
Di ruang makan ini mereka berkumpul. Mata Agra mencari cari sosok yang sangat ingin ia temui. Agra menghembuskan nafas, seolah terjebak diantara keluarga bahagia yang membuat dadanya sesak
Dilihatnya Luthfi berdampingan dengan istri dan jua dua anaknya yang manis manis. Di ujung meja ada wanita yang sudah begitu ringkih membuat ia ingat pada ibunya sendiri.
Dari sudut pandang Agra, mereka seperti keluarga baik baik. Tapi kenapa ibunya selalu menyebut wanita ringkih ini lah yang membuat mereka menderita
Agra menunduk saat bersitatap dengan wanita yang sebaya dengan ibunya. Mata itu sayu dan juga hangat.
"Nak Agra, mama mau ucapkan terima kasih. Semoga nak Agra selalu bahagia dan sehat" ucap mama Ajeng pada Agra penuh dengan ketulusan.
Agra mulai gelisah, dengan ucapan wanita ringkih di depannya.
"Saya hanya kebetulan lewat, saya tidak tau kalau itu Antyka"
" Apapun itu, pertolongan nak Agra sangat berharga bagi kami. Maaf, Antyka sedang sakit, dia tidak ikut makan malam dengan kita" ucap mama Ajeng lagi. "Mama bersukur, di balik kemalangan yang menimpa Antyka, masih ada orang yang mau menolong, mama ucapkan terima kasih sekali lagi"
Agra hanya mengangguk, kemudian mereka makan malam bersama. Sampai selesai makan malam Agra tidak bisa menemui Antyka. Ada perasaan kecewa dan gelisah. Acara bermainnya tertunda.
***
"Fi, mama seperti tidak asing dengan wajah Agra. Tapi mama tidak ingat siapa orang itu"
"Banyak orang yang mirip ma, mungkin Agra sangat mirip dengan orang orang yang pernah mama temui dulu"
"Mama sudah tua, Fi. Bisa jadi seperti itu. Tapi mama lihat, dia seperti gelisah"
" Mungkin dia sudah di tunggu oleh teman atau..., yah kita tidak tau ma, dia pengusaha sukses tentu saja sibuk"
"Mungkin juga, Fi. Mama hanya menduga duga saja"
"Untuk sementara Antyka tetap tinggal di sini, ma. Sampai orang yang membakar restoran dan mencelakainya tertangkap. Urusan lainnya biar Luthfi yang tangani"
"Kamu hati hati ya, Fi"
"Tenang saja, ma. Alif bantu kita kok"
"Nak Alif...?" sejenak mama terdiam. "Antyka masih keras kepala, dia belum bisa luluh dengan perhatian Alif. Mama tidak tau harus bagaimana"
"Kita selesaikan dulu satu satu ma, Jodoh pasti gak kemana" Ucap Luthfi bijak.
Mama berpamitan ingin istirahat, tubuh ringkih ya sudah tidak bisa diajak kompromi.
Karin datang, duduk di samping Luthfi, ia meletakan teh hangat dengan aroma melati yang ia buat kusus untuk suami tercinta.
"Mama sudah tidur?" Luthfi meraih pinggang istri, sebuah kecupan hangat di kening Karin mendarat.
"Sudah, Antyka masih belum mau makan. Aku sudah membujuknya sejak tadi sore"ucap Karin yang terlihat mengkawatirkan Antyka
"Biarkan dulu, nanti aku bujuk. Tidak usah terlalu kawatir. Apa Zeind ada di kamarnya?"
"Zeind ada di teras belakang. Ia sedang sibuk bertelepon tadi. Biarkan saja mas. Zeind sudah cukup dewasa. Berikan sedikit kelonggaran untuknya"
"Aku hanya kawatir, dia tidak fokus dengan studinya. Zeind memang sangat mirip denganku fisiknya, tapi tingkahnya seperti kamu, Nin"
"Memang tingkahku seperti apa?" Karin cemberut tidak suka dengan ucapan suaminya.
"Kamu terlalu ramah, bikin orang salah paham. Beruntung Livia sangat sifatnya denganku"
***
Mike melipat dua tangannya, Ia menatap istrinya Lira yang masih tertidur. Kemudian pria itu mendekat Dan ikut berbaring. Sebuah kecupan mendarat di kening, terus merambat di kelopak mata, pipi dan berakhir di bibir tipis yang sedikit terbuka.
