
Pagi ini pengusaha muda itu sedang menikmati secangkir kopi panas di balkon ruangan
pribadinya, ditemani indahnya pemandangan matahari terbit di atas hamparan
sawah hijau nan asri.
“selamat pagi bos!!!” sapa Ivan memasuki ruangan pribadi Rey.
Reyvan menoleh mendapati sekertarisnya sedang berdiri diambang pintu, hari ini Ivan
tampil dengan setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu kinclongnya, tentu
mengundang hasrat Rey untuk menggoda. .
“ada angin apa pagi pagi nyamperin gue” tanya Reyvan setelah duduk bersilang di sofa.
“nganterin ini bos” Ivan meletakan berkas diatas meja, Reyvan mengambilnya kemudian
membacanya “wih kerja bagus”.
“ada lagi yang bos inginkan?”
“nggak! Tapi kosongkan semua jadwalku hari ini”
“gue pengen istirahat sehari,”
“baik bos, laksanakan” Ivan menunduk “ kalau begitu saya pamit” ucapnya membalikan badan
“tunggu” sergah Rey menghentikan langkah Ivan “satu lagi, gue pingin keluar naik motor,
jadi persiapkan semuanya” Titah Reyvan mengulas senyum.
Ivan menegakan badan tak percaya dengan apa yang dia dengar sejak kapan bos tertarik dengan motor???.
“nggak usah berfikir macem macem, gue mau motor itu ada saat jam makan siang” ucap Rey
seakan mengetahui isi kepala Ivan,
Ivan sedikit tersentak dengan ucapan Reyvan “Ba-baik bos”. Ucapnya menundukan badan kembali,
kemudian meninggalkan Reyvan.
“Nis, lo bener bener gila!” ucap Lisa saat melihat adik kelasnya dikerjain Nisa dengan
menyuruh mereka membersihkan parit di area persawahan “lo btakal kena sanksi
nis, bentar lagi bakal ada demo wali murid karna anak mereka lo suruh bersihin
parit”. Ancam Lisa.
Nisa tersenyum simpul “ nggak bakal! justru mereka akan bersyukur anaknya diajari
mencintai lingkungan hidup”. Ucapnya mantap sambil memandang para juniornya
“ayo kita ikut!” ajak Nisa menggandeng lengan Lisa.
“tunggu! Ngapain kita ikut?” sergah Lisa menarik lengan Nisa.
“ngapain?Ngasih contoh lah, kita harus jadi senior teladan, paham!” ucapnya memandang
Lisa yang melongo mendengar kata kata Nisa “ayo buruan!” ajak Nisa memaksa.
Lisa hanya menurut, mengikuti Nisa yang terlebih dulu masuk kedalam parit.
Tidak ada yang tahu isi kepala dari gadis bernama Nisa, gadis itu selalu memiliki banyak
akal, meski kadang diluar nalar.
Jaman sekarang jarang kita temui remaja yang nongkrong untuk bersosialisai sekarang
yang kita temui hanyalah remaja yang nongkrong untuk mencari sambungan WIFI,
tak lagi ada canda saling gurau, kini mereka sibuk dengan dunia mereka, dunia
maya yang hanya bersifat semu.
Tahukah kita indahnya bermain petak umpet di bawah cahaya bulan saat bulan purnama? Tahukah kita
indahnya berebut layangan putus? Atau indahnya bermain lumpur?
__ADS_1
Semua junior berkumpul, setelah pergulatan panjang mereka lalui, kini mereka diminta untuk
duduk berjajar memanjang di sepanjang aliran parit, para senior yang notabennya
adalah OSIS sedang menyiapkan daun pisang yang ditata memanjang tepat didepan
deretan para peserta Mos, sebelumnya para junior diminta untuk mencuci tangan
disumur dekat parit.
Dengan telaten Bila Yessy Ajeng dan beberapa anggota Osis yang lain menyajikan makanan
diatas daun pisang, menu makanan kali ini terbilang jauh dari kata mewah,
membuat para peserta saling memandang, bgaimana tidak mereka disuguhi nasi
dengan lauk tahu, tempe, ikan air tawar, cah kangkung, dan sambal sebagai
pelengkap.
“makanlah apa yang ada dihadapan kalian, jangan saling berbisik, tenang saja itu makanan
yag dimasak secara higienis,” sindir Nisa menyadari kalau para juniornya merasa
enggan dengan makanan yang ada dihadapan mereka, lalu kemanakah bekal mereka
tadi?
***
“Nis, ini apaan?.” Lisa membaca kertas yang terdapat di keranjang sepeda Nisa kemudian menyerahkannya pada Nisa “kayaknya ada yang nggak suka
sama lo”.
“Ah bodo amat,” Nisa merobek kertas tersebut.” Ayo pulang “
Lisa melongo melihat reaksi Nisa yang terlihat santai “ lo nggak marah?”
“untuk?”.
“ya elah. Itu... lo lagi diteror Nis, diancam!”
