Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
16. Sampai kapan?


__ADS_3

Alif sudah tidak bisa menahan diri. Ia keluar dari mobilnya dan menghampiri Antyka yang sedang berbicara dengan dosennya.


" Antyka ..." Alif langsung meraih lengan Antyka posesif .


" dr Alif ...?" Digta tercekat dengan perilaku rekannya sesama dosen. Meskipun tidak terlalu dekat. Digta yang nota bene dosen ekonomi sangat mengenal dr Alif, dosen dari fakultas kedokteran. Mereka sering bertemu diacara acara rapat dengan dosen lintas jurusan.


Yang Digta tau, dr Alif adalah pribadi yang berwibawa dan menjaga sekali kesopanan. Tapi saat ini, ia justru melihat dr Alif yang sedikit kurang ajar pada mahasiswinya.


" Pak Digta, pasti bingung kan ? Antyka ini, istri saya"


" Istri ...?"


" Iya, kami sudah menikah seminggu yang lalu. Tapi kami memang belum menggelar resepsi. Kami masih menunggu kesehatan prof Damar pulih " Alif menjelaskan pada Digta.


" Wah..., kalo begitu selamat ya dr Alif, Antyka. Maaf saya memanggil Antyka untuk tugas yang harus di berikan pada teman teman kelasnya"


" Iya tidak apa apa. Apa Antyka jadi PJ di mata kuliah pak Digta ?" Alif enggan melepaskan genggaman tangannya dari Antyka .


" Betul dr Alif. Kalau begitu saya permisi dulu " Digta segera permisi dari hadapan dr Alif dan Antyka.


Tanpa berkata kata lagi Alif membawa Antyka kedalam mobilnya. Saat menutup pintu Alif terkesan kasar dan membanting. Antyka ketakutan di dalam mobil, ia hanya bisa melihat Alif yang begitu marah. Mengerikan, batin Antyka menciut.


Alif masuk kedalam mobil tanpa menghiraukan Antyka. Keduanya diam di sepanjang perjalanan menuju rumah.


" Pak Alif marah ya ?"


" Kamu pikir saja sendiri "


" Pak, jangan marah gitu, Anty takut. Anty salah apa ? Hanya nunggu dosen yang manggil untuk ngasih tugas"


" Kamu nggak ngerti perasaan saya Anty, saya paling tidak suka istri saya ditatap pria lain dengan tatapan memuja. Sesama pria saya tahu arti tatapan dosen kamu. Belum lagi para mahasiswa yang ada di sana, melihat kamu seperti makanan saja. Salah kalau saya kesal ?"


" Trus Anty harus gimana ? Anty gak niat begitu. Apalagi menyakiti perasaan pak Alif. Apa Anty harus punya Aji halimunan gitu? biar gak ada yang bisa lihat " Kata kata itu meluncur polos dari bibir Antyka yang membuat Alif mengernyitkan dahinya. Sambil mengulang kata "Aji halimunan"tak lama tawa Alif langsung pecah


" Gak lucu Anty " tiba tiba saja perasaan Alif jadi membaik. Amarahnya menguap begitu saja.


" Nah kalo gini, Anty sudah gak takut lagi sama pak Alif. Tadi itu, pak Alif kelihatan serem banget "


" CK..., Kita pulang kerumah bunda " ada nada sedikit kesal berujung pada sebuah perintah yang tidak bisa Antyka tolak


" lho, kan ke rumah bunda atau mama kalau week end"


" Ini urgent, kita harus cepat ke sana "


" Bunda baik baik saja kan, pak Alif ?"


" Ini tentang urusan kita "


" Aku mau mengumumkan pada dunia kalau kamu sudah jadi milik aku. Biar tidak ada lagi orang yang mengambil kesempatan dengan dalih ketidaktauan mereka "


" Maksud pak Alif ?"


"Aku ingin mengadakan resepsi pernikahan kita. Biar semua orang tau tentang hubungan kita "Alif berucap sedikit emosional


" Terserah pak Alif " Antyka tidak ingin mendebat .


Alif menggenggam jemari Antyka. Wanita di sampingnya ini bisa mengimbangi dirinya yang pencemburu dengan sikap penurut dan kadang polos. Alif tau, kalau dalam hal ini Antyka memang salah.


***


Antyka berada di dapur bersama bunda Amalia. Keduanya sedang menyiapkan makan malam. Antyka begitu kagum dengan kelihaian ibu mertuanya itu.


