Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
29.Jarak yang menjauh


__ADS_3

"Anty, kamu kebiasaan deh, tiap habis solat subuh pasti tidur lagi. Apa kamu gak malu nak sana mertuamu?. Kalau gini caranya, mama yang malu" Mama mengguncang guncang tubuh Antyka yang masih terlelap. padahal matahari sudah cukup tinggi.


Mama Ajeng masih terus mengomel sampai Antyka menggeliatkan tubuhnya. " Kamu itu sudah punya suami, Anty. Masih juga susah mama bangunkan. kapan kamu mau berubah?" Mama menarik selimut. Dan melihat putrinya menguap sambil mengumpulkan kesadarannya. Sebenarnya mama ingin marah tapi, melihat Antyka yang terbangun santai, menguap dan seperti orang bingung, mama jadi geli sendiri. Dalam hatinya berkata " Percumah juga ngomel yang dikasih tau seperti orang mabok"


" Ma, jam berapa?"


"Sudah jam tujuh, mama kira kamu lagi mandi, eh ternyata asik tidur. Cepat sana sarapan! Mama mau pergi kerumah kak Luthfi"


"Ehmm mama mau tinggal sama kak Luthfi?"


"Iya"


" Anty, mandi dulu ma, trus mau pulang ke rumah bunda" Antyka beranjak dari tempat tidurnya. Sebelum pergi ia membereskan tempat tidur hingga rapi. Antyka sangat tau sang Mama paling tidak suka jika tempat tidurnya berantakan.


Antyka mengguyurkan air ke tubuhnya. Tidak merasakan hawa dingin karena memang sudah siang. Matahari sudah memancarkan cahayanya. Memakai tunik dan rok hitam juga hijab senanda penghias kepalanya. Antyka membawa tas punggungnya juga beberapa buku cetak tebal.


"Sarapan dulu, mama sudah masak" ucap mama sambil menata piring di meja makan. Antyka duduk di salah satu kursi tepat di depan mama.


Mungkin saja Antyka terlalu lelah akhir akhir ini. Meski mama sudah menyiapkan menu sarapan kesukaan Antyka. Bahkan perutnya terasa diaduk aduk.


" Ma, Anty gak sarapannya? Bunda sudah telepon terus, Anty gak bisa makan buru buru"Sedikit berbohong tidak masalah. Dari pada ia harus merasakan rasa mual yang membuatnya lemas.


" Trus masakan mama ?" Mama Ajeng kecewa.


"Jangan sedih ma, kan bisa di bungkus nanti Anty makan saat sudah di rumah bunda. Anty mengecup pipi mama Ajeng manja.


" Sebentar mama bungkus dulu" Mama berdiri dari tempat duduknya dan mengambil wadah untuk memindahkan lauk kesukaan Antyka.


Dari pintu depan terdengar suara bel, buk asih tergopoh ke ruang tamu untuk membuka pintu tidak lama ia kembali keruang makan.


" Non supir bunda sudah datang "


" Oh iya bik, terima kasih" ucap Antyka santun


" Sudah ma, jangan terlalu banyak lauknya " Mama Ajeng menutup wadah lauk dan memasukan dalam kantung plastik hitam.


"Anty, jangan malas. malu sama bunda" Ucap mama sambil memberikan kantung berisi lauk untuk Antyka bawa.


"Iya ma, Terima kasih lauknya. muahhh...., Antyka sayang mama sampai bila bila" Antyka tekekeh menirukan logat bahasa negara tetangga.


Antyka sudah di jemput oleh supir bunda. Mereka langsung pulang ke rumah. Di perjalanan Antyka membuka ponselnya. Ia menepuk dahinya, lupa tidak mencharger baterai ponsel.


" Non Langsung pulang?"


" Ia pak, hari ini saya tidak ada kelas"


" Oh iya non, tadi bunda pesan. Kalau sudah sampai non di suruh telepon den Alif. Kata bunda den Alif tidak bisa menghubungi non Antyka"


" iya pak, ini ponsel saya drop. Dan lupa tidak bawa charger"


**


Antyka mendial nomor Alif. Setelah ponselnya terisi dan bisa di gunakan. Ada banyak pesan dan panggilan tidak terjawab dari Alif. "Pasti pak Alif marah" batin Antyka. Ada dua puluh panggilan tak terjawab.


