
" Daddy..." Caya berlari begitu melihat sosok pria yang ia kenal beberapa hari yang lalu. Tangannya mengembang meraih tubuh kokoh yang sudah siap untuk menangkapnya. Keduanya berpelukan.
"Daddy kangen Caya" ucap Alif sambil menggendong putrinya.
"Caya juga"
"Daddy bawa Opa dan Oma, mereka itu orang tua Daddy. Caya mau berkenalan?" Wajah Caya tampak bingung ia baru menyadari ada beberapa orang asing di ruangan itu.
Alif menggendong putrinya mendekat pada ayah dan bundanya.
"Ini opa Caya namanya Haris Pradipta. Caya mau salim?" Alif mendekatkan Caya pada Ayahnya. Haris tangannya bergetar saat menyambut lengan mungil yang lentik. Hati haris berdesir pertama menyentuh kulit lembut keturunanya yang baru ia temui. Ia masih belum bisa berkata. Hanya sorot matanya saja yang menggambarkan betapa hati pria itu bahagia dan tersayat. Haris mengecup kening Caya seraya mengusap pucuk kepala Caya. Kelebat masa lalu nya terbayang. Ia menjumpai Lira putrinya saat sudah sepuluh tahun. Apakah ini karma? kejadian ini berulang pada Alif, meski situasinya berbeda.
Di samping Haris berdiri bunda Amalia. Mata wanita itu sudah sangat sembab. Pipinya basah
" Ini Oma Caya, namanya Amalia " Caya serta Merta mengulur kan tangannya. Namun wajah gadis kecil itu terlihat bingung. Melihat sang Oma yang terus menahan Isak dan menatapnya tak henti
Bunda Amalia langsung memeluk dan menciumi wajah mungil Caya yang sangat cantik. Amalia tidak perduli lagi. Ia terus menyentuh Caya.
"Oma nangis?" celetuk Caya polos. tangan mungilnya mengusap pipi basah Omanya.
"Oma bahagia bisa ketemu Cahaya. Ini bukan nangis tapi Oma terharu" Jelas Alif pada putrinya.
" Ini Aunty Lira dan uncle Mike, mereka kakaknya Daddy'' Ucap Alif memperkenalkan satu persatu keluarganya.
Di sudut sana Antyka dan Mama Ajeng masih tertegun dengan suasana haru. Perasaan mereka pun tidak kalah tersayat. Menatap orang orang yang pernah membuat luka begitu luluh saat bertemu Cahaya. Luruh perasaan yang pernah kecewa. Tidak hanya diri nya saja yang terluka.
"Apa kabar mbak Ajeng?" sapa bunda Amalia mengulurkan tangan. Mencoba memecah kekakuan diantara mereka. Bagaimanapun mereka pernah begitu akrab.
" Kami baik" Menyambut uluran bunda Amalia. Mereka saling berjabatan dan tidak kuasa menahan rasa yang menguar dari dada mereka. Bunda Amalia merangsek kemudian memeluk mama Ajeng erat.
" Maaf mbak Ajeng, kami minta maaf. kami tau kami bersalah" hanya kata itu yang meluncur dari bibir bunda Amalia.
Kamudian Mata bunda bertumbu pada sosok Antyka. Wanita yang pernah jadi menantunya. Ia pun langsung memeluk erat Antyka. Perasaan bunda Amalia lebih tersiksa saat menatap bola mata Antyka.
" Anty, anak bunda...., maaf ....maafkan bunda....bunda tau kamu pasti sangat menderita. maaf nak...maaf" Bunda memeluk Antyka yang membeku....Antyka pernah sangat kecewa pada mereka. Ketika mereka semua menghilang saat di hatinya penuh pertanyaan. Usapan bunda masih sama seperti dulu. Hangat dan penuh kasih.
" Sudah bunda ..." Tangis Antyka pun pecah, perasaan yang tertahan bertaun taun kini membuncah..... tangisan Antyka membuat semua yang ada di sana tidak bisa menahan air mata. Ayah, Lira, Mike dan mama Ajeng. Apa lagi pria yang sedari tadi mendekap Cahaya. yaitu Alif
Alif tergoncang, melihat Antyka begitu nelangsa. Perasaan bersalahnya begitu besar. Ingin rasanya ia mendekat. Memeluk dan menenangkan Wanita pujaannya. Tapi ia menyadari jika dirinya tak berhak lagi walau hanya sekedar menyentuh.
