Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
38. Situasi yang berbalik


__ADS_3

Ada air matanya yang menetes. mulutnya lirih bergetar menyebut nama Antyka. Dadanya sangat sakit menyaksikan semuanya. Antyka di jemput pria tampan. Alif mengenali sosok itu, Kakak angkat Antyka. Dulu kala ia pernah berharap Ibra bisa membahagiakan Antyka. Kini Saat benar benar menyaksikan mereka bersama seperti sebuah keluarga. Hati Alif serasa di ledakan, luluh lantak tak bersisa.


Mike memegang bahu Alif erat. Sesama pria ia paham apa yang Alif rasakan. Dulu kala Mike pernah begitu putus asa saat di tinggal kabur oleh Lira. Hatinya remuk tak berbentuk. Ia sempat depresi dan harus mengonsumsi obat untuk beberapa waktu.


" Aku pernah mengatakan padamu, Lif. Aku tidak ingin kamu merasakan apa yang aku alami dulu"


" Sakit Mike"


"Masih ada kesempatan Lif, menurut informanku, mereka baru bertunangan. Tapi...mereka sedang mempersiapkan hari pernikahan mereka dalam waktu dekat ini"


"Aku harus apa?"


" Aku melihat Antyka masih memiliki perasaan yang dalam padamu, Tidak ada salahnya kamu berusaha. Kamu punya Cahaya, dia bisa membantumu "


" Aku bukan pria licik sepertimu. Memanfaatkan putra kalian Jefrey untuk membawa kak Lira kembali ke dalam pelukan mu"


"I don't care. Bagiku cinta harus memiliki" Mike tersenyum sinis


"Aku di besarkan dalam budaya timur, Perasaan kami lebih halus. Beda dengan mu yang berasal dari barat"


"Aku cinta Lira, Lif. Aku bisa melakukan apapun untuknya. Kau tau itu"


Mike, pria dingin yang mengerikan. Alif tidak habis pikir, pria seperti ini bisa bertekuk lutut dengan kakak perempuannya, lira. Alif dan Mike serta keluarganya pun ikut meninggalkan restoran, Menyusul Antyka dan Cahaya.


***


Jalanan masih sangat macet, riuh klakson orang orang yang tidak sabar membuat semakin kacau. Alif mencoba untuk memejamkan matanya. Namun naas kebisingan dan udara yang panas membuatnya semakin gelisah .


Tidak biasanya jam segini jalanan macet parah, ini bukan jam pulang kantor. Pasti ada kejadian yang tidak terduga di depan. Sayup terdengar suara polisi yang meminta para pengendara bersabar. Terjadi kecelakaan di depan . kemudian untuk beberapa saat, akhirnya mobil Alif mulai bisa bergerak.


Saat sudah sampai di parkiran rumah sakitnya. Alif melihat korban kecelakaan masuk ke ruang UGD. Disana sudah ada banyak dokter jaga yang menangani. Langkah Alif tergerak menuju kesana. mungkin saja keberadaanya bisa sedikit membantu.


Alif terhenti diantara hiruk pikuk pasien dan petugas medis. Matanya tertuju pada korban yang belum di tangani. Seorang wanita yang bajunya penuh darah. Alif segera mendekat.


Jantungnya seakan berhenti saat mengenali wanita yang masih duduk menunggu untuk mendapat penanganan.


"Antyka..., kamu kenapa, bajumu penuh darah?" Alif mengangkat tubuh Antyka keatas brangkar tanpa menunggu jawaban. Alif menggunting lengan baju Antyka yang penuh darah juga daerah perut.


"Pak Alif ...hentikan ....hentikan Aku tidak apa apa" Antyka kaget dan gelagapan tiba tiba saja ia diangkat dan di baringkan di brangkar. Ia mengenali pria ini, dokter Alif .


" Kamu terluka Antyka, aku harus membersihkan lukamu. Bret...." sejenak Alif terdiam tidak ada luka di bagian lengan Antyka. Yang ia temui hanya kulit indah yang bersih. Alif memalingkan mukanya. " Darah itu dari mana?" lirih Alif menyesal, Ia telah merobek baju Antyka.


"Dari korban kecelakaan, aku ikut menggendong anak yang terluka dan membawanya kemari"


" Kamu benar benar, gak papa?"


" Iya"


" Maaf Anty"


"Maka nya ada orang ngomong itu di dengarkan dulu. Langsung main sobek saja baju orang" Antyka duduk dan turun dari brangkar sambil memegang lengan bajunya yang sudah tergunting.


