
Di ruang rawat mama Ajeng, nampak tidak biasa, di sana sudah ada petugas KUA, empat orang saksi dan wali hakim. Acara sakral baru saja berlangsung. Mulai detik ini keduanya kembali bersatu, menjadi sepasang suami istri.
Alif meraih jemari Antyka, menyematkan kembali cincin yang dulu pernah mengikat mereka, kecupan di kening terasa sangat syahdu. Rindu yang mendesak sedikit terlampiaskan dalam ikatan halal.
Luapan rasa bahagia terpancar dari sorot mata sepasang pengantin. Duduk berdampingan meminta restu pada kedua orang tua mereka. Sungguh ini seperti mimpi yang jadi nyata bagi Antika dan Alif.
"Selamat Anty" Luthfi memeluk adik kecilnya dengan rasa haru. Akhirnya ia bisa kembali melihat Antyka bahagia. "Jadi istri yang baik untuk, Alif. Kakak berharap kamu akan berbahagia selamanya"
"Lif, tolong jangan kecewakan kami lagi, hadapi bersama, setiap ada kesulitan" Luthfi menepuk bahu iparnya. Sebagai kakak, Luthfi hanya bisa memberi dukungan dan doa terbaik. Apa yang telah Alif dan Antyka lewati bisa menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Menyakiti diri sendiri dan juga orang yang dia cintai tidaklah masuk akal. Pada dasarnya perasaan keduanya terlalu dalam, hingga tidak bisa saling melupakan begitu saja
"Maaf untuk semua sakit yang pernah aku torehkan. Aku janji akan menjadi lebih baik. Aku tidak akan lagi menyerah"
***
Bias sinar bulan terpantul di permukaan air kolam. Dari atas balkon tiga orang sedang menikmati keindahannya. Tangan mereka saling terhubung, genggaman hangat yang membuat hati mereka bahagia.
Caya, Alif dan Antyka di malam pertama yang syahdu. Bukan karena gairah, tapi kasih yang tersampaikan, menghilangnya batas yang membuat mereka leluasa mengungkapkan. Dari sentuhan, sekedar kecupan, atau pelukan. Kini mereka pada posisi duduk merapat, mereka mendengarkan pemeran utama berceloteh, tentang cerita lucu kucing kesayangannya yang menggemaskan.
Adalah Caya, diantara semuanya yang merasa paling bahagia. Dua bagian dari diri gadis kecil itu telah menyatu. Binar matanya bercerita betapa ia sangat menyukai keadaanya saat ini. Setelah lelah berceloteh, mengungkapkan rasa gembiranya. Caya terkulai lemah di gendongan Alif.
"Kita pindahkan Caya ke kamar ya?" ucap Alif Antyka mengangguk. menyetujui usulan Alif. Lagi pula malam sudah merambat jauh, tidak baik dan udara mulai dingin.
Antyka menutup pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon, kemudian menutup tirai nya. Alif meletakan Caya di atas kasur, memberi selimut dan mengecupnya.
"Have nice dream, sayang" Seulas senyuman terukir di bibir Alif. Netranya tak henti menatap gadisnya yang begitu mengemaskan. Kembali membelai rambut halusnya, mengulangi kecupan pada wajah Caya.
"Nanti bagun, pak Alif" Antyka pemperingatkan Alif.
"Apa panggilanmu tidak ingin berubah?" Alif menoleh ke arah Antyka yang sedang berjalan mendekatinya.
"Aku suka dengan panggilan itu, pak Alif" Antyka duduk disisi Alif.
"Kenapa? seperti memanggil atasan atau orang lain saja, rasanya tidak intim" Protes Alif. Alif meraih pinggang Antyka agar mereka semakin dekat.
"Itu panggilan sayang, dari Aku" Antyka mencoba mengurai pelukan tangan Alif di pinggangnya. Ia belum siap terlalu dekat dengan Alif, jantungnya berdetak lebih cepat.
"Baiklah, tapi biarkan aku memelukmu, Anty. Aku janji malam ini milik Caya, aku tau kamu gugup dan belum siap" Alif menatap lekat kedua bola mata Antyka. Dia bisa merasakan apa yang Antyka rasakan. "Kita sudah sangat lama terpisah. Kamu pasti masih canggung, aku akan bersabar, aku juga ingin kamu merasa nyaman"
"Janji hanya peluk?" pipi Antyka tiba tiba terasa panas. Semburat merah tergambar jelas. Alif kembali melingkarkan tangannya di pinggang Antyka setelah mendapat lampu hijau. Keduanya saling memeluk. Merasakan kembali detik detik indah yang pernah mereka lalui. Desiran dan debaran jantung yang saling berlomba. Aroma tubuh belahan hati yang memabukkan, setelah sekian lama mereka saling merindu kini dapat merasakannya lagi.