"Aku rindu kamu, tapi kamu tidak tau betapa aku sangat tersiksa. Kamu tidur begitu damai. Apa kamu sedang bermimpi denganku?" lirih Mike. Tangan kokohnya memeluk Lira yang mulai menggeliat karena merasa teganggu dengan ulahnya.
Lira membuka matanya, Senyumnya terlukis. Mike sudah datang. Wanita itu menyembunyikan wajahnya di dada Mike.
"Tuan putri baru bangun?" Mike semakin gemas, ia mengeratkan pelukannya.
"Kenapa tidak bilang akan pulang hari ini? Aku bisa siapkan makanan kesuaanmu, Mike" ucap Lira masih dengan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Mike.
"Kamu makanan kesukaanku" Mike mencoba mengurai pelukannya. Mencari wajah istrinya yang tersembunyi di dadanya. Pria itu selalu tergila gila dengan senyum malu malu sang istri.
"Aku sayang kamu Mike" ucap Lira membuat Mike makin belingsatan. " Mike, jantung mu berdetak kencang" Lira tersenyum manis sambil menatap Mike.
Pria dingin ini pun terlihat malu, wajahnya merona kemerahan. Apalagi Mike memiliki kulit putih kas orang Eropa.
"Kamu yang membuat jantungku berdetak kencang. Kamu harus bertanggung jawab, Lira" Nafas Mike terasa hangat di leher Lira .
Lira mencoba melepaskan diri dari Mike. Ia sudah sangat hafal dengan kelakuan suaminya. Pria itu selalu ingin membuktikan ucapan cintanya dengan perbuatan.
Lira berlari menuju kamar mandi sambil menggoda Mike. Mike yang terprovokasi langsung mengejarnya.
"Kamu ingin suasana baru?" Ucap Mike saat ia berhasil menangkap Lira di depan pintu kamar mandi. Mike menggendong lira dan meletakan diatas bathtube.
__ADS_1
"Mike, jangan lupa. Ada calon bayi di dalam perutku" Lira mengusap kepala Mike yang mulai melakukan aksinya.
Mike berhenti sejenak dan menatap Lira dengan sorot bahagia. " Aku akan melakukannya dengan hati hati. I love you" Mike setengah berbisik di telinga lira.
Mike sudah terlihat rapih. Meminta lira tetap berada di atas tempat tidurnya setelah acara melepas rindu. Pria itu sangat bersemangat menyiapkan sarapan pagi untuk Lira. Ia semakin posesif saat menyadari sudah ada bayi dalam perut Lira.
"Makan yang banyak biar anak kita sehat" Ucap Mike sambil menyodorkan sarapan untuk Lira. Lira yang sudah sangat hafal dengan watak Mike hanya mengikuti saja.
Saat sedang mengawasi Lira sarapan. Pintu kamar mereka di ketuk.
"Ada apa?" tanya Mike pada seorang pelayan
" Ada den Alif, tuan?"
"Suruh dia tunggu di meja makan" ucap Mike acuh.
"Mike.." panggil Lira pada suaminya.
"Ya" Mike segera mendekat.
"Ada Alif?"
"Hmmm"
Lira mengecup sekilas pipi Mike yang cemberut. Mike tidak suka waktu kebersamaannya dengan lira terganggu. Apalagi hari ini ia baru pulang dari dinas luar negri. Ia ingin bermanja dan melepas rindu saja dengan istrinya.
"Aku akan menemanimu hari ini. Kemana saja kamu mau, Mike" ucap Lira membujuk Mike.
"Aku hanya ingin di kamar seharian ini, tidur sambil memelukmu saja" Mike menyeringai licik.
"Aku akan memelukmu seharian ini. Kamu tau Mike? kehamilan ini membuatku selalu ingin dekat dengan mu"
"Sungguh...?" Mike terlihat sangat bahagia. "Aku akan menemui Alif dan menyelesaikan urusan kamu. Tunggu aku di sini"
***
"Aku dengar kau baru pulang tadi pagi? tumben langsung mau menemuiku. Ini titipan dari bunda buat menantu tercinta dan kak Lira" Alif menyerahkan paperbag berisi makanan kesukaan Mike dan Lira.
Mike mengambil tempat duduk dan meminta pelayan untuk menata makanan yang Alif bawa. Hubungannya dengan sang ibu mertua sudah sangat baik. Bahkan Mike berani meminta dibuatkan makanan kesukaannya dengan alasan mengidam.
Dengan Acuh ia segera melahap masakan bunda yang sangat ia inginkan. Mungkin benar, Mike mengidam.
