
Raut wajah kuyu bersimpuh dalam diam. Hatinya begitu perih tak terkira. Hingga hembusan angin sore pun tak mampu membuatnya merasa sejuk. Tubuhnya berkali kali hilang kesadaran. Ia bahkan enggan membuka mata jika di hadapkan pada kenyataan yang sama.
"Anty, buka mata mu nak, mama mohon ikhlaskan Ayah. Kamu harus tegar ada Alif yang membutuhkan semangat darimu" suara lirih mama Ajeng menahan pilu, setelah kehilangan belahan jiwa.
Antyka tak dapat menegakan tubuhnya. Hingga Luthfy sang kakak menggendongnya. Membawa adiknya kedalam mobil dan diikuti oleh langkah langkah duka dibelakangnya. Meninggalkan pusara prof Damar di peristirahatan terakhirnya.
Laju mobil bergerak beriringan dari kawasan pemakaman. Mobil yang membawa Antyka melaju ke sebuah rumah sakit. Disana Alif sedang berjuang untuk hidup. Kecelakaan saat perjalanan pulang dari Bogor menuju Jakarta.
Mobil Alif di temukan tak berbentuk. Dan Alif belum sadarkan diri dari komanya. Anty di baring Kan di sebuah kamar rawat. Dua kejadian yang membuat hidupnya terasa hancur. Disaat yang sama mendapati dua kenyataan pahit.
Saat ini Aura mendung menyelimuti dua keluarga yang terkena musibah. Bunda Amalia terseok menuju kamar perawatan Antyka. Matanya mendung melihat sang menantu berbaring tak berdaya. Ia mengusap lembut kepala Antyka yang masih belum mau membuka matanya. Lamat laun bibir Antyka bergetar, memangil manggil nama Alif. Membuat bunda dan mamanya terisak dalam dengan luka yang dirasakan Antyka.
Bunda Amalia dan mama Ajeng berpelukan erat. Saling menguatkan.
"Alif belum bangun dari komanya" bulir bening itu menetes di pipi bunda Amalia. pelukan mereka semakin erat.
***
Satu Minggu telah berlalu. Alif masih belum bangun. Saat ini Antyka sedang menunggu di mana Alif terbaring dengan segala alat bantu yang menempel di sekujur tubuhnya
Hawa dingin di ruangan ini, tidak menyurutkan Antyka untuk tetap menatap wajah yang sangat ia rindukan. Antyka mengusap keringat yang muncul di dahi Alif. Di dadanya merasakan hampa namun secercah harapan itu masih ada. Tidak lelah berharap keajaiban itu akan hadir
"Pak Alif, Anty mohon bangun! pak Alif sudah janji untuk melindungi Anty. Anty merasa hampa. Anty hanya ingin pak Alif cepat kembali. jangan biarkan Anty sendiri seperti ini" berkali kali hatinya berucap seperti itu.
Sebuah ketukan di pintu kaca. Membuat Anty menoleh. Beberapa dokter melakukan visit dan Antyka diharap keluar dari ruangan itu. Langkahnya gontai meninggalkan Alif. Andai boleh ia ingin selalu ada di sana. Karena ketika ia keluar separuh rasanya tertinggal.
Antyka membuka baju kusus dan melipatnya di sana. Keluar dari ruang ganti sudah di sambut oleh bunda.
"Anty sayang, bagaimana Alif ?" Suara bunda hampir tak terdengar. Suara itu bergetar penuh kesedihan.
Antyka hanya merespon dengan gelengan kepala.
"Anty, kami berencana membawa Alif, untuk berobat ke rumah sakit yang lebih baik. Sudah satu minggu Alif belum juga sadar, boleh Anty?
Antyka mendongak, seperti ada harapan baru. Ia mengangguk, mengiyakan permintaan bunda.
"Lakukan bunda, Anty ingin yang terbaik untuk pak Alif. Bolehkan Anty menemani?"
"Kuliah mu Anty?"
