KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
GUE MAU MINTA MAAF SAMA LO


__ADS_3

Ria masih saja menunduk, dia tidak ingin Romeo melihat matanya yang bengkak karna habis menangis.


"Mmm, Ria." Romeo memulai dengan sedikit harapan kalau Ria mau mendongak dan menatapnya, Romeo tahu sieh kalau dia salah karna dia terlalu jujur telah mencela kue yang diberikan oleh Ria sehingga yah Romeo memaklumi kalau Ria marah kepadanya, hanya saja saat tengah bicara begini, rasanya tidak enak kalau orang yang diajak bicara tidak menatap kepadanya, apalagi saat dia ingin meminta maaf, "Gue mau minta maaf sama lo karna gue udah dengan tidak sopan mencela kue buatan elo, padahal lonya sudah bersusah payah membuat tuh kue."


Dan sepertinya Ria memang konsisten menunduk, begitupun saat dia membalas permintaan maaf yang keluar dari bibir Romeo, "Lo gak perlu meminta maaf sama gue Rom, lo gak salah, lo hanya menyampaikan fakta." suara Ria terdengar getir saat mengatakan hal tersebut, kalau dibilang dia kesal sama Romeo, tentu saja dia kesal, tapi lebih kesal atau lebih tepatnya dia sangat marah sama Kasih yang telah dengan tega membohonginya sehingga membuatnya malu.


"Niehh anak, bisa tidak dia natap gue saat bicara, kesannya gue punya penyakit mata menular saja." batin Romeo.


"Iya sieh, hanya saja gue rasa, gue perlu minta maaf gitu sama lo Ri."


"Gue gak marah kok sama lo Rom, jadi gak ada yang perlu gue maafin." Ria masih menunduk.


"Ohh gitu ya, makasih deh kalau gitu." lisan Romeo, Romeo menambahkan dalam hati, "Tuhkan, Ria saja tidak marah sama gue, kenapa sik Kasih itu memaksa-maksa gue untuk meminta maaf, emang benar-benar deh dia."


Romeo memang beneran tidak tahu sepertinya kalau perempuan bilang dia baik-baik saja, itu berarti tuh sik perempuan sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan begitupun saat perempuan bilang kalau dia tidak marah, itu berarti dia sedang dalam keadaan marah, tapi yah begitulah laki-laki pamirsah, mahluk paling tidak peka di muka bumi ini.


"Lo gak marah jugakan sama Kasih." tanyanya lagi, karna Kasih bilang kalau gara-gara Romeo Ria sampai marah kepadanya.


"Gue sangat marah sama dia." jawaban Ria dalam hati, tapi jawabnya dibibir adalah, "Iya." singkat, padat dan tidak jelas.


Dan jawaban singkat tersebut membuat senyum lebar Romeo tercetak dibibirnya.


"Makasih ya Ri." menepuk lengan Ria pelan.


Hanya tepukan biasa, hanya saja, sentuhan fisik tersebut mampu membuat jantung Ria yang tadinya berdetak normal kini berdetak gila-gilaan, dia bahkan rasanya kesulitan untuk bernafas dengan baik.


"Masuk yuk." ajak Romeo yang hanya diangguki oleh Ria karna saat ini dia begitu sibuk menetralkan debaran jantungnya, dia bahkan takut kalau sampai Romeo mendengar detakan tersebut.

__ADS_1


Romeo berbalik memasuki kelas terlebih dahulu, dan saat Romeo sudah tidak berada dihadapannya, barulah Ria bisa bernafas dengan lega, "Uhh sial." umpatnya dengan suara yang hanya dia yang bisa mendengarnya, "Harusnyakan gue masih marah sama Romeo, gara-gara sentuhannya seketika kemarahan gue menguap seketika."


****


Saat Romeo memasuki kelas, cowok remaja itu melirik ke arah Kasih yang juga kebetulan melihat ke arahnya, "Bagaimana." tanya Kasih hanya dengan gerakan bibir.


Romeo menautkan jari dengan ibu jarinya sehingga berbentuk bulat yang bermakna 'oke'


"Beneran lo." imbuh Kasih begitu Romeo berhenti didekatnya saat dalam perjalanan menuju bangkunya, "Ria gak marah lagikan."


