
Mereka sudah sampai di rumah peristirahatan hadiah dari prof Damar. Benar saja, rumah itu sangat cantik tidak terlalu besar tapi memiliki taman yang indah. Sekelilingnya dipenuhi mawar putih yang sedang merekah belum lagi anggrek cantik yang tergantung sedang bermekaran.
Begitu masuk mereka langsung bertemu dengan penjaga rumah yang sudah mempersiapkan semuanya.
" Den di dalam kulkas, sudah banyak sayuran dan juga ikan. Bibi juga sudah memasak nasi dan lauk untuk nanti malam. Ini nomor telepon bibi, kalau Aden membutuhkan silahkan telepon saya"
"Terima kasih bik, bibi tinggal disekitar sini?"
" Iya den, bibi akan datang kalau Aden memanggil saja. Tapi bibi siap dipanggil kapan saja, Aden butuh. Bibi pamit dulu den"
"iya bik, terimakasih"
Alif membuka pintu rumah. Ruang tamunya dibuat begitu minimalis satu sofa dan meja, vas bunga ukuran sedang. Masuk ke ruang tengah terlihat lebih lebar dan nyaman. Ada dapur bersih yang tertata rapih. Dua buah kamar yang ukuranya cukup besar. kamar utama berisi ranjang besi beserta kasurnya yang nyaman, dilapisi dengan sprei warna putih dan selimut warna abu muda . Jendela kaca dengan partisi dari Aluminium coklat menambah kesan mewah. Tirai warna putih dengan corak bunga kecil melapisi jendela dengan kesan elegan namun manis.
Alif meletakan tas baju mereka, rasa lelah begitu menyerang keduanya. Semalam waktu di hotel mereka tidak bisa tidur lelap. Kegiatan panas mereka yang berujung kegagalan. Alif dan Antyka sama sama lelah semalam. Meski memaksakan diri untuk menikmati indahnya, tapi mereka tidak memiliki cukup tenaga. Saat babak terpanas, Antyka menangis tidak bisa menahan rasa sakit. Alif yang juga merasa iba akhirnya memutuskan untuk menunda dan masih bersabar.
Keduanya berbaring, Setelah perjalan yang melelahkan dari Jakarta menuju Bogor. Kembali mereka terkapar diatas ranjang tanpa kompromi. Saling memeluk posesif. Mengumpulkan tenaga agar kembali segar saat nanti terbangun.
Sore hari Antyka terbangun, melihat kearah jam di dinding sudah saatnya ia membersihkan diri. Selesai mandi, Antyka memanaskan makanan untuk mereka santap. Sejak datang mereka melewatkan makan siang karena tertidur.
Aroma harum masakan Antyka membangunkan Alif dari tidurnya, ia pun bergegas keluar dan melihat Antika sedang menyiapkan makanan di atas meja.
" Pak Alif sudah bangun?" ujar Antyka sambil menata piring "Anty lapar, kita makan dulu ya?"
" Aku juga lapar, mau makan dulu habis itu baru mandi" Alif sudah memeluk pinggang Antika sambil terus menciumi lehernya yang jenjang.
"Pak Aliiiif" Antyka merasa geli dan menyingkirkan Alif yang menempel.
"Kenapa Aku suka seperti ini, Anty. Kamu sudah harum saja. Kenapa tadi tidak membangunkan aku?" Alif melepaskan pelukannya.
"Makan dulu, Anty lapar" Alif pun mengalah dan memulai menyantap makanannya.
"Habis mandi aku mau jalan jalan"
"Tapi kayaknya di luar mendung, pak Alif"
"Jalan keliling rumah saja. Kita belum lihat bagian belakang dan samping, kan?"
"Iya sih, Anty suka banget sama anggrek yang di depan" Antyka mengerjapkan mata membayangkan kecantikan anggrek yang mekar
'Cantik kaya kamu, Anty"
"Ish...," wajah Antyka merona.
" Aku mandi dulu" Alif mencuci piring bekasnya makan dan masuk ke kamar untuk mandi.
Alif duduk diatas ranjang setelah melaksanakan solat Asar. Benar kata Antyka diluar sudah mulai gerimis kecil. Alif mencari Antyka yang masih berada di ruang tengah.
Gelap karena cuaca mendung meski masih sore. Antyka sedang menyalakan lampu tengah.
"Diluar gerimis" tangan Alif sudah melingkar di pinggang Antyka. " Aku mau meneruskan yang semalam, boleh ya?"
"Tapi..." Antyka mulai diserang rasa gugup. Masih terbayang betapa sakitnya, saat Alif menerobos bagian bawah, bahkan ia merengek meminta Alif untuk berhenti. Dan sekarang Alif kembali memintanya.
"Kita coba lagi, kalau kamu sudah tidak tahan aku akan berhenti" Belum Antyka memberi persetujuan Alif sudah mendaratkan bibirnya.
Sapuan sapuan lembut, dari kening ke kelopak mata dan turun di bibir. Penuh perasaan dan hangat. Kembali membuat Antyka terbuai menerima setiap perlakuan Alif.