"Anty bisa cuti"
"Kita pikirkan lagi nanti, ya. Jangan terburu buru. Kamu makan siang dulu bareng bunda. Bunda tau kamu sedih. Tapi kehidupan terus berputar, Anty. Jangan larut. Lihat tubuhmu sangat kurus dan tidak terawat. Bunda akan ajak kamu pulang hari ini untuk istirahat di rumah. Biar Mike dan ayah yang berjaga bergantian"
"Biarkan, Anty disini bunda. Tolong, Anty tidak bisa jauh. Dada ini sudah hampa" Antyka menangis dan memukul dadanya lirih. Bunda dengan sigap menghentikan tangan Antyka.
"Sudah makan dulu, bunda suapin. Tolong di makan walaupun lidah kamu tidak bisa merasakan apapun" Tapapan bunda meluluhkan hati Antyka. Ia menuruti perkataan sang bunda.
__ADS_1
Jika dirinya hancur lalu apa lagi bunda ?. Dia pasti lebih hancur. Pria yang dilahirkannya sedang berjuang antara hidup dan mati. Lalu apa yang tersisa dari bunda. Doa..., tentu saja itu. Antyka selalu mendengar doa doa yang terucap dari bibir bunda. Sama sepertinya memohon sebuah keajaiban di tengah kesakitannya.
Antyka menelan apapun yang bunda suapkan. Ditengah sedihnya bunda masih memikirkan Antyka yang terpuruk. Bunda memahami perasaan Antyka, disaat sedang sayang sayangnya musibah ini datang.
"Sudah bunda, Anty kenyang. Terima kasih" Seketika Antyka mencium tangan bunda yang sudah memberinya suapan. Bunda tersenyum dengan tingkah sang menantu. Kemudian pandangannya berbinar " Itu Ayah dan kak Mike datang" Anty menunjuk Arah pada dua orang pria yang sedang berjalan menuju arah dirinya dan bunda.
Ayah Haris sudah ada depan Antyka begitu juga dengan Mike. Ayah dan Mike saling tatap. Sepertinya Mike ingin menyampaikan sesuatu dengan gestur meminta ijin pada Ayah. Ayah mengangguk.
"Anty, kami akan membawa Alif besok pagi ke Singapura. Aku dan Ayah yang akan mengurus semuanya disana. Kamu boleh menjenguk Alif saat akhir pekan dengan bunda" Ucap Mike singkat
"Anty, ingin menunggu pak Alif" tatapan Antyka menghiba
" Anty, kamu jangan kawatir. Ayah akan menjaga Alif di sana. Ayah memutuskan kamu tetap disini dengan bunda. Kamu harus tetap ke kampus. Keputusan Ayah bulat. Ayah janji kamu orang pertama yang tau perkembangan Alif di sana. Ayah dan Mike akan terus mengabari kamu" Ayah Haris menatap tajam menantunya. Saat seperti ini ia harus tegas dan memastikan semua bisa berjalan dengan baik. Kesehatan Alif dan juga study Antyka.
"Sekarang Anty ikut bunda pulang ke rumah. Sopir Mike sudah menunggu di luar. Ayah akan mempersiapkan segala keperluan Alif untuk keberangkatannya besok. Kali ini Ayah mohon kerelaan kamu untuk Alif. Ayah tau ini berat buat kamu. Percayalah kami semua menyayangi kamu dan Alif sama besar" dalam ucapan yang tegas itu, Ayah Haris tidak bisa melawan rasa sedihnya, terlihat dari embun yang merebak di bola matanya.
Antyka mengangguk lemah. Menuruti keinginan mertuanya. Ia tidak bisa menolak apalagi untuk kesembuhan suaminya.
***
"Aku antar kamu pulang ya ?" tawar Hanin pada Antyka seusai mereka mengerjakan tugas bersama.
"Gak bisa, aku sudah ada yang jemput, supir bunda" Antyka menolak halus tawaran sahabatnya. Selain itu ia sadar betul posisinya sekarang sebagai seorang istri tidak bisa seenaknya bepergian.
"Pak Alif apa kabarnya, Anty?"
"Semoga cepat pulih ya, Anty. Kita cuma bisa doain dan kamu yang semangat"
"Terima kasih Nin. Oh ya, itu jemputan aku datang. Aku pulang dulu ya " Antyka melambaikan tangan pada teman temannya.
