
"Ini bukan hanya tempat bersejarah dalam hidupku. Di sini aku merasa hidupku juga kembali. Ayah datang dengan gadis kecil yang sangat cantik. Pipi putihnya dan juga mata beningnya sangat menarik perhatianku. Tepatnya disini, di ayunan ini. Aku masih dengan baju lusuh terpesona pada gadis kecil yang tersenyum sambil memainkan ayunan. Mungkin kamu tidak pernah mengingatnya. Tapi mulai hari itu duniaku sudah tercipta. Duniaku hanya tentangmu" ujar Ibra dengan mata yang menerawang jauh.
Disisinya Antyka hanya terpaku, Mencoba mengingat belasan taun yang lalu. Ayunan ini memang tempat favoritnya. Setiap Minggu ayah mengajaknya kemari membawa banyak jajanan dan juga buku buku cerita. Dia juga ingat banyak sekali anak anak terlantar disini yang ayah selamatkan.
" Aku hanya ingat selalu bermain ayunan disini, setiap hari Minggu saat ikut ayah kemari" tukas Antyka
" Aku selalu berusaha menonjol agar ayah lebih perhatian padaku. Aku selalu terobsesi untuk jadi yang terbaik. Agar ayah lebih sering mengajaku pulang ke rumahnya atau menghadiahiku jalan jalan. Karena saat itu aku akan lebih sering bertemu dengan mu. Aku juga mengubah selera makananku, mengikuti mu yang selalu suka makanan manis. Ayah selalu berkata Aku dan kamu benar benar mirip dan tidak bisa di pisahkan. Setelah aku beranjak dewasa keinginan untuk memilikimu semakin menggila Anty, tapi aku sadar aku bukan siapa siapa yang tidak sebanding denganmu. Aku mengejar pendidikanku setinggi mungkin. Membangun karir sebaik mungkin agar aku pantas untuk bersanding denganmu"
"Apa kak Ibra tidak menyesal mendapati aku yang sudah..."
"Jangan katakan itu. Hal terbaik bagiku adalah bersamamu, itu sudah cukup Antyka" Ibra memotong ucapan Antyka. " Kita akan bernostalgia di sini" Ibra menuntun Antyka masuk kedalam bangunan yayasan anak yatim milik Ayah Damar.
Cukup lama Ibra mengeluarkan isi hatinya. Membuat Antyka semakin yakin dengan keputusannya. Waktu bergulir, membuat keduanya beranjak dari tempat itu.
" Satu lagi tempat yang ingin aku datangi dengan kamu Anty, ayo" Ibra menarik lengan Antyka menuju mobilnya.
Hampir menuju senja, langit sudah mulai menguning, Suasana tampak padat merayap. Masih dengan binar bahagianya Ibra menuju gerai donat kesukaan Antyka.
Antyka menyadari saat sampai di tempat ini. Ia menahan senyum teringat kejadian dulu.
"Kamu ingat?" tatap Ibra tanpa menyembunyikan raut wajah yang ingin menggoda Antyka. Tentu saja tempat ini sangat bersejarah bagi keduanya. Antyka mengangguk malu. Dengan pipi yang mulai bersemu merah.
"Iya kita sama sama di marahin ayah gara gara nekat ke tempat ini. Aku sedang sakit gigi, tapi aku merayu kak Ibra untuk membelikan aku donat dengan toping full coklat kesukaanku. Gigiku tambah sakit dan kak Ibra di marahi Ayah"
"Aku selalu menabung uang saku miliku, untuk membelikan apapun yang kamu inginkan saat kamu datang berkunjung ke panti'
Keduanya memasuki gerai dan memesan sekotak donat toping coklat. Duduk berhadapan dan menikmati manis nya makan donat. Keduanya tertawa kembali mengingat. Bagaimana mereka bisa kabur dari pengawasan penjaga panti untuk sampai ke tempat ini.
" Ayah tidak hanya memarahiku tapi memisahkan kita sampai beberapa bulan. Tiap ayah berkunjung ke panti kamu tidak lagi ikut. Waktu itu nafasku rasanya sesak Anty, Aku sering mencuri curi waktu untuk mendatangi rumah ayah. Aku berharap kamu sedang berada di luar rumah. Sampai Ayah melihatku dan kasian, kemudian mengijinkan aku masuk bahkan menginap di sana"
"Seharian kita bermain bersama melepaskan rasa rindu setelah beberapa bulan tidak bertemu. Ayah memintaku untuk berjanji tidak terlalu memanjakan kamu. Tapi aku keras kepala beruntung aku cukup pandai dan sering membuat ayah bangga dengan prestasiku"
"Anty, aku sebucin itu padamu dari dulu" Ibra terus terkekeh." Kita pulang Cahaya pasti sudah menunggu kita" Ajak Ibra saat menyadari hari semakin menggelap.
