya ma"
***
Malam sudah menjelang, Alif baru saja menyelesaikan urusannya dengan rekan bisnisnya. Ia memasuki kamar hotel yang sudah ia pesan sehari sebelumnya.
Alif merebahkan diri diatas ranjangnya. Selesai membersihkan diri ia mengambil ponsel. Niat hati ingin menghubungi belahan jiwanya. Andai saja tubuhnya tidak lelah ia pasti akan nekat untuk pulang demi melihat wajah Antyka. Perasaan rindunya begitu memuncak. Apalagi cuaca yang dingin. Alif memeluk batal guling nya erat. Alif mengabari jika semua urusannya sudah selesai. Mengatakan betapa ia sangat merindukan Antyka dan ditutup dengan ucapan selamat malam
Matanya enggan terpejam padahal sudah pukul dua belas malam. Semua sudah sunyi . Sedari tadi Alif hanya bisa berguling kesana kemari dan gelisah. Tiba tiba saja ponselnya berdering. Dengan sigap ia mengangkatnya . Antyka menghubunginya tengah malam.
"Pak Aliff...." suara Antyka serak...disertai tangis yang menyayat. Terbayang wajah Antyka yang berurai air mata. Hati Alif tiba tiba saja terasa nyeri.
" Anty, ada apa? katakan "
"Ay....Ayah...., Ayah masuk rumah sakit lagi. Tadi sore sudah stabil tapi barusan, Ayah...., drop lagi...hiks hiks.... Anty takut, pak Alif"
" Iya ...iya aku pulang sekarang" Alif yang belum memejamkan mata cepat bersiap untuk pulang. Ia tidak bisa membiarkan Antyka sendiri menghadapi saat saat yang sulit.
Alif mencari supir untuk mengantarnya ke Jakarta. Dalam keadaan tertekan dan lelah seperti ini ia tidak mungkin mengendarai mobil. Beruntung ia mendapat supir yang bisa mengantarnya pulang.
" Ini Alamatnya pak, kita jalan sekarang"
"Baik den"
Perjalanan malam itu terasa begitu lambat bagi Alif yang sudah tidak sabar ingin menenangkan Antyka. Kebetulan jalanan memang sudah agak sepi. Alif meminta pada sopir untuk menambah kecepatan.
" Den, sepertinya ada mobil yang terus mengikuti kita dari tadi"
" Ah masa pak, ini hanya kebetulan saja. Mungkin kita satu arah dengan mereka"
"Tapi pak sepertinya ......"
__ADS_1
" Konsentrasi saja pak, Bismillah hati hati" Ucap Alif menenangkan supirnya.
Sebuah mobil warna silver dengan kecepatan tinggi meluncur dari arah yang berlawanan. Mobil yang sedari tadi di curigai mengikuti, terus merangsek. Sopir Alif mencoba melajukan mobil lebih kencang hingga kehilangan keseimbangan dan Duarrrrrrrt.