
Anty harus bergembira, dengan kekuatan dan semangat yang dimiliki oleh Alif, Kesembuhan itu berangsur angsur datang. Hanya saja ada yang harus membuat Antyka juga Alif bersabar. Fungsi kaki Alif yang belum normal ia harus duduk di kursi roda sampai terapi untuk jalannya selesai.
Lebih dari apapun, Antyka sangat bersukur. Alif sudah bisa ia peluk. Antyka masih bisa menyandarkan kepalanya di pangkuan Alif. Ia bisa berkeluh kesah, walau Alif hanya bisa berucap sabar atau sekedar senyum.
"Pak Alif makan ya, setelah itu obatnya di minum" Ucap Antyka semangat. Hari ini ia baru saja sampai di Apartemen Mike yang Alif gunakan selama tinggal di singapura.
"Kamu, apa tidak bosan menyuapi aku?" ujar Alif sendu.
Antyka menggeleng dengan cepat " Tidak, Anty justru merasa di butuhkan oleh pak Alif. Selama ini pak Alif selalu memanjakan Anty"Senyuman cantik dan mata jernih itu mengerjap menepis Ragu Alif.
"Kuliah kamu gimana?"
"Lancar, seperti kata pak Alif kalau Anty ini pintar" tertawa lucu karena memuji diri sendiri.
" Aaaaa, dua suap lagi pak Alif"
"Aku sudah kenyang"
"Pak Alif maaf ya, Anty tidak pernah bisa antar pak Alif terapi"
"Tidak usah, Aku tidak mau terlihat bodoh di depanmu Anty" Mata Alif menerawang. Dari nada bicaranya ia terlihat kecewa.
"Jangan berpikir yang aneh aneh. kalau pak Alif rajin latihan pasti akan cepat pulih"
"Kamu tau Anty?" Sesaat hening Alif membayangkan saat saat ia berlatih jalan
"Saat latihan rasanya sakit sekali Anty. Tapi belum ada hasilnya" Alif seperti orang yang putus asa.
Seketika Antyka memeluk Alif, menyalurkan rasa hangat. Agar pria itu tetap semangat. Apalagi yang bisa Antyka lakukan, hanya itu. Selebihnya ia hanya mampu berdoa dan iklas menerima semuanya.
" Aku lelah Anty, bawa aku kekamar" ucap Alif setelah selesai meminum semua obat yang Anty berikan.
Antyka menuruti keinginan Alif. Sedikit banyak Alif memang menjadi berubah. Ia menjadi lebih pendiam. Karena rasa sakit itulah rasa percaya diri Alif semakin terkikis. Keadaan tubuhnya tidak lagi seperti dulu.
Alif sudah duduk diatas ranjang dan bersandar. Antyka menyelimuti kaki Alif. Kemudian ia duduk disamping Alif dengan laptop di pangkuannya.
" Kamu mau mengerjakan tugas ?" Ucap Alif saat melihat Antyka menyalakan laptopnya.
" Kita lihat film ya, berdua. pak Alif mau pilih film genre apa? roman, action, komedi, Atau horor"
"Terserah kamu saja"
"Bagaimana kalau film komedi" itu yang ada di pikirkan Antyka agar senyum Alif kembali terlukis di wajahnya yang kini selalu mendung.
" Putar saja yang kamu suka Anty, kalau aku tertidur jangan kamu ganggu"
Antyka terperangah dengan ucapan Alif, kenapa pria ini jadi seperti ini. Antyka kemudian memutar film dengan suara pelan ia tidak ingin mengganggu Alif. Antyka meredam perasaan kecewanya. Mungkin Alif memang sangat lelah dan kesakitan, siapa yang tau. Antyka harus mengerti saat ini dia harus memberikan perhatian yang lebih.
Malam ini Antyka akhirnya bisa terlelap. Setelah memastikan Alif nyenyak dan tidak membutuhkan apapun ia ikut berbaring dan nyaman. Memeluk Alif adalah suatu rencana yang sudah ia rancang. ia merindukan wangi tubuh Alif juga rasa hangat, saat kulit mereka saling bersentuhan.
Alif terbangun dari tidurnya . Menatap kearah samping , tampak Antyka memeluk erat pinggangnya. Bahkan sapuan nafas halusnya terasa hangat di dada Alif.
