
“Gue jahat?”
ucapnya menatap kearah Nisa yang menangis membenamkan wajah diantara kedua
lututnya, “Lo yang mulai duluan”.
“laki laki
memang selalu seenaknya sendiri, berbuat semaunya, tak pernah memikirkan
perasaan kami perempuan”. Nisa mendongakan wajahnya.
“Perempuannlah
yang kejam, kau tau kau yang menggodaku, kucing
Kalau diberi
ikan asin pasti akan memakannya”. Reyvan berbalik menghadap gadis yang sedang
menyeka air matanya. Reyvan sengaja memancing emosi Nisa, membuat gadis itu
mengomel adalah hal yang membahagiakan baginya.
Mata Nisa
membulat “Lo nyamain gue sama ikan asin?”. “Lo! Yang nyari kesempatan dalam
kesempitan?”, ucap Nisa memalingkan wajahnya.
“Lo yang
murahan”, “Lo yang nyamperin gue, menggoda gue dengan tatapan menjijikan” cibir
Reyvan menceoskan muka,
Nisa
menunjuk tepat didahi Reyvan,“Gue nggak murahan, Lo yang pikirannya terlalu
kotor, lo harus tanggung jawab”.
“Tanggung
jawab???, buat apa?”
“Cih, dasar,
kalau gue hamil gimana?”
Hamil?apa gadis ini bodoh?gimana ceritanya hanya
dicium bisa hamil? Reyvan sedang menahan tawanya.“Gue bakal nikahin lo”.
“Nikah? Nggak!
Gue nggak mau! Gue masih pengen sekolah”
“Ckckckck
dasar bocil, besok gue bakal nemuin orang tua Lo, Gue bakal nikahin Lo”.
Nisa
menggelengkan kepala “Lo bener bener gila”.
Ni bocah polos atau bodoh? Atau jangan jangan dia
nggak pernah pacaran?.“Kalau begitu, kalo lo hamil, itu berarti bukan anak gue?”,
Nisa
bersilang dada,“Bukan anak Lo? Hey... gue nggak pernah ngelakuin itu selain
sama lo”
Ya Allah ni bocah, gayanya aja bar bar ternyata dia
bener bener polos. “Kalau
begitu biarin gue tanggung jawab”. Reyvan menatap lekat manik mata Nisa.”TERSERAH”
Nisa memutar bola matanya jengah.
***
“Mana yang
harus gue tanda tanganin?” ucap Reyvan membenarkan posisi duduknya, kini dia
sedang berada diruang kerjanya bersama dengan Ivan,
“Ini bos”,
Ivan menggeser dokumen yang tadi dia siapkan diatas meja kearah Reyvan.
__ADS_1
“Ada kabar
apa hari ini?” tanya Reyvan tangannya meraih dokumen kemudan memerikasanya, “oh ya soal kafe, apa sudah beres?”. Lanjutnya
menurunkan dokumen yang tadi dia baca.
“Sudah Bos,
tinggal finishing aja”.
“Ok kerja
bagus” meletakkan kedua tangannya di atas meja, ”Oh ya gue mau lo nyari semua
informasi tentang gadis kecil itu?”.
“Gadis
kecil? Oh... yang tadi bersama bos? Sepertinya bos menyukainya”, tebak Ivan.
“Cih, lo
tau? Kedatanganmu menganggu kesenanganku”, Reyvan mecibikan mulutnya kesal.
“Maafkan
saya bos, saya melihat pintu kamar bos terbuka, saya kira bos sedang bersantai
sendirian”. Terang Ivan,
“Sudahlah,
lupakan, gue minta semua informasi tentangnya harus ada saat gue membuka mata
esok hari! Paham ?” Titah Reyvan menatap Ivan serius.
“Baik Bos?” ah syukurlah bos bisa membuka hatinya. Batin Ivan
“Apa lo udah
bosen kerja?” tanya Reyvan menyelidik, menatap Ivan yang tak kunjung beranjak
dari ruang kerjanya.
“Ah maaf
bos” Ivan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jujur dalam hatinya ia merasa
bahagia, melihat Reyvan bisa kembali menerima kehadiran wanita dihidupnya.
