Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
42. Usaha Terakhir Alif


__ADS_3

" Ini lebih cantik dari sketsanya. Setelah jadi sangat indah. Aku bener bener suka" ucap Antyka pada Ibra saat mereka bertelepon


"Serius, kamu gak biasanya seneng sebegitunya, Anty"


" Apa sih maksud kak Ibra?"


"Kalau aku atau mami membawakanmu baju reaksimu biasa saja"


Antyka tertawa renyah menanggapi ucapan Ibra. Benarkah ia bersikap seperti itu.


" Mungkin karena ini gaun pengantin kita jadi buatku sangat spesial. Aku suka banget kak Ibra"


" Aku jadi pengen cepet nyusulin kamu ke butik. Mau lihat sebagus apa?"


"Aku udah nyobain kak, dan sudah hampir jadi tinggal pasang Payet bagian bawah saja"


"Aku senang sekali kalau kamu menyukainya. Aku ingin kamu bahagia terus seperti ini . Sebentar ada Alisa mau bicara, Aku tutup dulu ya telepon nya. Setelah selesai aku susulin kamu"


"Gak pake lama, kak Ibra. Aku bisa bete di sini sendiri. Tuh yang datang banyakan berdua. Aku seperti orang hilang"


"Iya Alisa cuma minta tanda tangan saja. Tunggu aku, ya!"


Ibra menutup ponselnya. Di depannya sudah berdiri Alisa sekretarisnya. Alisa gadis manis yang penuh sopan santun. Ibra sangat beruntung mendapatkan sekretaris seperti itu.


" Dokumen ini pak yang harus di tanda tangani" Alisa memberikan berkas pada Ibra. Alisa seperti gelisah duduk dihadapan Ibra. Gadis itu seperti ingin menyampaikan sesuatu.


"Kenapa, ada yang mau kamu bicarakan?" sepertinya Ibra menyadari gestur Alisa yang tampak gelisah.


" Apa bapak ada waktu setelah makan siang?" ucap Alisa gugup.


" Aku harus menemui Antyka, Dia sudah ada di butik. Aku tidak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Kalau ada yang penting lagi, kamu bisa menyusul saya di butik"


" Hari ini jadwal bapak memang kosong. Saya hanya ingin bicara tentang ...."


" Sudah Lis, aku buru buru. tentang projek dengan Wijaya group, aku akan menghubungi mereka langsung. Kita meeting dengan semua tim besok pagi" Ucap Ibra buru buru mengambil jas yang akan ia pakai.


"Baik pak" jawab Alisa dengan tatapan kecewa.


Langkah lebar Ibra meninggalkan ruangan kantornya ia sudah tidak sabar menemui calon istrinya. hari pernikahan mereka semakin dekat.


Antyka masih duduk menunggu Ibra. Ia mengenakan terusan coklat muda dengan hijab motif bunga yang manis. Tangannya sibuk membalas chat dari para stafnya.


"Anty..." seorang wanita mendekati Antyka.


Antyka menoleh sebentar menatap wanita yang menyapanya. Wanita muda dengan postur semampai, anggun terlihat sangat elegan.


"Dokter Farah...."


"Kamu masih ingat? " Farah tertawa sudah lima tahun ia tidak pernah bertemu lagi. "Atau masih marah?"


Antyka terdiam dan membisu sepertinya tidak usah meladeni wanita di depannya. Dia masih sama, bertingkah arogan dan tidak berperasaan.


"Rupanya kamu masih marah, see you Antyka " Farah meninggalkan Antyka yang tidak mau meladeninya. Wanita itu pergi dengan menenteng tas belanjaannya.


Antyka kembali fokus pada ponselnya.


" Aku tidak terlalu lama kan? hanya sepuluh menit" ucap Ibra saat ia sampai di butik dan duduk di samping Antyka.


"Iya, kak Ibra terlihat lelah. Apa hari ini sibuk sekali?" Ucap Antyka seraya menatap Ibra yang wajahnya terlihat memerah. Mungkin udara panas membuatnya terlihat sangat lelah.


" Tidak, aku hanya lupa menyalakan AC di mobilku. Tau tau sudah sampai sini. Apa aku terlihat lusuh?"


Antyka tertawa dengan jawaban Ibra. Bisa bisanya Ibra lupa menyalakan AC mobil padahal cuaca sangat panas hari ini.


"Kak Ibra tetap terlihat tampan. Seperti biasanya" hibur Antyka pada Ibra


Seorang pekerja butik memberikan minuman dingin pada Ibra dan Antyka. Dan mempersilahkan mereka meminumnya. Setelah beristirahat sejenak Antyka menunjukan gaun pengantin mereka yang hampir jadi. Ibra setuju dengan penilaian Antyka. gaun buatan butik ini memang sangat indah dan lebih dari yang mereka harapkan.


