
Ria jadi makin gugup, rasanya kakinya seperti tertancap diubin dan berakar.
"Ayok sana samperin Romeo." bisik Kasih tersenyum penuh arti.
"Duhh, gue ngebatalin niat gue aja deh Kas, kok rasanya gue takut ya kalau pemberian gue ditolak oleh Romeo." selain gugup, Ria juga rupanya jadi tidak percaya diri begitu.
"Lhaaa, kok dibatalin sieh Ri, sayangnya bangetkan lo udah capek-capek bikin kue setengah mati bagitu, dan sekarang lo malah gak jadi ngasihnya."
"Tapi gue takut Kasih kalau pemberian gue ditolak sama Romeo."
"Pasti diterima, percaya deh sama gue."
"Tapi, tapi..."
"Ayok sana." Kasih mendorong lengan Ria.
Akhirnya atas paksaan Kasih dengan dengan grogi yang kentara Ria berjalan menyongsong Romeo, Ria berusaha untuk tersenyum meskipun dia sebenarnya tegang.
"Perasaan gue jadi gak enak." batin Romeo saat melihat Ria yang berjalan menyongsongnya, "Sudah pasti kue bikinan Ria tidak enak sampai Kasih mewanti-wanti gue untuk mengatakan enak pada kue bikinan Ria, gadis kayak Ria memang sudah terlihat adalah tipe gadis manja yang tidak bisa masak, ntar kalau gue sampai dilarikan ke rumah sakit hanya gara-gara memakan kue buatan Ria bagaimana, bisa-bisanya Kasih menyuruh gue mengatakan enak hanya untuk nyenengin sahabatnya itu, dia gak mikirin apa keselamatan gue, lagian juga sik Ria, dalam rangka apa sieh dia ngasih gue kue segala, sebagai kelinci percobaannya." Romeo terus saja membatin dalam hati.
"Ha..hai Rom." Ria benar-benar menampakkan kegugupannya didepan Romeo.
"Hai Ria." balas Romeo membalas senyum Ria, tatapannya terarah pada kotak bekal yang ada ditangannya Ria.
"I..iniii..." Ria menyodorkan kotak tersebut pada Romeo, Ria benar-benar gugup yang membuat suaranya putus-putus, Ria makin tambah gugup saat Romeo menatapnya dengan penuh pertanyaan dimatanya, "I..ini kue..kue buatan gue Romeo, lo cobain ya."
Selain karna Kasih yang memintanya, Romeo juga memang tidak mungkin untuk menolak pemberian Ria itu secara terang-terangan, dia tidak mungkinkan membuat Ria kecewa dengan menolak pemberian dari gadis tersebut sehingga dia mengambil kue yang diberikan oleh Ria, "Terimakasih ya." ucapnya setelah tuh kotak bekal berisi kue berpindah ke tangannya.
Ria tersenyum lebar saat Romeo menerima pemberiannya, hatinya begitu berbunga-bunga, "Dimakan ya Romeo."
"Iya." jawab Romeo tidak yakin.
"Mmm, Ria."
__ADS_1
"Iya Romeo."
"Lo bisa ngasih jalan gak, gue mau kemeja gue."
"Oh eh, hehe." Ria yang salting menggeser tubuhnya kesamping dan memberikan jalan untuk Romeo.
Saat didekat meja Kasih, Romeo berhenti sejenak, menatap Kasih dengan tatapan yang kalau diartikan beginilah artinya, "Awas ya kalau gue sampai mati setelah mencicip kue bikinan sahabat lo."
Kasih juga memberikan tatapan yang artinya kira-kira begini, "Gak bakalan, gue jamin deh, buktinya gue masih idup meskipun rasanya sekarang gue merasa perut gue agak sakit."
Romeo kembali melangkahkan kakinya menuju bangkunya.
Ria juga kembali ke bangkunya dengan senyuman penuh arti.
"Gue takut Kas kalau Romeo gak bakalan suka sama kue buatan gue." bisiknya.
"Tenang saja, dia pasti suka kok."
"Semoga, aminn."
