
"Zeind kamu kemana saja?" Antyka kesal saat Zeind baru menghampirinya.
"Ada Marinka, aku menemaninya sebentar"
"Kamu mau lepas tanggung jawab?"
"Tadi siapa?" serem banget keliatannya"
"Tadi yang duduk dekat aku? Dia klien kak Luthfi"
"Kok kamu tau?" Zeind penasaran
"Tadi siang kita ketemu"
"Pulang ...?" tanya Zeind pada Antyka
"Hmm"
"Kamu...., tunggu dulu!" Suara berat terkesan tegas mengagetkan Antyka dan Zeindra .
"Tuan Agra... ada apa?" pria itu menghampiri Antyka dan zeind.
"Dia saudaramu?" tanya Agra kemudian mengulurkan tangan pada Zeind. Zeind tidak mengira pria itu bisa sedikit welcome.
"Zeindra"
"Kalian mau pulang, kita bisa sama sama. Saya juga sudah bosan" Kemudian ia melangkah
Zeind hanya mengangguk dan mengikuti langkah Agra yang ada di depannya. Sedang Antyka menepi mencari posisi dekat dengan Zeind.
"Sepertinya aku lapar, apa kalian keberatan menunjukan pada kami restoran yang dekat dari sini?" Zeind menatap Antyka dia seperti sedang kebingungan dengan maksud dari Agra. "Bagaimana..?" Agra seolah mendesak membuat Zeind dan Antyka menyetujuinya.
"Hanya seratus meter dari sini ada restoran kalau tuan Agra berkenan kami akan tunjukan tempatnya
"Oh ya..., saya akan mencobanya" Agra kembali berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. di ikuti Zeind dan Antyka.
Zeind berhenti tepat di depan restoran milik Antyka, Kemudian ia turun dari mobil. Mobil Agra pun berhenti.
"ini restorannya, kami langsung pamit" ucap Zeind.
" Saya ingin mentraktir kalian, ikutlah"
"Maaf tuan Agra, kami masih kenyang silahkan menikmati" Ucap Zeindra pada Agra
" Baiklah terimakasih"
"Zeind kenapa kamu tunjukan restoran milik kita?"
"Tenang saja dia tidak akan tau itu restoran milikmu. Lagi pula ini restoran terdekat dari hotel tadi"
"Ia juga sih. Semakin cepat semakin baik. Kita bisa cepat pulang ke rumah"
***
"Bunga lagi San?" Antyka melihat lagi seikat mawar di mejanya. Hampir setiap hari Antyka memperoleh bunga dari Alif. Sedang Sandra yang di tanya hanya mengangkat bahu Kemudian tersenyum penuh Arti
"Romantis ya Bu? dulu waktu jadi suami romantis juga?" Sandra menatap Antyka penasaran.
"Saya tidak tau patokan romantis itu seperti apa?" elak Antyka enggan membahas. Kenangan dulu tentu lebih indah dari pada seikat mawar yang datang setiap hari.
"Daddy Caya itu sempurna loh Bu, Tampan iya, Pintar iya, trusss ..."
"Sudah, balik ke ruanganmu, panggil yang lain kita meeting sebentar lagi" Antyka menghentikan ocehan Sandra pegawainya.
Antyka menatap mawar yang masih tergeletak di mejanya. Membaca sekilas kata yang terselip di antara bunga. Kemudian memasukan surat itu kedalam laci mejanya. Satu Minggu ini Antyka dan Alif memang tidak bertemu. Hanya melalui ponsel setiap malam Alif menghubunginya dengan Alasan kangen pada Caya.
Selesai meeting dengan karyawan garmen Antyka bergegas pergi ke restoran. Sebelumnya ia akan menjemput Caya di sekolah terlebih dahulu.
"Caya ikut momy ke restoran nya. Di rumah tidak ada orang"
"Iya, tapi Caya boleh ikut momy? Caya tidak mau sendirian di ruang istirahat, momy"
"Iya boleh, tapi Caya juga harus Ateng kalau momy lagi bekerja, Oke?"
