Ketika Rasa Itu Hadir

Ketika Rasa Itu Hadir
15. Alif yang posesif


__ADS_3

Wajah tampan itu menyembul dari balik pintu. Seulas senyuman sudah mengembang. Dia menghampiri Antyka yang tidak menyadari kedatangannya. Sebuah kecupan mendarat tidak lupa juga dengan pelukan.


" Pak Alif, jantung Anty hampir saja copot. Kenapa tidak ketuk pintu?"


" Kamu yang terlalu asik Antyka, kita pulang. Jam kerjaku sudah selesai" Alif melepas jas putihnya.


Antyka hanya tersenyum malu. Ia memang asik memainkan ponselnya dari tadi, membalas chat dari teman temannya.


" Ayo..." Jemari Antyka sudah terpaut hangat dengan jemari Alif.


Menyusuri koridor hingga menuju area parkir keduanya berhenti di depan mobil Alif .


" Kamu ngerasa dingin ?"tanya Alif pada Antika yang sedang bersedekap.


" Sedikit..."


" Sebentar sepertinya ada jaket di bagian belakang" Alif meraih jaket yang biasa ia bawa.


" Tangannya menjulur kemari!" ucap Alif ingin memakaikan jaket ketubuh Antyka.


" Anty bisa sendiri, pak Alif "


" Aku ingin memanjakan istriku, romantis " Alif terkekeh dan tetap memakaikan jaketnya.


" Jadi seperti anak kecil, nanti Anty terlalu nyaman, gak dewasa dewasa. Karena pak Alif terlalu memanjakan "


"Aku tidak keberatan. Nanti gantian aku yang manja di rumah " Alif mencoba menggoda.


Semilir angin malam menerpa wajar mereka. Sepertinya akan turun hujan. Alif segera menjalankan mobilnya menuju apartemen.


Saat membuka pintu, Alif langsung terpukau. Ruang tamunya yang biasanya kelabu kini sedikit cerah dengan sentuhan feminim. Ruanganya pun terasa segar dengan pengharum ruangan dengan aroma yang lembut.


" Aku suka Anty, ruangan ini terasa lebih bercahaya dan segar"


" Ini hasil karya Anty, tadi siang"


" Ada kejutan lagi ?" Alif tidak sabar mengamati tiap ruangan yang sedikit berubah.


" Kamar kita " ucap Anty sedikit ragu


" Aku ingin lihat " Alif melangkah ke kamar diikuti Antyka.


Begitu membuka kamar Alif hanya bisa terdiam. Nuansa pink dan ungu berpadu terlihat begitu lembut ,rapi dan romantis. Ia melirik kearah Antyka.


" Apa pak Alif keberatan, tidak suka ya ? besok Anty ganti lagi " Anty bingung dengan sikap Alif


"Aku suka Anty, Indah sekali, ini membawa suasana romantis. Tapi sayangnya kamu belum siap aku romantisin"


"Masa sih, pak Alif bercandakan ?" berondong Antyka . Alif menggeleng lemah.


" Aku mandi dulu. Kamu juga sudah siapin piyama buat aku ?" Alif melirik piyama yang sudah siap diatas ranjang. Dan Antyka hanya mengangguk.


" Terima kasih sayang " Alif berlalu


Antyka duduk termenung, bingung dengan ucapan Alif. Apa iya suasananya jadi romantis? Ah pak Alif, Anty jadi tidak enak hati. batin Anty


Antyka keluar dari kamar. Duduk sambil melihat televisi. Berkali kali ia mengganti Chanel tv, mencari tontonan favorit yang ia sukai. Hingga aroma sabun dan sampo maskulin tercium di hidungnya. Alif sudah duduk disini ya . Kepalanya bersandar di bahu kecil Antyka.


" Pak Alif berat ...."

__ADS_1


" Masa sih ? kan, cuma kepala saja yang nyender Anty."


" Iya, tapi berat pak Alif "


" Disini ya " Alif sudah memindahkan kepalanya di pangkuan Antyka. " Aku mau manja sama istriku " Dan Antyka membisu. Antara terkejut dan gugup.


" Anty, Aku wangi gak "


" Emh...., iya harum. seger'


" Kamu gak pingin nyium aku gitu? aku udah seger dan wangi "


" Emhhh.." gugup


Alif mendongak menikmati wajah Antyka yang tersipu .


" Cantik ..., kamu cantik sekali " Jemari Alif sudah menyusuri pipi Antyka " Aku cinta banget sama kamu "


Hening, suasana semakin awkward ......


Alif bangun menarik hijab Antyka. Mencium kening lembut hingga merayap ke pipi. Semakin hangat dengan Nafas yang sudah tak teratur menyentuh bibir Antika untuk pertama kali.


