Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
44. Wedding day and Miracle


__ADS_3

Antyka merasa gelisah, sudah hampir rampung acara make up wajahnya. tapi putri kecilnya belum juga nampak. Di hotel tempatnya menginap beserta seluruh keluarganya Ia masih menolak menggunakan gaun pengantinnya.


" Ma, tolong kak Luthfi suruh ke sini" Antyka memohon pada sang mama.


"Iya biar mama panggil Luthfi" ujar mama sabar.


Antyka masih duduk dan menatap kearah balkon. Semburat cahaya matahari sedikit menyilaukan pandangannya. Antyka kembali mencoba menghubungi Alif.


" Mba di pake ya gaun pengantinnya" Para perias kembali membujuk Antyka yang sedari tadi masih saja Acuh. Fokus pikirannya hanya pada Caya.


Pintu kamar terbuka , Sosok Luthfi masuk kekamar. Pria matang itu masih berdiri tertegun melihat adiknya masih memakai pakaian biasa .


" Kamu belum siap Anty?"


" Mana Caya...?" Antyka yang risau bertanya dengan nada yang tinggi


" Ada di bawah bersama Alif dan Livia" ucap Luthfi kalem


" Kak Luthfi tidak bohong kan?"


Luthfi mengangkat bahunya, ia tidak ingin menimbulkan keresahan dari Antyka. Caya memang sudah datang dari tadi tapi ia sama sekali tidak mau lepas dari Alif.


" Tiga puluh menit lagi Anty, acara akan di mulai''


Antyka menarik nafas lega. Mendengar Caya sudah datang. Ia mau melanjutkan lagi proses persiapannya yang hanya tinggal memakai baju pengantin saja.


" Kamu cantik sekali" ucap mama bahagia


"Mama sudah lihat Caya?"


" Sudah ia masih manja di gendongan Alif"


"Pak Alif datang?" ucap Antyka gusar. Sedang mama mengangguk dan tersenyum.


Antyka menuju tempat keluarga berkumpul sebelum Acara di mulai. Ia melihat Caya masih memeluk Alif. Sepertinya Caya sedang tidak baik baik saja. Itu yang Antyka rasakan, tidak biasanya ia bertingkah seperti itu dalam keadaan yang baik baik saja.


" Caya..." Antyka memanggil putrinya sembari mendekat. Tapi Caya hanya menoleh dan mengeratkan pelukannya pada Alif seolah enggan berpisah " Ini momy Caya"


" Iya Caya tau" ucap Caya ringan


"Caya lihat, momy Cantik sekali" Ucap Alif untuk mencairkan suasana. Seraya membujuk agar Caya mau mendekat pada Antyka.


" Anty kita ke depan, Ibra dan rombongannya sudah datang" Suara Luthfi menengahi ketegangan antara Antyka dan Alif.


Antyka duduk di sebuah ruangan yang berbatas tirai yang transparan. disampingnya ada Karin Livia dan juga mama. Antyka menggunakan wali hakim karena ayahnya sudah tidak ada sedang Luthfi tidak bisa menjadi wali karena mereka saudara satu ibu saja.


Pagi ini hanya acara ijab kobul saja sedang resepsi akan di laksanakan nanti malam. Semua yang hadir hanya kerabat dekat Antyka dan juga keluarga Ibra. Suasana ruangan tampak hikmat. Ibra sudah mulai bersiap, tampak raut tegang di wajahnya. Tentu saja pernikahan adalah sesi terpenting dalam hidup


Petugas pencatat pernikahan pun sudah datang. Segera memeriksa berkas berkasnya .Selang beberapa menit Tangan Ibra sudah menggenggam tangan hakim yang akan menikahkan Antyka dan juga dirinya.


" Tunggu, tolong tunggu jangan lanjutkan pernikahan ini" Seorang pria berteriak dengan keras. Suara dan sosoknya datang begitu tiba tiba. Hampir semua yang datang mengarahkan pandangan matanya pada pria yang sudah berdiri sembari menyeret seorang gadis yang terisak histeris.


"Apa apaan ini Ardy" Suara tuan Hendro menggema. Menatap nyalang pada asistennya yang begitu berani menghentikan acara penting pernikahan putranya.