" Tunggu kak Ibra, Aku mau mengatakan sesuatu. Buat ku sekarang ini, perasaan kak Ibra sangat penting. Ini tentang Cahaya "
"Katakan Anty, aku sudah ingin tau dari kemarin"
" Cahaya akan bertemu dengan Daddy nya" ucap Antyka terbata menunggu reaksi Ibra "Ini mengganggu pikiranku. Sebenarnya ini hak Cahaya. tapi aku butuh berterus terang pada kak Ibra. Maaf aku meminta keiklasan Kak Ibra"
Ibra masih terdiam. Di sana, di sudut matanya ada rasa gelisah. Masa lalu Antyka kembali. Perasaan takut itu ada, marah juga ada. Tapi Ibra juga harus mengerti dan menerima masa lalu Antyka yang kembali hadir.
" Kapan?"tanya Ibra dengan menahan rasa
" Besok, Aku tidak akan mendampingi Cahaya untuk bertemu dengan Daddynya, kak Ibra. Ada kak Luthfi yang akan mengantarnya. Aku sudah memutuskan untuk melangkah dan tidak akan kembali pada masa laluku" ucap Antyka membuat Ibra berbinar.
"Terima kasih sudah menjaga perasaanku, Anty. Selama itu membuat Cahaya bahagia, dan kamu juga lega, aku tidak mempermasalahkannya" ucap Ibra lugas diiringi perasaan lega dari komitmen yang Antyka buat. Tidak ada Alasan untuk kawatir atau sekedar cemburu buta.
***
"Uncle Lutfi gendong" Caya merajuk sambil membentangkan tangannya. Dengan senang hati Luthfi menggendong Caya.
" Caya senang mau bertemu Daddy?" tanya Luthfi sambil mengusap anak rambut cahaya yang menutupi wajah cantiknya.
Cahaya menatap uncle Luthfi dengan binar mata beningnya. Melebarkan senyumnya sambil mengangguk. Kemudian gadis kecil itu menatap ke arah Momynya sejenak.
__ADS_1
"Kenapa Momy tidak ikut?" tanya Cahaya.
" Momy, harus bertemu klien Caya. Ada Uncle Luthfi yang akan menjaga Caya. Caya ingin ketemu Daddy kan? Caya anak baik, pasti Daddy akan senang dengan Caya. Jangan nakal ya disana" Antyka mengecup kening putrinya sebelum mereka berangkat.
Tangan mungil Cahanya meranggkul leher Luthfi. Sesekali gadis kecil itu membenamkan wajahnya di dada sang uncle. Mobil melaju ke sebuah restoran tempat mereka membuat janji untuk bertemu.
Luthfi menuntun sang ponakan menuju privat room yang sudah di booking. Pintu terbuka Luthfi menatap pria yang ada di dalam ruangan. Tubuh tegap nya masih sama , Alif duduk menyendiri.
Alif terlihat serba salah saat bersitatap dengan mata tajam Luthfi. Kemudian matanya berkaca kaca saat gadis kecil yang menggenggam tangan Luthfi itu memberi senyuman. Alif segera menghampiri.
"Boleh saya peluk Cahaya" Alif memohon pada Luthfi dengan bibir yang bergetar.
"Tunggu" Luthfi menghentikan Alif. Kemudian Luthfi berjongkok mensejajari Caya yang bingung. " Caya lihat, pria itu Daddy Caya. Daddy ingin peluk Caya, boleh?" Tanya Luthfi memastikan sang ponakan nyaman saat di peluk oleh orang yang masih asing.
"Itu Daddy Caya?" tanya Caya menatap Alif yang sudah memelehkan Air mata, tidak sabar ingin memeluk Cahaya. Caya memperhatikan Alif, gadis itu melihat Alif dari ujung kaki hingga rambut.
" Daddyyyy...." Caya berteriak berlari pada sosok Alif yang sudah gemetar ingiin memeluknya.
Mendadak ruangan itu menjadi sangat mengharu biru. Luthfi bahkan tidak tahan menyaksikan pertemuan keduanya hingga ia membuang muka kearah yang lain.
