KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
08 meletus


__ADS_3

Pagi ini pengusaha muda itu sedang menikmati secangkir kopi panas di balkon ruangan


pribadinya, ditemani indahnya pemandangan matahari terbit di atas hamparan


sawah hijau nan asri.


“selamat pagi bos!!!” sapa Ivan memasuki ruangan pribadi Rey.


Reyvan menoleh mendapati sekertarisnya sedang berdiri diambang pintu, hari ini Ivan


tampil dengan setelan jas lengkap dengan dasi dan sepatu kinclongnya, tentu


mengundang hasrat Rey untuk menggoda. .


“ada angin apa pagi pagi nyamperin gue” tanya Reyvan setelah duduk bersilang di sofa.


“nganterin ini bos” Ivan meletakan berkas diatas meja, Reyvan mengambilnya kemudian


membacanya “wih kerja bagus”.


“ada lagi yang bos inginkan?”


“nggak! Tapi kosongkan semua jadwalku hari ini”


“gue pengen istirahat sehari,”


“baik bos, laksanakan” Ivan menunduk “ kalau begitu saya pamit” ucapnya membalikan badan


“tunggu” sergah Rey menghentikan langkah Ivan “satu lagi, gue pingin keluar naik motor,


jadi persiapkan semuanya” Titah Reyvan mengulas senyum.


Ivan menegakan badan tak percaya dengan apa yang dia dengar sejak kapan bos tertarik dengan motor???.


“nggak usah berfikir macem macem, gue mau motor itu ada saat jam makan siang” ucap Rey


seakan mengetahui isi kepala Ivan,


Ivan sedikit tersentak dengan ucapan Reyvan “Ba-baik bos”. Ucapnya menundukan badan kembali,


kemudian meninggalkan Reyvan.


“Nis, lo bener bener gila!” ucap Lisa saat melihat adik kelasnya dikerjain Nisa dengan


menyuruh mereka membersihkan parit di area persawahan “lo btakal kena sanksi


nis, bentar lagi bakal ada demo wali murid karna anak mereka lo suruh bersihin


parit”. Ancam Lisa.


Nisa tersenyum simpul “ nggak bakal! justru mereka akan bersyukur anaknya diajari


mencintai lingkungan hidup”. Ucapnya mantap sambil memandang para juniornya


“ayo kita ikut!” ajak Nisa menggandeng lengan Lisa.


“tunggu! Ngapain kita ikut?” sergah Lisa menarik lengan Nisa.


“ngapain?Ngasih contoh lah, kita harus jadi senior teladan, paham!” ucapnya memandang


Lisa yang melongo mendengar kata kata Nisa “ayo buruan!” ajak Nisa memaksa.


Lisa hanya menurut, mengikuti Nisa yang terlebih dulu masuk kedalam parit.


Tidak ada yang tahu isi kepala dari gadis bernama Nisa, gadis itu selalu memiliki banyak


akal, meski kadang diluar nalar.


Jaman sekarang jarang kita temui remaja yang nongkrong untuk bersosialisai sekarang


yang kita temui hanyalah remaja yang nongkrong untuk mencari sambungan WIFI,


tak lagi ada canda saling gurau, kini mereka sibuk dengan dunia mereka, dunia


maya yang hanya bersifat semu.


Tahukah kita indahnya bermain petak umpet di bawah cahaya bulan saat bulan purnama? Tahukah kita


indahnya berebut layangan putus? Atau indahnya bermain lumpur?

__ADS_1


Semua junior berkumpul, setelah pergulatan panjang mereka lalui, kini mereka diminta untuk


duduk berjajar memanjang di sepanjang aliran parit, para senior yang notabennya


adalah OSIS sedang menyiapkan daun pisang yang ditata memanjang tepat didepan


deretan para peserta Mos, sebelumnya para junior diminta untuk mencuci tangan


disumur dekat parit.


Dengan telaten Bila Yessy Ajeng dan beberapa anggota Osis yang lain menyajikan makanan


diatas daun pisang, menu makanan kali ini terbilang jauh dari kata mewah,


membuat para peserta saling memandang, bgaimana tidak mereka disuguhi nasi


dengan lauk tahu, tempe, ikan air tawar, cah kangkung, dan sambal sebagai


pelengkap.


“makanlah apa yang ada dihadapan kalian, jangan saling berbisik, tenang saja itu makanan


yag dimasak secara higienis,” sindir Nisa menyadari kalau para juniornya merasa


enggan dengan makanan yang ada dihadapan mereka, lalu kemanakah bekal mereka


tadi?


***


 “Nis, ini apaan?.”  Lisa membaca kertas yang terdapat di keranjang sepeda Nisa kemudian menyerahkannya pada Nisa “kayaknya ada yang nggak suka


sama lo”.


“Ah bodo amat,” Nisa merobek kertas tersebut.” Ayo pulang “


Lisa melongo melihat reaksi Nisa yang terlihat santai “ lo nggak marah?”


“untuk?”.