Ardy menatap sendu pada tuannya. Selama ini pria itu begitu setia pada tuan Hendro. Hampir seluruh hidupnya ia dedikasikan pada keluarga tuan Hendro


"Maafkan saya yang lancang tuan. Tapi saya harus melakukan ini. Ijinkan saya berbicara dengan tuan, nyonya, tuan muda Ibra juga keluarga inti mempelai wanita. Saya ingin mengatakan sesuatu sebelum semua terlambat. Saya akan menerima keputusan tuan dan nyonya apapun itu sebagai bukti kesetiaan saya pada keluarga tuan Hendro"


Dari balik tirai Antyka menyaksikan drama yang terjadi. Dia tidak mengetahui apa yang sedang berlangsung. Kedatangan para pekerja calon Mertuanya menghentikan acara ijab kobul

__ADS_1


Luthfi beranjak kedepan menengahi drama. Untuk kebaikan bersama dan menjaga nama baik, Luthfi meminta pihak yang di minta pak Ardy untuk berkumpul di sebuah ruangan yang tadinya menjadi tempat ruang tunggu keluarga.


Luthfi menggandeng Antyka masuk kedalam ruangan. Ibra, tuan Hendro, dan juga nyonya Hana. Tidak lupa Ardy dan juga putrinya Alisa. Setelah semua masuk dalam ruangan mereka duduk dengan pikiran Masing masing. Ibra tampak gelisah dan menatap nanar Antyka dan Alisa bergantian.


"Tuan muda Ibra apa harus saya yang menceritakan semua?" Tanya Ardi pada tuan mudanya yang terlihat gelisah. Ibra hanya diam membisu. Seolah seperti seorang pesakitan.


"Baiklah saya saja yang bercerita" ucap Ardy memandang satu persatu orang yang ada di ruangan itu. " Pertama saya minta maaf, saya hadir di sini sebagai seorang ayah untuk putri saya Alisa. Semiskin apapun kami, kami punya hak untuk bersuara. Tidak ada dalam benak kami untuk mengambil keutungan dari situasi ini. Saya dan keluarga cukup puas dengan apa yang telah tuan Hendro berikan"


"Alisa putri saya sedang mengandung anak dari tuan muda Hendro" Lantang Ardy pada semua yang ada disana.


Antyka memegang dada tidak percaya ucapan dari Ardy. Ibra bukan orang seperti itu. Iya sangat mengenal Ibra. Luthfi hanya bisa menggenggam jemari Antyka erat.


"Kamu jangan mengada ada Ardy" Ucap tuan Hendro dengan tatapan kecewa. Ia beralih pada putranya yang masih membisu untuk semua tuduhan Ardy.


"Maaf tuan sebaiknya tuan bertanya pada tuan muda. Saya hanya menuntut keadilan untuk nasib putri saya yang mengandung di luar pernikahan karena ulah tuan muda Ibra"


"Kak Ibra ....? katakan tidak. Kak Ibra tidak mungkin melakukan hal buruk itu, kan ? Antyka menatap Ibra dengan lelehan air mata.


" Alisa ...., katakan semua itu salah....Aku juga tau kamu adalah wanita terhormat yang santun tidak mungkin kamu melakukannya" Ucap Antyka kembali meminta penjelasan pada Ibra dan Alisa.


"Ibra..." Suara mami Hana lemah tangannya mengguncang bahu Ibra.


Tiba tiba Ibra berdiri menatap semua yang ada disana. Kemudian menarik tangan Alisa. Alisa hampir saja terjerembab jatuh ke lantai karena tidak siap. Ibra dan Alisa berhadapan.


"Iya aku melakukan kebodohan itu. Semua yang terjadi di luar kendali kami" Ibra mematahkan hati Antyka seketika itu juga.


"Kak Ibra......" Antyka menjerit lemah tak berdaya lagi. Seolah semua orang mengecewakannya. Luthfi memeluk Antyka erat.


Flash back


Alisa memasuki Apartemen Ibra, ia mencari cari Ibra yang harus menghadiri rapat penting. Alisa tersandung sesuatu hingga ia terjatuh. Teryata sosok Ibra yang tergeletak di lantai. Alisa segera menghubungi tuan Hendro saat itu juga. Tuan Hendro memerintahkan Alisa untuk mengurus Ibra yang sedang mabuk.


" Anty apa itu kamu?" tanya Ibra sambil mengerjapkan matanya. Menjernihkan pandangannya yang kabur. Ia melihat sosok mungil berhijab


" Pak Ibra ini saya Alisa"


" Anty, jangan kembali lagi dengan dia aku bisa membuatmu lebih bahagia. Aku akan buktikan Anty..." Ibra menubruk tubuh mungil Alisa yang masih ada di depannya.


Alisa kebingungan dan terus meronta tapi kekuatan tubuh Ibra bukan lagi tandingannya. Ibra mendorong Alisa hingga terjerembab, Mengoyak baju Alisa seperti kesetanan melampiaskan hasratnya saat itu juga.


Ibra terus meracau dan memaksa Alisa melayani hasratnya. Dalam bayangan Ibra Alisa adalah Antyka. Tubuh Alisa tergeletak di bawah tak sadarkan diri, Ibra masih sempat membawa Alisa masuk kedalam kamarnya dan mengunci Alisa yang sedang tidak sadarkan diri hingga siang menjelang.