Alif pria kaku dan penuh percaya diri, kini dihujam perasaan sakit, lebih sakit saat melihat anty yang terluka karena dirinya. Tubuhnya terhuyung tidak bisa menopang, Mike yang menyadari keadaan adik iparnya segera membatu. di ambilnya Cahaya dari gendongan Alif dan memberikan pada Ayah mertuanya Haris. Mike membawa Alif duduk di bangku yang ada.
" Tahan dirimu Lif, lihat cahaya. Jangan menyerah" Ucap Mike tegas pada Alif.
Antyka dan bunda mengurai pelukan mereka. Ia mendekat pada mantan mertuanya Haris. Mengulurkan tangan dan mencium punggung tangannya. Bagai manapun mereka pernah sangat bahagia. Haris menurunkan Cahaya, kemudian memeluk menantunya.
" Maafkan ayah Anty" Sebaris kalimat yang menyayat keduanya.
Lira mendekat kemudian memeluk Antyka. Lira mengusap punggung mantan adik iparnya.
"Anty, kami semua bersalah, maafkan kami''Antyka memeluk Lira erat.
Mike sedang duduk menemani Alif yang memucat. Ia berdiri menyambut Antyka.
"Anty, apa kabar?" Mike mengulurkan tangannya.
Terakhir tatapan Antyka menuju Alif yang sedang menatapnya. Mata itu tidak seperti dulu. Di penuhi embun, sayu dan tak berdaya. Tubuhnya beku, mengapa ia melihat Alif begitu terluka. Antyka mendekat di hampirinya Alif.
"Apa kabar pak Alif?" Antyka mencoba tersenyum. Tapi pria di depannya justru berurai air mata sembari terus menatapnya tanpa kedip. Suara yang sangat Alif rindukan. Panggilan yang tidak pernah berubah. Alif menunduk.
" Aku tidak pernah baik baik saja Anty, semenjak aku memutuskan untuk melepasmu. Aku sangat terluka hingga kini. Aku tidak percaya bisa kembali melihatmu. kalau saja bisa aku ingin memelukmu. Apakah kamu baik baik saja ? tentu saja kamu terluka. akulah yang membuatmu terluka. Kamu terlihat lebih cantik, matamu, pipimu juga bibir indahmu masih sama seperti ingatanku lima tahun lalu. Aku sangat merindukan mu, Antyka"
Alif menegakkan wajahnya. Menahan diri untuk tidak terbawa emosi jiwanya. Ia menyambut uluran tangan Antyka.
Mereka bersentuhan, Kulit mereka menyatu. Aliran rasa yang saling merindukan. Sengatan rasa hangat meronta meminta mereka saling mendekat. Tapi logika mereka menolak. Menjawab dengan terbata bibir dan hati mereka tak sejalan.
"Seperti yang kamu lihat Antyka. aku seperti ini"
__ADS_1
Mereka saling melepas tautan jemari mereka. Mengakhiri siksaan yang mendera keduanya untuk saling terikat. Antyka menuju putrinya Cahaya. Memangku Caya membuatnya lebih tenang. Alif tersadar masih ada sosok mama Ajeng di sana, ia belum menyapa.
Alif membungkuk bersimpuh dihadapan mama Ajeng menggenggam jemari wanita yang telah melahirkan belahan jiwanya. Di pangkuan wanita ini Alif mencium punggung tangan seraya mengucapkan beribu kata maaf.
Mama Ajeng membeku hanya kelopak matanya yang berucap. Tetesan demi tetesan air mata yang jatuh di pangkuan menandakan wanita ini juga terluka dalam. Mama Ajeng melepas genggaman jemari Alif. Kemudian tangan hangatnya mengusap punggung Alif.
" Sudah Alif, mama maafkan. Semua sudah menjadi jalan kalian"
Mereka menikmati makan siang yang canggung. Antyka selalu berpegangan tangan dengan mama. Merasa suasana begitu Asing dan ingin cepat mengahiri. Lisan mereka memang saling memaafkan tapi luka itu tidak serta Merta menguap begitu saja.
Caya membuat Alif sibuk. Ia banyak berceloteh dan juga menerima suapan demi suapan dari Alif yang ingin benar benar mengurus putrinya saat ada kesempatan.
" Daddy, Caya mau ikan" Caya menunjuk pada ikan gurami yang besar.
" Sebentar Daddy bersihkan durinya" Alif menyingkirkan duri dari ikan yang akan disuapkan pada Caya.
Alif mengamati wajah Caya saat mengunyah makanan yang ia suapkan. "Caya suka ikan?"