"Kamu dari mana? Sudah lupa punya suami?"


"Maaf, Anty lupa mencharger ponsel "


"Iya lupa, karena aku tidak penting buat kamu. Kamu memang tidak punya rasa ke aku Anty. Sory sudah membawa kamu dalam hidupku yang buruk. Harusnya kamu bisa bahagia dengan orang yang sempurna"


"Pak Alif, Anty tidak punya maksud seperti itu. Kenapa sih, pak Alif jadi berubah kasar kaya gini. Anty lupa mencharge ponsel. kok sampai berpikir sejauh itu? Anty tetap sayang pak Alif. Tapi kenapa, Anty selalu salah di mata pak Alif. Iya, Anty memang kekanakan. Anty istri yang jauh dari sempurna. Tapi dalam hati Anty tidak ada pikiran yang buruk seperti yang pak Alif tuduhkan"


"Baik kalau kamu benar, cuma ada aku. trus kamu bisa melupakan hal penting. Kamu tau kan setiap malam kita biasa berkomunikasi. Cuma itu cara kita saat ini. Tapi satu satu nya cara itu pun kamu lupakan. Bukannya jelas kalau aku sudah tidak penting lagi buat kamu, Antyka?"


"Maaf..., kalau hal ini menyakiti perasaan pak Alif. Anty minta maaf. tapi sungguh Anty tidak ada niatan untuk menyakiti perasaan pak Alif, Maaf" Suara Antyka serak dan lemah. Tidak ada guna terus mempertahankan alibinya. Iya dia salah, sudah lupa. Tapi hatinya sakit saat di tuduh tidak lagi menganggap Alif penting.

__ADS_1


"Aku memang pria tak berguna Anty, Tapi disini aku juga sedang berjuang. Aku juga tidak ingin mengalami ini. Semua rasa sakit aku singkirkan untuk bisa terlihat sempurna lagi di matamu. Salah kalau aku minta sedikit perhatian darimu? Apa egois kalau aku meminta sedikit waktu darimu. Kamu menyakiti hatiku.....Tut......."


"Pak Alif ..., halo pak Alif......maaf, Anty minta maaf. pak Aliff" telepon mereka terputus sepihak. Alif sangat marah dan tersinggung. Antyka hanya bisa menangis sambil terus berusaha kembali menghubungi Alif.


Antyka duduk di tepi ranjang sambil mengusap Air matanya. Sayup terdengar suara bunda di luar. Antyka segera membersihkan wajahnya. Memoleskan sedikit make up agar tidak terlihat sembab.


"Bunda sudah pulang?" Antyka menyalim dari tadi dia pulang bunda memang tidak ada di rumah. Bunda baru saja menemani ayah di acara amal.


"Iya, kamu sudah hubungi Alif? Kasian Alif sangat cemas dengan kamu Anty"


"Sudah bunda"


"Alif itu mirip Ayah. Dia sebenarnya tidak bisa jauh dari orang yang dia sayang, Anty. Watak mereka sedikit egois, posesif, keras kepala dan tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Kalau orang yang tidak faham akan menganggap mereka pemarah"


"Iya bunda, Anty faham kok" Sekuat tenaga Antyka menahan lelehan air matanya.


Bunda melihat ada embun di pelupuk mata Antyka segera memeluk. " Kamu yang sabar ya. Tolong mengalah sedikit. Alif sedang dalam keadaan tidak baik baik saja jadi maafkan salah putra bunda, jika berkata yang menyakitkan" tepukan tangan bunda di punggung membuat Antyka justru tidak dapat lagi membendung air matanya..


"Bunda, katakan pada pak Alif. agar mau menerima telepon dari Anty lagi. Anty yang salah. Anty terlalu asik berbincang dengan mama tadi malam. Sampai lupa untuk bertelepon dengan pak Alif"


"Sabar ya, nanti bunda bilang sama Alif, Biarkan Alif tenang dulu "


Antyka mencoba memahami keadaan Alif. Ia mematuhi nasihat bunda. Meski hatinya pun terasa sakit dengan sikap Alif yang menjadi lebih sensitif.


***


Pagi yang cukup cerah namun, perasaan Antyka belum secerah itu. Alif masih sangat sulit untuk di hubungi.