Satu persatu kain yang menempel sudah mulai tanggal. Setiap jengkal dinikmati dengan cinta dan hasrat yang memuncak. Alif membawa Antyka kedalam kamar, merebahkannya. Tatapan mata Alif sudah di penuhi kabut sayu. Mengungkung Antyka dalam kuasanya. Berbisik sebuah doa agar penyatuan ini menjadi buah cinta yang baik.
"Anty..., boleh?'' suaranya serak . Kemudian tubuhnya sudah bergerak menuju pusat yang sangat didamba.
__ADS_1
" Sakit...akhhh" jeritan kecil itu sudah tidak diperdulikan Alif.
Alif tersungkur setelah mencapai gelombang Pucak hasratnya. Bersamaan dengan bulir bening yang mengalir dari sudut mata Antyka. Pelukan Antyka makin kuat rasa takut, bahagia dan juga lega, berhasil mengantarkan sang suami mendapatkan haknya.
" Aku sayang kamu, cinta kamu, kamu miliku utuh" Kembali kecupan penuh cinta dari Alif menyapu wajah Antyka.
"Jangan tinggalkan Anty" Antyka membenamkan wajahnya di dada bidang Alif masih dengan Isakan. Alif membelai Antika dan terus memberi rasa aman. Di luar gerimis semakin deras. Sore pertama dengan gerimis yang menjadi saksi percintaan pertama mereka.
Alif menyelimuti tubuh polos mereka, mengeratkan rengkuhan, menikmati indahnya perasaan yang sudah menyatu. Saling menginginkan. Saling takut kehilangan dan saling menjaga. Rasa itu bernama cinta.....
"Sayang bangun, sudah Maghrib, kita mandi ya"
Antyka membuka matanya. Membungkus tubuhnya dengan selimut. "Aku bantu" Alif sudah mengangkat tubuh Antika ke dalam kamar mandi.
Antyka meminta Alif untuk keluar dari kamar mandi. Ia masih belum terbiasa. Meski Alif memaksa, dengan mengatakan sudah melihat semua. Antyka tetap menolak, tetap saja tidak nyaman.. Dengan terpaksa Alif keluar dari kamar mandi.
Alif membereskan tempat tidur mereka yang berserak. Matanya tertuju pada bercak merah di atas sprei putih. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis dan juga rasa bahagia. Meski tanpa ada noda darah Alif tetap tau bahwa dirinya adalah pria yang pertama. Perjuangannya untuk bisa menembus Inti Antyka sangatlah menguras tenaga dan emosi. Cakaran gigitan dan juga rengekan Antyka yang kesakitan. Dan dia sudah berhasil melalui semua.
" Pak Alif..." panggilan dari Antyka. Alif segera menghampiri Antyka. Dilihatnya ia sedang bersandar.
" Mau aku gendong lagi?"
" Anty, sudah wudhu " Antyka menggeleng.
"Masih sakit?"
" Iya, kalau di bawa jalan perih dan rasanya bengkak" kata kata polos itu meluncur dari bibir Antyka
" Semoga jadi pahala ya, sayang" Alif merasa tidak tega setelah melihat hasil perbuatannya.
Dengan menahan rasa perih dan tidak nyaman Antyka berusaha untuk berjalan, di bawah pantauan Alif.
Kemudian malam semakin larut. Kembali saling memeluk. Semakin intim, hawa dingin membuat mereka kembali merasakan hasrat yang tiada usai ....
"Jaketnya di pakai, di luar hawa dingin. Ini sudah aku buatkan susu hangat untukmu" menyodorkan satu gelas susu putih hangat pada Antyka "Kita cari sarapan di luar ya, Kayaknya bubur ayam enak, Kamu suka ?"
"Maaf ya, Anty bangunnya telat, Pak Alif yang repot buat susu hangat" Antyka merasa malu setiap pagi selalu bangun terlambat"
"Gak papa, Aku sudah tau. Istriku sangat susah, kalau di suruh bangun. Apalagi sekarang, tiap malam aku ganggu tidurnya" Alif mencubit hidung Antyka, kemudian kecupan mesra di pipi.
Antyka hanya tersipu malu. Apa yang dikatakan Alif memang benar. Sedari dulu dia paling susah untuk bangun tidur. Apa lagi sekarang ia harus kerja keras tiap malam, pagi atau siang.
"Ayo, Aku sudah lapar"
Udara pagi memang dingin. Kabut masih menyelimuti. Titik bening embun di dedaunan dan rumput pun masih tampak. Matahari masih belum mampu menembus kabut pagi yang tebal. Namun jalanan sudah ramai, banyak orang yang berlalu lalang. Antyka dan Alif bergandengan, berjalan menuju tempat penjual bubur ayam di daerah sekitar situ.
Sebuah warung tenda sederhana dengan tulisan " bubur ayam mang Ucup " terlihat bersih dan cukup ramai.
" Bubur ayam dua mang "
" Baik den, minumnya apa ?"
