KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
PERDEBATAN


__ADS_3

"Lo ngapain sieh Rom pagi-pagi udah dirumah gue aja." ujar Nuri dengan suara seraknya karna tuh tenggorokan sama sekali belum dialiri oleh air.


"Ehh anak ini, nanya kok begitu."


"Ya habisnya, pagi-pagi gini udah dirumah aja."


"Ini sudah siang ya Kasih, sejak kapan jam 10 berubah menjadi pagi."


Sementara itu Romeo hanya tersenyum tipis dan berkata, "Gue bosan dirumah, masak hari minggu begini gue habisin dengan ngedekam dikamar, ingin jalan, gak tahu tuh harus kemana, semua Jakarta sudah gue puterin, ya makanya hati gue kemudain mengarahkan gue ke rumah elo, main gitu, gak apa-apakan Kas, lo gak marahkan."


"Ya gak apa-apa donk Romeo, Romeo kalau mu datang ya datang aja, rumah tante terbuka lebar lho untuk kamu, kenapa kamu harus minta izin sama Kasih terlebih dahulu kalau mau datang, yang punya rumah ini tante lho, tante justru senang banget kalau kamu datang kesini, tante jadi punya teman ngobrol."


Mendengar jawaban dari ibu Mira membuat Romeo terkekeh, sedangkan Kasih hanya bisa mendengus.


"Terimakasih tante." ujarnya, "Tapi tan, Kasih san bang Tarankan ada untuk diajak ngobrol."


"Ahh mereka berdua itu ya Rom, lebih suka ngobrol dengan HP mereka ketimbang sama tante, heran deh, punya anak tapi lebih sayang sama HP." ibu Mira mengeluh perihal kelakuan kedua anaknya.


Kasih menanggapi kata-kata ibunya, "Habisnya apa sieh yang mau Kasih dan bang Taran akan obrolkan dengan mami, Kasih dan bang Tarankan gak ngerti harga cabe dan terasi."


"E ehh nieh anak ya, ngejawab mulu deh." sambil memukul lengan Kasih.


Romeo tersenyum melihat perdebatan antara ibu dan anak tersebut, dia senang berada diantara keluarga Kasih, hangat dan nyaman, suatu hal yang tidak bisa dia dapatkan dari keluarganya sendiri.


"Aduhh mami, Kasih itu lapar mau makan, kok malah kena pukul sieh." Kasih mengelus lengannya.


"Makan, makan, bantuin ibu masak gak pernah maunya makan mulu."


"Perhitungan banget sieh mi sama anak sendiri." sungut Kasih.


Perdebatan sepertinya masih terus berlanjut nieg gays.


"Habisnya kamu itu, sebagai anak perempuan nalas sekali, mbok ya sekali-kali bantuin ibu masak gitu lho, kerjaannya main hp terus, ntar kalau kamu menikah dan tidak bisa masak, bisa-bisa suami kamu nyari perempuan lain dia."

__ADS_1


"Ya aku cari saja suami yang kaya, bisa memperkerjakan ART kelar dah tuh urusan, hidup kenapa dibikin ribet sieh."


"Tuhkan Romeo, kamu dengar sendiri nieh anak kayak gimana, kalau dikasih tahu, kerjaannya ngejawab saja, heran deh tante, padahal tante pas masih muda gak kayak gini, kalau dikasih tahu itu manut."


Romeo hanya mendengarkan, tidak mau dia ikut campur dengan menjawab.


"Lagian ya Kasih, kamu fikir sendiri donk, laki-laki kaya itu seleranya yang cantik, putih, tinggi, lha kamu." sambil memandang Kasih yang diluar dari kriteria yang ibu Mira sebutkan barusan, "B aja, pasti dapatnya yang B juga, jadi jangan sok-sok'an ingin mendapatkan laki-laki yang kaya."


Romeo yang sejak tadi hanya jadi pendengarpun menyela, "Tenang saja Kas, kalau tidak ada laki-laki kaya yang mau sama elo, kan ada gue, gini-ginikan gur kaya juga." itu Romeo jelas saja bercanda.


