Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
17. Ego yang runtuh


__ADS_3

Dua orang pria dengan perawakan tegap berbaju hitam dan juga jaket jeans biru tua memencet bel berkali kali. Cukup lama sang pemilik rumah akhirnya membuka pintu meski hanya terbuka separuhnya.


" Ada apa ? "


Salah satu dari mereka mengeluarkan kartu anggota kepolisian.


" Kami perlu bicara dengan anda, tuan Ibrahim "


Pintu pun terbuka lebar, dua orang itu masuk kedalam.


" Saya harus ganti baju dulu, maaf. Saya baru saja mandi "


" Silahkan "


Ibra membalikan badan, baru tiga langkah dua orang itu menyergapnya dari belakang dengan Obat bius. Seketika Ibra langsung melemahdan ambruk tanpa perlawanan.


" Cepat Ambil sampelnya "Seru salah satu pria


Mereka menggunting rambut milik Ibra yang masih tidak sadarkan diri. Setelah mendapatkan yang mereka inginkan. Dua pria itu segera meninggalkan Apartemen Ibra.


Selang satu jam, Ibra sadarkan diri. Kepalanya sangat pening dan terasa berat. Dengan terhuyung Ibra menuju sofa, merebahkan badannya di sana.


Ia melihat sekeliling ruangan, masih tertata dengan rapih. Tidak ada bekas bekas perampokan. Ibra pun mengamati tubuhnya, tidak ada yang terluka.


Setelah dapat menguasai dirinya, Ibra segera memeriksa kamar dan juga isi rumahnya. Nihil tidak ada jejak yang mencurigakan. Semua barang berharga di rumahnya utuh, tidak ada yang hilang ataupun rusak.


Ibra membuka laptopnya memeriksa rekaman cctv dari sana. Dan rekaman di saja sudah diacak. Mereka sangat rapi dan sepertinya profesional.


Di Jakarta, tuan Hendro mendapat kabar bahwa anak buahnya sudah mendapatkan sampel, untuk melakukan tes DNA.


" Cari penerbangan yang paling cepat, Aku ingin segera mengetahui hasilnya"


" Baik tuan, kami akan segera datang "


Saat ini tuan Hendro sedang berada di rumahnya. Perasaannya gelisah, ia sangat takut untuk kembali kecewa oleh kenyataan yang akan ia hadapi. Menanti hasil tes DNA antara dirinya dan Ibra. Waktu sudah bergulir hari ini dia akan mendapatkan hasilnya.


Saat asistennya datang, tuan Hendro begitu antusias. Mereka langsung menuju ruang kerjanya yang ada di lantai satu. Bahkan tuan Hendro mengunci rapat ruang kerjanya.


Ardy asisten tuan Hendro, menyerahkan sebuah map cukup besar berlogo sebuah rumah sakit. Dengan tangan gemetar tuan Hendro menerimanya. Ia sangat emosional dan mendekap map itu di dadanya.


" Ardy, aku tidak sanggup membukanya " Tuan Hendro menyerahkan map nya kembali


" Tenang saja tuan, apapun hasilnya tuan harus bisa menerima " Ardy mencoba menenangkan tuan Hendro


Akhirnya tuan Hendro mengangguk, perlahan ia merobek ujung map dengan hati hati. Selembar kertas yang akan merubah hidup dan perasaannya. Membacanya baris demi baris hingga pada satu kesimpulan probabilitas 99,99% . Ibra benar benar putra kandungnya.


Tuan Hendro menitikkan air matanya. Namun kondisi tubuhnya terhuyung menahan desakan emosi yang begitu meluap. Ardy segera menenangkan tuan Hendro.


" Aku ingin menemuinya Ardy, aku tidak sabar ingin memeluk putraku"


" Kami akan menjemput tuan muda Ibra, Bersabarlah tuan "


" Hana, panggilkan Hana. Ah tidak tidak aku akan memberi tahu jika Ibra sudah berada di sini. Biarkan Hanna bisa mengenali putranya sendiri " Senyuman itu terlukis di wajah tuan Hendro.


***


Antyka memasuki ruang ganti dan diikuti oleh kak Lira. Lira nembantu Antyka memakai bajunya, kemudian ia berdecak kagum.


" Baju ini bagus banget di kamu Anty "


" Beneran kak ?" Antyka masih ragu dan bertanya

__ADS_1


" Kamu seperti princes, cantik dan cantik " Senyuman kak Lira tulus."Kamu sangat beruntung dengan Alif " Ada tatapan sendu di mata kak Lira.