"Teh tawar hangat saja"
Mereka duduk di bangku panjang, bersama dengan pelanggan yang lain. Ada beberapa pasangan muda juga anak anak. Kehadiran Alif dan Antyka cukup menyita perhatian. Antyka yang sangat cantik dengan kulit putih dan mata indahnya serta Alif yang memiliki kulit bersih, tubuh tegap dan paras yang tampan. Mereka pasangan yang serasi.
"Pak Alif, Anty tidak suka kacang'' ucap Antyka saat bubur pesanannya sampai.
".Sini buat aku saja" Alif memilah taburan kacang yang ada di atas bubur ayam. " Apalagi yang gak doyan?" Alif menggoda istrinya.
"Anty mau ayamnya yang banyak" tanpa rasa bersalah Antyka meminta tambahan ayam.
__ADS_1
Alif, memanggil tukang bubur ayam dan meminta tambahan suwiran ayam ke dalam bubur milik Antyka. Tentu saja dengan harga yang di sesuaikan.
"Sudah, mau apa lagi?"
"Mau makan" Antyka tersenyum jahil sambil menyuapkan bubur ayam kedalam mulutnya. Alif hanya bisa mengusap usap pucuk kepala Antyka dengan gemas.
Alif memperhatikan cara Antyka makan. Mulut mungilnya berisi satu sendok bubur penuh, pipinya menggembung dan bergoyang lucu sekali, seperti anak kecil. Gemes.....
"Pak Alif tidak makan? nanti keburu dingin loh buburnya" Antyka heran melihat Alif yang tidak segera makan dan malah memperhatikan dirinya
"Iya aku makan"
"Mau pulang atau masih mau jalan jalan?"
"Emhh jalan jalan lagi, ya. Suntuk di rumah terus''
"Bagaimana kalau kita renang? Kita belum pernah mencoba kolam renang yang ada di belakang rumah kita" tawar Alif pada Antyka
"Nanti sore saja berenangnya, Anty mau jalan jalan dulu"
"Ya sudah ayo"
Mereka kembali berjalan masih dengan tangan yang saling menggenggam. Menyusuri jalan sambil melihat area pemandangan yang hijau. Sudah cukup jauh mereka berjalan dan berhenti karena lelah tepat di depan area perkebunan strobery. Mereka duduk di bawah pohon yang rindang.
"Bagus banget ya ? Nanti, kalau kita sudah tua, Anty ingin tinggal di sini. punya kebun stroberi yang luas kaya gini, trus kebun sayur juga" Antyka begitu jatuh hati dengan suasana di sini damai dan tenang.
"Kalau mau, sekarang juga aku beli kebun stroberi ini untuk kamu Anty. Kebun sayur juga yang sebelah sana. Kenapa harus menunggu tua?" Alif menunjuk arah perkebunan yang ada di depannya. Ia menanggapi celoteh istrinya dengan serius. Apalagi melihat binar mata indah Antyka saat melihat hamparan tanaman di depannya.
"Kalau sekarang tinggal disini, gimana sekolah Anty? Anty kan belum selesai kuliahnya. Pak Alif juga kan harus kerja"
"Oh gitu ya, Aku bisa kok kerja di sini dan buka klinik juga disini, asal bareng sama kamu, juga anak anak kita" Alif memandang jauh membayangkan. Rasanya pasti senang membesarkan anak anaknya di tempat yang sejuk dan indah seperti ini. " Tapi kamu benar Anty, Aku sudah berjanji untuk membatu Ayah menangani perusahaan perusahannya.
Kasihan ayah, mungkin sudah saatnya ayah beristirahat. Setelah semua kerja kerasnya. Kita bisa ke sini kapan pun kita mau. ya kan, Anty?"
"Iya"
Alif mengangkat genggaman tangannya pada Antyka. Mengecupnya bagian punggung tangan Antika sambil terus melihat ke depan, menerawang waktu yang akan datang. Rasa dalam hatinya hangat dan semakin bertekad untuk saling membahagiakan.
Sekarang mereka sedang ada di dapur. Setelah hampir seharian berjalan jalan dan menikmati pemandangan. Hari sudah menjelang siang. Rasa lapar sudah melanda perut mereka lagi. Antyka sedang menggoreng ayam yang sudah di bumbui. Tangan lentiknya cukup lincah menggunakan alat alat dapur. Setelah matang ia letakan dalam piring besar. bersebelahan dengan sambal instan.
Alif membantu membersihkan sayuran yang akan di buat lalapan. Menggoda Antyka adalah hal yang paling menyenangkan. Alif mencipratkan Air ke arah Antyka. Tentu saja Antyka cemberut. Percikan air itu membasahi muka dan juga lantai.
" Pak Alif, kan basah"
"Habis gemes, Salah sendiri ngegemesin"
" Ish..."
" Ayo makan, Jangan cemberut seperti itu bibirnya, nanti saya gak bisa nahan. Bisa bisa kamu yang saya makan"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.Terima kasih sudah membaca Love you all