Ibra terbangun dari tidurnya saat mendengar Isakan dari Alisa. Ia terkejut mendapati Alisa yang terbaring tanpa busana dalam pelukannya. Ibra sudah bisa membedakan orang. Ia baru menyadari telah memaksa Alisa untuk melayani hasrat nya pada Antyka.


Ibra semakin jatuh dalam rasa bersalah dan kecewa. Ia cemburu pada Alif yang kini semakin terlihat dekat dengan Cahaya. Ibra juga dihantui rasa bersalah karena kejadian denga Alisa.


Alisa dalam keadaan hancur keluar dari apartemen Ibra. Ia sempat bersembunyi saat berpapasan dengan Antyka di lantai bawah apartemen Ibra. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


Antyka memasuki Apartemen Ibra, ia mendapati Ibra yang kusut dan masih bau Alkohol. Berkata kata yang tidak tidak, hingga Antyka pun pergi sama dengan berderai Air mata.


Ibra semakin terpuruk dengan perasaannya telah menyakiti Alisa dan Antyka. Ia seperti enggan hidup. Kemudian Antyka datang kerumah, ego dan cinta buta Ibra mengalahkan segalanya. Ibra selalu meminta Alisa merahasiakan kejadian naas itu.


" Alisa, aku hanya minta maaf. Kamu tau aku sangat mencintai Antyka " Ucap Ibra pada Alisa setelah keadaan tenang di kantor " Aku tidak mungkin meninggalkan dia. Aku harap perbuatanku tidak membuahkan hasil. Aku tidak pernah bisa melihat wanita lain selain Antyka "


.Alisa hanya menunduk tidak berani berucap untuk setiap tekanan yang Ibra berikan. Gadis itu pun tidak ingin mengacau tapi apa daya perbuatan itu akhirnya membuahkan hasil. Alisa hamil, berulangkali ia mencoba memberi tahu Ibra. Tapi Ibra selalu sibuk dan tampak bahagia dengan Antyka


Sehari sebelum hari pernikahan Ibra, Ardy melihat putrinya begitu murung hingga ingin bunuh diri. Akhirnya setelah di desak Ardy bisa mengetahui Alisa hamil. Tapi Alisa bersikeras tidak mau memberi tahu siapa pria yang sudah menghamilinya. Baru tadi pagi Ardy mengetahui siapa pria yang sudah membuat putrinya seperti sekarang.


***

__ADS_1


Semua wajah tampak kecewa. Keputusan tergantung pada Antyka dan Ibra.


"Anty...., Apa kamu masih mau meneruskan pernikahan ini? " Luthfi menatap Adiknya. Ia bertanya apa keputusan Anty mau menikahi Ibra Atau tidak


"Mami , Papi , Anty tetap ingin meneruskan pernikahan ini. Kak Ibra memang melakukan kesalahan. Tapi Anty mau menerima kekurangan kak Ibra'" Suara Antyka terdengar yakin.


" Anty.." Luthfi tersentak dengan jawaban Antyka tetap menerima Ibra. Saat ini bukan waktunya untuk balas budi . Ada wanita lain yang harus Ibra selamatkan. Luthfi tidak habis pikir dengan pemikiran adiknya.


"Anty cabut kata katamu. Pikirkan baik baik" Ucap Luthfi keras pada Antyka setengah membentak


Antyka hanya menunduk sampai sampai Luthfi kehilangan rasa sabar. Adiknya tidak bisa berpikir jernih.


" Tidak Anty, kita batalkan saja pernikahan ini" Ibra menatap sendu pada wanita pujaannya. Ini ia lakukan untuk kebaikan Antyka. Ibra tau Antyka akan menderita jika dia menikahinya. Seumur hidup Antyka akan terbayang pada penghianatan ya. Ibra ingin Antyka bahagia. Semua akan sia-sia jika Antyka hanya akan terluka"


" Kak Ibra ..." Antyka terisak keras " Kenapa semua orang mencampakan Anty? Apa Anty begitu buruk?" Isak Antyka


Ibra mendekati Antyka, mengusap air mata yang meleleh. "Kamu tidak akan bahagia bersama ku, Anty. Aku sudah menghianatimu. Aku akan selalu mencintaimu. Aku ingin kamu bahagia. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku. Kamu tetap adik kecilku. Maaf...., aku harus menoreh lagi luka di hatimu" Ibra pun mengusap pipinya sendiri sambil meninggalkan Antyka dan menggandeng Alisa keluar dari ruangan diikuti Ardy, tuan Hendro dan juga nyonya Hanna.