"Iya"
Antyka memasuki restoran dengan menggandeng Caya. Beberapa karyawan menyapa Antyka dan Caya. Langkah Antyka berhenti saat tatapannya bertumbu pada sosok yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Tuan Agra...'' desis Antyka
"Jadi ini restoran milikmu?"
"Iya, tuan Agra ada disini?"
"Ya, saya ingin makan sup seperti semalam. Siapa gadis kecil cantik ini?"
"Dia putri saya" ucap Antyka lega. Dengan mengaku memiliki seorang anak, kebanyakan tatapan kagum pria akan mundur dengan teratur.
"Kamu sudah memiliki anak?" Agra seperti tidak percaya. Tetapi gadis kecil ini sangat mirip dengan Antyka.
"Kenalkan ini putri cantik saya, namanya Cahaya. Caya, Salim sama tuan Agra" Caya mengulurkan tangannya. Tapi sepertinya Caya ragu. Terlihat dari gestur tubuhnya yang tidak nyaman di dekat tuan Agra.
"Kamu cantik sekali Caya" Agra mengusap kepala Caya. Caya sepertinya tidak suka dan segera memeluk Antyka.
"Momy..., ayo pergi" Caya merajuk pada Antyka. Kemudian ia berpamitan dengan Agra.
Agra menatap Antyka yang menggendong putrinya dengan tatapan dingin. Kemudian kembali menikmati sup yang ia pesan. Agra mengeluarkan ponselnya dan mengetikan pesan dan kemudian tersenyum.
***
__ADS_1
"Caya badannya hangat, Caya sakit?" tanya Antyka saat memegang kening putrinya. Badan Caya terasa hangat pantas saja Caya sangat
pendiam Sedari tadi.
"Caya mau Daddy, momy. Suruh Daddy datang"
"Tunggu sebentar, momy telepon Daddy dulu, ya"
"Selamat malam, Anty. Tumben telepon aku. Kamu sudah terima bunga dari aku, apa kamu suka?"
"Jangan bercanda pak Alif, Caya ingin ketemu Daddynya"
" Aku sedang ada di Singapura Anty, mungkin besok aku baru bisa pulang"
" Sepertinya Caya demam, aku sudah memberinya obat penurun panas"
"Sudah benar tapi harus diawasi. apa Caya juga ada batuk atau pilek?"
"Tidak, hanya panas saja"
" Besok aku usahakan pulang dan menemui Caya secepatnya. Kalau panasnya terus meninggi kamu bawa Caya ke dokter. Tolong berikan ponselnya pada Caya, aku ingin bicara''
"Caya, Daddy mau bicara dengan Caya" Antyka memberikan ponselnya pada Caya.
"Daddy..., Caya pusing"
"Caya sudah minum obat?"
"Sudah"
"Daddy tidak bisa pulang sekarang. Daddy baru bisa pulang besok. Caya jangan rewelnya, Kasian momy" Caya tidak banyak bicara ia hanya mengiyakan ucapan Daddynya.
"Berikan lagi ponselnya pada momy"
"Momy, Daddy mau bicara lagi"
"Sepertinya Caya ingin tidur" ucap Antyka ingin mengahiri teleponnya dengan Alif.
"Tunggu sebentar, apa di rumah ada orang selain kalian berdua?"
"Ada bik Sumi dan pak Iyas di kamar belakang"
"Ya sudah, kalian tidur. Selamat malam" Alif menutup teleponnya.
Bel rumah berdentang berkali kali, masih suasana pagi menjelang siang. Dengan wajah yang masih mengantuk Antyka melihat kearah jam dinding. Hampir semalaman ia tidak bisa tidur karena menjaga Caya. Masih pukul delapan lewat tiga puluh menit.
Antyka membuka pintu rumah, terlihat Alif dengan koper dalan tentengannya.
"Aku langsung kemari dari bandara. Bagaimana keadaan Caya?"
"Caya...."