Ngapain masih disini? Gue masih banyak urusan”, Reyvan menggertak Ivan yang tak
kunjung meninggalkan ruangannya
“Heeee sory
bos, saya pamit” Ivan membungkukan badan kemudian berbalik badan,
“Dari tadi
napa?” omel Reyvan, menatap Ivan yang berjalan memungunginya.
Di tempat
lain Nisa sedang menunggu ojek online yang dia pesan 5 menit yang lalu, gadis
itu terlihat gusar, sebelumnya dia menerima telpon dari Fahmi yang mengabarkan
kalau rentenir menagih hutang dibengkelnya, orang tua Nisa memiliki hutang
sebesar 100 juta yang digunakan sebagai biaya operasi neneknya yang terkena
penyakit jantung. Kalau saja saat itu keadaan neneknya tidak kritis dan dokter
tidak memaksa untuk segera dilakukan operasi, tentu ayahnya tidak akan
berurusan dengan rentenir.
“Mb Nisa
ya?” tanya tukang ojol yang menghampiri
Nisa yang sedang berdiri di pinggir jalan.
“Iya pak” sahut
Nisa menghampiri tukang ojol tersebut.
“Sesuai
aplikasi ya mbak alamatnya?” lanjut tukang ojol itu sambil memperlihatkan layar
hpnya.
"Iya
__ADS_1
pak jalan Agus Salim,” ucap Nisa membenarkan, kemudian tangannya dengan reflek
menerima kemudian memakai helm yang tukang ojol itu berikan. Di sepanjang jalan
Nisa tampak cemas memikirkan nasib para pegawai bengkelnya.
Sesampainya
di depan bengkel Nisa segera turun dan tak lupa membayar tagihan ojeknya.
Setelah itu dia segera berlari kecil menuju kedalam bengkelnya
“Assalammu’alaikum”
Nisa mengucap salam
“Wa”alaikum
salam” secara serempak karyawannya menjawab salam yang Nisa ucapkan.
“alhamdulillah
dek kamu udah pulang” sahut Fahmi menhampiri Nisa, “Huh rentenir itu menagih
tanpa ampun dek, mereka mngobrak abrik bengkel” Fahmi menghela nafas “mereka
memaksa agar kita membayar bunga untuk bulan ini, aku nggak punya pilihan lain
dek semua uang hasil penjualan onderdil dan ongkos servis 1 minggu ini terpaksa
aku berikan pada mereka, mereka mengancam akan menghabisi kami, jika tak
memberi mereka uang sepeserpun”.
Nisa
menghela nafas panjang setelah mendengarkan semua keluh kesah fahmi “maaf ya
mas, aku udah buat mas dan lainnya terancam”. Nisa menatap satu persatu karyawannya.
“nggak papa
dek, kami yang minta maaf nggak bisa bantu apa apa” ucap Pak Darmo salah satu
karyawan tertua di bengkel.
“Iya dek”
“iya” sahut
karyawan yang lainnya.
“nggak papa
kok, yang penting semuanya baik baik saja, oh ya sudah pada makan apa belum
ini?” tanya Nisa mencoba mengalihkan pembicaraan,”pastinya belum kan? Ya sudah
kalau gitu Nisa ganti baju dulu ya? setelah itu kita makan bersama”. Gadis itu
tersenyum kemudian melangkah pergi menuju rumahnya yang letaknya 5 rumah dari
bengkel.
Para
karyawan saling melempar pandang mereka begitu salut dengan Nisa, gadis itu
masih
terlihat
tegar dengan beban berat yang dia alami saat ini,meskipun gadis itu masih
berusia 18 tahun namun pemikirannya sangat dewasa, tak pernah mengeluh dan tak
pernah menyusahkan orang lain.
“beruntungnya
pak tono memiliki putri seperti Nisa” ucap Ali salah satu pegawai bengkel.
“Bukan pak
tono yang beruntung, tapi suaminya kelak,” sahut Darmo menimpali ucapan Ali,
Ali menatap
heran kearah Pak Darmo “ kenapa bisa suaminya yang beruntung lek?”
“hahaha kau
masih belum paham?” Ucap Darmo merangkul pundak Ali “besok kau akan tahu
jawabannya”.
__ADS_1