Alif membelai rambut Antyka, Hatinya terasa sesak dengan keadaan yang terjadi. Perlahan air matanya meleleh. Teringat segala perlakuannya pada Antyka dari tadi siang. Ia kerap kali marah dan tidak menghiraukan Antyka. Kalau saja Antyka tau ia jauh lebih terluka saat mengatakan hal hal yang menyakiti perasaan Antyka.
Alif kehilangan Arah, ia sangat takut tidak dapat membuat Antyka bahagia. Ia juga takut Antyka berubah karena ia tidak lagi sempurna. "Maafkan aku Anty, saat kau tetap tersenyum karena kemarahanku aku semakin takut kehilangan dirimu, mengecewakanmu"
__ADS_1
Antyka menggeliat, memasukan kepalanya ke dada Alif lebih dalam. Dada Alif berdesir, rasa yang selalu hadir saat berdekatan dengan Antyka. Malam malam yang penuh gairah. Alif ingin sekali melepas hasrat, tapi ia belum mampu. Batinnya sakit, harga dirinya sebagai pria terluka dalam. Alif kembali memejamkan mata dengan perasaan yang semakin tersiksa
Menjelang subuh Antyka terbangun ia membenarkan selimut yang berserak dan memasangkannya pada Alif. Antyka pergi bersuci untuk mendirikan kewajibannya. Dia memanjatkan doa khusuk untuk orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Mata hari sudah bersinar cerah. Antyka baru saja selesai merawat Alif, membantu Alif untuk membersihkan diri hingga menyuapi makan dan minum obat. Antyka melakukannya tanpa mengeluh. Saat Antyka melakukan semua. Alif selalu menatapnya sendu. Tak banyak bicara. Sesekali Antyka mengajak Alif bercanda, Namun tubuh Alif tetap pada kesedihannya.
Alif sedang menatap ke arah luar jendela menikmati panas matahari yang menerobos melalui kaca jendela. Antika duduk di meja makan untuk sarapan pagi. Antyka mulai menyuapkan nasi dan
"Hueek ...." Antyka berlari menuju westafel. Rasa tidak nyaman di perutnya.
Kemudian Nani menyodorkan teh hangat, untuk menghilangkan rasa mual.
" Bu Antyka sakit?" mendapat pertanyaan itu Antyka hanya menggeleng. Menatap menu yang tersedia di meja tapi sama sekali tidak membuatnya berselera. Perutnya terus merota ingin diisi makanan. Terbayang kafe yang ada di lantai satu. Seketika Antyka berbinar. Mungkin sarapan disana membuatnya lebih nyaman
" Pak Alif, boleh Anti keluar ? Anty ingin makan sarapan di kafe bawah, boleh? "Antyka membayangkan makanan yang tersaji di lantai bawah hingga air liurnya ingin menetes " Anty tidak lama kok, habis sarapan Anty cepat pulang" Antyka setengah memohon.
"Kenapa harus di kafe? bukannya Nani sudah memasak untuk kita" Alif menghela napas memperhatikan mimik wajah Antyka. Kemudian dalam benak Alif menerka, Mungkin Antyka jenuh, hanya berada di gedung ini. Pergi keluar sejenak bisa membuat wanita itu senang. "Bawa Nani untuk menemani kamu sarapan. Ini di negara orang, jangan samakan dengan di Jakarta " Akhirnya Alif mengijinkan Antyka dengan sarat harus di temani Nani, Asisten yang dipercaya merawat apartemen Mike.
"Terima kasih" Senyum Antyka langsung mengembang. Ia memberi ciuman di pipi Alif. Sejenak Alif menegang. Ia merasakan istrinya bahagia hanya diijinkan untuk sarapan di bawah. Alif masuk kembali dalam kamarnya.
Dengan ditemani Nani, Antyka segera menuju lantai bawah tempat kafe. Antyka memesan beberapa menu dan menyantapnya bersama Nani. Selama makan di dalam kafe, perut Antyka baik baik saja.
"Nani, jalan sebentar ya ke depan. Sepertinya makan eskrim enak"
"Saya ikut saja. Bu Anty, dekat taman sana ada gerai eskrim, mudah mudahan sudah buka jam segini" Ujar Nani.
