Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
51.Agra yang misterius.


__ADS_3

Agra menandatangani berkas kerja samanya dengan Luthfi. Kemudian mereka berjabat tangan.


"Semoga semuanya lancar"


"Betul, tuan Luthfi. Saya menunggu sampai barang itu terkirim. Beberapa kolega saya bahkan sudah memesan begitu saya tunjukan fotonya"


"Terima kasih untuk kepercayaan tuan Agra"


"Saya permisi" Agra berpamitan


Agra memasuki mobil mewahnya dan meninggalkan Area hotel tempatnya bertemu. Ia menyandarkan punggungnya, sekilas senyumnya terbit. "Sebentar lagi kalian akan hancur" gumam Agra


***


Antyka berdiri diantara puing puing bangunan yang sudah tidak dapat di selamatkan. Matanya menyapu sekeliling. Menyesal sekali tidak bisa menjaga kenangan yang sangat berharga dalam hidupnya.


Antyka melangkahkan kakinya mungkin ada sesuatu yang tersisa yang bisa ia temukan di atas sana. Antyka menaiki tangga yang sudah menghitam. Saat akan melangkah di tangga yang ketiga suara larangan menghentikan langkahnya.


"Jangan naik, itu berbahaya. Bangunan ini sudah rapuh, Antyka" Antyka menoleh sesaat. terlihat tubuh tegap yang berdiri di belakangnya.


"Kak Ibra?" Antyka tidak menduga akan kembali bertemu Ibra, ini pertemuan pertama mereka setelah pernikahan itu batal.


"Turun...., kamu masih saja ceroboh dan tidak menyadari bahaya" Ibra menyeret Antyka yang hanya berdiri mematung.


"Lepaskan tanganku, kak"Pinta Antyka pada Ibra. Ibra melepaskan cekalan tangannya. Ia menatap sendu wajah Antyka.


"Apa kabar Anty? aku turut prihatin"


"Aku baik, terima kasih" Antyka melakan beberapa meter dar ibra. Ia sengaja menjaga jarak .


"Apa pelakunya sudah tertangkap?" Tanya Ibra, ia menyadari sikap Antyka yang menjaga jarak


"Tidak ada petunjuk sama sekali" Ucap Antyka jujur.


Menurut hasil penyelidikan polisi, restoran ini sengaja dibakar. Terbukti dengan di temukan ya jeligen yang berisi sisa bensin juga rekaman cctv dari toko sebelah. Pelakunya berjumlah empat orang memakai helm dan sepeda motor tanpa plat nomor.


"Tidak hanya kamu saja yang sedih, Anty. Sebagian kisah hidupku juga ada di restoran ini. Aku akan membantumu untuk memulai membangun restoran ini kembali"


"Jangan, biar Anty dan kak Luthfi yang menanganinya sendiri" Antyka segera menolak bantuan dari Ibra. Ia tidak ingin memperkeruh keadaan.


"Kenapa? apa Alif melarangmu" tanya Ibra dengan nada cemburu.


Antyka menatap Ibra tidak suka, Cemburu atau tidaknya Alif seharusnya bukan lagi urusan Ibra. Mereka sudah tidak ada lagi hubungan. Kemudian Antyka melangkah keluar dari area gedung yang terbakar. Tidak baik terlalu lama di tempat yang tersembunyi seperti ini hanya berdua dengan Ibra. Bagaimanapun mereka pernah memiliki kisah. Ibra sudah menjadi seorang suami dari Alisa. Dan Antyka sadar betul tatapan Ibra masih sama seperti dulu. Pria itu belum membuang perasaannya.


"Anty, tunggu jangan pergi" Ibra terus mengikuti Antyka. "Tolong, aku ingin bicara sebentar"


"Anty bisa mengurus sendiri, kak" Antyka menghentikan langkahnya setelah ada di halaman gedung.