" I Love you Antyka" bisik Alif di telinga Antyka.
Tiba tiba Antyka mengeratkan pelukannya pada Alif, Menumpahkan rasa yang bercampur didadanya. Hatinya begitu tersentuh dan rapuh. sepertinya ia tidak sanggup lagi jika harus kehilangan pria yang sedang ia peluk.
"Jangan tinggalkan aku lagi" Suara Antyka bergetar menahan rasa sakit yang kembali terbayang jika ia harus kembali kehilangan Alif. Air matanya mengalir, Ia baru sadar jika hatinya sudah menjadi milik Alif, Cinta pertamanya.
"Tidak akan pernah, Selama aku masih bernafas, Maafkan aku, Anty" Hati Alif terasa pedih. Kekasih hatinya terisak pilu. Betapa luka yang ia toreh sangat dalam. "Kamu dan anak anak kita adalah hidupku" Alif mengecup pucuk kepala Antyka sambil terus memeluk.
Malam semakin merambat jauh dan jauh menjemput fajar, keduanya berbaring mengapit Caya yang sudah lebih dulu terlelap. Tangan mereka bertautan. Menjemput mimpi indah milik keluarga kecil mereka,
Diluar sana, bulan semakin benderang, Saat semua terlelap dalam sunyi. Hanya suara nafas yang terdengar lirih. Alam memberikan damai dari semua ikatan suci. Jemari yang bertaut itu terasa hangat, Saat Caya terbangun di penghujung fajar, ia melihat kedua orang tuanya sedang terlelap. Gadis kecil itu tersenyum lega, yang terjadi bukanlah mimpi lagi. Mulai sekarang dirinya benar benar memiliki keduanya utuh.
"Selamat pagi, Caya"
"Pagi momy, Daddy" Kecupan mendarat di kedua pipinya, Caya senyum dengan ceria. Kemudian tubuh kecil Caya menggeliat kembali bergelung sambil menarik tangan Dady untuk menemaninya di atas kasur, Sedang Antyka hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah ayah dan anak gadisnya.
"Caya sekolah, kan? Dady juga harus ke rumah sakit" Antyka memulai nasehat paginya. Namun Caya dan Alif merapatkan selimut sampai menutup kepala mereka.
Terdengar tawa riang Caya, yang masih bersembunyi di bawah selimut. Antyka mencoba menyibak selimut yang menutupi keduanya.
"Oke...gak ada yang dengerin momy, nih? Momy pergi "
"No momy, Caya ikut" Caya langsung keluar dari bawah selimut diikuti Alif.
"Caya mandi, ya" perintah Antyka sambil menuntun tangan kecil Caya menuju ke kamar mandi. Caya tanpa drama langsung mengikuti sang Momy. Namun baru beberapa langkah Caya menghentikan langkahnya, menoleh pada Dady yang masih duduk diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Dady, tidak mandi?" tanya Caya, gadis kecil itu terlihat penasaran. sebab sang Dady masih santai duduk diatas ranjang.
"Dady mau seperti Caya di mandiin momy" Alif mengedipkan matanya satu kearah Antyka. Antyka hanya melengos tak menjawab.
"No Daddy, Daddy sudah besar dan dewasa, Daddy harus mandiri. Caya juga mandi sendiri, hanya ditunggu momy, kalau Caya kurang bersih, baru momy bantu" Caya langsung memberi ceramah panjang pada Alif. Gadis kecil itu bertingkah sok dewasa. Membuat sang Daddy dan momy tertawa gemas dengan tingkahnya.
"Oke Daddy mandi sendiri, Caya" menunjukan dua jempolnya pada Caya tanda menuruti keinginan Caya.
***
Meja makan di rumah keluarga Haris Pradipta pagi ini tampak sangat semarak. Lira, Mike dan putranya, Jefrey sudah duduk manis di barisan sebelah kanan, Audrey tidak ada karena ia sedang melanjutkan studinya di luar negri.
"Ini hadiah dari kami, Lif" Mike menyodorkan sebuah amplop.
"Apa ini Mike?"
"Buka saja, pasti kamu suka"
"Thank's" Alif merobek sampul Amplop yang di berikan Mike. "Tiket ke Swiss?"
"Hmm " Mike menyeruput kopi yang di berikan Lira padanya. "Aku sudah menyiapkan semua keperluan kalian di sana"
"Anty...?" Alif menoleh ke arah istrinya, seolah ia meminta pendapat dari Antyka. Antyka seperti bingung saat ini. Dia masih memiliki beban yang berat. Mama Ajeng baru saja membaik kondisinya.
