
Suasana bengkel nampak riuh saat Nisa dan teman temannya sampai ditempat dimana Nisa menggantungkan hidup, tampak 3 orang berpakaian preman menemani seseorang yang sepertinya sang penagih hutang, Nisa yang baru turun dari boncengan Lisa menghampiri mereka tanpa rasa takut.
"Hai kau!". teriak sang penagih hutang saat Nisa baru saja menginjakkan kakinya di teras bengkel. "Bayar hutang Bapakmu atau rumahmu Ku sita" gertaknya , pria berkumis tebal itu mendekati Nisa.
"Akan Aku bayar pak! tapi beri Aku waktu". Nisa mencoba bernegosiasi.
"Aku sudah memberimu banyak waktu, bahkan bapakmu sampai minggat dari rumah karna tak kuat bayar hutang". Pria itu menunjuk dahi nisa dengan tongkatnya.
"Aku mohon pak, beri aku waktu".
Cuih
Pria itu meludah kearah samping, "Aku sudah bosan mendengar permohonanmu, hutang bapakmu sudah mencapai 100 juta, bahkan dengan kau menjual diri tak akan mampu melunasi hutang orang tuamu".
"Keparat kau! "teriak Fahmi dia mendorong pria itu hingga tersungkur.
"Berani kau anak muda? ". Pria itu bangkit " heh GO*L*K habisi dia" , titahnya pada anak buahnya,
Tak perlu waktu lama para anak buah Pria itu berhasil membiat fahmi jatuh tersungkur, bahkan dia terkulai lemas, sedang Lisa berhasil melarikan diri.
"Ikut Aku! " Pria berkumis tebal itu menyeret tubuh Nisa kedalam bengkel dan melemparkannya di tumpukan peralatan bengkel, Nisa bergeliat kesakitan.
__ADS_1
"Mau apa kau?", Nisa berusaha bangkit menahan sakit dipunggungnya. Pria itu mendekat menjangkau kerah baju Nisa, Nisa tak tinggal diam dia meninju pria itu hingga tersungkur bahkan darah segar keluar dari hidungnya.
"Ternyata kau agresif juga gadis nakal! "seringai licik terlukis diwajah pria yang usianya hampir setengah abad, namun dia masih terlihat kuat, "kemarilah, mari kita bersenang senang".
Perlahan pria itu kembali mendekat, mencengkeram kedua lengan Nisa, hingga Nisa mengerang kesakitan. detik berikutnya pria itu berusaha menciumi wajah Nisa namun gagal karna Nisa memberontak, tangan Nisa berusaha menjangkau benda yang bisa digunakan untuk memukul pria dihadapannya, namun naas pria itu selalu saja berhasil menghindar.
"Lepas pak lepas",rintih Nisa yang masih berusaha melepas cengkraman Pria tua itu, tak terasa air matanya mengalir,
"Ha ha ha, sudah sekian lama aku menginginkamu, tapi bapakmu yang G*b**k itu selalu menolak lamaranku, kini justru kau yang datang padaku,, hahaha". Pria itu tampak semakin beringas membuka kancing bajunya satu persatu.
"Jangan pak jangan, Nisa mohon pak", gadis itu menangis tersedu memohon belas kasih. tubuhnya sangat lemah, bahkan lubang bekas jarum infus mengeluarkan banyak darah karna terkena pecahan kaca spion yang dia lemparkan pada pria tua itu.
"Mintalah belas kasih pada TuhanMu haha, bahkan saat ini tidak ada siapapun yang akan menyelamatkanmu".ujar Pria tua itu dengan sombongnya.
Ya Allah lindungi hamba, jauhkan hamba dari perbuatan syetan yang terkutuk,
Nisa merasa pertahanannya sudah goyah, kepalanya mulai pusing, dan tentu membuat Pria itu kegirangan, menarik paksa seragam Nisa sehingga robek di bagian lengannya,. sekuat tenaga Nisa mencoba melawan namun apalah daya kondisi Nisa sangat lemah saat ini. Dia hanya bisa pasrah.. kini tangislah yang menemani kekacauan hatinya.
***
Lisa menangis tersedu disamping ranjang sahabatnya yang sudah dua hari tak sadarkan diri, sejak kejadian pahit yang menimpanya,
__ADS_1
"Maafin gue Nis, maaf" itulah kata yang selalu dia ucapkan setiap kali menatap wajah sahabatnya yang terkulai lemas dengan beberapa luka memar di sekujur tubuhnya.
"Lisa", panggil seorang lirih, "pulanglah nak, biar om dan ibu Nisa yang menunggu disini". ucap perempuan tua yang matanya bengkak karna tak berhenti menangisi nasib putrinya.
"nggak buk, Lisa nggak mau ninggalin Nisa sendiri lagi, sungguh ini semua salah Lisa, Lisa udah ninggalin Nisa sendiri andai kata Lisa tetap disana semuanya nggak akan terjadi buuuk". Tangis Lisa kembali pecah hatinya sangat terluka.
"Nggak nduk ini semua takdir, kalaupun ada yang harus disalahkan, kamilah yang harus disalahkan, jika kami tak meninggalkan putri kami sendiri tentu saat ini dia masih baik baik saja, kami yang berdosa nduk, telah lalai". ibu Nisa kembali meneteskan air mata ,mungkin untuk kesekian kalinya,
"Mas Reyvan". ucap Lisa lirih saat menyadari Reyvan telah berada di hadapanya, di sisi ranjang Nisa.
Reyvan hanya menatap Lisa sekilas, hatinya hancur saat ini melihat gadis yang selama ini selalu mengganggunya terkulai lemas dengan beberapa peralatan medis ditubuhnya.
Wanita berambut sebahu itu menatap Lisa seakan bertanya siapa pemuda ini?
"Dia, Mas Reyvan bu!" ucap Lisa memahami arti tatapan Ratna ibu Nisa,.
"Perkenalkan saya Reyvan bu". Reyvan mencium punggung tangan Ratna sopan.
"Dia yang menyelamatkan Nisa waktu itu Buk, Dia juga yang membawa Nisa kerumah sakit, bahkan rela menunggu hingga pagi, baru semalam dia kusuruh pulang, sebelum ibu sampai dirumah sakit", tutur Lisa.
"Benar begitu nak? Terima kasih banyak nak". Ratna bersujud dikaki Reyvan, tentu dengan relek Reyvan menolak dengan mencegah Ratna memegang kakinya. Ratna kembali menangis tersedu berkali kali berterima kasih pada Reyvan.
__ADS_1
"Kak Rey.. "rintih Nisa yang tersadar dari Komanya, sontak membuat Rey, Lisa dan.hgh Ratna menoleh ke arahnya.
"Kamu sudah sadar sayang? "