"Tolong Anty. aku mohon berikan aku waktu sebentar. Aku janji hanya sebentar"


"Silahkan bicara. Anty akan mendengarkan"


Ibra tersenyum, Antyka akhirnya mau mendengarkan ucapannya. Ibra mengajak Antyka berbicara di kafe sebrang jalan. Halaman gedung ini cukup panas dan tidak nyaman untuk berbincang.


"Di minum dulu, itu minuman favoritmu" ucap Ibra setelah pesanan mereka sampai. Tanpa banyak protes Antyka menuruti permintaan Ibra.


"Aku kira, kamu sudah menikahi Alif lagi. Apa yang masih membuat mu menundanya, Antyka? Aku tau kamu masih sangat mencintai Alif" Ibra menatap dalam wajah Antyka, memperhatikan perubahan mimik wajah yang terlihat sedikit menahan marah. Mungkin Antyka tidak ingin di usik urusan pribadinya.


"Hanya aku yang tau" jawab Antyka singkat tanpa penjelasan apapun.


"Dulu aku sangat kecewa karena menyadari kalian masih saling mencintai, hingga aku khilaf dan melakukan kesalahan"


"Aku mengubur perasaanku demi kak Ibra. Kak Ibra sendiri yang memilih untuk meninggalkan aku di hari pernikahan kita. Tapi...., itu sepenggal kisah yang sudah usai, Kita tidak usah membahasnya lagi, kak. Bagaimana kehamilan Alisa?" Antyka mencoba menutup kisah mereka.


"Aku akan tetap jadi kakak untuk mu, Anty. Alisa baik, dua bulan pertama dia masih sering muntah. Tapi sekarang dia sudah baik baik saja, perutnya semakin besar" Ibra tersenyum sekilas mengingat Alisa.


"Selamat kak, sebentar lagi akan jadi Ayah. Semoga Alisa dan bayinya sehat. Mami dan papi apa kabar?"


"Amiin..., papi dan mami sangat antusias dengan kehamilan Alisa, mereka bahagia, Anty"


"Aku senang mendengarnya" Antyka tersenyum tulus. Ia sudah mengikhlaskan semua tentang Ibra.


"Tawaran ku serius, untuk renovasi restoran. Aku juga memiliki hak sebagai anak angkat ayah untuk ikut andil, Anty"


"Jangan, Anty dan kak Luthfi masih bisa. Mungkin jika ada kesulitan Anty akan minta bantuan dari kak Ibra. Tolong untuk saat ini beri Anty dan kan Luthfi kepercayaan untuk bisa berdiri di atas kaki sendiri"


"Baiklah...., kapanpun kamu bisa datang padaku, Anty. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Tapi jangan lupa, kita sudah menjadi saudara sejak dulu"


"Iya, terima kasih" Antyka menghabiskan minumannya dan segera berpamitan pada Ibra. Setengah hati Ibra melepaskan Antyka untuk meninggalkannya. Ibra sebenarnya masih ingin bersama Antyka, walau hanya duduk bersama bercerita, itu sudah cukup membuatnya lega.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dari semua rentetan peristiwa yang telah terjadi. Ibra meyakini satu hal, Ia memang tidak berjodoh dengan Antyka. Ia hanya bisa jadi pelindung. Haya itu posisinya. Antyka sudah menghilang di balik pintu. Ibra bangkit dari duduknya dan melangkah keluar menuju mobilnya.


Di sudut sana ada pria yang sedang memperhatikan Antyka, dari saat masih di area gedung yang terbakar sampai keluar dari kafe. Dia Agra, pria itu pun membuntuti Antyka


Saat Antyka membuka pintu mobilnya, tiba tiba sepasang tangan kokoh menghentikannya.


"Tunggu.."


"Tuan Agra"


"Maaf"


" Tuan sedang apa di sini?"


"Bisa minta tolong?"


" Apa yang bisa saya bantu?"


"Boleh saya ikut mobil kamu? mobil saya tiba tiba saja ..."


"Kenapa mobilnya mogok?" tanya Antyka tapi rasanya tidak mungkin mogok kilah pikiran Antyka. Mobil tuan Agra bukan mobil biasa.