Ibra menatap Antyka bahagia, Saat binar mata Antyka begitu ceria. Ibra merasa berhasil membuat Antyka bahagia.

__ADS_1


"Aku ingin kamu ikut ke kantor ku, Anty. Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu" Ibra setengah merajuk pada Antyka, dengan tatapan penuh harap. "Alisa memintaku kembali ke kantor. Tim projek dengan Wijaya group meminta beberapa pertimbanganku sebelum meeting besok pagi, mau ya?"


" Iya aku ikut kak Ibra ke kantor, kebetulan aku sudah tidak ada lagi urusan" Antyka menyetujui permintaan Ibra.Tidak ada salahnya menyenangkan hati pria ini


Ibra tersenyum senang dengan jawaban Antyka. Keduanya pergi ke mobil Ibra. Sengaja Antyka tidak membawa mobil karena akan bertemu Ibra. Sudah dua Minggu ini pertemuan mereka semakin intens.


***


Mike menyodorkan berkas kedepan Alif ia meminta Adik iparnya untuk memeriksa. Tapi Alif seperti tidak merespon Mike yang sedari tadi berbicara panjang lebar dengannya. Mike mengernyitkan dahinya


"Masih dua minggu lagi pernikahan Antyka, kamu bisa mengambilnya kalau mau. Terserah dengan cara apapun" Suara Mike terdengar kesal. Ia tidak menyukai sikap Alif yang apatis.


Alif hanya menoleh sekilas dan menatap Mike nyalang.


"Aku orang yang tidak suka kemunafikan Lif, kalau kamu menginginkan Antyka kamu harus ada usaha. Kamu pikir dengan diam saja seperti ini, dia tau kamu sangat mencintainya. Kamu pikir dia akan kembali padamu"


Brak ....Mike membanting berkas yang sedang ia pegang. Pria dingin itu meninggalkan Alif tanpa kata kata. Kondisi Alif yang seperti orang enggan hidup. Membuat Mike harus bekerja extra. Selain mengurus perusahaannya sendiri. Ia pun harus ikut mengawasi perusahaan Alif. Beruntung Jefrey sudah sedikit bisa diandalkan. Tapi tetap saja Mike merasa jengah dengan sikap Alif.


Sepertinya Mike harus melakukan sesuatu sebelum semuanya hancur. Setelah meninggalkan kantor Alif dia meminta supirnya menuju sebuah kawasan. Dan sekarang ia sudah berada di kantor Luthfi.


"Tunggu sebentar, pak Andre sedang ada meeting dengan suplayer" ucap salah satu pegawai Andrean Luthfi Al Habsy. Para pekerja dan orang lain memanggil kakak dari Antyka dengan pak Andre. Sedang famili dan orang terdekat memanggil mereka Luthfi.


Mike melihat lihat kantor Luthfi dengan seksama. Dari interior sampai suasana kantor yang mirip dengan rumah, bersih dan juga rapi.


Mike berulangkali melihat jam tangannya, ia sudah berada di ruangan ini sekitar sepuluh menit rapi orang yang dia tunggu belum juga datang.


"Maaf menunggu lama" Ucap Luthfi saat sudah masuk dalam ruangan melihat Mike sedang gelisah.


"Kita perlu bicara sedikit"


" Apa perlu, sepertinya kita sudah tidak ada yang perlu dibahas. Yang mengikat kita jadi keluarga pun sudah berpisah"


"Aku tau, sorry...., Sebenarnya ini bukan urusanku tapi mau tidak mau aku harus melakukan sesuatu. Untuk Alif dan Antyka"


" Wow...orang sesibuk tuan Mike masih sempat mengurusi mereka"


"Mereka adik adik kita, tuan Luthfi. Sedikit banyak hal yang menimpa mereka akan berimbas pada kita"


"Coba lihat ini!" Mike menyerahkan amplop besar pada Luthfi


"Apa ini?"


" Ini alasan Alif menceraikan Antyka, dan perlu kamu tau Alif tidak mengijinkan aku membuka rahasia ini. Tapi aku tidak tahan melihat dia menderita seperti ini, bahkan aku kemari pun dia tidak tau. Dia akan marah kalau aku melakukan semua ini. Alif hanya ingin Antyka bahagia itu saja"


Luthfi membuka amplop yang diberikan Mike, disana ada Alif yang sedang berjuang dengan sakitnya selama bertaun tahun.


"Jadi dia sakit seperti ini?"


