
Alif memakai baju yang sudah di sediakan oleh Antyka. Kemeja warna hijau tua dan celana kain warna hitam. Antyka juga sedang mematut diri di depan cermin riasnya.
Alif menghampiri Antyka dan memberikan dasi padanya.
"Sayang tolong" matanya mengerling kemudian bahunya membungkuk.
"Pak Alif manja, pakai sendiri padahal bisa"
" Kamu tau, kenapa aku selalu ingin di pakaikan dasi oleh istriku? Aku bisa menatap lama wajah cantikmu. Aku bisa merekamnya untuk mood bosterku sampai nanti sore" kemudian suara tawa Alif terdengar renyah dan bahagia. tidak lupa tangannya mengusap pipi Antyka lembut.
Antyka mulai mengalungkan dasi ke leher Alf tanpa menggubris ucapan Alif. Jemarinya mulai membuat simpul pada dasi. Alif mendekatkan wajahnya dan mencuri curi kecupan di bibir mungil Antika yang penuh. Deru nafas Alif semakin lama menjadi tak teratur intensitas kecupan itu bukan hanya sekilas.
"Gemes banget" Antyka mulai jengah dengan kelakuan Alif. Ia berusaha menghindar dengan memalingkan mukanya kesana kemari.
" Pak Aliffff...., nanti Pasang dasinya tidak selesai selesai. Ini sudah siang, Anty ada kuliah pagi" pekik Antyka
"Yah..., tadinya aku mau partai tambahan, Anty"
"Gak bisa, nanti Anty telat" buru buru menyelesaikan simpul dasi Alif dan menjauh dari jangkauan suaminya. Antyka sudah sangat hafal, apa yang diucapkan Alif akan jadi adegan sesungguhnya, jika ia tetap berada di dekatnya. Hawa hawa panas dan tatapan Alif, Antyka sudah sangat lihai untuk membedakannya.
Alif tergelak melihat istrinya menjauh. Antyka sudah faham apa yang ada dalam benaknya. Setelah penyatuan pertama mereka. Alif menjadi tidak bisa mengendalikan diri. Ia berubah jadi sangat mesum jika berada di dekat istrinya.
"Anty, tadi tidak sempat masak, kita sarapan di luar, ya'' Antyka mengemas buku dan tasnya seraya membuka pintu kamar.
" Aku sudah siapkan susu dan roti panggang Antyka" Ucap Alif sambil menunjuk 2 kotak makan di atas meja.
" Kapan pak Alif buat ini? bukannya kita kesiangan tadi?"
" Waktu kamu mandi, sambil menunggu tuan putri mandi, aku buat roti panggang plus selai coklat juga susu hangat" Alif mengusap pucuk kepala Antyka.
"Terima kasih"
"Terima kasihnya nanti malam saja. Sekarang di tolak"
"Ishh" Antyka memencet tombol lift yang akan membawa mereka turun.
"Nanti aku tidak bisa jemput kamu ya. tapi bunda yang akan jemput kamu ke kampus" ucap Alif saat sudah di dalam lift.
" Loh kok bunda, Anty nggak mau ngrepotin bunda"
"Bunda mau ajak kamu ke tempat kak Lira. Bunda tidak mau datang sendiri ke sana. Jadi minta ijin aku, untuk ngajak kamu"
" Oh gitu"
"Kamu selesai jam berapa nanti?"
" Jam sebelas juga sudah selesai. Hari ini cuma ada satu matkul"
"Biar aku kabari bunda. Oh ya, nanti kita nginap di rumah bunda ya. Sekalian aku ada yang mau diobrolin sama Ayah, soal bisnis"
"Iya, gak papa. Anty juga mau belajar masak sama bunda"
Ting ...pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di basemen. Mereka keluar dari lift menuju ke parkiran mobil mereka. Alif membukakan pintu mobil untuk Antyka, kemudian berjalan memutar menuju kursi di belakang kemudi.
"Sudah siap?" Alif memastikan Antyka sudah memakai seat belt ya.
__ADS_1
"Udah"
Alif menyalakan mobilnya dan melaju kearah jalanan. Bergabung dengan mobil mobil lain di jalan raya yang cukup padat. Antyka memejamkan matanya sejenak tanpa banyak bicara. Tak bisa dipungkiri menjadi istri dan mahasiswa membuat tubuhnya lelah.
Alif membiarkan istrinya, sejenak istirahat selama perjalanan ke kampus. Ia tau, Antyka pastinya selalu kurang tidur. Semua akibat ulah dirinya yang tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat, ketika teringat akan kekonyolannya. Ia merasakan yang namanya bucin tingkat dewa.
