
"Kalau Dika nolak perjodohan itu demi lo gimana."
"Apaan sieh Ri, jangan bikin gue berharap deh." Kasih terlihat murung, dia harus terpaksa menerima kalau kisah cinta harus berakhir sebelum dimulai, dalam hati Kasih ngedumel, "Pantas saja dia gak pernah nembak gue, orang dia punya tunangan toh, Arin lagi tunangannya, gue dibandingkan sama dia, ya kalah jauhlah." Kasih jadi insecure.
"Ya siapa tahu gitu Kasih, orang itu Dika kelihatan banget gitu gak suka sama Arin, pancaran mata Dika itu terlihat menyala saat melihat elo tahu."
"Tapi apa gunanya, diakan jodoh orang, masak iya gue jadi perusak hubungan orang sieh, kalau gue yang berada diposisi Arin gimana coba perasaan gue." desahnya.
"Jadi intinya, lo siap nieh untuk ngelupain Dika pujaan hati lo."
"Ya harus gimana donk Ri, Dikakan sudah dijodohin."
"Hmmm, kalau gue sieh ya, gue akan mengejar cinta gue Kas, gue akan memperjuangkan perasaan gue."
"Lo yang benar saja, ngajar ajaran sesat sama gue." jelas disini Kasih tidak sependapat dengan Ria.
Ria terkekeh, "Hehe, cuma bercandalah gue Kas."
*****
Dijam kedua, pelajaran matimatika yang diajarkan oleh pak Taofik kosong, dan itu tentunya menjadi berita bahagia bagi anak-anak kelas XI IPS 3, karan sangat jarangkan pak Taofik tidak masuk, tapi sayangnya, ternyata pak Taofik tidak membiarkan mereka bahagia begitu saja, buktinya, mereka dikasih tugas menyelsaikan soal-soal sulit, beberapa dari anak-anak dikelas itu mengeluh, tapi seenggaknya mereka bisa saling bekerjasama untuk menyelsaikan soal sulit tersebut.
Disisi lain, Romeo yang tidak mau pusing dengan segala macam tugas mengistirahatkan kepalanya dimejanya dengan mata terpejam, santai banget deh kayaknya hidup tuh anak.
"Udah selesai belum tugas elo Ri." tegur Kasih saat mengetahui kalau Ria sejak tadi terus menoleh kebelakang untuk melihat Romeo, sejak tadi gadis itu senyum-senyum sendiri melihat laki-laki yang dia sukai.
Dan bukannya menjawab pertanyaan Kasih, Ria malah berkata, "Romeo kok cakep sieh Kas ya, lo lihat deh, tidur saja cakepnya kebangetan." tanpa mengalihkan pandangannya dari Romeo.
Mendengar kata-kata Ria membuat Kasih membalikkan tubuhnya untuk melihat apa yang dilihat oleh sahabatnya, Kasih menggeleng saat melihat Romeo yang bukannya mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak Raofik, tapi anak itu malah terlelap dengan damainya.
"Bener-bener deh sik Romeo itu, kalau mau tidur kenapa tidak dirumah saja." komennya, dan kebetulan saat itu Dika menoleh ke arahnya yang membuat mata mereka bersitatap satu sama lain, jantung Kasih berdetak cepat, dia buru-buru menghadapkan tubuhnya ke arah depan, dalam hati berusaha untuk mengingatkan dirinya sendiri, "Lupakan Dika Kasih, ingat, dia sudah dijodohkan."
"Ehh Kas, itu Dika ngelihatin elo." beritahu Ria.
Namun Kasih tidak menanggapi, dia memilih untuk menyelsaikan tugasnya saja, hal tersebut jauh lebih penting daripada memikirkan Dika.
__ADS_1
"Dika melihat elo dengan pandangan sendu Kas."
Kasih tetap diam, dia masih konsisten dengan diamnya.
"Kas, Dika..."
"Ri, bisa stop ngomongin Dika gak sieh, gue lagi konsentrasi nieh."
"Hmmm, iya iya yang rajin." ledek Ria.
"Lo juga, stop deh lihatin Romeo mulu, lo mending kerjainlah tuh tugas dari pak Taofik."
"Kan lo yang ngerjain, guekan tinggal nyontek saja sama elo." ujar Ria dengan entengnya yang membuat Kasih mendengus.
"Dasar lo ya, lo sama aja dengan Romeo."
"Hehe." Ria nyengir sendiri.