Antyka hanya bisa menahan nafas, mengikuti keinginan Alif. Ia hanya pasrah dan sibuk menenangkan detak jantung tanpa bisa membalas tiap sapuan hangat Alif di bibirnya .


" Aku bahagia memiliki kamu " Alif melepaskan pangutannya . Ia sadar Antyka masih tegang dan pasif . Istrinya juga lupa untuk mengambil nafas. " Tarik nafas Antyka, jangan di tahan "


Wajah pucat itu sudah kembali memerah. Setelah bernafas lega. Alif terkekeh dan mencubit gemas hidung Antyka. Antyka menunduk, tidak berani menatap bola mata Alif. Canggung dan malu


***


Di rumah tuan Hendro sedang berbicara dengan asistennya


" Semua tanda mengarah pada putra tuan, Zigra. Sebaiknya untuk memastikan kita bisa melakukan tes DNA "


" Tidak mudah untuk meminta sampel milik Ibra"


" Betul tuan, saat ini tuan muda Ibra sedang berada di Singapura "


" Sebenarnya aku sudah sangat yakin. Matanya sangat mirip dengan Hana "


" Tuan tenang saja saya sudah mengutus orang untuk mendapatkan sample dari tuan muda Zigra "


" Begitu kamu dapatkan bukti tes DNA dan hasilnya benar, Aku ingin menyerahkan semua perusahaan padanya. Buat pengumuman dan publikasikan dia sebagai putra tunggalku yang kembali"


" Baik Tuan "


Tuan Hendro keluar dari ruang kerjanya di dorong sang asisten. Wanita cantik paruh baya menyambutnya.


" Papa sudah malam, sebaiknya papa istirahat. Mama tidak mau papa kenapa napa lagi. Sudah cukup papa keras kepalanya"


" Kemarilah Hana, Aku baik baik saja. Aku hanya berbincang bincang. Sekarang aku akan istirahat, Aku akan mematuhi aturan mu " ucap tuan Hendro lembut pada istri tercintanya .


Tuan Hendro menggenggam lengan sang istrinya. Memberi rasa hangat pada wanita yang sangat ia cintai. Perasaan hatinya ingin memberitahu kabar gembira. Namun ia masih menahan diri. Tidak mau lagi membuat mata indah itu menangis kecewa, karena terlalu berharap.


Bertahun tahun, silih berganti selalu datang orang orang yang mengaku putra mereka. Lelah selalu ditipu dan dipermainkan perasaan mereka.


Mereka memasuki kamar, Seperti biasa nyonya Hana sang istri pasti akan berhenti di depan foto putra mereka yang terpajang. Foto anak kecil betusaia tiga tahun .


" Hana, Sudahlah sayang "

__ADS_1


" Pa, kalau Zigra masih hidup dia pasti sudah dewasa sekarang. Mama yakin dia sangat tampan"


" Ya Hanna, putra kita sangat tampan dan jangan lupa dia anak yang sangat cerdas. Aku yakin dia akan sukses di luar sana. Meskipun tanpa kita "


" Andai saja bisa, dan Tuhan mengizinkan. Aku ingin sekali bertemu meskipun tidak saling mengenal. Setidaknya aku tau dia masih hidup"


" Hana, andai bertemu. Kamu bisa memeluknya. Kamu adalah ibu yang sudah mengandung dan melahirkannya. Kamu akan sangat mudah mengenalinya, Naluri ibu. Sabarlah kita pasti akan menemukannya"


***


Pagi itu, Alif berada di kantor direktur rumah sakit. Alif sangat tau apa yang sedang ia hadapi. Resiko karena membuat dr Farah menangis kemarin. Mereka tidak terlalu mengenal Alif rupanya. Hampir tiga puluh persen saham rumah sakit adalah milik tuan Haris.


" Silahkan duduk dr Alif " pria paruh baya itu meminta Alif untuk duduk di kursi yang ia tunjuk.


Direktur rumah sakit itu adalah paman dari dr Farah. Wajahnya menyiratkan ketegasan dan juga aura permusuhan. Dr Wibi..


" Terima kasih " dengan tenang, Alif duduk.


"' Saya tidak akan berbelit belit, mengenai alasan saya memanggil kamu. Saya akui pekerjaan dan dedikasi kamu sangat bagus. Secara profesional kamu adalah dokter yang sangat berbakat" dr Wibi mengembuskan nafas sejenak. Memperhatikan Alif yang begitu tenang.


" Ini terkait dengan dr Farah. Kamu tau sendiri kan? rumah sakit ini milik keluarga dr Farah. Tidak hanya profesionalitas saja, dalam bekerja juga dibutuhkan attitude. Setidaknya dr Alif sudah membuat ketidaknyamanan pada dr Farah"


" Ini tentang dr Farah ?" Alif tersenyum kemudian kembali mendengarkan dr Wibi melanjutkan ucapannya.