Alif meletakkan seluruh barang bawaannya. Ia masuk ke dalam kamar Caya, Tubuh mungil itu masih meringkuk memeluk batal guling yang ia berlikan. Alif mengecek suhu Caya, memeriksa botol obat penurun panas yang sudah di berikan.
"Caya Daddy datang" Alif berbisik di telinga Caya. Caya menggeliat dan membuka matanya. Matanya mengerjap terlihat kuyu. " Putri Daddy sakit? Coba Caya buka mulutnya Daddy periksa dulu"
Caya mengikuti instruksi dari Alif, membuka mulutnya lebar. Dan Alif sudah melihat penyebab Caya demam, ada kemerahan di tenggorokan atas Caya.
"Caya radang tenggorokan, nanti minum antibiotik dari Daddy ya" Caya langsung merangkul Alif. Melepaskan rindu yang sudah ia tahan.
" Daddy kepala Caya Sakit"
"Jangan kawatir Caya akan sembuh setelah minum obat dari Daddy. Sekarang Caya sarapan dulu"
Antyka masuk membawa semangkuk bubur untuk Caya sarapan dan meletakan di atas meja.
"Semalam Caya rewel?" tanya Alif pada Antyka.
"Tidak, hanya saja dia mengeluh pusing dan demamnya cukup tinggi"
"Kamu harus istirahat, mukamu juga pucat. Biar aku yang menyuapi Caya dan memberinya obat"
"Saya sudah buatkan sarapan untuk pak Alif di meja makan. Pak Alif juga harus jaga kesehatan" ucap Antyka sambil berlalu. Alif hanya tersenyum, Antyka masih saja menjaga jarak meski tidak menghilangkan sikap perhatiannya.
"Anty, ayo menikah lagi..." tapi sayang ucapan Alif tidak di dengar Antyka. Wanita itu sudah pergi dari ruangan Kamar Caya. Alif menggaruk tengkuknya.
" Caya aaaa.." Alif menyuapkan dua sendok sirup obat bergantian setelah Caya menghabiskan bubur. "sekarang Caya Daddy seka ya, trus ganti baju" Caya hanya mengangguk, mengikuti perintah Alif.
"Caya suka ada Daddy di rumah?"
"Suka, Daddy mau tinggal sama Caya?"
"Mau, tapi belum boleh sama Momy" Alif tersenyum penuh arti, sedikit bermain kotor tidak masalah, memanfaatkan Caya agar Antyka bisa cepat kembali padanya.
Alif merasa sudah hampir gila dan putus asa saat Antyka bercanda untuk mencari papa baru untuk Caya,
"Caya mau bilang momy untuk ijinkan Daddy tinggal di sini" Caya tampak bersemangat. Tangan kecilnya mengusap wajah Alif. Seolah ingin mendamaikan hati Daddynya yang sedang gelisah "Daddy juga rindu suasana seperti ini, Caya" ucap Alif.
Alif menuju meja makan, sudah ada Antyka sedang menikmati secangkir teh hangat dengan pisang goreng.
"Kamu gak ke kantor, kan?" Alif mengambil tempat duduk tepat di depan Antyka. Kemudian tangannya meraih pisang goreng yang masih tersisa satu.
"Hari ini seperti nya, tidak" ujar Antyka sambil memberikan beberapa lembar tisu pada Alif. Kemudian Antyka pergi ke belakang dan kembali lagi dengan secangkir teh hangat untuk Alif
"Aku ingin suasana seperti ini, Anty. Menikahlah denganku lagi" Alif menyeruput teh nya sembari melirik pada Antyka yang terlihat gugup dan salah tingkah.
"Gurauan pak Alif tidak lucu, ini masih pagi" elak Antyka masih enggan membalas pembahasan yang menjurus pada hubungan mereka. "Apa susahnya sih bilang iya'' gerutu Alif dalam hati. Alif sangat yakin wanita di depannya masih memiliki perasaan yang di sebut Cinta untuknya. Hanya saja mungkin rasa kecewa dan sakit, yang Alif berikan di waktu lalu membuat Antyka lebih berhati hati.