"Kak Lira, apa kak Lira bahagia dengan pernikahan kakak. Kak Mike sepertinya sangat membatasi kak Lira ?"Antyka mengungkapkan isi hatinya.


Lira tersenyum menepis wajah mendung. Jemarinya bergerak membetulkan letak gaun bagian bawah yang menjuntai.


"Kakak bahagia, Mike sangat mencintai kakak. Bahkan terlalu cinta. Yang tidak Mike punya adalah ketenangan. Mike terlalu takut untuk kehilangan. Mike perlu di mengerti untuk hal ini. Kakak sudah memilih untuk bersama Mike. Kakak menerima kekurangan Mike" Usai berucap Kak Lira membawa Antyka keluar ruangan.


Bunda dan Alif menatap lekat bidadari yang baru saja keluar.


" Cantik sekali Antyka, bunda suka. Gimana kamu suka, kan ?"


" Iya bunda cantik gaunnya "


" Bukan gaunnya yang cantik, tapi istri aku yang cantik " Alif sudah menangkup wajah Antika dengan tatapan dalam.


Ketika sedang asik bercengkrama, ponsel kak Lira berdering.


" Iya masuk saja aku di dalam dengan bunda, Alif dan Antyka"


" Suami mu ?" bunda cemberut. Lira cepat memeluk bunda dan menenangkannya.


" Iya bunda sayang. Bunda kalau masih kangen bisa datang ke rumah Lira. Mike pasti membiarkan kita ngobrol sepuasnya"


" Bunda tidak suka di rumahmu. Apalagi tuh, bodyguard bodyguardnya yang kaya Hulk berjajar, pingin bunda lempar pake sendal"


Muncul Mike dengan wajah lega, saat menatap Lira. Tanpa rasa malu pria itu langsung memeluk Lira. Lira mengusap punggung Mike lembut.


Mike baru tersadar, di sana ada ibu mertuanya. Ia tersenyum malu dan menyodorkan tangannya.


" Apa kabar Bun ?"


" Baik " Ucap bunda singkat " Sudah sana kalian pergi bunda sudah selesai dengan Lira. raut ketus itu jelas terlihat.


" Bunda, lira pulang dulu dengan Mike " keduanya berpamitan meninggalkan butik


Bunda duduk termenung di sofa. Wajah mendung dengan mata yang berkaca kaca. Alif segera menghibur bunda yang sedang bersedih.


" Bunda, sudah. jangan nangis seperti itu. Kasian kak Lira, pasti dia serba salah. Putri bunda sudah menikah. Dia milik Mike sekarang"


Antyka menyodorkan tisu untuk menghapus jejak air mata.


"Iya, maafkan bunda ya. Harusnya bunda sadar itu. Toh lira baik baik saja. Dia sehat dan tidak keberatan"


" Itu bunda tau. Kalau sudah selesai kita pulang Bun"


"Iya"


Alif masuk kedalam rumahnya langsung menuju kamar. Hatinya terasa lelah jika sudah berurusan dengan Mike. Beruntung tadi pagi Mike bisa ia bujuk, sehingga kak Lira bisa diijinkan untuk sekedar menyenangkan bunda .


"Pak Alif cape ?" Suara Antyka mengagetkan lamunan Alif


" Kemarilah" Alif menepuk sisi ranjang yang kosong. Meminta Antyka duduk disisinya. "Sebentar lagi aku akan ke rumah sakit dengan Ayah" Ucap Alif kemudian mencium kening Antyka dan memeluknya. " Aku sudah mengundurkan diri dari rumah sakit"


" Mengundurkan diri, kenapa ?"


" Rumah sakit itu, tidak cocok lagi dengan aku yang sudah beristri"


"Apa karena dokter wanita itu" wajah Antika menahan kesal


"Iya, Kamu cemburu?" Alif melepaskan pelukannya dan menatap jenaka pada Antyka.

__ADS_1


"Anty tanya serius, pak Alif"


"Itu salah satu pemicunya. Kamu jangan kawatir, suamimu tidak akan jadi pengangguran"


"Kan pak Alif masih ngajar seperti Ayah, cukup kok"ujar Antyka polos. Disusul tawa gemas Alif yang kembali memeluk istrinya. Bisa bisa nya istri seorang Alif Pradipta begitu sederhana.