" Ikut aku, ada baju di ruanganku"


" Aku lupa ini rumah sakit mu, kalau tau aku tidak akan bawa mereka kemari" ucap Antyka sinis


" Sebenci itu kamu denganku Anty?"


Keheningan menyelimuti, Antyka hendak keluar dari ruangan. Tapi Alif mencegahnya. ia tidak ingin orang lain melihat apa yang telah ia buat.


" Jangan keluar tunggu!" Suara Alif tegas masih seperti dulu.


Antyka menoleh sebal. "Pria itu tidak pernah berubah, Suka sekali mengatur hidupku. Aku bukan lagi istrinya apa pedulinya?" Antyka tetap melangkah keluar namun Alif mencengkram tangannya.


" Kamu mau auratmu terlihat oleh banyak orang?. Pakai jas ini untuk menutupinya" Alif melepas jasnya dan memasangkan di tubuh kecil mantan istrinya. " Sekarang ikut aku"


"Lepas, saya tidak mau ikut denganmu" berontak Antyka. Alif sepertinya menjadi tuli mendadak sekuat tenaga ia menyeret lengan Antyka agar mengikuti langkahnya keluar dari ruangan UGD.


" Masuk" ucap Alif saat mereka ada di depan ruangan pribadinya. Antyka hanya bisa menatap nyalang.Tidak suka dengan tindakan Alif.


"Tidak mau"


" Masuk" Alif tetap memaksa Antyka untuk masuk kedalam ruangan. Meski meronta Antyka tetap tidak bisa menandingi kekuatan pria.


Antyka sudah berada dalam ruangan Alif. klek..

__ADS_1


pintu ruangan itu terkunci.


" Apa yang kamu lakukan ?" ada sedikit rasa takut dalam benak Antyka.


" Rasanya kita semakin akrab Anty. Aku kamu..., pilihan kata yang tepat" kemudian Alif tertawa kencang. "Tapi aku lebih suka kamu memanggilku pak Alif, itu terdengar lebih sopan"


Antyka berusaha membuka pintu, bahkan ia terus membuat kebisingan agar Alif terganggu dan melepaskannya. Pria ini sudah sinting rupanya. Namun sayang, Alif sama sekali tidak menggubrisnya. Pria itu terus mengetik sesuatu dalam ponsel.


Setengah jam kemudian Antyka sudah mulai lelah. Akhirnya ia duduk di sebuah kursi dan memunggungi Alif sambil terus menggerutu.


" Maksud kamu apa mengurungku di sini?" suara Antyka mulai tenang.


" Tidak ada, aku hanya ingin membantumu saja"


"Membantu apa? kamu sama sekali tidak membantu, justru menghambatku. Aku harus cepat kembali ke tempat kerjaku"


" Tunggu sebentar lagi mungkin lima belas menit. Kamu bisa melakukan apapun disini" jelas Alif tanpa perduli apa yang Antyka rasakan.


"Anty....," panggil Alif sendu. Antyka menoleh " Apa kamu akan menikahi Ibra?"


"Ya, aku akan menikah dengan kak Ibra, dua bulan lagi"


" Apa kamu mencintainya ?" Alif menatap dalam


" Dia pria baik, kenapa tidak?"


Alif tersenyum dengan perasaan sakit, mendengar jawaban Antyka. "Semoga kamu bahagia Anty"


" Terima kasih" Sahut Antyka Acuh ia masih memunggungi Alif, melihat kearah jam tangannya lagi. "Berapa lama rencanamu untuk mengurungku di sini?"


"Sampai aku selesai membantumu" Ujar Alif sambil membuka pintu dan seseorang datang menyerahkan paper bag yang cukup besar. "Pergilah mandi dan ganti baju disana" Alif menunjuk kamar mandi. " Aku sudah siapkan keperluan mu semua" Alif menyerahkan paper bag pada Antyka.


" Aku tidak mau, Aku mau pulang saja"


" Kamu masih betah disini denganku? Terserah sih. Aku justru senang. Kalau ingin cepat pergi, turuti perintahku"


" Aku kira kamu sudah berubah, teryata masih sama saja. pria yang suka memaksakan kehendak"


"Semakin lama kamu di sini, aku semakin senang. Lihatlah dirimu seperti apa Antyka? kotor dan berbau amis, bajumu juga robek. ini sudah siang, kamu harus beribadah dalam keadaan suci. Masih mau berdebat? aku tidak masalah, Atau kamu mau aku mandikan?"