"Kamu belum mau yah? aku akan terus menunggu hingga kamu siap" sambil terkekeh Alif menerima sepiring nasi uduk dengan lauk Suwiran ayam goreng dan orek tempe juga kerupuk. Ia menikmati sarapan sembari sesekali mencuri pandang pada Antyka
__ADS_1
Suasana itu berubah saat ponsel Antyka berdering. Wajah Antyka tiba tiba berubah panik
"Iya saya akan datang ke sana. Tolong kamu urus sampai aku datang"
"Ada apa?"
" Ada masalah di restoran, bisa titip Caya? mungkin aku akan lama?"
"Apa perlu aku ikut, Anty?" Anty menggeleng lemah.
"Tolong jaga Caya sedang sakit"
Antyka sangat kacau saat sampai di restoran. Kejadian luar biasa di sana. Api masih menyala bangunan tiga lantai itu terbakar. Pemadam kebakaran, polisi dan orang orang sekitar riuh berusaha menjinakkan api agar tidak merambat ke bangunan lain.
Setelah enam jam berlalu api dapat di jinakkan. Kenangan indah di restoran itu tiba tiba saja menghitam. Antyka sangat terpukul, tempat itu bukan hanya tempat mencari rezeki tapi juga masa kecil Antyka banyak ia lalui di tempat itu bersama sang Ayah.
Beruntung tidak terdapat korban jiwa. Hanya tidak ada yang bisa di selamatkan lagi. Antyka di dampingi oleh kakaknya yang lebih dulu sampai sana. Dalam kekacauan itu Antyka menatap sosok sosok karyawannya dengan sorot mata perih.
Setelah urusannya dengan pihak berwajib selesai, Antyka pulang dengan tubuh yang lemah. Untuk dugaan awal adalah murni kecelakaan akibat konsleting arus pendek.
"Istirahatlah, aku akan membantu untuk urusan kebakaran restoranmu" Ucap Alif saat Antyka duduk di sofa begitu sampai rumah
"Pak Alif sudah tau?" Antyka heran
" Iya, kak Luthfi yang memberitahu"
"Mama....apa mama tau?" Antyka tersadar dari semuanya. Mama adalah orang yang akan paling sedih dengan peristiwa ini.
"Mungkin mama juga sudah tau, dari kak Luthfi'' mendengar ucapan Alif Antyka langsung lemas. tubuhnya merosot terduduk di lantai, membuat kawatir semua orang yang ada disitu. Mata Antyka sudah sembab tapi kali ini sorot matanya memancarkan kepiluan.
"Aku merasa sangat bersalah pada mama. Aku tidak bisa menjaga peninggalan papa. Restoran itu tak ternilai harganya. Dari hasil restoran itulah, papa membiayai panti asuhan. Di sana juga mama dan papa bertemu kembali. Tempat itu juga tempat aku bertumbuh dengan segala kenangan bersama ayah" tangis Antyka pecah rasanya tidak sanggup menatap mata mama.
"Bukan salah kamu, kamu sudah mengurusnya dengan sangat baik, Semua itu musibah" Hibur Alif yang masih berada di situ. " Kamu harus bisa mengendalikan diri Anty, aku tau restoran itu sangat berarti bagi keluarga kalian"
"Apa yang harus aku katakan pada mama?"
"Tidak ada, mama pasti mengerti"
"Anty, sebaiknya aku antar kamu ke rumah kak Luthfi. Jangan sendirian di sini. Biar Caya aku titipkan pada bunda untuk sementara. Kita konsentrasi mengurus restoranmu"
Alif meminta bik Sumi untuk mengepak keperluan Cahaya dan juga Antyka.
Alif memapah Antyka yang lemah kedalam mobilnya juga Caya yang terlihat bingung dalam gendongan Alif .
"Kita ke rumah bunda dulu, Anty aku akan tinggalkan Caya disana. Setelah itu aku akan antar kamu ke rumah kak Luthfi" Ujar Alif sambil menjalankan mobilnya.