Antyka masih merasa jatuh dalam rasa yang memuakkan. Ia hancur dengan luka baru. Bahkan Ibra pun menghancurkannya di Unjung detik terakhir dengan membatalkan pernikahan.


Antyka menatap Ibra yang meninggalkannya. Dengan menggandeng Alisa. Rasa perih dan sakit semakin menghujam. Hatinya luruh berkeping keping


Karin dan Livia juga mama masuk menemui Antyka. Mereka saling memeluk, merasakan rasa malu yang terdalam. Luthfi membawa Antyka dan keluarga intinya keluar dari hotel lewat jalan samping. ia membawa Adiknya pulang untuk menenangkan diri.


Di tempat Acara para undangan semakin resah. pengantin yang mereka tunggu belum juga menampakkan diri. Tidak lama Ibra dan Alisa duduk berdampingan setelah berbicara sebentar. Dengan pihak pencatat pernikahan akhirnya Ibra mengucapkan ijab dan kobul menggenggam tangan Ardy yang menjadi wali nikah Alisa.


Alif masih duduk dengan gelisah belum mengetahui tentang kejadian yang terjadi. Matanya selalu mencari sosok Antyka yang tidak lagi muncul. Sejumlah kejanggalan yang ia saksikan. Sebagian besar keluarga Antyka tampak meninggalkan acara pernikahan.


Caya masih dalam gendongan Alif. Bahkan putrinya tertidur dengan tenang setelah keanehan keanehan yang ia rasakan tadi.


Ponsel Alif bergetar, sebuah pesan masuk. Kabar yang datang dari Luthfi. Meminta Alif untuk menjaga Caya dan mengabarkan batalnya pernikahan Antyka.


Alif pulang dalam keadaan lega. Meski ia tau perasaan itu salah. Ia lega diatas kecewanya keluarga Antyka. Namun tangan kokohnya begitu semangat memacu mobilnya untuk pulang membawa putri kecilnya yang tertidur. Mendadak ia merasa Tuhan begitu baik dan menyayanginya. Sebuah keajaiban yang datang pada waktu yang tepat.


Alif berulangkali mengecup Caya, membisikan betapa ia sangat lega. Semalaman ia bahkan hanya tertidur beberapa saat. Lelah jiwanya raganya. Ia ikut berbaring di samping Caya memejamkan mata menjemput mimpi yang ingin ia gapai.


Alif sadar perjalanannya masih sangat panjang. Ia harus berjuang untuk bisa menaklukan hati yang sudah terluka dua kali. Salah satunya adalah dirinya.


***


Setelah acara Akad selesai, Ibra membawa Alisa ke rumahnya. Alisa masih membisu saat berada di dalam kamar bosnya sendiri. Otaknya tidak bisa berfikir jernih. Ia hanya mengikuti alur yang terjadi.


"kamu istirahat saja, nanti sore kita akan pergi ke hotel untuk resepsi. Papi tidak mungkin membatalkan acara. Aku harap kamu bisa bekerja sama" Ucap Ibra enteng , Ibra memperlakukan Alisa seperti masih menjadi karyawannya.


"Baik pak" Ucap Alisa lemah. Di keterasingan ini Alisa semakin canggung. Gadis ini sangat tau diri. Ibra tidak mungkin mencintainya.


Ibra meninggalkan kamarnya, membiarkan Alisa untuk istirahat. Untuk bertemu dengan papi Hendro juga Ardy asisten ayahnya.


"Berapa usia kandungan Alisa ?" Tuan Hendro menatap Ardi.saat mereka di ruang kerjanya


" Enam Minggu tuan"


"Aku tidak menyangka ujung kisah kita Ardy. Kita jadi besan sekarang "


"Maafkan kelancangan saya tuan. Saya tau saya tidak pantas jadi besan tuan. Setidaknya tolong setelah bayi itu lahir saja tuan. Saya akan menghilang bersama putri saya jika tuan menghendaki" Ardy membungkuk kan tubuhnya.


Tuan Hendro tertawa sinis dengan ucapan Ardy. Kemudian membiarkan Ardy berada di ruangannya sendirian. Ibra berpapasan dengan Papi Hendro yang keluar dari ruang kerjanya.


" Zigra resepsi tetap akan berlangsung meski mempelai wanitanya berbeda. Jaga nama baik Papi. Untuk sementara papi tidak ingin berbicara denganmu. Setelah acara resepsi bawa istrimu ke apartemen. Kamu boleh datang kalau kami memanggilmu ke rumah ini" Tegas tuan Hendro penuh Amarah.

__ADS_1


"Baik Pi" Ibra menunduk dan pergi kembali ke kamarnya. Menyadari kesalahan fatal yang sudah terlanjur ia buat. Ia sendiri yang menghancurkan impian untuk bisa bersama Antyka


__ADS_2