KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
22.


__ADS_3

"Kamu sudah sadar sayang ?"


Sontak ucapan Rey membuat Ratna, Lisa dan Tono ayah Nisa menatap Rey secara bersamaan, Rey yang merasa salah ucap hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Sedangkan Nisa yang tak mengetahui jika kedua orang tuanya disana hanya bisa menatap Rey jengah.


"Kamu baik baik saja",ucap Rey mengalihkan perhatian sebelum dia diberondong pertanyaan oleh orang tua Nisa.


"Hehm". Jawab Nisa.


"Aku dimana? " tanya Nisa saat penglihatannya mulai jelas, dia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan.


"Kamu dirumah sakit". jawab Reyvan seraya menghampiri Nisa.


"Rumah sakit?tapi kok?".Nisa kembali memandangi ruangan tempak dia dirawat, Nisa tampak kebingungan ruangannya sama sekali tidak menggambarkan suasana rumah sakit, tidak tercium wangi karbol, tidak bersama pasien yang lain, bahkan terdapat sofa, kulkas, dan ac ruangan ini lebih mirip kamar hotel.


"Ini kamar kelas VVIP, bukan kamar hotel". Ucap Reyvan seakan mengetahui isi kepala Nisa.


"Apa VVIP?". Nisa tampak terkejut mendengar jawaban Reyvan, buru buru Nisa turun dari ranjangnya, namun dicegah oleh Reyvan.


"Mau kemana?". Tanya Reyvan sambil memegangi lengan Nisa agar tidak jatuh.


"Mau pulang lah, nggak kuat aku bayar kamar VVIP",jawab Nisa spontan.


"Tetap disini".titah Reyvan tangannya memegang pundak Nisa memajksanya untuk berbaring kembali.


"Nggak! aku nggak mau". Ucap Nisa sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Kenapa? " tanya Reyvan yang mengira kamar ini kurang nyaman.


"Apa kamu bodoh? mana mungkin aku bisa bayar biaya rumah sakit, jangankan bayar rumah sakit kelas VVIP, kelas 3 aja aku nggak mungkin bisa, Aku nggak mau bikin Ibu dan Ayahku menderita, Bahkan aku sama sekali nggak berdaya saat mereka merusak bengkel ayahku". ucap Nisa dengan suara parau sambil terisak isak.


"Aku yang akan urus semuanya termasuk biaya rumah sakit". Reyvan menatap lekat wajah Nisa yang diapit menggunakan kedua tangannya.


"Nggak! Aku nggak mau punya hutang lagi, sudah cukup! Aku nggak punya apa apa lagi sebagai jaminan, rumah orang tuaku satu satunya telah disita oleh rentenir, bengkel tempatku menggantungkan hidup sudah habis terbakar, sungguh jangan buat hidupku semakin menderita dengan berhutang padamu, aku nggak sanggub lagi kalau harus melihat orang tuaku disiksa para penagih hutang, ditambah nenekku sedang sakit dan membutuhkan biaya, aku mohon kak Rey pliisss biarkan aku pulang". Tutur Nisa disertai tangis getir.


Mendengar penuturan Nisa yang memilukan membuat hati Rey terasa teriris, bahkan dia sampai meneteskan air mata, ternyata dibalik sikap Nisa yang jutek dan cuek dia menyimpan beban hidup yang sangat berat, membuat Reyvan semakin ingin melindunginya.


Reyvan meraih tangan Nisa mendekap Nisa membawa Nisa kedalam pelukannya, "Udah tenang, biar aku yang urus semuanya"?ucap Reyvan membelai pucuk kepala Nisa. Nisa hendak berontak namun Reyvan semakin memeluknya dengan erat. "Untuk saat ini menurutlah, biar aku selesaikan semuanya, percaya padaku", ucap Reyvan berusaha membujuk Nisa.


Nisa yang merasa tenang dipelukan Reyvan akhirnya mengangguk setuju.


"Terima kasih, kalau kamu nggak nyelametin aku, entah bagaimana nasibku, mungkin saat ini aku sudah mati". ucap Nisa pilu dia menundukan kepalanya.


"husssstt kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, tenang kan aku malaikat ganteng". ucap Rey PD membuat Nisa tersenyum.


"Ekhem".


Suara itu membuat Nisa dan Reyvan menoleh ke sumber suara, dan alangkah terkejutnya Nisa melihat Lisa dan kedua orang tuanya berdiri di depannya.


"Enak nih dipeluk peluk". sindir Lisa sontak Nisa dan Reyvan jadi salah tingkah, saling melepas pelukan satu sama lain.


"Bapak?Ibuk?", panggil Nisa silih berganti menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ratna dan Tono mendekat kearah Nisa kemudian memeluknya.


"Maafkan kami ya nduk, nggak bisa jagain kamu, Ibu bapak memang orang tua yang nggak becus". ucap Ratna getir, sungguh dirinya telah merutuki kebodohannya saat ini.


"Nisa nggak papa kok, pak,buk! bentar lagi juga sembuh". ucap Nisa menenangkan kedua orang tuanya.


Tono yang sedari tadi mendengar percakapan Nisa dan Reyvan tersenyum sendu, sejak kecil Nisa adalah anak yang mandiri, jarang mengeluh dan pekerja kelas, bahkan Nisa sudah biasa membantu bapaknya dibengkel, mengganti Oli bahkan mengganti kampas rem pun Nisa bisa melakukannya sendiri.


"Kamu anak yang baik nduk, semoga jodohmu kelak bisa membahagiakanmu".sahut Tono yang begitu bangga memiliki anak sebaik dan setulus Nisa.


"Amiiin" ucap seisi ruangan kompak.


Pasti aku akan membahagiakanmu batin Rey mendengar ucapan Tono.


"Heh gendeng!!! akhirnya lo siuman juga" teriak Lisa menghampiri Nisa kemudian memeluk erat sahabatnya itu. Sungguh teriakan Lisa membuat suasana ruangan yang semula mengharu biru menjadi riuh kembali.


"Aaauuuw". Nisa merintih kesakitan sungguh pelukan Lisa membuat dia merasa nyeri.


"Hey lepas, sakit tau".


"heee sory". Lisa melepaskan pelukannya, "habis lo huuuuuhuuuhuuu", Lisa menangis tersedu "L-l-lo sih bikin gu-gue khawatir nggak sadar 2 hari..huhuhu huhu.. "dia kembali menangis, "gue kira lo bakalan mati, ntar siapa yang nraktir gue makan kalo lo ko'it ha? " , ucap Lisa di sela isakannya, membuat seisi ruangan menggelengkan kepala.


"Minta traktir pak mul sono? "


"Ogah,, bukannya ditraktir malah disuruh makan rumput gue, ah ogah". Jawaban Lisa membuat seisi ruangan tertawa, Pak Mul adalah tukang kebun sekolah yang galak, berjenggot tebal dan sedikit terganggu pendengarannya.

__ADS_1


__ADS_2