"Pagi pa, ma" salam Antyka saat hendak pergi kuliah. ia menyempatkan diri untuk menyapa kedua mertuanya yang sedang berada di meja makan. Kebetulan Ayah masih di rumah, bergantian dengan Mike menjaga Alif. Antyka menyalim keduanya dan berpamitan untuk pergi ke kampus


"Anty, kamu tidak sarapan? tanya Ayah.


"Anty buru buru Yah harus pergi ke kampus"


"Tidak baik membuat perutmu kelaparan, bisa sakit nanti."


Ayah hanya bisa menatap dan diam, tidak memperpanjang masalah. Bunda mengusap lengan Ayah, gestur yang membuat Ayah tau agar membiarkan Antyka segera berangkat.


" Hati hati di jalan" ucap Ayah dengan suara rendah.


Setelah Antyka pergi, Ayah meminta penjelasan pada bunda. Bunda meminta Ayah untuk menghabiskan sarapannya dulu.


"Antyka dan Alif sedang bertengkar yah, biasa namanya juga rumah tangga pasti ada salah pahamnya" ucap bunda sambil membereskan piring kotor.


"Kenapa ? "


"Alif marah saat Antyka sulit di telepon. sudah tiga hari ini Alif sulit di hubungi oleh Antyka. Anak itu semakin keras kepala saja yah"


Ayang menarik nafas dalam menatap bunda. Seharusnya ia sudah tidak ingin campur tangan dengan hal sepele seperti ini. Alif dan Antyka harus dewasa menyelesaikan masalah mereka.


" Minggu depan Ayah menggantikan Mike menjaga Alif, Ayah akan berusaha bicara dengan Alif"


"Yah, bunda rasa Alif butuh untuk kita dukung, dia sedang dalam keadaan down. Tolong jangan terlalu keras. Beri Alif pengertian, bunda juga kasian melihat Anty terus terusan murung"


" Ayah tau Bun" ucap ayah singkat.


**


Antyka baru saja menyelesaikan jam kuliahnya. Sambil menunggu supir bunda yang akan menjemput Ia membuka ponsel melihat apakah ada pesan balasan dari Alif. Semua peran yang Antyka kirim sudah di baca oleh Alif, Tapi suaminya itu tidak membalas. Antyka merasa sangat kecewa. Hatinya sakit saat diabaikan.


Antyka mengalihkan tatapannya pada status status yang di buat oleh teman temannya. Teryata banyak orang yang sedang galau dari pada orang yang gembira. Ia tersenyum kecut sendiri. Satu status yang menarik perhatiannya. Milik Ibra yang sedang berada di gerai es krim terkenal di Jakarta.


"Anty mau" pesan itu terkirim.


"Kamu lagi di mana" balasan pesan Ibra

__ADS_1


"Lagi bete nunggu jemputan"


" Kampus? Aku lagi di area dekat kampusmu. Mau es krim?"


"Mau banget..., betulan kak Ibra lagi di sini?"


" Hmm ...lima menit sampe"


Antyka menutup Aplikasi chat, ia kembali menatap kearah jalanan. Tiba tiba ponselnya berdering.


" Ya kak Ibra?" jawab Anty ragu.


" Aku depan gerbang cepat ya, es krimnya meleleh"Suara Ibra memberi intruksi


Antyka berjalan menuju gerbang. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Kemudian pandangannya berhenti pada sosok pria yang sedang berdiri didepan sebuah mobil. Ibra tersenyum, di tangannya ada sebuah kantung plastik warna putih.


"Kak Ibra"


"Ini es krimnya" Ibra memberikan eskrim dan mengusap pucuk kepala Antyka penuh kasih. "Aku harus segera pergi Anty, Ada meeting di dekat sini. Jaga dirimu baik baik" Antyka hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tak di sangka bisa bertemu dengan Ibra di sini.


Ibra meninggalkan Antyka yang masih berdiri. ia meminta sopirnya untuk segera melajukan mobil, namun matanya tetap tertuju pada Antyka. Tatapan rindu yang selalu ia tahan." Aku sangat kawatir denganmu, Antyka. Aku hanya memastikan kamu baik baik saja. Cukup melihatmu tersenyum dan itu membuatku lega."