"Mama baru saja membaik bahkan masih dirawat, Caya juga belum libur sekolah, pak Alif"
"Itu berlaku kapan pun kalian siap, tidak harus sekarang" Ucap Mike menegaskan, Mike tau kondisi keluarga Antyka.
"Tunda dulu, Lif. Sampai mama Ajeng sehat. Kalau soal Caya, dia bisa di tinggal dengan Opa dan Oma. Iya kan sayang?" Haris bertanya pada Cucunya yang duduk persis di sampingnya.
"No, Caya mau ikut Momy dan Daddy saja" Ujar Caya kalem tidak terbujuk rayuan opa Haris.
Mendengar jawaban Caya yang polos membuat semua yang ada di meja makan tersenyum. Menatap prihatin pada Alif dan Antyka. Bahkan Mike yang sedari tadi acuh tampak menyunggingkan senyuman.
"Caya mau ikut Daddy dan momy" Suara Caya mulai meninggi. Semua terdiam, hanya Mike yang berdeham menahan tawa yang ingin keluar.
"Ya sudah, Caya makan yang banyak biar cepat besar ya" Oma menengahi pembicaraan pagi itu.
"Bun, saya nitip Lira dulu" pamit Mike sambil menyalim pada mertuanya. "Lira masih ingin sama bunda, Dia mau masak soto yang biasa bunda buat" kembali Mike menyampaikan request bayinya.
"Kamu ngidam Lira, Kenapa tidak bilang dari semalam?"
"Iya Bun, tapi maunya di makan sore sore bareng Mike"
"Nanti bunda buatin"
"Terima kasih ya Bun" ucap Lira sambil memeluk bunda.
Saat mereka berpelukan, Caya berpamitan untuk pergi ke sekolah. Dengan sikap dewasanya, Caya menyalimi mereka satu persatu. Di belakang Caya ada Alif dan Antyka
"Aunty Lira , Uncle Mike, Oma , Caya mau sekolah"
"Ponakan Aunty yang pinter, semangat ya belajarnya"
Lira melambaikan tangan menatap suami, adik , ipar dan keponakannya pergi meninggalkannya di rumah bersama bunda.
"Kamu beneran ngidam soto?" Tanya bunda menyelidik. Pasalnya setau bunda Lira tidak terlalu suka soto. bunda hanya meyakinkan dirinya saja.
"Sebenarnya Mike yang ngidam Bun. Bunda kan tau, aku tidak terlalu suka soto." ujar Lira di sambut kekehan dari bunda.
"Oh ya sudah, biar bunda buatkan nanti. Bunda tidak mau sampai cucu bunda ileran" Keduanya kembali masuk ke dalam rumah menemui opa Haris dan Jefrey yang masih sedang diskusi di ruang kerja.
**
" Hati hati Caya, jangan lari" Ucap Alif dan Antyka saat mengantar Caya sampai pintu gerbang sekolahnya.
__ADS_1
Tapi Caya tidak terlalu menggubrisnya. Begitu melihat teman akrabnya, Caya langsung bersemangat. Dengan lincah dan lantang ia memanggil sahabatnya sembari mendekat. Saat sudah seperti ini, Caya melupakan Antyka dan Alif.
"Kita ke rumah sakit, Anty" Ucap Alif sambil kembali menghidupkan mesin mobil.
"Iya aku mau menggantikan kak Luthfi. Dia pasti sangat lelah berjaga sendiri"
" Iya, nanti jam makan siang, aku temani kamu jaga Mama. Menurut laporan medis milik mama, Mama sudah sangat pesat kemajuannya, mungkin besok sudah di perbolehkan pulang"
"Alhamdulilah, semoga mama terus sehat"
Antyka membuka pintu kamar tempat mama di rawat, begitu sampai di rumah sakit. Ia melihat sang kakak sedang menyuapi mama tercinta dengan penuh kasih. Telaten dan sabar itu yang Antyka lihat. Betapa sang kakak sangat bertanggung jawab dan berbakti pada orang tua. Antyka merasa sedih dan tak berdaya.
"Pagi ma, kak" suara serak Antika saat menyapa Luthfi dan mama Ajeng.
"Kamu datang, apa sudah ijin pada Alif?" Pertanyaan Luthfi penuh nada sumbang dan kekawatiran. Ia tidak mau adiknya nekat datang kemari di hari pertama sebagai istri. Pria itu paham betul tentang kewajibannya. Merawat sang ibu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai anak lelaki.
"Aku diijinkan pak Alif untuk jaga mama hari ini. Kak Luthfi istirahat saja" ucap Antyka sambil mendekat dan duduk di samping Luthfi
"Kamu tidak memaksa Alif untuk ngertiin keadaan kamu, kan? Mama sudah sehat, kok. Makannya juga banyak, iya kan, Fi" mama meyakinkan Antyka.