Antyka tertawa, ia baru menyadari kalau ini masih pagi. Tapi biarlah, sedikit jalan keluar dan menghirup udara segar juga bukan ide yang buruk. Gerai eskrim sudah buka itu bonus. Mereka melanjutkan berjalan. Berpapasan dengan penduduk kota yang sedang joging atau hanya jalan dengan anjing mereka. Suasana lain yang cukup membuat Antyka terkesan.
Antyka mengajak Nani untuk istirahat. Mereka sudah berjalan cukup jauh, meski itu masih di lingkungan Apartemen. Tiba tiba saja Antika merasakan pusing, badannya lemah dan pandangannya serasa kabur.
"Ada toko sebelah sana Bu, mau saya belikan?"
"Iya tolong ya Nani. Aku tunggu kamu di sini"
"Ibu gak papa saya tinggal sebentar?" Antyka mengangguk. Membiarkan Nani pergi meninggalkannya untuk membeli air mineral.
Antyka semakin lemah dan perutnya seperti diaduk aduk. Rasa mual yang hebat mulai menyerang lagi. Antyka masih bertahan dengan wajah pucat dan juga keringat yang muncul di sana sini.
"Antyka..., Anty ini kamu? bangun Anty" Seorang pria menghampiri Antyka. menepuk nepuk wajah Antyka yang sudah hampir kehilangan kesadaran. " Anty ,...Anty...sadar Anty kamu kenapa ada disini?"
Penglihatan Antyka membuyar. Samar ia sangat hafal dengan suara itu. Diambang kesadarannya yang menghilang, Antyka sempat memanggil nama pria " Kak, Ibra" Hanya satu panggilan Antyka langsung pingsan.
Ibra menoleh ke sana kemari mencari orang yang mungkin bersama Antyka. Tapi nihil tidak ada. Ibra mengangkat tubuh Antyka dan di letakan kedalam mobil. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit untuk memberi pertolongan pada Antyka.
Di tengah jalan Ibra kembali bimbang, ia tidak tau apakah Antyka membawa identitas. Untuk menghindari hal yang buruk. Ibra membawa Antyka justru ke Apartemennya.
Ibra membaringkan Antyka di atas tempat tidur. Tangan dan kaki Antyka terasa dingin. Ibra segera membalur kaki Antyka dengan minyak Atsiri. Keheranan datang bertubi di benak Ibra. Apa yang sebenarnya terjadi pada Antyka. Tergeletak dalam keadaan hampir pingsan untung saja ia datang.
Seharusnya Ibra menghubungi Luthfi, namun Ibra masih berpikir ulang apa yang terbaik yang harus ia lakukan dalam situasi ini. Mungkin menunggu sampai Antyka sadar, itu pilihan bijak yang ia ambil.
"Aku di mana ?" Antyka tampak linglung setelah membuka mata. Wajahnya masih pucat. Saat Ibra menghampiri, Antyka menutup mulutnya, sepertinya sesuatu yang bergejolak dalam perutnya ingin keluar.
Ibra faham dengan yang dirasakan Antyka, pria itu memapah Antyka ke dalam kamar mandi. Membiarkan Antyka memuntahkan semua yang ingin keluar. Dengan sabar ia memijat tengkuk Antyka.
"Kumu di Apartemenku Anty" Ucap Ibra sambil memberikan teh hangat pada Antyka. Kemudian Ibra duduk di tepi ranjang tempat Antyka kembali berbaring setelah memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
"Anty, pusing kak Ibra" Ucap Antyka lirih. Kemudian Antyka terlelap.
Ibra hanya bisa menatap iba, membiarkan Antyka kembali tertidur untuk istirahat, Antyka terlihat begitu lemah dan kesakitan. Ibra memberanikan diri membuka penutup kepala Antyka agar gadis itu lebih leluasa dalam tidurnya.
Ibra menegang begitu melihat Antyka tanpa penutup kepala. Wajah yang begitu sempurna sedang terlelap. Dada Ibra kembali berdesir lebih dari biasanya. Tanpa sadar Ibra terbuai perasaan yang mati matian ia bunuh. Jemari Ibra yang kokoh menyentuh wajah sempurna milik Antyka . Menyusuri tiap lekuknya hingga berhenti di bibir yang biasanya merah kini menjadi pucat. Ibra tersentak, pria itu menutup mukanya dan tersadar dari kegilaannya.