Supir bunda Amalia sudah datang. Ia harus segera bergegas pulang ke rumah mertua. Sejak kecelakaan yang menimpa Alif, Antyka tidak di perbolehkan tinggal di manapun selain di rumah bunda Amalia. Antyka bersukur memiliki mertua yang begitu perhatian. Seolah mereka mengambil alih seluruh tanggung jawab Alif pada dirinya.
"Anty pulang bunda" Antyka menyapa bunda yang sedang duduk di ruang tengah. Ia menyalim dan duduk di samping bunda. Antyka memperhatikan bunda yang tidak pernah lepas dari tasbih kecil di tangannya.
"Makan dulu Anty, bunda temani"
"Anty sudah makan siang bunda, tadi bareng teman kampus"
"Ya sudah istirahat sana. Kamu pasti capek"
"Bunda Ayah mengirim pesan ini" Antyka menunjukan pesan di ponselnya dari Ayah Haris. "Pak Alif sedang di periksa intensif. Semoga pak Alif cepat sadar dari komanya"
"Iya, kita doa bersama sama Anty. Kamu tau keajaiban selalu ada. Mengalami ini, membuat bunda ingat masa lalu" Wajah bunda menerawang jauh. " Yakin saja Anty, doa doa kita pasti akan terkabul. Berprasangka lah yang baik"
"Iya, bunda"
**
__ADS_1
Antyka sedang berada di kamarnya. Ia sedang bersiap untuk menyusul Alif. Kabar bahwa Alif sudah bangun dari komanya, Membuat Antyka tidak lagi sabar ingin segera menemui Alif. Ia membawa beberapa baju dalam tas kecil.
"Antyka, sudah siap nak ?" Suara bunda dari luar kamar terdengar jelas. " Mike dan Lira sudah datang" Sambung bunda lagi.
"Ya Bun" Antyka membuka pintu kamarnya. Sudah ada bunda yang berdiri menantinya. Bunda terlihat cantik meski sudah berumur. Sudah ada senyuman indah yang terlukis di wajahnya.
Mereka berempat pergi ke Singapura dengan pesawat pribadi milik Mike. Bahkan seluruh kebutuhan mereka nanti di sana sudah disiapkan oleh menantu bunda yamg bernama Mike. Antyka terasa canggung berada diantara bunda dan Mike. Kentara sekali bunda seolah menjaga jarak dari Mike. Meski Mike selalu bersikap ramah dan patuh pada bunda.
Setelah sampai di bandara changi, orang orang suruhan Mike pun sudah siaga menjemput. Mereka langsung menuju Apartemen Mike yang ada di tengah kota.
"Kita istirahat dulu Bun, Sore nanti kita baru temui Ayah dan Alif" Ucap Mike mempersilahkan bunda masuk ke dalam Apartemennya yang cukup mewah dan besar.
Bunda mengikuti langkah Mike dan Lira yang lebih dulu masuk kemudian Antyka. Mike sudah mempersiapkan semua kebutuhan bunda dan Antyka selama di Singapura.
"Bunda, perkenalkan ini Nani. Dia akan menyiapkan kebutuhan bunda selama di sini" Mike memperkenalkan Nani orang yang selama ini ia percaya mengurus Apartemen. "Dan Nanti ada Rajesh yang akan mengantar bunda kemana saja"
" Terima kasih, tapi apa kamu juga akan menempatkan penjaga, bodyguard di depan pintu apartemen mu ini?" ketus bunda pada Mike
Mike mengusap tengkuknya seolah salah tingkah dengan pertanyaan bunda. " Tidak bunda. Tidak ada penjaga disini. Hanya...,Saya dan Lira tidak tinggal di sini. Di sini hanya ada tiga kamar. Dua buat bunda dan Anty, satu lagi kamar untuk Nani"
Lira hanya tersenyum melihat kekesalan bunda dan Mike yang salah tingkah.