“ya elah. Itu... lo lagi diteror Nis, diancam!”


“maksudloh, lo nunggu mereka bener bener bertindak?”


“ya,, kalau mereka mampu?”


“ckckck, gila lo” Lisa menggelengkan kepala, keduanya menaiki sepeda hendak pulang.


 namun baru saja kakinya mengayuh sepedanya ba n sepeda itu meletus DUUAAR Nisa kehilangan keseimbangan kemudian oleng dan terjatuh Bruuuk


“Nis longgak papa” tanya Lisa bergegas turun dari sepeda kemudian menghampiri Nisa


yang tertimpa sepedanya.


“auuuw” erang Nisa memegang kakinya yang terluka.


“tuh kan berdarah” ucap Lisa menatap luka dikaki sahabatnya “dah yuk bangun, gue bantu”


Lisa membopong tubuh Nisa membawanya ke tepi jalan, untung saja kejadian ini masih


dalam lingkungan sekolah, sehingga dengan mudah Lisa memberi pertolongan


pertama.


“auuuw pelan pelan sakit” rintih Nisa saat Lisa memberi obat merah pada lukanya.


“ini gue juga udah pelan, tapi ngomong ngomong siapa yang tega ngelakuin ini Nis?” tanya


Lisa memandang keatas.


“gue juga nggak tau dodol!”omel Nisa.


Setelah selesai memberi obat pada luka Nisa, mereka berdua memutu


“iya Lisa sayang, gue masih harus mampir ke bank buat transfer uang, udah lo pulang


duluan, biar gue tuntun ni sepeda sampai bengkel, lo harus cepet pulang, ntar


bude lo ngamuk lagi”

__ADS_1


Lisa memanyunkan bibir benar kata Nisa dia harus cepat pulang, kalau tidak budenya


pasti akan mengomelinya dari subuh hingga isya’.


“ya dah gue pulang duluan, sory ya Nis gue ninggalin lo disaat lo lagi butuh bantuan?” ucap


Lisa dengan nada iba.


“udah santay, gue udah biasa, oh ya bilang ke mas fahmi ya kalau aku pulang telat,


masih ada urusan penting, ok” Nisa mengerlingkan mata dan dibalas senyuman oleh


Lisa.


“ya udah gue pulang, hati hati ya nis” Lisa menatap lekat Nisa rasanya tak tega meninggalkan


sahabatnya pulang sendirian apalagi dengan kondisi saat ini. Perlahan Lisa


mengayuh sepeda, sesekali dia memandang kebelakang memastikan sahabatnya baik


baik saja, Nisa melambaikan tangan sebagai pertanda dia baik baik saja.


Nisa menuntun sepedanya perlahan, dia memandangi ban sepedanya  sepertinya ban sepedanya harus diganti luar


dalam, karna ban luarnya saja sudah terkoyak memperlihatkan ban dalam yang


sudah tak berbentuk, beberapa kali dia melewati bengkel namun dia enggan untuk


membawa sepedanya kebengkel, uang tabungannya saja hanya cukup untuk membeli


setengah dari kebutuhan onderdil bengkelnya, jika dia menggunakan uang itu


untuk mengganti ban sepedanya maka dia tak akan mampu memenuhi kebutuhan


bengkelnya,  sedangkan bengkelnya harus


terus beroprasi.


Nisa merasa letih karna harus menuntun sepedanya yang tentu akan semakin terasa berat saat


ban satunya tidak berputar secara normal, beberapa kali dia mengusap dahinya


yang berkeringat “setengah perjalanan lagi sampai” ucapnya memberi semangat


pada dirinya sendiri.


Nasib memang sedang tak memihak padanya, seharusnya gadis seusianya menikmati masa remaja


penuh kebahagiaan, belum waktunya mungkin bagi remaja seusia Nisa untuk


memikirkan hal yang berat seperti yang dia alami saat ini. Namun Nisa adalah gadis


yang kuat dan tegar, Tuhan benar memberikan ujian pada orang yang diyakini


mampu melaluinya.


Nisa masih


terus semangat menuntun sepedanya hingga dia merasa tubuhnya terhuyung


kesamping dia kembali terjatuh, Nisa bangkit hendak mengangkat sepedanya, namun


seseorang mencengkeram lengannya, kemudian menampar pipinya.


“siapa kamu?”tanya Nisa mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar.


Seseorang itu tidak menjawab tangannya terus mencengkeram lengan Nisa, Nisa mengerang


kesakitan, dia mencoba melawan namun tenaganya tak mampu melawan laki laki


dihadapannya kini. Laki laki itu mengangkat tangannya hendak melayangkan


pukulan, Nisa nampak sangat ketakutan dia memejamkan mata namun tak merasakan


sakit pada tubuhnya, perlahan dia membuka mata mendapati penjahat itu


tersungkur ketanah.


Nisa menutup mulutnya yang terbuka lebar saat menyaksikan seseorang memukuli penjahat yang

__ADS_1


menyakitinya, hingga penjahat itu terkapar lemah.


__ADS_2