Sudah sampai parkiran fakultas ekonomi, Alif menghentikan mobilnya. Ia memperhatikan Antyka yang begitu lelap. Wajah cantiknya tampak damai
"Sudah sampai sayang" Alif mengguncang bahu Antyka, menepuk nepuk pelan. Dan seperti biasa tidak ada respon dari Antyka. Tapi Alif punya cara jitu yang pasti berhasil membangunkan Antyka. Alif menggigit gemas bibir bawah Antyka dan pasti terbangun.
"Pak Alif....," Anty langsung terbangun di sambut pelukan dan permintaan maaf dari Alif. "Lama lama bibir Anty, jadi memble karena sering di gigit" Antyka merengek
"Kamu tau kan kalau kamu paling susah di bangunin?" kemudian tawa Alif penuh arti " Hanya dengan cara ini kamu bisa bangun"
Masih dengan wajah cemberut Antyka keluar dari mobil Alif. Tanpa membalikan badan lagi ia meninggalkan pelataran parkir. Kebiasaan buruk Alif saat membangunkannya membuat moodnya sedikit memburuk.
Dari dalam mobil Alif hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Antyka tidak percaya kalau ia sudah berusaha membangunkannya dengan cara lain yang lebih normal. Tapi gagal, Cara itulah yang paling cepat. Sebelum meninggalkan pelataran parkir kampus, Alif memberi kabar pada bunda untuk menjemput Antyka jam sebelas siang.
Di RS tempat Alif bekerja.
"Dokter Alif, ada yang ingin bertemu. Dia menunggu di depan ruangan dokter" Ucap salah satu perawat yang baru saja memberikan file pasien di ruang periksa dr Alif.
"Pasien saya masih banyak, kalau tidak urgent bisa tunggu sampai selesai atau sampai jam makan siang saya, paling tidak"
"Akan saya sampaikan dokter" ujar perawat seraya mengangguk dan kembali keluar dari ruangan dr Alif
Saat jam makan siang, Alif baru saja keluar dari ruang periksa. Ia menoleh kearah ruang tunggu pasien. Matanya tertuju pada sosok wanita yang tidak asing, Dokter Farah segera berdiri dan menghampiri Alif, saat tatapan mereka beradu.
Alif mendengus kesal, tidak habis pikir dengan dr Farah. Setelah apa yang ia lakukan masih bisa menampakan wajahnya di hadapan dr Alif.
"Ya, saya ingin bicara denganmu"
"Untuk apa lagi? Saya tidak ingin memperpanjang masalah" ucap Alif malas, sambil terus berjalan menyusuri koridor menuju ruangan pribadinya.
" Aku ingin menjelaskan sesuatu, beri saya waktu" Dr Farah terus mengejar Langkah panjang Alif.
"Baiklah lima belas menit. Jangan sita waktu saya lebih. Saya sedang banyak pasien dan juga ingin istirahat"
" Apa kita bicara sambil jalan ?"
" Tentu tidak, silakan masuk" Alif berhenti di depan ruangan pribadinya. Mempersilahkan Dr Farah masuk.
Alif duduk menghempaskan badannya. Matanya menatap Farah enggan.
"Lima belas menit dari sekarang, silahkan" Ucap Alif sambil mencari posisi bersandar agar lebih nyaman.
" Pertama, Aku mau minta maaf untuk ketidak nyamanan atas perilaku kami kemarin kemarin. Kedua, perasaan saya tidak berubah. Saya masih tetap mengharapkan dr Alif. Saya merasa tidak bisa menerima. Wanita yang dr Alif pilih. Dia ...dia sangat tidak sepadan. Saya benar benar tersinggung. Dari sudut manapun saya lebih baik dari wanita ingusan itu"
"Stop...., Sepertinya kamu harus di rawat Farah, jiwa kamu sakit . Bisa bisanya kamu mempunyai penilaian yang merendahkan pada wanita yang saya cintai. Dari sini pun sudah terlihat, kamu bukan wanita baik. bahkan kamu tidak pantas untuk di banding bandingkan dengan istri saya. Silahkan keluar saya tidak mau mendengar ucapan mu lagi" Alif tersulut emosi jiwanya
Farah terisak dengan sentakan Alif, hatinya terasa sakit. Apalagi saat Alif nyata nyata mengungkap betapa berharganya sang istri. Farah sangat kecewa. tidak terima kalah dari wanita yang menurutnya ingusan.
" Terserah dr Alif, yang aku tau aku sangat mencintai dr Alif. Tolong lihat aku, meski sekilas. Aku bisa menjadi wanita pendamping mu yang lebih baik. Perasaan aku lebih besar dan dalam. Aku rela meski hanya jadi yamg kedua asal, Asal itu bersamamu"
"Lima belas menit mu sudah habis. Tidak perlu di bahas lagi. Kita jalani hidup kita masing masing. Jika kau terus mengganggu kehidupanku, Aku pun punya batas kesabaran. Aku bisa melakukan apapun untuk melindungi orang yang aku cintai"
__ADS_1
**
Alif membuka pintu kamarnya perlahan. Ia melihat Antyka sedang tidur tengkurap dengan laptop di depannya. Tanpa membuat ke gaduhan Alif terus mendekati Antyka yang tidak menyadari kehadiran Alif. Alif berdecak kesal Antyka benar benar larut dengan layar laptopnya.