Antyka tersenyum, melihat kekawatiran kedua orang di depannya. Kemudian ia lebih mendekat pada mama.
"Ma, pak Alif sangat baik dan pengertian. Ia mengijinkan Anty untuk jaga mama hari ini. Nanti siang dia akan datang kesini. Sekarang pak Alif sedang dinas.
"Alif tidak ambil cuti?" Luthfi menatap tidak percaya. Namun Antika menggeleng pelan.
"Waktunya belum tepat, Caya juga masih belum libur sekolah. Yang terpenting kita sudah bisa bersama sama lagi" jawab Antyka malu malu.
Luthfi bangkit dari tempat duduknya, ia meregangkan tubuhnya yang penat. Bersamaan dengan itu, Karin datang membawa sarapan pagi untuk Luthfi. Setelah menyapa sang mertua yang sudah mulai membaik dan juga adik iparnya, Karin menyiapkan makanan yang sudah ia bawa.
"Sarapan dulu mas" Karin memberikan piring yang sudah terisi. Luthfi menerimanya dengan senang hati.
"Aku mau pulang sebentar, nanti sore aku kembali" Ucap Luthfi pada Antyka yang sedang sibuk menyeka mama. " Sepertinya mama sudah sangat membaik. Kalau nanti ada dokter, tolong kamu tanyakan kapan mama boleh pulang"
"Iya, nanti Anty tanyakan"
"Mama juga sudah ingin pulang, Fi" sahut mama merajuk. Mama sudah berganti baju di bantu Antyka. Sekarang dia duduk sambil menatap Luthfi yang sangat lahap memakan sarapannya.
"Tunggu keputusan dokter, ya ma" Luthfi menyelesaikan sarapannya.
"Ma.." panggil Antyka saat mereka hanya tinggal berdua. Luthfi dan Karin sudah pergi sejak tadi.
"Kenapa?"
"Mama mau ikut sama Anty kalau sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Antyka penuh harap, tapi mama hanya terdiam. "Anty juga ingin merawat mama" suara Antyka terdengar sendu.
"Anty, bukannya mama tidak mau. Tapi mama masih memiliki anak lelaki, yang akan memikul tanggung jawab penuh atas mama. Setelah kamu menikah, kamu memiliki tanggung jawab lain yang lebih berat terhadap suamimu. Mama ingin meringankan kamu, nak" Mama memberi pengertian pada putrinya. Ia ingin keputusannya tidak menyinggung Antyka.
"Mungkin sesekali mama mau menginap di rumah kalian kelak. Tapi mama akan tinggal bersama kakakmu, Luthfi"
"Iya juga ma, saat ini Anty masih tinggal di rumah bunda. Mungkin nanti kalau Anty dan pak Alif sudah pindah ke rumah sendiri. Mama janji mau menginap, ya?"
"Iya " mata mama Ajeng sudah terlihat layu. Mungkin ia sudah mulai mengantuk. Antyka membenarkan selimut mama yang tersingkap.
"Istirahat ma, Anty tunggu mama di sini" Antyka mengecup pipi hangat mama yang sudah mulai terdapat garis halus. Tidak sampai menunggu lama, mama sudah mulai memejamkan matanya, Antyka melirik kearah jam yang sudah menunjukan pukul sebelas. Ia kembali ke sofa dan membuka ponselnya.
Beberapa pesan masuk dari bunda Amalia, menanyakan keadaan mama Ajeng. juga pesan dari nomor asing
"Selamat ya Anty, semoga bahagia. Maaf untuk semua yang sudah aku lakukan terhadapmu. Aku benar benar menyesal. Aku akan mengganti semua kerugian yang sudah aku buat. Aku tau, ada yang tidak bisa aku ganti, kenangan indah keluargamu, juga orang orang yang pernah ada disana. Maaf untuk tindakan kasarku pada ibu Ajeng, aku berharap semuanya baik baik saja"
"Mungkin aku tak termaafkan, aku buta oleh dendam. Kedatangan ibu Ajeng membuat aku merasakan arti ketulusan. Semua yang kumiliki teryata tidak ada artinya di banding tatap seorang ibu yang kawatir terhadap anaknya, kehangatan sikapnya. Sampaikan maafku pada ibu. Aku berjanji untuk jadi orang yang lebih baik lagi"
dari Agra
Ada desir rasa sakit di sudut hati Antyka. Membaca pengakuan Agra, ada amarah yang menyusup. Antyka menarik nafas dalam, kemudian menoleh ke arah sang mama yang masih tertidur. Mungkin ia harus berdamai dan memaafkan pria itu. Hatinya akan sedikit terobati.
__ADS_1