“maksudloh, lo nunggu mereka bener bener bertindak?”
“ya,, kalau mereka mampu?”
“ckckck, gila lo” Lisa menggelengkan kepala, keduanya menaiki sepeda hendak pulang.
namun baru saja kakinya mengayuh sepedanya ba n sepeda itu meletus DUUAAR Nisa kehilangan keseimbangan kemudian oleng dan terjatuh Bruuuk
“Nis longgak papa” tanya Lisa bergegas turun dari sepeda kemudian menghampiri Nisa
yang tertimpa sepedanya.
“auuuw” erang Nisa memegang kakinya yang terluka.
“tuh kan berdarah” ucap Lisa menatap luka dikaki sahabatnya “dah yuk bangun, gue bantu”
Lisa membopong tubuh Nisa membawanya ke tepi jalan, untung saja kejadian ini masih
dalam lingkungan sekolah, sehingga dengan mudah Lisa memberi pertolongan
pertama.
“auuuw pelan pelan sakit” rintih Nisa saat Lisa memberi obat merah pada lukanya.
“ini gue juga udah pelan, tapi ngomong ngomong siapa yang tega ngelakuin ini Nis?” tanya
Lisa memandang keatas.
“gue juga nggak tau dodol!”omel Nisa.
Setelah selesai memberi obat pada luka Nisa, mereka berdua memutu
“iya Lisa sayang, gue masih harus mampir ke bank buat transfer uang, udah lo pulang
duluan, biar gue tuntun ni sepeda sampai bengkel, lo harus cepet pulang, ntar
bude lo ngamuk lagi”
__ADS_1
Lisa memanyunkan bibir benar kata Nisa dia harus cepat pulang, kalau tidak budenya
pasti akan mengomelinya dari subuh hingga isya’.
“ya dah gue pulang duluan, sory ya Nis gue ninggalin lo disaat lo lagi butuh bantuan?” ucap
Lisa dengan nada iba.
“udah santay, gue udah biasa, oh ya bilang ke mas fahmi ya kalau aku pulang telat,
masih ada urusan penting, ok” Nisa mengerlingkan mata dan dibalas senyuman oleh
Lisa.
“ya udah gue pulang, hati hati ya nis” Lisa menatap lekat Nisa rasanya tak tega meninggalkan
sahabatnya pulang sendirian apalagi dengan kondisi saat ini. Perlahan Lisa
mengayuh sepeda, sesekali dia memandang kebelakang memastikan sahabatnya baik
baik saja, Nisa melambaikan tangan sebagai pertanda dia baik baik saja.
Nisa menuntun sepedanya perlahan, dia memandangi ban sepedanya sepertinya ban sepedanya harus diganti luar
dalam, karna ban luarnya saja sudah terkoyak memperlihatkan ban dalam yang
sudah tak berbentuk, beberapa kali dia melewati bengkel namun dia enggan untuk
membawa sepedanya kebengkel, uang tabungannya saja hanya cukup untuk membeli
setengah dari kebutuhan onderdil bengkelnya, jika dia menggunakan uang itu
untuk mengganti ban sepedanya maka dia tak akan mampu memenuhi kebutuhan
bengkelnya, sedangkan bengkelnya harus
terus beroprasi.
Nisa merasa letih karna harus menuntun sepedanya yang tentu akan semakin terasa berat saat
ban satunya tidak berputar secara normal, beberapa kali dia mengusap dahinya
yang berkeringat “setengah perjalanan lagi sampai” ucapnya memberi semangat
pada dirinya sendiri.
Nasib memang sedang tak memihak padanya, seharusnya gadis seusianya menikmati masa remaja
penuh kebahagiaan, belum waktunya mungkin bagi remaja seusia Nisa untuk
memikirkan hal yang berat seperti yang dia alami saat ini. Namun Nisa adalah gadis
yang kuat dan tegar, Tuhan benar memberikan ujian pada orang yang diyakini
mampu melaluinya.
Nisa masih
terus semangat menuntun sepedanya hingga dia merasa tubuhnya terhuyung
kesamping dia kembali terjatuh, Nisa bangkit hendak mengangkat sepedanya, namun
seseorang mencengkeram lengannya, kemudian menampar pipinya.
“siapa kamu?”tanya Nisa mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.
Seseorang itu tidak menjawab tangannya terus mencengkeram lengan Nisa, Nisa mengerang
kesakitan, dia mencoba melawan namun tenaganya tak mampu melawan laki laki
dihadapannya kini. Laki laki itu mengangkat tangannya hendak melayangkan
pukulan, Nisa nampak sangat ketakutan dia memejamkan mata namun tak merasakan
sakit pada tubuhnya, perlahan dia membuka mata mendapati penjahat itu
tersungkur ketanah.
Nisa menutup mulutnya yang terbuka lebar saat menyaksikan seseorang memukuli penjahat yang
__ADS_1
menyakitinya, hingga penjahat itu terkapar lemah.