Antyka berpikir lebih cepat meninggalkan tempat ini, lebih baik.


" Sudah selesai?" tanya Alif saat melihat Antyka yang sudah segar setelah mandi.


" Sudah, sekarang buka pintunya aku mau pulang sekarang"


'' Apa, kak Ibra mu sudah menjemputmu kemari?"


" Tidak, aku pulang sendiri"


" Biar aku panggil supir untuk mengantarmu"


"Aku bawa mobil sendiri, tidak usah"


Alif terdiam dengan jawaban Antyka kemudian membiarkan Antika keluar dari ruangannya setelah ia membukakan kunci. Antyka melangkah keluar dengan membawa baju kotor di tangannya. Baru beberapa langkah ia berjalan...


" Antyka...." Alif kembali memanggil. Dengan enggan Antyka kembali berbalik." Aku sangat merindukan kamu" lirih Alif sambil menatap sendu.


Sejenak Antyka diam tak bergeming. Kata kata Alif membuat dadanya kembali berdenyut tidak wajar. Perasaan kecewa, sakit tapi juga bahagia saat pria yang selama ini ia sebut dalam setiap doa doanya mengucapkan rindu.


"Pak Alif...kita sudah usai..." ucap Antyka sembari berurai air mata. Ia pergi meninggalkan Alif meski pria itu masih memanggil. Antyka takut perasaanya semakin menyala dan berkobar lagi. ia putuskan untuk mengakhirinya.


" Antyka...apa sudah terlambat?" teriak Alif kencang. Tapi langkah Antika semakin kencang dan menjauh. Alif kembali masuk kedalam ruangannya. Duduk termenung sendiri. " Harusnya aku tidak menyakiti dirimu lagi, Anty. Dengan mengatakan perasaanku padamu. Aku tidak bisa menahan diri. Maaf aku mengungkit lagi masa lalu kita. Aku sudah bersukur memiliki Caya darimu. Harusnya aku tidak serakah"


Antyka sejenak menenangkan diri di dalam mobilnya. Menghapus bulir bulir bening yang berjatuhan. Hatinya menjadi rapuh. " Perasaan ini membingungkan ku, pak Alif. Harusnya aku tidak lagi menangis saat kau mengucapkan rindu. Dulu aku berharap bisa melihatmu dalam keadaan tampan dan sehat. Aku pikir itu akan membuatku bahagia dan baik baik saja. Tapi rasaku berharap lebih, keadaan kita sudah berbeda, Kali ini akulah yang harus meninggalkanmu. semoga kau pun bisa bahagia"


Antyka memajukan mobilnya berlahan. Sampai di kantornya beberapa stafnya terlihat panik.


"Mbak Antyka gak papa? sukurlah, tadi pak Ibra telepon ke kantor beberapa kali karena ponsel mbak Anty tidak bisa dihubungi"


" Saya baik baik saja" ujar Antyka sembari duduk.


"Mbak Anty telepon pak Ibra,kasian dia kawatir. Katanya di jalan yang biasa mba lewati ada kecelakaan beruntun"


" Oh iya, saya telepon kak Ibra dulu"

__ADS_1


Antyka membuka ponselnya,banyak sekali panggilan tidak terjawab dari ibra, Luthfi juga mamanya. Antyka mengetik pesan pada ponselnya pada beberapa orang yang tadi menghubunginya karena cemas.


Terakhir Antyka akan menelepon Ibra, mengabarkan keadaannya kalau ia baik baik saja. Baru beberapa saat pesan terkirim, Ibra sudah berada di depan Antyka.


"Kak Ibra ..."


" Kamu membuatku cemas setengah mati. Aku hampir tidak bisa bernafas Anty" Ibra terlihat marah.


" Maaf kak Ibra, tadi Anty ikut menolong korban kecelakaan. Anty membawa mereka ke rumah sakit. Kebetulan mobil Anty ada di dekat situ"


"Kamu ada ponsel, kenapa tidak menghubungi kami lebih dulu. Setidaknya, kalau kamu tidak ingat aku ya mama, Anty"


"Kak Ibra.." Anty sedikit tersinggung dengan ucapan Ibra. Selalu saja pria itu bersikap seolah Antyka tidak menganggapnya.