"Ishh apaan sieh, siapa juga yang mau sama elo." itu jawaban yang diberikan oleh Kasih meskipun dia sangat tahu kalau Romeo cuma bercanda doank.


Plukk


Kembali Kasih mendapatkan pukulan pada lengannya atas jawaban yang dia berikan barusan.


"Mamiiii, hobi banget deh mukul-mukul, Kasih laporin ke kak Seto lho."


"Makanya kalau ngejawab itu yang benar, ya di aminkan kek kata-kata Romeo barusan."


"Lo mau gue serius emang Kas, ya udah kalau gitu, lo ingat ya, 7 tahun dari sekarang, diumur 25, gue bakal ngelamar elo."


Ibu Mira tersenyum menanggapi hal tersebut, sedangkan Kasih hanya mengangga dan merespon, "Gak lucu Rom."


"Bilang amin Kasih, syukur-syukur lho ada cowok tampan sekelas Romeo yang mau sama kamu."


"Apa sieh yang harus diaminkan." batin Kasih karna tidak mau kena pukul lagi dari sang ibu.


Disaat seperti itu, Taran terlihat diambang pintu dapur dan berkata, "Bu, bau apaan sieh itu yang gosong."


"Astaga naga." ibu Mira terlihat panik dan langsung berjalan dengan langkah cepat ke arah oven, wanita setangah baya itu membuka oven, dan saat tuh oven terbuka, asap yang sangat tebal turut serta ikutan keluar yang membuatnya terbatuk.


Ukhuk Ukhuk, ibu Mira terbatuk-batuk sembari mengibaskan tangannya didepan wajahnya untuk menghalau asap dari wajahnya akibat kue gosong yang ada didalam oven, saking asyiknya berdebat dengan Kasih sehingga dia lupa kalau saat ini tengah memanggang kue, ibu Mira buru-buru mengeluarkan kue yang warnanya seharusnya coklat, kini berubah jadi seperti arang.

__ADS_1


Melihat hal tersebut membuat Taran ngomel panjang pendek, "Apa sieh yang kalian lakukan disini, bertiga didapur, tapi tidak ada yang."


Herannya, tiga orang itu meskipun berada didapur tidak ada yang mencium bau gosong, malahan Taran yang ada dikamarnya yang mencium bau gosong tersebut.


"Yahh, gak jadi makan kue deh." ibu Mira terlihat nelangsa melihat kue buatannya.


*****


"Hmmm, bau elo enak Kas, lo baru beli parfum baru ya." komen Ria saat Kasih mendudukkan bokongnya dibangkunya.


Kasih mengangguk, dia tadi menyemprotkan parfum yang dibelikan oleh Dika kemarin saat menemani Dika mencari kado ulang tahun untuk sang adik.


"Aromanya enak, kalem, gue suka sama aromanya."


"Nieh parfum dibeliin sama Dika lho." beritahu Kasih.


"Serius lo."


Kembali Kasih mengangguk, "Iya, katanya ini sebagai hadiah karna gue nemenin dia nyariin kado untuk adeknya kemarin."


"Wahh hebat ya, lo belum jadian saja udah dikasih hadiah sama doi, apalagi kalau udah jadian."


"Amien, doakan deh supaya gue dan dia jadian." gumamnya berbisik.


"Iya, ntar gue doain deh kalau gue lagi sholat, ngebet banget deh kayaknya ingin jadian neng."


"Ya gak gitu juga sieh." Kasih terlihat malu-malu.


"Nahh, itu pujaan hati elo datang." Ria menunjuk ke arah pintu, Kasih langsung menurunkan telunjuk Ria.


"Jangan nunjuk-nunjuk donk Ri, ntar Dikanya besar kepala lagi kalau dia tahu kita lagi ngomongin dia."


"Dika cakep ya, gak heran gue kalau elo ngebet ingin ditembak sama dia." Ria berbisik.

__ADS_1


"Ishhh apaan sieh, siapa juga yang ngebet, biasa aja kok gue." saat mengatakan hal tersebut, wajah Kasih memerah.


"Pagi Kasih." Dika berhenti saat didepan meja Kasih, dan menyempatkan diri untuk menyapa Kasih.


__ADS_2