" Bukan tapi ada masalah dengan pengendara lain"


" Maksudnya nabrak atau di tabarak?"


"Tidak sengaja menabrak. Urusan sih sudah selesai. Saya butuh tumpangan sampai hotel"


"Silahkan naik" Antyka mengiyakan permintaan Agra. Mereka duduk berdampinga di kursi depan. Mobil Antyka melaju ke arah sebuah hotel bintang lima .

__ADS_1


Selama perjalanan Agra selalu nenatap wajah Antyka tanpa kedip. Terkadang pria itu tersenyum juga mengepalkan tangannya.


" Restoran kamu apa kabarnya?" tanya Agra berbasa basi.


" Tuan lihat sendiri kan? hancur tak berbekas. Apa ada pelaku yang kamu curigai?"


"Saya rasa tidak memiliki musuh. Entahlah mungkin hanya salah sasaran"


" Sayang sekali, padahal saya berniat untuk makan siang di sana tadinya. Saya turut prihatin"


"Terima kasih"


"Saya bisa bantu kamu kalau kamu mau, Saya akan investasikan dana yang cukup untuk pembangunan restoran sampai bisa beroperasi lagi, bagaimana?"


"Saya sedang berunding dengan kak luthfi. Sepertinya kami masih bisa menghadle urusan ini"


" Apa kamu punya bisnis lain? maaf kalau saya lancang" ucap Agra tidak ingin menyinggung


"Saya ada usaha garmen juga"


"Oh ya...? kamu hebat"


"Bukan saya yang hebat, tapi mama saya yang hebat, beliau merintis usahanya dari nol. Saya hanya meneruskan saja"


"Apa mama kamu masih ada?"


"Masih, beliau ikut bersama kak Luthfi" Tiba tiba saja Agra mengepalkan tangannya.


Antyka masih fokus menatap jalanan yang padat. Tidak memperhatikan perubahan mimik wajah Agra.


"Terima kasih untuk tumpangannya"Seru Agra setelah mereka sampai di depan hotel.


"Sama sama" Antyka melanjutkan perjalanannya lagi. Agra masih berdiri sampai Antyka menghilang.


Agra mengeluarkan ponselnya menghubungi seseorang.


" Aku sudah sampai di hotel, kamu bisa cepat kemari" Agra menutup ponselnya kemudian masuk ke dalam.


Di sebuah kamar yang mewah Agra berbaring. Angannya melayang jauh. Di lihatnya foto seorang perempuan yang sangat ia kasihi. "Ma, sebentar lagi orang yang menghancurkan hidup mama akan mendapat balasan setimpal. Teryata dia masih hidup dan mendapat umur yang panjang. Aku akan menghancurkan mereka. Mama akan lihat dia menangis tak berdaya seperti mama dulu"


Kemudian kamar Agra di ketuk oleh seseorang. Agra bangkit dan membukanya.


" Kita lanjutkan misi kedua, dia masih memiliki usaha garmen. Cari tau dan kacaukan kalau bisa secepatnya" ucap Agra pada orang suruhannya.


"Apa kita harus membakar lagi ?"


"Tidak, jangan buat jejak yang sama. Dengan cara yang lain. Buat seperti kecelakaan, saya beri kalian waktu satu Minggu"


"Siap bos"


"Setelah misi penghancuran saya akan segera pulang. Aset yang ada di sini bisa jadi milik mu. Cukup menggiurkan bukan ?"


"Iya bos, saya pasti bisa melakukan tugas dari bos dengan bersih tanpa jejak"


"Bagus, kamu boleh pergi sekarang"


***


"Sudah Fi. Kamu serius mau bawa mama ke tempat spesial?"


"Iya ma, ini hadiah untuk mama" ucap Luthfi sambil menggandeng mama menuju mobilnya.


"Mama pasti akan sangat suka tempatnya ada suprise juga dari kami" Sambung Karin


Zeindra bersama Livia dalam satu mobil yang sudah lebih dulu meluncur ke restoran yang sudah mereka pesan. Sedang Antyka sudah sampai sana lebih dulu bersama cahaya.