**


"Kamu kenapa, pagi kaya gini melamun?" Ayah menatap Alif dengan seksama. Pria paruh baya itu masih saja terlihat bugar. Ia menepuk bahu sang putra yang terlihat murung "Kamu kangen sama istrimu? Ayah bisa suruh Antyka datang kesini secepatnya. Atau kamu mau pulang dulu biar ayah konsultasi dengan dokter?"


Alif hanya menggelengkan kepalanya. Sudut bibirnya terangkat "Aku gak secengeng itu yah, Aku mau selesaikan dulu terapiku" Membohongi diri untuk menutupi lemahnya hati. Demi terlihat baik baik saja. Alif tidak ingin membuat sang Ayah cemas.


"Kamu sudah hampir dua bulan berada di sini Lif, Kalau kamu kangen istrimu, itu hal yang wajar. Tidak usah malu sama Ayah" Ayah mencoba membuat Alif lebih terbuka. "Kalian sedang marahan? Itu hal yang biasa Lif, Ayah dan bunda juga sering berselisih paham. Wajar, kita kan dua pribadi yang beda"


"Tapi, Aku kemarin benar benar mengatakan hal buruk pada Antyka, yah. Aku sudah keterlaluan. dan menyinggung perasaan Antyka. Aku....,tidak bisa mengendalikan diri waktu itu. Bahkan aku sudah mengabaikan semua pesan dan telepon dari Antyka. Aku memang egois, tidak tau diri yah"


"Sudah, kalau kamu memang merasa salah. ya minta maaf Lif . Bukan cuma melamun kaya gini. Masalah tidak akan selesai kalau hanya di biarkan" Ucapan ayah begitu mengena dalam hati Alif. Semua yang dikatakan Ayah memang benar. Tapi Alif meragu dengan keberaniannya sendiri.


Ketakutan yang harus ia hadapi saat ia meminta maaf. Apakah Antyka mau memaafkan nya. Alif takut untuk ditolak, ditinggalkan oleh orang yang sangat ia cintai. Berulang kali ia hanya menarik nafas dalam. Tak bergeming.


"Kita berangkat ke rumah sakit, Alif. Rajes sudah datang menjemput kita" Ayah Haris membuyarkan lamunan Alif.


Alis hanya mengangguk dan di dorong oleh sang Ayah menuju area parkir. " Alif, apa kamu takut Antyka tidak memaafkan mu?" Ayah membenarkan letak duduknya saat sudah berada di dalam mobil.


" Mungkin" Ucap Alif singkat sambil menatap kedepan. Tapi tatapan itu kosong, dadanya sesak dipenuhi berbagai rasa.


"Anty, selalu menunggu telepon darimu. Telepon dia secepatnya. Jangan kau acuhkan terlalu lama. Kasihan"


Alif tak bergeming ia hanya mendengarkan ucapan sang Ayah. Tiba di rumah sakit Alif langsung bertemu dengan dokter yang menanganinya. Sebelum terapi di lakukan. Ayah Haris mendampingi Alif di dalam.


"Ada yang harus kita diskusikan pak, ada sedikit masalah pada tulang punggung saudara Alif. Dalam keadaan biasa harusnya saudara Alif sudah bisa kembali memfungsikan kakinya dengan normal tapi lihat ini" dokter menunjukan hasil MRI terakhir tulang punggung Alif. Ada sebuah jaringan abnormal yang mengganggu proses penyembuhan.


" Lantas kami harus bagai mana?"


" Kami akan lakukan biopsi jika hasilnya ganas tentu saudara Alif harus menjalani kemoterapi"


Ayah Haris tertunduk begitu pula Alif. Menerima kepahitan bertubi tubi dalam kemalangannya.


"Apa bisa berhasil? berapa persen tingkat keberhasilan dengan metode ini"


"Kita berdoa saja ini tidak ganas. Hanya cukup membuang jaringan abnormal saja."


"Kapan dokter akan melakukan biopsi?"


"Lebih cepat lebih baik"


"Kami ingin yang terbaik dokter" Desak ayah Haris.


"Saya paham, bagai mana jika kita lakukan proses penyembuhan ini di Amerika. Saya akan serahkan kasus ini pada Ahli yang terbaik di sana"

__ADS_1


" Jadwalkan secepatnya dok, saya ingin yang terbaik untuk putra saya"


__ADS_2