"Suka, tapi banyak duri. Jadi lama makannya"
"Kalau Caya mau makan ikan panggil Daddy, Daddy akan membersihkan duri dari ikan yang mau Caya makan"
"Iya, mau mau" Caya terlihat sangat senang.
Antyka sesekali mencuri pandang kearah Caya dan Alif. Entah perasaan apa yang ada di hatinya. Semuanya bercampur, seperti sesuatu yang ingin meledak. " Dia masih sama, senang sekali memanjakan orang yang dia sayangi. Tapi apakan dia juga akan melakukan yang sama pada putrinya. Mencampakkan begitu saja tanpa kata, saat ia ingin menjauh" batin Antyka bergejolak
Tidak terasa air matanya meleleh lagi. Mengingat cinta yang tercampak tanpa penjelasan. Antyka menarik nafas dalam, kemudian ia berpamitan untuk pergi ke toilet. Semua menoleh menatap Antyka yang berjalan ke luar dari privat room tempat mereka mengadakan pertemuan.
Alif yang sedang menyuapi Caya pun terhenti. Matanya terus mengikuti punggung Antyka yang menghilang di balik pintu. Ingin sekali ia mengejar wanita itu. Bahu Alif luruh, tidak tau harus menjelaskan apa. Ia juga tidak bisa membiarkan Antyka terus meratap dengan perasaan yang menyalahkan dirinya sendiri.
" Caya makannya mau lagi?"
" Sudah Daddy, Caya kenyang. Caya mau cuci tangan" Ucap Caya.
Alif seperti memiliki Alasan untuk menemui Antyka.
Alif menuntun langkah kecil Caya menuju toilet. Mata Alif menyapu sudut ruangan mencari sosok Antyka. Namun ia tidak menemukannya.
"Daddy..., Caya mau cuci tangan"
" Oh iya Daddy lupa" Alif menuju wastafel di ujung ruangan. Membantu Caya membersihkan tangan.
"Caya mau pipis juga Daddy?"
" Ah iya, Caya bisa masuk sendiri ke ruangan wanita? Daddy tunggu Caya di sini"
"Kenapa Daddy tidak masuk?"
"Daddy tidak boleh masuk ke ruangan wanita, Caya. Nanti Daddy di kira pria mesum"
"Apa itu mesum?" Caya dengan polosnya bertanya. Alif menggaruk lehernya. Putrinya butuh penjelasan tapi ia bingung.
" Nanti Caya tanya momy ya ?. Caya bisa kan ke toilet sendiri"
Di dalam ruangan toilet, Antyka mendengar interaksi percakapan antara Alif dan putrinya. Ia yang sedang membasuh air matanya mendadak tersenyum.
"Caya sini sama momy" Suara Antyka memecah perdebatan antara Caya dan Alif.
Alif merasa sangat lega saat Antyka muncul. Caya langsung menghampiri Momynya. Gadis kecil itu di bimbing masuk ke dalam ruangan untuk menuntaskan hajatnya.
Alif tertegun di depan ia bimbang mau menunggu Caya atau membiarkan bersama Antyka. Tidak lama Antyka dan Caya keluar dari ruangan
" Daddy masih nunggu Caya?"
" Ehm...., iya"
" Daddy kata momy, mesum itu nakal" Caya masih melanjutkan pembahasan tentang kata mesum yang tadi Alif ucapkan
__ADS_1
Alif membuang mukanya. Ia merasa malu telah salah memilih kata untuk anak yang masih dibawah umur. Antyka bisa lebih pintar memilih kata yang tepat.
"Iya, nakal Daddy lupa kata kata itu" Alif menggandeng Caya kembali menuju privat room.
Antyka mengambil jarak ia membiarkan Alif dan Caya terlebih dahulu sampai. Antyka sempat bersitatap dengan Alif saat berada di depan pintu. Namun Antyka mencoba membuang mukanya. Tidak ingin larut dalam air mata. Beruntung putrinya membuat suasana menjadi lebih cair.
Antyka melihat Alif mukanya memerah saat mendengar penjelasan putrinya. Pria itu sembarangan saja memberi kosa kata baru pada putrinya yang polos. Takut di bilang mesum padahal ia lebih dari mesum. karena itu Caya lahir.
Antyka kembali mengusap wajahnya membuang bayangan bayangan indah masa lalunya yang tiba tiba saja muncul.
***
Antyka mengangkat telepon dari Ibra, pria itu ingin menjemputnya. Antyka mengiyakan saja. Tidak ingin membuat Ibra berpikir yang macam macam.