Ibra keluar dari kamarnya. "Ini tidak benar" rutuknya dalam hati. Hampir saja ia berbuat bodoh. Ibra gelisah, hatinya berperang. Waktu terus bergulir hingga sore hari, Antyka terbangun dengan sendirinya.
Lambat laun Antyka mengumpulkan kesadarannya hingga ia bisa berada di sini. Antyka keluar dari dalam kamar mencari pemilik rumah.
" Kak Ibra" Panggil Antyka pada sosok pria yang duduk membelakanginya.
Ibra menoleh, melihat Antyka sudah tersadar sepenuhnya. Pria itu menghampiri Antyka. "Kamu lapar?' tanya Ibra " Kamu tertidur cukup lama, Anty. Duduk disini, tadi kamu muntah banyak sekali. Kamu sakit Anty?" Ibra meminta Antyka duduk.
"Mungkin aku masuk angin, kak Ibra"
"Aku buatkan .sesuatu. Setelah itu aku antar kamu pulang"
"Iya" Antyka tidak memprotes perlakuan Ibra.
**
" Anty, lain kali hati hati, kamu harus jaga kesehatan. Jangan lupa makan yang teratur. Aku Antar sampai sini saja. Jika ada apa apa cepat hubungi Aku. Apartemen kita masih satu Area hanya beda tower"
"Terima kasih kak Ibra" Antyka menutup pintu mobil Ibra kemudian berjalan meninggalkan Ibra yang masih menatap punggung Antyka dari balik kaca mobil .
Ibra memastikan gadis itu sampai dengan selamat. Dadanya kembali sesak. Merelakan Antyka untuk pria lain. Meski sakit ia sudah melakukan hal yang benar, mengembalikan Antyka pada pemiliknya. Setelah Antyka tidak lagi terlihat, Ibra melajukan mobilnya kembali ke Apartemen. Ibra memeriksa ponselnya, banyak sekali panggilan yang ia abaikan hanya untuk mengurus Antyka. Padahal hari ini ia banyak sekali Agenda penting.
Antyka memasuki Apartemen, di sambut histeris Nani sang asisten.
"Bu Antyka dari mana? saya dan pak Alif kebingungan mencari ibu " Wanita setengah baya itu terisak dan haru bercampur.
"Maaf Nani, tadi aku pingsan kemudian di tolong orang " Antyka menenangkan Nani yang masih terisak
"Nani takut sekali Bu, pak Alif apalagi. Sampai sampai..." ucapan Nani terhenti saat seseorang keluar dari kamar Alif dan Antyka .
" Dr Farah..?" Antyka tidak mempercayai penglihatannya. Wanita angkuh itu berani masuk kedalam kamar miliknya dan Alif. "Berani sekali kamu masuk dalam kamarku" Suara Antyka meninggi.
"Kamu.., memang tidak becus mengurus suami. kamu tau kalau saja aku tidak datang entah apa yang terjadi pada dr Alif" dr Farah berkata sinis " Kamu bersenang senang bukannya merawat suamimu"
"Jaga ucapan dokter" bentak Antyka
"Pelankan suaramu, dr Alif baru saja tidur. Bisa jadi ia sedang mimpi buruk, memiliki istri yang tidak becus. Dan juga pembawa sial"
Antyka tidak dapat menahan dirinya lagi. Wanita licik di depannya memang tidak tau diri. Antyka mengusir dr Farah dari Apartemen. Ia sudah muak.
Dr Farah menatap sengit pada Antyka. Sebelum ia keluar dari Apartemen, dr Farah mengucapkan kata kata perpisahan pada Antyka.
"Dengar Antyka, kamu tidak akan lama bertahan di sisi Alif, kamu dari segi apapun, kamu tidak pantas. Wanita pembawa sial....." Desis dr Farah. Tanpa kembali menoleh, wanita Angkuh itu berjalan setelah menorehkan luka dalam di hati Antyka....
Halo reader....
Author punya waktu luang nih, jadi bisa up
Seneng gak .....love love buat kalian. Semoga suka
__ADS_1
"