Keduanya berpelukan.Caya mengalungkan tangan mungilnya ke leher Alif. Bahu Alif terus berguncang menahan Isak. Alif melepas kerinduannya pada Caya, Memeluknya seolah tak ingin lepas.
Setelah beberapa saat suasana semakin tenang. Alif mengusap air matanya kemudian mengecupi wajah Caya.
" Maafkan Daddy Caya, Daddy rindu Caya..." ucap Alif
"Daddy..."
" Kalian duduklah tidak baik terlalu lama hanyut dalam kesedihan" Perintah Luthfi menyadarkan Alif yang masih bersimpuh di lantai.
"Putri Daddy sangat cantik. Caya sangat mirip dengan Momy" Ucap Alif sambil menggenggam tangan mungil putrinya.
"Ehhemmm.." Luthfi berdeham dan mengagetkan Alif.
"Kak Luthfi apa kabar" Alif berbasa basi.
"Aku sangat baik. Tapi hari ini aku tidak baik baik saja. Sepertinya aku ingin memukuli orang untuk melampiaskan perasaanku" Jawab Luthfi sinis.
Alif tau, Luthfi pasti sangat marah padanya. Apa yang telah ia lakukan pasti sangat menyakiti perasaan Luthfi dan keluarga besar Antyka.
" Saya tau dan mungkin kesalahan saya tidak bisa kak Luthfi maafkan" Alif menunduk.
" Saya tidak punya banyak waktu, Saya hanya ingin memberimu waktu dua jam saja bersama Caya untuk sementara ini"
" Tadinya saya ingin membawa Caya bertemu Oma dan opa nya"
"Tidak bisa begitu. Caya tidak boleh terlalu lelah dia butuh istirahat. Kita buat jadwal lagi untuk bertemu. Lagi pula kami belum terlalu percaya pada kalian. Apalagi setelah apa yang menimpa adikku"
"Baiklah.." Alif mengalah tidak ingin berdebat. Dia cukup tau diri. Kemudian ia beralih pada Cahaya. "Caya mau makan apa?"
"Caya bukan anak yang rewel, ia bisa makan apa saja selain makanan pedas, tentunya" Luthfi menjawab mewakili Caya. dengan nada ketus.
" Uncle jangan marah, kasian Daddy" teryata sedari tadi Cahaya memperhatikan obrolan Uncle dan juga Daddynya. Gadis itu menyadari ada Amarah di setiap ucapan Unclenya.
"Uncle tidak marah Caya, Daddy yang salah" Tukas Alif menengahi ketegangan.
__ADS_1
" Caya, Uncle keluar sebentar" Pamit Luthfi keluar dari ruangan sebelum emosinya meledak. Ia tidak mau terlihat buruk di depan sang ponakan.
Tinggallah Alif dan Cahaya berdua di ruangan itu. Alif segera mengambil Cahaya dan mendudukan di pangkuannya.
"Caya, Daddy kangen Caya" Alif kembali memeluk dan mengagumi putrinya. Hatinya bergetar, Wajah Caya sangat mirip dengan Antyka. Ia hanya mewariskan lesung pipi dan bibir tipis di wajah putrinya.
"Kenapa Daddy kerjanya harus jauh? Caya juga kangen Daddy"
" Mulai sekarang Daddy akan bekerja di sini biar bisa dekat dengan Caya "
" Sungguh ?" Caya terkejut dan senang dengan ucapan Alif. Alif kembali mencium pipi Caya.
"Iya"
Keduanya makan siang bersama. Bahkan Alif menyuapi Caya, Seolah ingin melakukan segalanya untuk menebus waktu yang terlewati di samping Caya. Alif juga meminta Cahaya untuk menceritakan tetang sekolah Caya, Makanan kesukaan Cahaya, dan juga siapa saja teman teman cahaya. Alif mendengarkan dengan seksama. Ia sangat suka melihat ekspresi putrinya saat bercerita, begitu riang dan menggemaskan.
Tiba tiba pintu terbuka. Alif menoleh, teryata Luthfi sudah kembali. Dua jam rasanya hanya sekejap. Baik Alif maupun Caya merasa masih ingin bersama. Tapi melihat mimik wajah Luthfi yang masam Alif pun merelakan untuk berpisah lagi dengan Cahaya.
"Caya sudah siang, kita harus pulang" ucap Alif membujuk putrinya yang langsung lengket.