" Alif merasa tidak memiliki kepastian hidup. Karena itu dia membebaskan Antyka. Alif tidak ingin Antyka terpuruk melihat kondisinya yang sangat mengenaskan. Alif pikir dengan membebaskan Antyka, Antyka akan lebih bahagia. Meski dalam keadaan sakit ia akan terus di benci. Berkali kali Alif dalam keadaan kritis dan oprasi pengangkatan jaringan yang berulang. Kehadiran Cahaya membuatnya terus semangat untuk berjuang melawan sakitnya. Sampai ia bisa kembali pulih. Dia harus memulihkan diri secara fisik dan juga metalnya yang sempat drop"


" Tapi semua sudah terlambat" tutur Luthfi penuh penyesalan. "Antyka atau pun aku tidak bisa membatalkan rencana pernikahan yang sudah di sepakati apapun alasannya"


" Aku hanya ingin kamu tidak membenci Alif, itu saja. Dia sangat menderita, baginya Antyka dan keluarganya adalah bagian dari hidupnya yang tidak terpisah. Tolong temui dia tanpa memusuhi. Mungkin dia akan sedikit lebih bahagia" Mike menatap kecewa dan pasrah. Ingin dia berbuat lebih tapi ia masih menghargai keputusan Alif.


"Akan aku pikirkan itu" Luthfi terdiam entah perasaan apa yang bergejolak dalam hatinya. Semuanya bercampur aduk setelah fakta yang ia ketahui.


"Aku hanya bisa pasrah sekarang, Aku permisi dulu" Mike berpamitan dan menjabat tangan Luthfi, Luthfi terlihat lebih ramah dari pada saat awal bertemu tadi.


Setelah Mike pergi, Lutfi kembali membuka buka foto yang ada dlm amplop. Kondisi Alif begitu mengenaskan. Hati kecilnya berbisik untuk memberi tau Antyka tentang kenyataan yang terjadi sesungguhnya. Tapi bagaimana dengan Ibra. Pria itu sudah menunggu Antyka begitu lama. Ibra selalu ada saat Antyka dalam keadaan terpuruk, tidak mungkin ia mengacaukan perasaan keduanya.


"Mas Luthfi...." Karin membuyarkan lamunan Luthfi.


" Kamu datang?" Luthfi membereskan isi Amplop yang berserak.


" Itu apa ?"


" Apa yang kamu lakukan kalau, kita sudah salah menduga orang lain. tapi semua keadaan tidak bisa dirubah?" Luthfi justru memberi pertanyaan yang membuat Karin bingung


"Aku akan meminta maaf setidaknya hatiku lega. Meski keadaan tidak berubah" lanjut Karin masih heran dengan pertanyaan Luthfi

__ADS_1


" Ini alasan Alif menceraikan Antyka" Alif menyodorkan kembali amplop pada Karin.


Karin menutup mulutnya dengan mata yang membola. " Jadi..." ucapan Karin terhenti


" Iya..."


"Bagaimana kalau kita beri tau Antyka" usul Karin, Tapi Luthfi menggeleng lemah


" Kita tidak mungkin mengacaukan rencana Antyka dan Ibra. Bagaimanapun itu keputusan Alif. Kita berdoa saja meminta yang terbaik untuk Alif dan Antyka. hanya keajaiban yang bisa membuat mereka bersatu kembali" lanjut Luthfi pasrah " Aku hanya ingin menemui Luthfi, meminta maaf untuk kesalahpahaman yang terjadi. Setidaknya aku lega. Seperti ucapanmu tadi, meski keadaan tidak akan berubah"


"Iya itu yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini" Ucap Karin sambil menyenderkan kepalanya di bahu Luthfi. menikmati kebersamaan mereka dengan saling bergenggaman tangan dengan hangat.


***


Malam ini Ibra mengajak Antyka untuk diner romantis di sebuah restoran. Mungkin ini malam terakhir mereka bertemu sebelum acara pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari.


Antyka sudah sampai di restoran lebih dulu. Antyka memarkirkan mobil dan menuju restoran. Ia bertanya tempat yang sudah di pesan oleh Ibra.


Antika tertegun saat melihat sosok Alif ada di salah satu meja, dia bersama seorang wanita yang Antyka sangat kenal, dokter Farah. Hati Antyka berdenyut nyeri saat melihat Alif dan Farah berpelukan erat. Sepertinya mereka sudah tidak tau malu karena di mabuk cinta


Antyka segera memalingkan muka "Jadi selama ini mereka menjalin hubungan, Kalau akan berakhir dengan Dia, kenapa Harus membawaku kedalam kehidupanmu, pak Alif. Membuat aku jatuh dalam perasaan cinta. Ini sungguh menyakitkan. Sebenarnya apa salahku" batin Antyka berucap


Tanpa sadar Antyka menatap keduanya dengan rasa sakit yang membuncah di dada. Hingga tanpa dapat di tahan, lelehan embun bening mengalir di pipinya.