Privat room yang di pesan didekorasi seperti era tahun sembilan puluhan. Suasananya begitu kental membawa kenangan di masa itu.


Begitu masuk dalam ruangan Mama Ajeng terpukau,


"Mama suka Fi" ucap mama tampak terharu.


"Semoga panjang umur ya ma" Luthfi mencium pipi mama dan memeluknya.Karin, Zeindra Livia dan juga Cahaya melakukan hal yang sama. Malam ini mereka merayakan ulang tahun mama


"I love you ma..." Antyka memeluk mama erat. Hangat, tidak ada yang lebih hangat dan tulus, selain dekapan mama. " Anty ada hadiah spesial untuk mama tunggu sebentar"


Antyka mengambil mic diiringi gitar oleh Zeindra melantunkan sebuah lagu dari Kahitna.


"Lagu ini kami persembahkan untuk mama, sebagai ganti dari kehadiran Ayah, belahan jiwa mama. Semoga mama bahagia selalu"


Bilakah dia tahu


Apa yang tlah terjadi


Semenjak hari itu


Hati ini miliknya


Mungkinkah dia jatuh hati


Seperti apa yang kurasa


Mungkinkah dia jatuh cinta


Seperti apa yang ku damba


Bilakah dia mengerti


Apa yang tlah terjadi


Hasratku tak tertahan


Tuk dapatkan dirinya


Mungkinkah dia jatuh hati


Seperti apa yang kurasa


Mungkinkah dia jatuh cinta

__ADS_1


Seperti apa yang ku damba


Tuhan yakinkah dia


Tuk jatuh cinta


Hanya untukku


Andai dia tahu


Mungkinkah dia jatuh hati


Seperti apa yang kurasa


Mungkinkah di jatuh cinta


Seperti apa yang ku damba


Bilakah dia mengerti


Apa yang tlah terjadi


Hasratku tak tertahan


Tuk dapatkan dirinya


Mungkinkah dia jatuh hati


Seperti apa yang kurasa


Mungkinkah di jatuh cinta


Seperti apa yang ku damba


Tuhan yakinkah dia


Tuk jatuh cinta


Hanya untukku


Andai dia tahu


Andai dia tahu


Riuh tepuk tangan di privat room menggema. Mama meneteskan air mata. Lagu ini sangat sering prof Damar nyanyikan untuk mengungkap rasa cintanya pada Mama. Mengenang saat pertama Ayah jatuh cinta.


"Anty kamu membuat mama semakin merindukan Ayah" bibir mama bergetar saat berucap. Hatinya begitu tersentuh. Angannya kembali pada pria cinta pertamanya


"Ma, Ayah sering sekali menyanyikan lagu ini dan bercerita pada Anty. Ayah jatuh cinta pada mama sejak pertama mama menyapanya"


"Kisah Oma romantis sekali ya" ucap Livia kagum.


"Kamu mau Liv?" Canda Zeindra pada adiknya. Namun tatapan posesif dari sang Ayah Andrean Luthfi Al habsy membuat Zeind mengurungkan candaannya.


"Belum boleh Livia baru saja masuk kuliah"


"Iya, aku yang sudah ambil spesialis juga belum boleh Liv" Zeind tersenyum kecut.


"Sudah..., sudah.., kalian akan memiliki kisah indah sendiri sendiri. Kalian hanya perlu Ingat satu hal. Ketulusan, jaga itu sampai kapan pun" ucap Oma meredakan ketegangan antara Zeindra dan Luthfi.


Mereka saling memeluk dan bahagia. Menikmati kebersamaan dan makan malam yang indah. Sejenak melupakan musibah yang terjadi pada restoran mereka


"Nin, tolong bawa mama ke mobil, aku bereskan tagihan dulu" Luthfi meminta istrinya membawa sang mama ke mobil.


"Ayo ma, pakai dulu baju hangatnya" Karin membawa ibu mertuanya pergi sedang Antyka sibuk menggendong Cahaya yang sudah mulai mengantuk. Ia berjalan paling belakang.