"Bunda silahkan istirahat, saya dan Lira akan keluar" Mike sudah menggandeng Lira untuk keluar
"Mike....," Mike menghentikan langkahnya dan menoleh pada panggilan bunda." Lira putriku, bukan tahananmu. Kau tidak perlu menyewa banyak bodyguard untuk menjaganya"
Wajah dan telinga Mike memerah dengan ucapan bunda. Namun tidak ada kata yang terucap dari pria itu. Ia pergi meninggalkan ibu mertuanya tanpa menoleh lagi.
"Bunda, Mike tidak bermaksud seperti itu" ucap Lira sebelum menghilang di balik pintu karena Mike terus menyeret tangan lira untuk mengikuti langkahnya, tanpa harus berdebat. Pria itu diam dan menahan perasaannya.
Sore Hari dengan diantar oleh Rajesh, bunda dan Antyka ke rumah sakit tempat Alif di rawat. Sudah tidak sabar, itu yang ada di benak dua perempuan beda usia.
Ayah menyambut mereka di loby. Bunda langsung memeluk Ayah yang tampak lebih kurus. Mungkin ayah lelah, selama ini menunggu Alif. Hanya Mike yang sesekali menggantikan Ayah. Karena Mike juga selain mengelola perusahaannya ia juga harus mengawasi urusan bisnis ayah. Mereka menuju ke ruangan Alif. Ruangan kusus tempat Alif di rawat.
"Anty, Alif sudah sadar. Kabar baiknya, Alif tidak kehilangan memori sama sekali. Tapi ada banyak bagian tubuhnya yang masih harus mendapatkan perawatan" Ujar Ayah Antusias menceritakan keadaan Alif. "Masih banyak alat bantu yang di gunakan oleh Alif dan kita hanya diijinkan melihatnya dari luar"
"Iya yah, Anty ngerti. Pak Alif sudah sadar itupun sebuah anugrah untuk kita. Terima kasih ayah sudah merawat pak Alif. Harusnya Anty yang merawat suami sendiri" Antyka merasa bersalah.
"Kita berusaha bersama Anty, Ayah tau posisi kamu. Kamu baru saja kehilangan Ayah. Kamu harus menguatkan diri terlebih dahulu. Ayah yakin semuanya bisa berjalan lancar"
Sampai di ruangan Alif sudah ada Mike dan Lira . Mereka lebih dulu datang. Bunda hanya mendengus melihat Mike duduk di sisi Lira. Pria itu seperti tidak mau berpisah dari istrinya. Berbeda dengan Ayah yang lebih santai menghadapi Mike. Meski tidak suka, Ayah lebih berbesar hati. Mengingat semua yang sudah di lakukan Mike.
Dari balik kaca Antyka menyaksikan Alif, pria yang sangat ia rindukan. Mata Alif sudah terbuka tapi di mulutnya masih ada selang dan alat alat bantu yang menempel di tubuhnya. Hatinya meleleh saat gerak mata mereka bertemu, Antyka hanya mampu mengusap kaca yang berembun. Mata mereka tersirat rasa rindu yang dalam. Hingga lelehan air mata mengalir diiringi senyum bahagia.
Di dalam ruangan sana. Perasaan Alif tak terkira. Kembali dapat membuka mata, melihat orang orang yang di cintainya hadir. Andai saja bisa ia ingin merengkuh mereka. Namun semua itu masih angan. tubuhnya belum bisa bergerak. Alif menatap sang istri yang terlihat nelangsa. Pipinya basah oleh lelehan air mata. "Aku rindu kamu Anty.....,.tolong tunggu aku. Aku akan berusaha secepatnya sembuh" gemuruh dalam dada Alif menguar sebuah keinginan yang kuat untuk segera sembuh.
Sore itu menjadi momen bahagia tersendiri bagi keluarga Alif, perjuangan untuk kesembuhan Alif mulai ada titik terang. Meski menguras tenaga, emosi dan tidak sedikit materi juga waktu yang tercurah. Namun kesadaran Alif menjadi obat paling sempurna dari semua kesedihan yang datang beruntun menimpa keluarga.
__ADS_1
Antyka membuka ponselnya, Mengirim pesan pada mama dan kak Luthfi mengabarkan keadaan Alif yang sudah mulai membaik. Semoga kabar ini mampu membuat beban fikiran mama Ajeng dan Luthfi berkurang.