"Aku sudah menunggu di parkiran, Anty"
"Iya, sebentar lagi kami keluar"
Antyka bergegas masuk ke dalam ruangan tempat mama masih menunggu. Kemudian ia membisikkan kalau Ibra datang menjemputnya. Mama mengangguk tanda setuju. Antyka ingin segera mengahiri pertemuan ini.
"Maaf bunda, Ayah, sepertinya kami harus segera pamit. Caya sudah lelah dan waktunya tidur siang" Antyka berpamitan pada kedua mantan mertuanya.
"Anty, terima kasih sudah merawat cucu ayah dengan baik. Ayah berhutang banyak pada pada mu, sekali lagi Ayah minta maaf"
Antyka menyalami satu persatu kemudian berpamitan. Begitu juga keluarga Alif mereka semua sudah menyelesaikan makan siang mereka.
Antyka melihat Ibra keluar dari mobil mewahnya. ia mengenakan kemeja hitam dan celana jeans biru, terlihat tampan dan gagah. Melambaikan tangan kearah Caya. Ibra paling pintar membuat Caya bertekuk lutut. Ia sangat bisa bertingkah menjadi teman atau pengayom bagi Cahaya. Sikap Cahaya pun tidak pernah berubah pada Ibra meskipun gadis itu sudah bertemu dengan Daddynya.
" Ayah....," Caya berteriak memanggil Ibra yang sudah membentangkan tangan siap memberi pelukan"
Ibra menggendong Caya, membukakan pintu untuk mama Ajeng di tengah dan juga Antyka di samping kemudi sebelum itu Ibra bertanya pada Caya.
"Caya mau duduk dengan Oma atau momy?"
" Oma...., Caya ngantuk" Ucap Caya yang sudah merebahkan kepalanya di dada Ibra.
Ibra mengikuti keinginan Cahaya membuka kembali pintu tengah untuk mendudukan Caya dekat dengan Omanya. Sedang Antyka duduk di samping Ibra.
Ibra mulai melajukan mobilnya berlahan. Antyka melirik kearah Ibra yang lebih pendiam. itu yang dirasakan Antyka. Pria disampingnya sedang berusaha menepis rasa cemburunya.
Pasti berat perasaan Ibra. " Maaf kak Ibra harus kembali tidak nyaman" Perasaan bersalah itu kerap datang.
Caya sudah terlelap di samping Oma saat mobil Ibra memasuki pekarangan rumah Antyka. Tanpa banyak tanya, Ibra segera keluar dari mobil dan menggendong Caya di pelukannya.
Antyka membuka pintu agar Ibra lebih mudah masuk kedalam rumah. Setelah merebahkan Caya, Antyka menggandeng Ibra ke ruangan tengah.
"Kak Ibra sudah makan siang?" tanya Antyka. Ibra hanya menggeleng. " Kebetulan, Anty di sana juga tidak bisa makan. Bagaimana kalau..."
" Tidak Anty, aku lelah..." Ibra sudah melangkah untuk meninggalkan Antyka.
Rasanya sesak sekali melihat Ibra merasa cemburu seperti itu. Antyka berlari memeluk Ibra dari belakang.
" Apa kak Ibra marah? aku sudah minta ijin kemarin. Aku tidak mau seperti ini" Sekuat hati Antyka menghentikan langkah Ibra.
Ibra membeku, merasakan sentuhan Anyka. Bahkan punggungya terasa hangat. Ia ingin memiliki Antyka seutuhnya.
" Apa aku akan selalu di perlakukan seperti ini? Akan di tinggalkan saat kalian kecewa denganku?. Tidak bisakah kak Ibra benar benar tulus menerima keadaan ku"
Ibra berbalik, menatap Antyka dan menggeleng erat. " Aku tidak akan meninggalkan mu Anty, Seberapanpun aku marah. Aku cinta kamu. Aku hanya perlu menenangkan diri, maaf Anty" Ibra mengusap bulir bening yang sudah mengalir di pipi Antyka.
"Aku paham kak Ibra cemburu tapi, Aku tidak melakukan hal buruk di sana. Aku menjaga diriku untuk kak Ibra. Jika kak Ibra terus terluka dengan pertemuan seperti ini, kita akan saling menyakiti terus. Sebaiknya kita..."
"Jangan..., tolong jangan teruskan ... Aku akan berusaha jadi lebih pengertian" Ibra memotong ucapan Antyka yang Ibra tau itu akan sangat menyakitkan untuk di dengar..." Aku tidak mau kehilangan kamu lagi Antyka"
"
.
__ADS_1