"Iya, sahabat lo itu sudah gak marah lagi sama elo." beritahu Romeo dengan yakin, anak ini memang benar-benar tidak tahu kalau iyanya perempuan berarti tidak.


"Awas ya kalau lo bohong, gue gak mau lagi ngomong sama elo."


"Iya beneran, gak percayaan banget sieh lo sama gue."


"Hmmm." gumam Romeo kembali melangkahkan kakinya.


Ria tiba dibangkunya yang memang dia duduk satu meja dengan Kasih, dan sejak tuh anak gadis masuk, dia sekalipun tidak pernah menoleh ke arah Kasih, bahkan saat duduk disamping Kasihpun, pandangannya lurus kedepan.


Dalam hati Kasih bertanya-tanya sendiri, "Ini yang namanya tidak marah lagi, ini sih nyata-nyata masih marah, dasar Romeo sialan, awas lo ya entar." Kasih mengumpat dan menyalahkan Romeo dalam hati.


Meskipun tahu kalau sahabatnya itu masih marah dan yakin juga kalau Ria juga tidak akan mau ngomong sama dia, Kasih mencoba peruntungannya, "Mmm Ria, pulang sekolah jalan yuk, sudah lama lho kita gak jalan." Kasih sebenarnya tidak ada niatan untuk mengajak Ria jalan-jalan, apalagi uang jajan disakunya sudah ludes tidak bersisa, tapi dia masih punya sedikit uang di rekeningnya dan dia bisa mengambilnya nanti lewat mesin ATM.


Ria diam tidak menjawab, itu benar-benar memberitahukan secara tidak langsung kalau dia masih marah sama Kasih.


"Abang Taran bilang, film-film yang diputar dibioskop bagus-bagus lho, sepulang sekolah kita nonton ya."

__ADS_1


Ria memutar lehernya ke arah Kasih, dengan mata tajamnya menatap Kasih, "Berisik." lisannya begitu tajam dan pedas sehingga hal tersebut berhasil membungkam Kasih.


"Romeo sialan, sialan sialan, ini semua gara-gara elo." Kasih kembali menyalahkan Romeo dengan membabi buta.


*****


"Kas, pulang bareng yuk." Romeo menawarkan saat diparkiran, sebenarnya Romeo benar-benar tidak menawarkan, hanya basa-basi doank.


Namun Kasih yang sangat marah hanya dia diam tidak menjawab, dia terus berjalan ke arah dimana sepedanya berada.


Karna memang tidak benar-benar menawarkan, sehingga Romeo menjalankan sepeda motornya.


"Gue duluan ya Kas." pamit Romeo saat melewati Kasih, suaranya bersaing dengan suara deru sepeda motornya.


Kasih lekat menatap punggung lebar Romeo, gadis remaja itu kembali mengumpat, "Romeo sialan."


Kasih kemudian menaiki sepedanya, saat dia mulai mengayuh, dan belum jauh, rantai sepedanya terputus, dan itu membuat Kasih yang sejak tadi uring-uringan bertambah bete.


"Sialan, haruskah memilih putus disaat pulang begini, benar-benar sangat menyebalkan sekali, ini semua gara-gara Romeo." nah lho, lagi-lagi Romeo yang disalahin, padahal jelas donk Romeo gak ada hubungannya dengan rantai sepeda Kasih yang putus, tapi sifat perempuan memang seperti itu, kesialan apapun yang menimpanya, pasti yang dia salahkan adalah orang yang membuatnya sebal.


Tin Tin Tin


Terdengar suara klakson motor dari belakang Kasih yang membuatnya berjengit kaget, bahkan dia sampai melompat ke samping saking kagetnya, dia langsung berbalik dengan niat untuk menyemprot sik pengendara sepeda motor yang telah berhasil membuatnya kaget, namun kata-kata makian yang sudah siap meluncur dari tenggorokannya kembali tertelan saat dia mengenali siapa laki-laki dibalik helm full face tersebut yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dika.


"Dika." gumamnya, sekarang Kasih tidak sebaper dulu sama Dika, karna memang saat ini dia tengah lagi gencar-gencarnya untuk berusaha melupakan Dika setelah mengetahui kalau laki-laki itu akan dijodohkan dengan Karin.


****

__ADS_1


__ADS_2