******
Dan entah dengan alasan apa sehingga Dika terlihat mendekati Kasih, mungkin ada yang laki-laki itu ingin bicarakan dengan Kasih, entahlah, tapi yang pasti, Kasih yang saat ini tengah memasukkan peralatan tulisnya kedalam tasnya kaget saat Dika memanggil namanya.
"Kasih."
"Astagaa." batinnya, diakan untuk saat ini dan seterusnya sudah berniat untuk menjauhi Dika, kalau dekat-dekat sama Dika, bisa-bisa dia tidak bisa melupakan Dika, sehingga hal tersebut membuat Kasih hanya diam dan tidak mau menoleh.
"Kasihhh." karna Kasih belum menoleh juga sehingga membuat Dika kembali memanggil Kasih untuk yang kedua kalinya.
"Kasihh, Dika manggil tuhh." beritahu Ria meskipun sebenarnya dia yakin kalau sahabatnya itu sebenarnya mendengar panggilan Dika tersebut.
Saat Kasih akan menoleh ke samping dimana Dika tengah berdiri, dari ambang pintu tubuh Arin terlihat, gadis itu terlihat tidak suka saat melihat sang tunangan yang terlihat berada didekat seorang perempuan, Kasih mengurungkan niatnya untuk menoleh ke arah Dika saat melihat Arin, dan gadis itu sekarang melangkah dengan pasti mendekati Kasih, bukan Kasih, tapi lebih tepatnya adalah Dika.
Sedangkan Dika, cowok itu terlihat mendesah berat saat melihat sang tunangan yang kembali nyamperin dia kelas, dan ******* itu bisa didengar oleh Kasih.
"Arin ngapain lagi sieh nyariin gue, tidak bisa apa gue hidup tenang." keluhan yang hanya dia suarakan dalam hati.
__ADS_1
Begitu sudah tiba didepan meja Kasih, Arin melihat Kasih tidak suka, gadis itu menilai untuk sesaat, menilai apakah Kasih layak atau tidak bersaing dengannya, dan setelah memastikan kalau Kasih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya, barulah Arin menoleh ke arah Dika.
"Ada apa Rin." tanya Dika berusaha menyembunyikan keketusan dalam suaranya.
"Nyari kamulah sayang, apalagi coba." Arin melilitkan tangannya dilengan Dika dengan manja, suaranya juga dibuat manja, "Ke kantin yuk."
"Kamu duluan saja, ntar aku nyusul."
"Gak mau Dika, aku maunya sama kamu." Arin merengek seperti anak kecil.
"Rinn." Dika sepertinya sudah hilang kesabaran, "Bisa gak sieh kamu jangan seperti ini, kayak anak kecil saja." Dika masih bisa menahan suaranya supaya jangan sampai membentak Arin, biar bagaimanapun, dia tidak tega menyakiti perempuan, karna biar bagaimanapun, ibunya adalah seorang perempuan, dan dia juga tidak suka kalau ayahnya membentak sang ibu.
"Kenapa sieh mereka pada ribut didekat gue, gak bisa apa mereka nyari tempat yang lain." batin Kasih.
"Emang apa salahnya sieh barengan ke kantin Dika."
"Aku masih ada urusan Arin."
"Sama gadis ini." Arin menunjuk Kasih yang masih betah duduk ditempatnya, seharusnyakan Kasih pergi saja, jadinya dia tidak perlukan mendengar keributan antara Dika dan Arin.
"Iya." jawab Dika jujur.
"Urusan apa sieh, masalah pelajaran."
"Bukan urusanmu."
"Dika kok gitu sieh, menyebalkan banget." Arin mulai ngambek, bibirnya sampai maju dua senti.
Tahu kalau seharusnya dia menyelamatkan sahabatnya, sehingga Ria buru-buru mengajak Kasih pergi, lagian juga, kuping Ria rasanya pekak karna mendengar rengekan Arin yang menurutnya lebay, "Kas, kantin yuk, lapar nieh."
Kasih mengangguk, dua gadis itu berdiri dan bersiap akan ke kantin.
"Kas, ada yang mau gue omongin sama elo." Dika mencoba mencegah Kasih yang sudah siap melangkahkan kakinya.
"Selsaiin saja dulu urusan lo sama tunangan lo." jawab Kasih tanpa menoleh dan melangkahkan kakinya, hal tersebut membuat Dika mendesah berat dan hanya bisa menyalahkan Arin dalam hati.
__ADS_1
*****