"Kamu memang terbaik Antyka, I love you"


Antyka terdiam, tidak mengerti arti tawa Alif. Yang dirasakan Antyka adalah rasa simpati, karena sang suami kehilangan pekerjaannya. Sebagai istri ia ingin menghibur Alif, hanya itu saja. Apa lucunya ?


Alif sudah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Tadi ia sudah meminta Antyka untuk menyiapkan setelan formal.


"Sayang, tolong hibur bunda ya, Aku akan keluar dengan Ayah membereskan pekerjaan ku" Ucap Alif saat berpamitan keluar pada istrinya


"Pak Alif, hati hati di jalan" Antyka mencium punggung tangan Alif.


" Iya"


***


Alif dan Haris pergi ke rumah sakit Mitra sehat. Pertemuan rutin tahunan dengan para pemegang saham.


Petinggi dan jajaran direksi datang menyambut kehadiran tuan Haris Pradipta yang diikuti oleh dr Alif Pradipta. Beberapa pasang mata terkejut dengan kehadiran dr Alif yang cukup terkenal di rumah sakit Mitra sehat.


Langkah Haris terlihat sangat berwibawa memasuki ruang rapat. Di ujung barisan ada dada yang bergetar dengan gemuruh. dr Wibi dan juga sang kakak dr Erad mereka saling berbisik menatap dr Alif.


Cukup lama pembahasan tentang perkembangan rumah sakit Mitra sehat. Setelah laporan selesai, rapat akan segera di tutup. Di waktu yang sama kesempatan di berikan pada tuan Haris untuk mengumumkan bahwa dokter Alif adalah putranya yang akan menggantikan dirinya.


Dr Erad dan juga Wibi semakin pucat. Apa yang sudah mereka lakukan ternyata berakibat fatal. Dua dokter itu berjalan cepat menghampiri tuan Haris juga dokter Alif.


" Saya ingin bicara sebentar dengan tuan haris dan juga dr Alif " tutur Dr Erad dengan sopan


Harias menganggukan kepalanya. Kemudian mereka masuk dalam ruangan pribadi dr Erad.


" dr Erad apa yang ingin anda bicarakan ?" Ucap Haris pura pura tidak tau.


" Pertama tama saya minta maaf pada dr Alif. Saya tidak tau kalau dr Alif adalah putra dari tuan Haris. Selama bekerja di sini saya memberikan tugas tugas yang cukup menyita waktu. Yang kedua maaf atas kelancangan putri saya, dr Farah "


Haris menatap tajam pada keduanya. Kemudian memberi kode pada Alif dengan mengangkat bahunya.


" Tidak masalah mendapat tugas yang berat, toh saya sangat mencintai pekerjaan ini. Untuk yang kedua, Seharusnya dr Erad dan dr Wibi lain kali harus lebih profesional jangan mencampur adukkan urusan pribadi dalam hal apapun "


" Untuk itu saya minta maaf " dr Wibi menunduk dalam


" Jangan kawatir, Saya tidak akan menarik saham yang ada di rumah sakit ini. Saya masih punya nurani untuk tidak bertindak semena mena, lagi pula dana sebesar itu tidak ada artinya untuk seorang Haris Pradipta" tajam dan dingin ucapan tuan Haris "Urusan kita sudah selesai, tidak ada lagi yang bisa dibahas. Ambil pelajaran dari semua ini, dokter. Bijaklah, diatas langit masih ada langit"


Jleb, ucapan itu berkesan membuat dua orang yang ada di depan tuan Haris Pradipta terhina. Keangkuhan mereka runtuh seketika.


Haris tersenyum sinis dan meninggalkan dua orang disana yang masih membeku. Kehilangan muka dan tercabik harga dirinya.


" Ayah terima kasih, Ayah sangat keren tadi. Kenapa Ayah tidak tarik saja saham di sana ?" ucap Alif saat dalam perjalanan pulang


"Seperti yang tadi kamu dengar, ayah masih punya nurani. Biarkan saja rumah sakit itu berjalan. Di dalam sana, banyak sekali orang tak berdosa yang menggantungkan hidupnya. Tidak mungkin ayah tega, Alif"


"Betul juga yah"


"Ada satu hal yang sampai saat ini belum bisa ayah maafkan "


"Apa itu yah?"


"Menjodohkan pria brengsek dengan putri Ayah"

__ADS_1


"Sudahlah Yah, kak Lira juga sudah menerima Mike dengan iklas"


__ADS_2