"Ada apa lagi?" tanya Mike setelah selesai menyantap sarapan paginya.
"Dia menginap di hotel Pradipta. Aku mendapatkan rekaman cctv dari sana , Dia membayar orang untuk melakukan kejahatannya. Hanya saja kita belum bisa pastikan motif yang melatar belakangi tindakannya"
"Aku harus bicarakan ini dengan kak Luthfi"
"Anak buahku akan cari tau silsilah keluarganya. Bisa jadi ini hanya dendam pribadi"
"Kau sangat berpengalaman" ucap Alif, sinis. Alif jadi teringat dengan kelakuan Mike dulu yang membalas dendam pada keluarganya.
Mike hanya berdeham, ia tampak salah tingkah dengan ucapan Alif yang menohok.
"Kalau ini kejadian yang sama, kau yang harus hati hati, Lif. Antyka bisa jadi sasaran Agra berikutnya" Mike menatap tajam pada Alif.
"Antyka tidak akan berpaling. Dia punya cahaya dan aku"
Tiba tiba Mike tertawa lepas.
"Kau bukan lawan sebanding dengan Agra, Lif. Aku tau benar siapa dia. Di daratan Eropa bisnisnya menggurita. Dia membunyai harta dan juga tahta. Kau harus cari sekutu untuk melumpuhkannya. Apalagi mantan kakak iparmu pun sudah terjerat. Agra musuh yang sangat berbahaya"
"Kalau Pradipta corp masih kurang. Bukannya aku masih punya kakak ipar yang keren, Mike Heichen. Pemilik maskapai internasional dan perusahaan farmasi di Eropa. pasarannya sudah merambah dunia bahkan?"
"Itu kalau aku mau menolong mu. Tergantung sikapmu. Jangan sering sering datang menggangguku. Belum tiga jam aku di rumah, kau sudah datang" Mike tersenyum mengejek pada adik iparnya.
"Brengsek" umpat Alif kesal.
"Kita seri, Lif. Pergilah, aku akan menghubungimu secepatnya. Bayiku sudah ingin di tengok" masih dengan senyum mengejek.
Tanpa mengucapkan salam perpisahan, Alif keluar dari rumah Mike. Hatinya sangat dongkol. Tapi meski sifat Mike mengesalkan. Mike sangat membatu Alif. Alif tau itu. Gaya bercanda Mike, anti mainstream.
***
"Kamu berbaring saja, kepalanya masih pusing?" Tanya Alif pada Antyka saat ia datang bersama Caya untuk menjenguknya.
Antyka sudah mau bangun dari tempat tidurnya tapi kepalanya masih terasa berdenyut. Antyka kembali berbaring di bantu Alif.
Caya langsung memeluk Antyka yang terlihat lebih pucat. Mata gadis kecil itu terlihat gusar, tangan kecilnya mengusap usap pipi Antyka
"Momy, cepat sembuh, ya. Jangan lupa minum obatnya" Caya duduk di samping Antyka.
"Caya sini, sama kak Livia" Livia memanggil Caya. Melihat kehadiran Livia, Caya langsung turun dari tempat tidur Antyka dan menghampiri sepupunya.
__ADS_1
Alif duduk ditepi ranjang dekat Antyka yang masih terbaring. Perasaannya sudah tidak karuan. Andai bisa ia ingin merawat sendiri dan selalu ada di sisinya.
"Apa Caya tidak rewel selama aku sakit?" Tanya Antyka kawatir.
"Tidak, dia hanya selalu menanyakan kapan bisa menjengukmu. Jangan banyak pikiran, kamu harus sehat. Pihak berwajib sudah mulai penyelidikan dan mengantongi beberapa nama yang di curigai"
"Aku hanya tidak habis pikir, Apa yang sudah aku lakukan? sampai ada orang yang mendendam"
Alif hanya menggeleng, "Sudah aku bilang, orang jahat sidak butuh alasan untuk berbuat jahat, Anty"
Keduanya kembali hening, betul kata Alif. Orang yang jahat tidak butuh alasan untuk berbuat jahat.
"Pak Alif....."
"Hmmm"
"Aku haus"
"Sebentar, aku ambilkan"
Alif memberikan segelas air putih, Pada Antyka. Kemudian membantunya untuk duduk bersandar di kepala ranjang. Agar memudahkan untuk minum
"Ouwgh..." Kepala Antyka kembali berdenyut.