"Aku cape kak Ibra, disana aku membantu orang, tidak sedang pergi main main. Lebih baik kak Ibra kembali ke kantor kak Ibra. Aku ingin istirahat dulu. Kita bicara lagi saat makan malam seperti janji kita kemarin" Antyka yang sedang dalam keadaan lelah raga dan emosinya. Sudah tidak lagi memiliki energi untuk bertengkar dengan Ibra. Lebih baik ia pergi saja.


" Harusnya kita bicara bukannya kamu pergi, Anty"


" Bicara apa lagi? aku menolong orang yang kecelakaan . Disana aku bahkan lupa pada diriku sendiri. Aku panik, yang terpikir bagaimana mereka selamat dan cepat mendapat pertolongan"


"Kamu tidak mengerti perasaanku, Anty. Aku juga panik mencarimu kesana-kemari"


" Kita sudah ketemu, kak Ibra. kak Ibra lihat sendiri aku baik baik saja. Apa lagi masalahnya? Aku minta maaf karena lupa menghubungi siapapun, Cukup kan penjelasannya? Aku sangat menghargai kak Ibra yang cemas. Aku terima kasih karena kak Ibra menyayangiku"


Ibra terdiam dengan penjelasan Antyka, Ia membiarkan Antyka berlalu. Mungkin sikapnya keterlaluan, Ia akui itu. Ibra terlalu menyayangi Antyka hingga bersikap berlebihan. Kemudian ia memutuskan untuk pulang lagi ke kantornya. Antyka sudah berjanji akan menemuinya saat makan malam nanti.


" Apa kak Ibra sudah pulang?" tanya Antyka pada salah satu karyawannya.


" Sudah mbak. Kasian mas Ibra nya, tadi kelihatan lesu gitu"


" Gak papa, nanti juga kita bakal ketemu lagi'


Antyka melanjutkan aktifitasnya lagi. Meski hari ini perasaannya berasa campur aduk tidak menentu.


**


Pukul tujuh malam Antyka sudah bersiap dengan gaun malam yang cantik. Ia berharap penampilannya dapat membuat perasaan Ibra lebih baik. Caya saja terpesona dengan penampilan Momynya. Anak kecil itu berulangkali mengatakan ingin punya gaun yang sama.


" Momy, Caya mau baju kaya punya momy"


" Iya, besok momy buatkan yang ukuran kecil. Spesial buat Caya"


" Janji momy"


" Hmm"


Suara mobil Ibra sudah terdengar masuk kedalam halaman rumah.


" Caya, ayah datang. Tolong suruh Ayah masuk dulu. Momy akan memakai sepa..." Belum selesai bicara,Gadis kecil itu sudah berlari menemui Ayahnya.


"Ayah kata momy duduk dulu, Sebentar lagi momy selesai"


" Iya, Caya mau ikut?"


" No, kata momy, Ayah dan momy mau ketemu klien. Ayah dan momy kerja, jadi Caya di rumah saja belajar, sama Oma" ucap Caya sambil duduk di pangkuan Ibra manja.


Mama Ajeng menemui Ibra dan membawa Caya masuk kedalam.


" Kita berangkat sekarang, kak Ibra?"Suara Antyka mengejutkan Ibra yang sedang bermain ponsel sambil menunggu kedatangannya .


" Anty, kamu cantik sekali" Ibra selalu menatap dengan tatapan memuja. Ibra langsung menggandeng Antyka keluar setelah berpamitan pada mama Ajeng dan Caya.


" Terima kasih sudah mau menemaniku. Sebenarnya aku takut kamu masih marah soal tadi siang" Ucap Ibra sambil mengendarai mobilnya.


" Kak Ibra, maaf untuk kejadian tadi siang. Aku yang salah. Akan aku ingat ingat. Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tidak bermaksud melukai kak Ibra"


" Lupakan Anty, aku yang harus minta maaf. Kita nikmati malam ini, ya"


"Harusnya aku bersukur ada kak Ibra yang menyayangiku dan mencemaskan aku. Aku yang egois ..."


"Aku tidak bisa melihat kamu terluka, Anty. Dalam fikiranku hanya tentang kamu. Aku ingin jadi tempatmu bersandar. Aku akan ada saat kamu menginginkannya. I love you..." Langit masih bertabur bintang, semilir angin menghembus malam. Jemari mereka saling bertautan. Menguar sejuta rasa yang terpendam. Indah karena tulus.


Happy reading.....


yang komen dan like ...bikin Author merasa kalian ada dan mendukungku

__ADS_1


__ADS_2