Tanpa aba aba Alif langsung menghambur di atas ranjang. Suara tubuh dan goyangan ranjang mengagetkan Antika yang sedang larut dengan tugas kuliahnya. Antyka menoleh dan membuka headset yang terpasang di telinganya.
" Pak Alif sudah pulang?" mata Antyka menatap pada wajah lelah Alif. Pria itu pura pura terpejam, untuk menggoda istrinya.
"Capek ?" Antyka duduk dan tangan mungilnya langsung bergerilnya membuka dasi Alif yang masih terpasang. Setelah berhasil dengan dasi, tanpa ragu Antyka membuka kancing kemeja Alif. " Mandi dulu pak Alif, bau" Alif belum bergeming dan masih berpura pura.
Antyka sudah bangkit dari ranjang. Menghampiri kaki panjang Alif yang masih terpasang kaos kaki dan melepasnya. "Ayo mandi" Antyka menarik tangan kokoh Alif supaya bangun dan membersihkan tubuhnya. Belum Ada pergerakan, terpaksa Antika kembali naik ke atas ranjang. Memencet hidung Alif, menepuk nepuk pipinya. Antyka berdecih, ketika sudah lelah berusaha membuat Alif bangun. ia menyerah dan cemberut.
Alif memicingkan matanya sedikit. Mengintip ekspresi kesal Antyka. Menggoda istrinya adalah kesenangan yang membuatnya lupa akan segala penat yang baru ia alami.
" Aku kangen..." Tangan kokohnya sudah melingkar erat di pinggang Antyka yang sedang kesal.
"Becanda terus, mandi pak Alif...." pura pura kesal
"Iya sayang, Aku mandi. cup....." Alif mencium pipi Antyka dan cepat berlari kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Antyka, besok aku akan pergi ke puncak. Aku ingin mengajak kamu, tapi aku takut kamu capek. Kamu tinggal di rumah bunda lagi saja, ya? Aku harus menemui rekan bisnis ayah yang sedang berlibur di sana" ucap Alif setelah selesai mandi sambil mengenakan baju yang Anty sediakan
" Hmm, sebenarnya kemarin, Saat di rumah mama aku ingin menginap, tapi bukan week end. Kalo boleh besok Anty nginap di rumah mama, boleh ?"
"Ya sudah boleh, besok pagi sekalian berangkat ke puncak, aku drop kamu, ya" Alif menuruti keinginan istrinya. Alif tau betul istrinya tidak pernah protes ketika di tinggal tinggal atau disuruh berpindah pindah tempat.
"Boleh..., makasih pak Aliff" Antyka terlihat begitu senang mendapat ijin menginap di rumah orang tuanya. Sudah lama ia tidak menginap di sana. Tentu saja ia rindu.
Makan malam keluarga, Bunda Amalia dan juga Ayah Haris sudah menunggu di meja makan. Akhirnya yang di tunggu muncul juga. Atyka dan Alif.
" Malam yah, Bun" sapa Alif dan Antyka berbarengan, begitu muncul dari kamar.
"Kalian, nginap di sini kan ?" tanya Ayah.
"Iya, yah. Kami nginap disini. Ada yang perlu Alif bicarakan nanti" sambil menyeret kursi untuk Antyka dan dirinya kemudian keduanya duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya
" Baiklah, kita bicara di ruang kerja Ayah, nanti"
"Sudah, bicara bisnisnya nanti. Sekarang kita makan dulu. Tadi bunda sama Anty masak spesial untuk makan malam ini" bunda Amalia menyendokkan nasi kedalam piring Ayah. dan menghentikan acara mengobrol mereka. Agar berkonsentrasi untuk menikmati hidangan.
**
"Anty,..."
"Hmm"
"Jangan tidur dulu. Lagi yah ? mumpung besok weekend" Alif menyibak selimut yang membungkus tubuh Antyka yang masih polos. Jejak jejak jamahannya pun belum menghilang. Masih ingin menambah dengan partai tambahan.
Meksipun Alif selalu meminta ijin. Namun pada eksekusinya tak perlu menunggu jawaban Antyka. Tangan dan gerakannya sudah tidak dapat di kendalikan. Antyka hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan Alif.
"Pak Aliif" mata Antyka begitu sayu. Terbawa suasana yang Alif ciptakan
"Aku suka saat kamu memanggil namaku, Anty. It sounds so sexy"
Hmmm sambung lagi....., please kalo suka tekan like yah yah.....tapi gak maksa deng seiklasnya aja mungkin belum layak so cemunguttt cemungut autor nulis
__ADS_1