Alif melepaskan pelukan dari Farah kemudian keduanya pergi meninggalkan restoran. Alif berjalan di samping Farah. Saat matanya bertumbu dengan sosok Antyka, langkahnya terhenti. Ia melihat Antyka begitu kecewa dengan dirinya. Meski tanpa kata kata yang keluar.


" Anty..." Seru Alif sambil menghentikan langkahnya.


" Dokter Alif saya duluan" Ucap Farah saat Alif menghentikan langkahnya. Farah seolah memberi ruang pada Alif untuk menyelesaikan urusannya.


"Aku bisa jelaskan..."


" Tidak perlu....kita bukan siapa siapa lagi" Keyataannya memang begitu tapi kenapa Antyka menangis. Menyadari apa yang masih tersimpan di lubuk hatinya.


"Anty...kami tidak sengaja bertemu kembali" Ucap Alif memaksa tetap menceritakan alasan mereka bertemu.


" Sandiwara kalian cukup bagus"


" Anty...., aku dan Farah tidak seperti yang kamu pikir"


"Aku hanya tidak habis pikir....kenapa pak Alif melakukan hal ini padaku. Apa salahku....? aku ingin menanyakan alasan kenapa kamu bisa menyakitiku begitu hebat"


" Apa kau sedang cemburu Anty? apa kau masih mencintaiku? ku mohon batalkan pernikahanmu " Kalimat itu meluncur dari bibir Alif, melukiskan isi hati terdalam Alif


" Aku tidak akan terjebak untuk kedua kalinya" Sinis Antyka menatap sengit.


" Farah senang bertemu denganku lagi dalam keadaan seperti ini. Dia berpamitan untuk pergi, Anty. Dia sudah menikah dan akan mengikuti suaminya di Belanda. Dia bahkan meminta maaf untuk semua yang pernah ia lakukan pada kita"


Antyka masih berdiri dan membeku dengan ucapan Alif, hatinya bimbang benarkah penjelasan Alif? Ditatapnya lagi Alif yang masih berdiri di depannya.


Tiba tiba saja Alif berlutut di hadapan Antyka memegang erat jemari Antyka. Tanpa tau malu ia memohon.


" Anty, aku mungkin sudah membuatmu sakit hati. Tetapi aku dan hidupku hanya mencintaimu. Aku mohon batalkan rencana pernikahanmu. Aku putus asa Anty...."


" Pak Alif ...bangun jangan merendahkan dirimu seperti itu. Tolang Ingat lagi dimana egomu? saat melayangkan gugatan cerai untukku. Apa harus aku ingatkan lagi"


Bibir Alif terkatup untuk usaha terakhir menghentikan Antyka. Disaat yang sama Ibra datang.


" Apa kau tidak punya harga diri? memohon pada wanita yang sudah akan menikah dalam tiga hari lagi. Aku tidak suka kekerasan.Jadi silahkan pergi" Ucap Ibra melepaskan genggaman Alif yang begitu kuat pada Antyka


Antyka mengerjapkan mata beningnya. menghapus sisa embun. Pandangannya mulai jernih, Namun dadanya seperti melepaskan asa yang tak bisa terucap. Melihat Alif yang masih berlutut. Namun tubuhnya mengikuti langkah Ibra yang membawanya masuk dalam privat room yang sudah di pesan.


"Kamu tidak apa apa? maaf aku sedikit terlambat, Anty" ucap Ibra yang melihat Antyka masih gemetar


"Aku baik baik saja' ucap Antyka sambil meremas jemari tangan. Ia masih merasakan hangatnya tangan Alif saat menggenggam jemarinya tadi.


" Tenanglah aku akan melindungimu dari dia. Aku yakin setelah kita resmi menikah dia tidak akan berani lagi mengganggumu" ucap Ibra tandas


Antyka hanya bisa mengiyakan semua ucapan Ibra. Hati dan jiwanya mendadak mengambang tak tau arah.

__ADS_1


Sementara Alif berdiri dari tempatnya berlutut. Keadaannya menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung. Mungkin ini akhir dari segalanya. Mungkin ini yang membuat Antyka bahagia. Meski bukan bersamanya.


" Caya, tolong Daddy. Daddy ingin memelukmu saja, mulai sekarang, hanya kamu milik Daddy yang tidak bisa berpaling" rintih hati Ibra.


__ADS_2