Setelah menidurkan cahaya dan memasang seat belt. Antyka melajukan mobilnya menuju rumah. Waktu itu malam sudah cukup larut, bahkan gerimis kecil mengguyur.


Sebuah mobil kijang tiba tiba memepet dan menggiring Antyka untuk menepi. Empat orang pria bertopeng menghentikan laju mobil Antyka. Meski berusaha untuk menghindar Antyka tidak bisa. Antyka mengunci seluruh pintu mobilnya. Gedoran di kaca tidak ia hiraukan. Ia mencoba mencari ponsel yang ada di dalam tas. Dalam keadaan panik benda kecil itu tidak dapat ia jangkau.


Kaca mobilnya sudah pecah, Antyka melindungi Caya yang sedang tertidur dengan tubuhnya. Ia berdoa semoga pertolongan tuhan segera datang.


"Keluar...., keluar...."


"Keluar atau aku tembak kamu"


Dengan tubuh yang gemetar, Antyka di seret keluar. Rasa dingin dari pucuk pistol mengenai pelipisnya. Apakah ini akhir dari kisah hidupnya. Antyka hanya bergantung dan mengingat Tuhannya.


Dari arah belakang tiba tiba ada kaki yang menendang tangan orang yang memegang pistol. Antyka luruh terjatuh . Pria itu satu persatu menghajar empat orang kawanan penjahat yang mencoba menodong Antyka.


Pria itu Agra, entah dari mana datang nya. Agra datang di saat yang sangat tepat. Antyka melihat empat orang itu kewalahan. Ibra menghajar mereka dengan tendangan dan pukulan yang cukup telak. hingga tanpa di duga saat keadaan terjepit salah satu penodong itu mengeluarkan senjata tajam dan mengenai bahu kiri Agra. Sebelum Agra roboh Agra melayangkan tinju dengan kekuatan penuh. Empat orang yang sudah berjatuhan itu lari tunggang langgang.


"Tuan Agra .., tuan tidak apa apa? darah, bahu tuan berdarah. Kita kerumah sakit" Antyka menghampiri Agra. Setelah kawanan penjahat itu pergi


Agra meringis menahan luka di bahunya. Kemudian ia menatap Antyka dan mengarah pada mobil Antyka yang kacanya hancur.


"Pergilah putrimu menangis" Antyka seperti baru tersadar ia meninggalkan putrinya. Dengan cepat ia berlari menuju mobil dan meraih Caya.


"Momy....Caya takut"


" Iya sayang momy di sini. Mereka sudah pergi, Caya aman" lirih Antyka sembari mengeratkan pelukannya.


Agra berjalan mendekati Antyka sambil memegangi bahunya yang terluka.


"Ikutlah ke dalam mobilku di belakang, mobilmu tidak aman untuk di kendarai. Telepon saja mobil derek. Kita bisa urus mobilmu besok"


"Tuan Agra..., terima kasih sudah menyelamatkan saya dan juga Caya" lirih Antyka


"Permainan kita sedang di mulai, luka di bahuku ini hanya untuk mengelabuimu. Kamu akan membayar setiap tetes darah yang mengalir" gumam hati Agra.


"Naik lah"


Tanpa perasaan ragu Antyka dan Caya masuk kedalam mobil Agra. Dalam mobil Agra ada seorang supir. Tapi anehnya supir itu tidak ikut turun untuk membantu Agra saat berkelahi dengan kawanan penjahat. Tapi Antyka tidak memperdulikan kejanggalan kejanggalan yang ada. Ia hanya berkonsentrasi pada Caya yang ketakutan dan juga Agra yang terluka.


"Kita kerumah sakit saja dulu. Luka tuan Agra harus segera mendapat penanganan" ucap Antyka kawatir.


"Kamu dan Caya bukannya sudah lelah?"


"Tidak apa, bahu tuan Agra harus segera diobati. Kami baik baik saja"

__ADS_1


__ADS_2