Romeo sebenarnya tidak punya minat sedikitpun hanya sekedar untuk membuka kotak kue tersebut, namun dia ingat kata-kata Kasih sehingga membuat tangannya bergerak untuk membuka tutup tuh kotak bekal makanan, dan alhasil, mata Romeo melebar saat melihat kue bolu yang seharusnya berwarna coklat lebih menyurapai warna arang, Romeo bahkan sampai beristigfar.
"Astagfirullah, ini kue atau arang sieh." komennya berjengit, "Kenapa juga sik Kasih meminta gue untuk mengatakan enak pada kue yang bentukannya kayak gini." Romeo bermonolog sendiri, "Melihatnya saja mata gue sakit, gue gak yakin kalau lambung gue bisa menerimanya."
Tapi karna memang demi menghargai Ria dan mengingat kata-kata Kasih lewat chat, Romeo memaksakan dirinya untuk meraih sepotong kue tersebut, dengan penuh keraguan dia memasukkannya ke bibirnya, dan baru masuk saja Romeo sudah melepehnya.
"Hoekkkk."
Beberapa teman-teman kelasnya yang sudah datang termasuk juga Kasih dan Ria otomatis menoleh ke arah Romeo, mereka ingin tahu penyebab laki-laki itu heboh.
"Lo kenapa Rom." Rian bertanya sembari mendekati Romeo.
"Gara-gara nieh kue, rasanya persis kayak arang pembakar sate." Romeo mengedikkan dagunya ke arah kotak bekal berisi kue yang ada dihadapannya tersebut, "Buat lo deh." ujarnya dengan suara yang bisa didengar oleh penghuni kelas, dalam hal ini termasuk juga oleh Kasih dan Ria.
__ADS_1
Dengan perasaan takut Kasih menoleh ke arah Ria, dia yakin Ria pasti sedih karna kue buatannya ternyata dihina oleh Romeo, dalam hati Kasih mengutuk Romeo yang tidak bisa menjaga kata-katanya, "Romeo sialan, sudah gue bilang ditelan dan harusnya memuji, ini dia malah menghina, didepan orangnya lagi, tidak bisakah dia menjaga perasaan Ria."
Ria tampak sedih, itu terlihat dari raut wajahnya yang terlihat mendung, gadis remaja yang sudah susah-susah membuat kue demi Romeo itu menunduk, rasanya dia ingin menangis, tapi dia bisa menahan air matanya.
"Kenapa Kasih harus bohong sieh hanya untuk membuat gue senang, kenapa dia tidak jujur saja mengatakan kalau kue buatan gue tidak enak, malah dia mendukung banget lagi kalau gue memberikan kue itu sama Romeo, kan jadi malu gue." suara hati Ria.
Rian reflek mundur, "Sorry dehh Rom, gue gak berminat, itu bagian untuk lo saja." Rian langsung ngacir, tidak mau dipaksa untuk mencicipi kue gosong tersebut.
Ria yang saat ini menghadap belakang kembali memutar tubuhnya kedepan, dengan susah payah dia berusaha untuk menahan air matanya.
Kasih memberikan plototan pada Romeo, Romeo mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V disertai dengan cengiran membingkai bibirnya.
"Dasar sialan." umpat Kasih tanpa suara hanya dengan menggerakkan bibirnya, dia juga kembali berbalik, Kasih yakin Ria pasti marah sama dia karna dia telah membohonginya.
"Ri, gue gak maksud...."
"Kenapa lo gak jujur saja sieh Kas."
"Itu..gue..."
"Lo gak perlu nyenengin gue hanya untuk membuat gue seneng, dan pada akhirnya membuat gue malu."
"Ria, maafin gue, gue gak maksud bikin elo malu." jelas disini Kasih merasa bersalah.
"Lo pakai ngedorong gue lagi untuk ngasihin tuh kue sama Romeo, apa itu yang namanya bukan mau bikin gue malu."
"Ria, gue gak...."
"Lo jahat Kasih."
"Ria, gue benar-benar minta maaf, maafin gue."
Namun Ria yang sudah terlanjur sakit hati tidak menggubris permintaan maaf Ria, dia benar-benar sangat marah sama sahabatnya itu, fikir Ria, Kasih benar-benar membuatnya sangat malu dan tidak punya muka dihadapan Romeo.
__ADS_1
"Ini gara-gara sik Romeo sialan itu." Kasih balas menyalahkan Romeo dalam hati, "Awas ya lo Rom."
****