"Caya mau sama Daddy pulangnya"
"Lain kali kita ketemu lagi Caya"
" Kenapa Daddy tidak tinggal saja dengan Caya?. Rumah Caya besar. Dady bisa tinggal di sana" Luthfi dan Alif keduanya langsung tersentak kaget dengan ucapan polos Caya. Dua pria itu tidak menyangka kalau Caya akan meminta hal yang mustahil.
"Iya Caya, kapan kapan. Daddy masih sibuk mengurus pekerjaan Daddy yang akan pindah disini. Cahaya mau kan kalau Daddy kerjanya di sini " Beruntung Alif mendapat jawaban yang masuk akal yang bisa di terima oleh anak sekecil cahaya
Sejenak cahaya diam memikirkan bujukan Alif. Otak kecilnya pun langsung menyetujui keinginan Alif agar ia pulang lebih dahulu dengan Uncle Luthfi.
" Uncle.., tolong Caya dan Daddy di foto berdua. Caya mau simpan gambar Daddy"
Luthfi mengikuti permintaan Caya untuk memfoto keponakan dan mantan adik iparnya. Caya memeluk Alif dalam foto itu. Kemudian ulah Caya tidak berhenti sampai disitu. Cahaya meminta beberapa pose foto berdua dengan sang Daddy.
"Daddy sayang Caya..." Alif kembali memeluk dan mencium putrinya. Caya membalas pelukan Daddynya erat " Caya juga sayang Daddy" ucap keduanya saat akan berpisah.
Alif menatap kepergian Cahaya yang di gendong oleh mantan kakak iparnya. Cahaya terlihat sangat manja pada uncle Luthfi. Perasaan Alif perih, seharusnya dia lah yang memanjakan putrinya. Dialah yang bertanggung jawab untuk Caya. Alif mengusap wajahnya menenangkan gejolak dalam hatinya. Hingga ia masih berdiri tegap saat Cahaya melambaikan tangannya mengucap kata perpisahan .
" Daddy...Caya pulang dulu" Alif ikut melambaikan tangan dan terus menatap mobil yang membawa Cahaya hingga menghilang.
Alif kembali kedalam ruangan. Ada perasaan bahagia dan lega. Tuhan masih memberinya waktu untuk bertemu dengan Cahaya. Namun ada perasaan kecewa karena Antyka tidak datang bersama Cahaya. Tentu saja Alif sangat merindukannya dan berharap bisa melihatnya.
" Kamu mungkin sangat membenciku Anty. Aku memang pantas mendapatkan hukuman ini. Tapi aku hanya ingin kamu bahagia. Cara yang ku pilih mungkin salah. Terima kasih telah memberiku hadiah terindah. Dia benar benar Cahaya untuk hidupku Anty, Parasnya akan selalu mengingatkanku padamu. Anty di manapun kau berada. Aku berharap kamu selalu bahagia. Kenangan bersamamu akan selalu menjadi penguat ku. Pernah hadir kisah terindah dalam hidupku. Dan aku slalu mencintaimu sampai akhir waktuku "
Alif membayar semua tagihan di kasir restoran. Kemudian ia meminta sang sopir untuk mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan ia hanya bisa membisu. Cahaya dan Cahaya yang memenuhi rongga dadanya. Ia ingin membuat putrinya bahagia.
Mobil yang di tumpangi Alif, memasuki rumahnya yang mewah. Di ruang utama sang bunda dan Ayah terlihat sudah terlihat gelisah. Alif memasuki rumah disambut dua orang yang begitu penasaran dengan ceritanya.
" Bagaimana cucu bunda Lif, apa dia baik baik saja. Apa dia mau memelukmu" pertanyaan yang bertubi dari bunda
" Caya sangat cantik bunda. Dia sehat, pintar dan juga mudah akrab. Aku bahagia bunda" ucap Alif sambil memeluk sang bunda.
" Alhamdulliah ..." Rona lega jelas terlihat di wajah bunda.
" Kapan cucu Ayah bisa diajak kemari?" sahut ayah dengan antusias.
__ADS_1
"Jangan terburu buru Yah, Mereka orang baik dan pengertian Aku tidak mau melukai mereka lagi. Kita harus memberi waktu. Saat itu pasti akan tiba. Yang terpenting Caya sudah mengenal aku sebagai Daddynya dan aku diijinkan untuk lebih sering bertemu Caya"