
Kenangan tentang dirinya saat dulu bersama dengan Putra di abadikan Putra dengan mengumpul semua foto-foto mereka dan dijadikan satu album kecil. Nampak begitu sangat indah, hingga Kasih menitihkan air matanya. Kasih saja, tidak pernah menyimpan apapun saat Putra pergi meninggalkan dirinya. Berbeda jauh dari Putra, yang mengoleksi semua kenangan tentang dirinya. Dan kini Kasih yakin, jika memang Putra masih sangat mencintai dirinya. Dan bukan hanya Kasih yang tersiksa selama perisahan ini, Putra adalah korban utama, dimana dia harus merelakan perasaannya demi kebaikan bersama. Putra rela memendam semunya sendiri, tidak ingin bercerita ke pada siapapun..
Hari ini Putra nampak sangat bahagia, terlihat dari sorot matanya, walau bibir Putra tidak berkata, tapi mata tidak bisa berbohong. Ibunya dapat melihat pancaran kebahagiaan di mata anak tercintanya.
Ketiganya kini duduk di kursi meja makan, Kasih yang masih nampak malu-malu segan untuk mengambil menu makanan, sehingga ibunya Putra pun yang seperti sudah tahu perasaan Kasih, langsung mengambilkan manakan untuk Kasih.
"Anggap rumah sendiri yah sayang." Kata sang ibu.
"Terima kasih." Ucap Kasih dengan tulus.
Putra tersenyum tipis melihat Kasih dan ibunya yang sudah akrab di hari pertama mereka bertemu. Makan malam pun berjalan dengan sangat lancar, dan untungnya pada malam ini ayah Putra tidak ada jadi semua aman terkendali.
"Tante, kalau begitu aku pamit pulang dulu." Ucap Kasih dengan sangat hati-hati. "Sudah malam, aku takut ibu khawatir mencariku."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan yah sayang." Kata ibu Kasih sambil mengampiri Kasih dan memeluk tubuh Kasih. "Putra, ayo antar Kasih pulang."
__ADS_1
Tanpa berbicara Putra pun berdiri dari duduknya. Dan menarik lengan Kasih keluar dari rumah.
"Gue bisa pulang sendiri." Kata Kasih menolak tawaran Putra untuk mengantarya. Namun Putra tidak menjawab, ia justru mengambil helm dan dipakaikan ke kepala Kasih. Lalu Putra naik ke atas motor membunyikan motornya.
"Naik." Kata Putra yang masih tetap menatap kedepan, tanpa melirik Kasih sama sekali. Dengan wajah cemberut Kasih naik ke atas motor, duduk di belakang Putra.
"Putra, hati-hati sayang." Teriak sang ibu sambil tersenyum..
Ibunya bahagia, karena baru kali ini semenjak Putra dewasa membawa seorang gadis ke rumahnya. Baru kali ini, sang ibu melihat anaknya yang pendiam dan dingin bisa jatuh cinta, walau Putra tidak berbicara tapi matanya tidak bisa berbohong.
"Lu peluk gue erat-erat biar lu ngak jatuh." Kata Putra, namun Kasih tidak ingin. Hingga Putra memutuskan membalap motornya dan tiba-tiba rem mendadak. Kasih yang kesal langsung memukul pundak belakang Putra.
"Kan gue udah bilang, peluk!" Kata Putra dan kembali menarik gas motor. Hingga membuat Kasih memutuskan memeluk tubuh Putra dengan kedua tangannya. Putra yang berada di depan tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Kasih kembali memeluk tubuhnya.
"Gue sayang ama lu Kas." Ucap Putra.
__ADS_1
"Haa, lu bilang apa?"
"Gue sayang ama lu Kas?"
"Gue ngak dengar lu ngomong apa?" Teriak Kasih dari arah belakang. Sejujurnya Kasih mendengar sangat jelas ucapan Putra hanya saja Kasih berpura-pura tidak mendengar karena tidak tahu harus berkata apa. Walau sebenarnya di dalam hati Kasih yang paling dalam, Kasih masih menyimpan perasaan sayang pada Putra, hanya saja ada tembok yang menjulang tinggi di atara mereka, tembok yang tidak bisa membuat mereka untuk bersatu.
"Put, ini bukan jalanan ke rumah gue."
"Iya gue tau kok. Gue cuman pengen jalan-jalan bentar doang."
Sepanjang perjalanan, tangan Kasih terus melingakar di tubuh Putra, dan Putra juga terus memengan tangan Kasih. Hingga beberapa saat kemudian Kasih menyandarkan kepalanya ke pundak Putra belakang Putra.
"Mungkin ini yang terakhir kalinya Put." Gumam Kasih.
"Lu bilang apa?" Kasih tidak lagi menjawab. Kasih hanya diam menikmati moment yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi dalam hidupnya.
__ADS_1