" Bunda, kapan Anty bisa bikin masakan kaya gini ya ?" Anty hanya menjadi asisten bunda


" Lama lama juga pinter Anty, bunda dulunya juga tidak terlalu bisa memasak. Ayah juga tidak pernah menuntut bunda untuk bisa. Tapi bunda selalu ingin bisa nyenengin Ayah, Bunda terus belajar "


" Oh gitu ya bunda "


" Tenang saja, Alif sangat mirip dengan Ayah. Dia tidak terlalu rewel dengan makanan. Dia akan makan apa saja yang kamu hidangkan. Tapi ...." Bunda menggantungkan ucapannya sambil terus mengaduk tumis cumi di wajan.

__ADS_1


" Tapi apa Bun ?"


" Apa Alif pencemburu seperti Ayah? itu sifat yang sering membuat bunda jengkel" Bunda tertawa hingga lesung pipinya terlihat.


" Ia Bun, kalo lagi cemburu marah marah nggak jelas. Anty jadi serem " Antyka membayangkan kejadian tadi.


" Yang sabar yah ...itu tandanya Alif sangat menyayangimu. Kamu harus pintar pintar meredam amarahnya "


" Iya Bun. Anty bawa kemeja makan ya Bun yang udah jadi makanannya" Antyka menunjuk makanan yang sudah selesai di masak


" Tidak usah, biar mbak Siti saja yang bawa ke meja makan. Kamu ke kamar saja sana, temani Alif. Sepertinya putra bunda butuh di hibur "


" Bunda..."


" Mandi, dandan yang cantik, nanti kita makan malam bersama "


Setelah salat magrib bersama mereka sudah berada di meja makan.


" Anty, besok bunda mau ajak kamu ke butik buat fitting gaun. Kamu selesai kuliah jam berapa ? biar bunda jemput "


" Jam sebelas Bun, besok cuma ada satu mata kuliah "


" Gak usah di jemput Bun, biar Alif yang jemput Anty. Bunda share lokasinya saja, kebetulan Alif besok free "


" Ya, sudah bunda sama kak Lira besok "


" Yakin bakal diizinin sama si Mike Bun ?"Ayah Haris setengah meragukan keinginan bunda


Kemudian wajah bunda berubah menjadi mendung. Antyka hanya bisa menjadi penonton sambil menebak nebak, ada apa gerangan dengan Mike suami kak Lira .


" Biar Alif yang bilang sama kak Mike Bun, Tenang saja. Bunda bisa lepas kangen sama kak Lira sepuasnya besok "


" Terima kasih sayang, bunda memang sudah kangen kak Lira "


Setelah selesai makan malam, Alif menuju ruang kerja Ayah Haris.


Ayah Haris mengerutkan dahinya. Tentu saja heran, putranya yang keras kepala tiba tiba saja mengundurkan diri dari rumah sakit yang sangat ia sukai.


" Berarti, Ayah yang menang. Boleh Ayah tau alasan yang membuat kamu mundur ?"


Kemudian Alif menceritakan semua. Reaksi Ayah Haris hanya tertawa senang. Ia justru merasa berterima kasih. Dengan kejadian ini setidaknya Alif lebih terbuka. Bahwa Harta, tahta itu memang di perlukan untuk menjalani hidup di dunia nyata .


" Beruntung kamu adalah putra Haris pradipta, Alif. Kamu masih bisa melindungi wanita yang kamu cintai. Kamu tau ? betapa sulitnya Ayah saat ingin mempertahankan bundamu. Sepuluh taun, Ayah harus berpisah dengan bunda. Meski Ayah sudah bertemu lagi dengan bundamu. Ayah masih harus berjuang untuk mendapatkannya lagi. Rasa sakit dan dendam Ayah rasakan. Hingga takdir masih menyatukan ayah dan bunda di kesempatan kedua kami. Dan lahirlah putra ayah yang keras kepala ini "


" Maafkan Alif yah, Selama ini Alif egois. Tidak mau peduli dengan bisnis bisnis Ayah "


" Kamu sama kerasnya dengan Ayah, Ayah paham. Mulai sekarang luangkan waktumu untuk mendampingi Ayah"


" Alif akan menerima bantuan ayah untuk mengelola rumah sakit sendiri. Dan Alif juga akan melepaskan pekerjaan Alif di kampus sebagai dosen. Selebihnya Alif akan mendampingi Ayah menangani perusahaan perusahaan Ayah "


" Kebetulan besok ada rapat pemegang saham rumah sakit Mitra sehat. Ayah ingin memperkenalkan kamu pada mereka " turur Ayah Haris serius


" Tapi Yah, mereka pasti akan malu "


" Ayah ingin melihat keangkuhan mereka runtuh, Lif. Baru punya rumah sakit seperti itu saja sudah sombong. Ayah tidak suka dengan orang orang yang seperti itu" Haris menepuk nepuk bahu tegap putranya