"Kepalanya sakit lagi, sudah minum obat?" Alif begitu kawatir. Antyka memejamkan matanya sejenak. Beradap tadi dengan tubuh lemahnya. Kemudian ia meneguk air yang di sodorkan oleh Alif.
" Sudah..., terima kasih" Antyka segera memberikan kembali gelas yang sudah kosong. Alif menerima nya dan meletakan di atas meja.
Alif meraih beberapa lembar tisu. Kemudian menyapukan di atas bibir Antyka yang basah. Sejenak tubuh Antyka menegang, Debaran jantungnya meningkat, tidak menduga tindakan Alif sejauh ini.
Alif tersenyum, dua lesung pipinya masih sama. Tampan, dan tidak hilang karismanya. Antyka mencoba untuk mengerjapkan mata. Mengalihkan rasa yang sedang membuncah dalam dadanya.
"Anty, kamu baik baik saja?"
"Iya, aku baik baik saja" Antyka menjadi gugup
"Sudah..., lebih baik kamu berbaring lagi, ya. Masih pusingkan?"
Alif kembali membantu Antyka untuk berbaring. Situasi mereka sangat mirip dengan adegan suami istri yang saling menyayangi. Tiba tiba terdengar suara dehaman dari Luthfi yang tiba tiba muncul.
"Ehemnm" Luthfi sudah berdiri di ambang pintu kamar Antyka. Pria itu masih memakai baju formal. Mungkin baru saja pulang dari tempat kerjanya.
"Kamu keluar, Lif. Tidak pantas berdua dua seperti ini. Atau aku panggilkan orang KUA untuk mengesahkan kalian lagi?" Alif tersipu malu. Tentu saja itu yang dia mau. Apa daya Antyka belum juga bersedia.
Alif mengikuti langkah Lutfi ke teras belakang. Di sana ada Caya yang di temani oleh Livia. Caya segera menghambur ke pelukan Luthfi begitu melihat sang Uncle muncul.
"Uncle baru pulang?"
" Iya..., uncle tidak tau kalau Caya datang" Luthfi segera menggendong keponakan kecilnya. Caya hanya memamerkan barisan giginya yang putih. Menggemaskan " Caya lagi main apa sama kak Livia?"
"Main tebak tebakan, trus main bola bekel"
"Oh ya .., Caya bisa?"
"Bisa ....." kemudian tertawa. tidak lama Caya minta turun dari gendongan Luthfi dan kembali menggandeng Livia untuk meneruskan permainan mereka.
"Mau kopi?" Tawar Luthfi saat mereka duduk di sebuah gazebo.
"Boleh. ada kabar baik. Coba kak Luthfi lihat ini. Apa kak Luthfi mengenal orang orang ini?" Alif menyodorkan sebuah amplop berisi beberapa foto yang di berikan oleh anak buah Mike.
Luthfi membolak balikkan gambar orang orang yang ada di sana. Ingatannya mengembara beberapa taun lalu.
"Apa hubungan orang orang ini dengan Agra" tanya Luthfi kembali.
"Ini ibu dari Agra, ini ayah tiri Agra dan ini kakek nenek Agra. Dan satu lagi yang ini, di kabarkan ini adalah Ayah kandung Agra. Agra sering mengunjungi Makam pria ini"
"Pria ini aku tau, dia om Kristanto. Dia teman mama dulu. Dan ini, wanita ini nyonya Airin sama mereka teman mama" ucap Luthfi menerangkan .
" Apa mama atau Ayah Damar pernah ada masalah dengan orang orang ini? maaf, maksudku kita hanya mencari korelasi dari kejadian yang ada, itu saja"
Obrolan mereka terjeda saat sorang asisten rumah menghidangkan kopi panas di meja.
" Minum dulu" Luthfi menyesap kopi yang masih panas.
"Terima kasih"
"Yang aku tau dulu sekali om Kris sangat menyukai mama, sampai sampai ia hampir mencelakai mama. Beruntung ada Ayah Damar. Dan saat om Kris meninggal aku datang ke pemakamannya. Om Kris tidak menikah sampai akhir hayatnya. Hidupnya sebagian besar ia habiskan untuk bekerja" Tutur Luthfi panjang lebar.
"Kita harus membuktikan keterlibatan dan motif Agra. Tapi itu bukan perkara yang mudah. Kita harus berhati hati mulai sekarang" Ucap Alif
"Aku menyesal sekali sudah terlibat kerja sama dengan Agra"
"Kak Luthfi ikuti saja permainan Agra, aku dan kak Mike akan berusaha membuka kedoknya"
__ADS_1