" Ya , kita tidak mungkin bekerja sama lagi dr Alif. Akan ada ketidaknyamanan dalam berhubungan, Setelah apa yang dr Alif lakukan pada dr Farah. Dan tidak mungkin saya meminta Farah untuk menjauh dari rumah sakit ini .Seperti yang kamu tau "


" Saya tau rumah sakit ini milik keluarga dr Farah " tegas Alif


" Baiklah, saya minta dr Alif bijaksana. Mengajukan pengunduran diri, lebih baik untuk semua. Saya tidak bisa memecat dr Alif. Tidak ada kesalahan dr Alif disini. Atau ...., ada cara ke dua. Mungkin lebih mudah, datang dan meminta maaf pada dr Farah. Saya beri waktu satu Minggu ini. Silahkan dr Alif tentukan. Apapun keputusannya saya tunggu di sini "


" Apa dr Wibi tau masalah yang membuat dr Farah menangis ? saya pikir dr Wibi harus tau agar dr Wibi bisa mempertimbangkan dengan bijak "


" Maaf dr Alif, apapun alasannya. Saya yakin Farah tidak melakukan hal buruk. Keluarga kami adalah keluarga terhormat, Kami tidak mentolelir bentuk penyinggungan harga diri keluarga " tutur Dr Wibi dengan Arogan


" Baiklah, jika itu keputusan dr Wibi . Semoga setelah saya mengundurkan diri, kita bisa bertemu dalam keadaan kembali saling menghormati. Dan terimakasih untuk kesempatan yang telah diberikan pada saya. Surat pengunduran diri saya akan saya serahkan secepatnya "


" Sepertinya dr Alif memilih opsi pertama. Semoga menjadi pembelajaran untuk dr Alif " ucap dr Wibi sinis .


" Sampai ketemu lagi dr Wibi. Saya akan selesaikan tugas saya hari ini, sembari membuat surat pengunduran diri saya "


" Silahkan dr Alif "


Alif segera berdiri dengan langkah ringan ia berjalan ke luar ruangan. Senyum sinisnya mengembang. Keluarga Farah tidak tau bahwa ia adalah putra dari Haris. Sebuah rumah sakit mewah bisa saja keluarganya buat. Bahkan di rumah sakit Kel dokter Farah ada tiga puluh persen saham Haris. Alif semakin tidak respect terhadap dr Farah.


Alif menyelesaikan tugasnya sampai siang. Setelah itu, ia ingin segera bertemu dengan Antyka. Kejadian ini mungkin menjadi hikmah, agar ia tidak terlalu sibuk. Hingga memiliki waktu lebih untuk bersama Antyka.


Tanpa membuang waktu, Alif menyerahkan surat pengunduran dirinya pada pijak rumah sakit. Ada perasaan lega di benaknya. Ayah Haris pasti akan tertawa dan senang mendengar berita ini. Sedari dulu Ayah Haris sudah membujuknya untuk mengelola rumah sakit sendiri. Tapi Alif selalu mengacuhkan permintaan ayah.


Alif menghubungi Antyka yang masih berada di kampus . Dengan riang, Alif segera menuju mobilnya dan memacu untuk segera bertemu Antyka. Ah....Rasanya rindu, ingin melihat senyum Antyka yang malu malu. Bahagia..., berlahan Antyka mulai terbiasa dengan kehadirannya.


" Anty, cepat masuk mobil. Jangan berdiri di situ saja. Banyak pria yang sedang melihat kearah mu. aku tidak suka !"satu pesan Alif terkirim saat sudah sampai di pelataran parkir


Antyka membuka pesan dari pak Alif. Matanya terbelalak melihat pesan bernada cemburu. Ah... suaminya begitu posesif.


(Antyka sudah berada di pelataran parkir dan berjalan menuju mobil Alif. Tapi suara bariton milik dosennya menghentikan langkah Antyka. Antyka berhenti menunggu sang dosen. Saat menunggu dosen itulah Antyka menerima pesan dari Alif dengan keposesifannya yang membuat Antyka tidak habis pikir )


Maaf ya slow up date. author janji pasti selesaikan novel, hanya saja slow. Berhubung kegiatan dunia real. Menulis novel ini hanya hoby gak ada cuannya .....author juga tau tulisan ini jauh dari bagus dan pembacanya sedikit like juga dikit ...., tetep semangat nulis tetep belajar nulis yang bagus. Semoga ke depan tulisan author lebih pantas lagi bersanding dengan novel novel dari author author hebat lainnya. Intinya tetep semangaaat........


Terima kasih yang sudah mau baca karya amatir author. silent reader or tinggal jejak tidak mengurangi rasa terimakasih author pada kalian

__ADS_1


salam sayang dari Author


__ADS_2