" Alif ikut apa kata Ayah "


" Dalam dunia bisnis kadang kita harus sedikit tegas, tidak boleh lemah Lif. Apalagi dengan orang orang yang sombong dan sewenang wenang seperti mereka. Lakukan yang pantas tanpa harus melupakan fitrah kita, manusia adalah hamba Tuhan. Karena harta dan tahta juga bisa membuat manusia lupa diri " Haris menanamkan pengertian pada sang putra. "Ayah mau menghibur bundamu, sepertinya dia jadi sedih dengan ucapan ayah tadi "


Keduanya mengahiri obrolan dan keluar dari ruang kerja Ayah Haris.


***


Di dalam kamar, Antyka baru saja selesai mengganti bajunya dengan piyama.


" Sudah mau tidur ?" sapa Alif saat baru masuk kamarnya


" Iya ngantuk "

__ADS_1


" Udah solat isya ?"


" Sudah, nunggu pak Alif lama. Antyka solat duluan " Ucap Antyka sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur


" Tadi aku ngobrol banyak sama ayah" Jawab Alif sembari membantu Antyka memasang selimut tebal. Tangannya mengusap pucuk kepala Antyka dan kecupan selamat malam


Alif berbaring disisi Antyka, mereka saling berhadapan


" Pak Alif, tadi bunda kelihatan sedih saat membahas kak Lira. Memang kak Mike itu gimana ?"


" Ceritanya panjang, Antyka. Mike terlalu posesif pada kak Lira, Kak Lira tidak bisa sembarangan ijin keluar rumah"


" Oh gitu ya"


" Hmm"


" Pak Alif sudah solat ?"


" Belum "


" Solat dulu nanti keburu ngantuk "


" Kalo aku nurut dapat hadiah ?"


" Ish solat kan wajib, pak Alif "


Alif mencubit hidung Antyka yang mancung, karena gemas


" Ya sudah aku solat dulu, tapi kamu jangan tidur duluan ya, tunggu aku "


" Iya ...kalo gak khilaf " Antyka tersenyum jail


Alif menunaikan kewajibannya kemudian menyusul Antyka yang sudah lebih dulu berbaring di atas ranjang mereka. Teryata Antyka sudah lebih dulu terlelap. Alif memandangi wajah istrinya yang begitu damai


dalam lelap. Jemarinya menyusuri garis wajah Antika. Bibirnya kembali menyapu dari kening hingga berhenti di bibir merah Antika. "Antyka, sampai kapan aku bisa memilikimu, utuh?" gumam batin Alif yang harus masih menahan gelora hasratnya.


***


Saat mentari sudah bersinar terang. Alif membuka matanya, melirik kearah jam dinding. Ia terperanjat, kemudian teringat Antyka yang harus berangkat ke kampus pagi ini .


Tubuh Alif terasa lelah, semalaman ia tidak bisa tidur. Alif tidak dapat memejamkan matanya setelah menunaikan solat subuh.


" Bunda, Antyka mana ?"tanya Alif begitu duduk di ruang makan


" Antyka sudah berangkat ke kampus"


" Sudah berangkat ? dengan siapa Bun?"


" Bareng Ayah, sekalian ke kantor. Kamu itu harus lebih tanggung jawab dan perhatian Lif, sama istri. Kasian loh, dari tadi dia bolak balik bangunin kamu yang kaya orang pingsan tidurnya "


" Maaf Bun "


" Untung ada Ayah. Lif, tolong kamu temui Mike. Bilang sama dia, bunda ingin pergi dengan kakakmu ke butiq"


" Iya nanti habis sarapan Alif ke kantor Mike "


" Kamu telepon dulu, biar orang orangnya tidak nyebelin"


" Iya "


Alif pergi ke teras depan, berbicara dengan Mike, untuk membuat janji temu. Hal itu harus ia lakukan. Meskipun dia adalah adik iparnya. Mike yang otoriter memang selalu bersifat kaku dan tegas. Apa lagi hal yang menyangkut kak Lira.


" Hallo" suara berat dan dingin Mike dari sana


"Kak Mike, aku mau bertemu"


" Aku di kantor dan jam sepuluh ada rapat, Datang sebelum jam sepuluh. Lebih dari jam sepuluh aku tidak bisa menemuimu "


" Ya aku datang sebelum jam sepuluh " Alif menutup ponselnya. Merasakan sesak di dada. Sangat sulit bertemu dengan kakaknya sendiri. Tapi apalah daya, dia tidak bisa berbuat apa apa. Kak Lira sendiri yang memilih jalan ini.

__ADS_1


__ADS_2