" Kamu tunggu di mobil saja sebentar, aku akan bertemu bunda untuk menitipkan Cahaya sebentar" ucap Alif begitu mereka memasuki halaman rumah Pradipta.
Alif mengeluarkan tas milik Caya dan juga koper miliknya. Dengan sigap Alif menggendong Caya dan membawanya masuk.
"Bun, aku titip Caya. Dia lagi sakit ini obatnya. Tolong nanti obatnya di minum lagi kalau sudah makan"
"Antyka tidak apa apa Lif?, bunda lihat beritanya di tivi" ucap bunda Amalia kawatir
"Anty masih syok, dia terlihat sangat kecewa. Bunda tau kan restoran itu bulan restoran biasa. Di sana banyak sekali kisah keluarga mereka berawal"
" Pergilah, Anty sudah menunggumu. Biar Caya bunda yang urus" Bunda mengambil alih Caya dari gendongan Alif ia langsung membawa cucunya kedalam rumah yang di sambut oleh Opa Haris.
**
" Kita turun Anty..."
" Aku ..., aku tidak sanggup menghadap mama" Antyka masih enggan turun dari mobilnya
"Percaya padaku, mama akan mengerti"
" Aku menghancurkan kenangan mama'' Antyka kembali terisak
"Pegang tanganku kita menghadap mama bersama" Alif menyakinkan Antyka, bahwa semua akan baik baik saja. Antyka mendongak menatap Alif yang memberinya uluran tangan padanya. Pria itu terlihat tulus.
Dalam ke adaan rapuh saat ini, ia menerima uluran tangan Alif. Antyka butuh dan tidak ragu menggenggamnya. Rasa yang akan ia terima saat menatap tubuh ringkih mama dengan tatapan kecewa. Mungkin tangan Alif akan memberinya sedikit kekuatan dari rasa hancur.
Mama sedang duduk di sofa bersama Karin. Langkah Antyka semakin mendekat. Saat tatapan mereka bertemu Antyka luruh. Bahkan mulutnya tidak bisa berucap. Ia bersimpuh
" Maaf, Anty sudah terlalu mengecewakan mama" itu kalimat pertama sebagai ucapan pembuka sambil memeluk kaki mama. Tidak lelah matanya berurai air mata.
Antyka menunggu hardikan mama atau sentakan karena kesalahannya. Tapi justru tangan rapuh itu mengusap pucuk kepalanya penuh kasih. Semakin membuat Anty nelangsa. Gagal menjadi putri yang membuat mama bahagia. Hatinya semakin teriris saja
"Ma, Anty..." Antyka tercekat, tidak bisa meneruskan ucapannya. Disampingnya Alif ikut bersimpuh menemani Antyka.
"Kamu baik baik saja, itu sudah cukup membuat mama bahagia. Bangunan itu boleh hancur tapi kenangan terbaik itu tersimpan di dada mama Antyka, jangan risaukan itu" Ucap mama pelan
"Maaaaa"
"Sudah....jangan ditangisi. Ini musibah Anty, tidak bisa kita tolak. Yang terpenting semua selamat. Tidak ada yang terluka"
" Kamu Alif" tatapan mata mama beralih pada Alif " Terima kasih sudah ikut repot dengan musibah kami. Tapi tolong lepaskan pegangan tanganmu dari Antyka. Kalian bukan muhrim lagi" dengan gugup Alif melepas pegangan tangannya dari lengan Antyka. Wajah Alif tiba tiba bersemu merah, menyadari apa yang ia lakukan.
"Maaf ma.."
"Kita bicara Lif" Luthfi memanggil Alif untuk mendekat. Keduanya keluar dari ruang tamu
"Di mana Caya?" Ucap Luthfi sambil duduk di teras.
"Caya di rumah bunda" mendengar ucapan Alif, Luthfi hanya mengangguk.
"Terima kasih sudah ikut repot dengan keluarga kami. Tapi kamu harus tau batasannya Lif. Saya tidak menghalangi niat baikmu"
bersambung ya.....
__ADS_1