KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
06


__ADS_3

“Gue jahat?”


ucapnya menatap kearah Nisa yang menangis membenamkan wajah diantara kedua


lututnya, “Lo yang mulai duluan”.


“laki laki


memang selalu seenaknya sendiri, berbuat semaunya, tak pernah memikirkan


perasaan kami perempuan”. Nisa mendongakan wajahnya.


“Perempuannlah


yang kejam, kau tau kau yang menggodaku, kucing


Kalau diberi


ikan asin pasti akan memakannya”. Reyvan berbalik menghadap gadis yang sedang


menyeka air matanya. Reyvan sengaja memancing emosi Nisa, membuat gadis itu


mengomel adalah hal yang membahagiakan baginya.


Mata Nisa


membulat “Lo nyamain gue sama ikan asin?”. “Lo! Yang nyari kesempatan dalam


kesempitan?”, ucap Nisa memalingkan wajahnya.


“Lo yang


murahan”, “Lo yang nyamperin gue, menggoda gue dengan tatapan menjijikan” cibir


Reyvan menceoskan muka,


Nisa


menunjuk tepat didahi Reyvan,“Gue nggak murahan, Lo yang pikirannya terlalu


kotor, lo harus tanggung jawab”.


“Tanggung


jawab???, buat apa?”


“Cih, dasar,


kalau gue hamil gimana?”


Hamil?apa gadis ini bodoh?gimana ceritanya hanya


dicium bisa hamil? Reyvan sedang menahan tawanya.“Gue bakal nikahin lo”.


“Nikah? Nggak!


Gue nggak mau! Gue masih pengen sekolah”


“Ckckckck


dasar bocil, besok gue bakal nemuin orang tua Lo, Gue bakal nikahin Lo”.


Nisa


menggelengkan kepala “Lo bener bener gila”.


Ni bocah polos atau bodoh? Atau jangan jangan dia


nggak pernah pacaran?.“Kalau begitu, kalo lo hamil, itu berarti bukan anak gue?”,


Nisa


bersilang dada,“Bukan anak Lo? Hey... gue nggak pernah ngelakuin itu selain


sama lo”


Ya Allah ni bocah, gayanya aja bar bar ternyata dia


bener bener polos. “Kalau


begitu biarin gue tanggung jawab”. Reyvan menatap lekat manik mata Nisa.”TERSERAH”


Nisa memutar bola matanya jengah.


***


“Mana yang


harus gue tanda tanganin?” ucap Reyvan membenarkan posisi duduknya, kini dia


sedang berada diruang kerjanya bersama dengan Ivan,


“Ini bos”,


Ivan menggeser dokumen yang tadi dia siapkan diatas meja kearah Reyvan.

__ADS_1


“Ada kabar


apa hari ini?” tanya Reyvan tangannya meraih dokumen kemudan memerikasanya,  “oh ya soal kafe, apa sudah beres?”. Lanjutnya


menurunkan dokumen yang tadi dia baca.


“Sudah Bos,


tinggal finishing aja”.


“Ok kerja


bagus” meletakkan kedua tangannya di atas meja, ”Oh ya gue mau lo nyari semua


informasi tentang gadis kecil itu?”.


“Gadis


kecil? Oh... yang tadi bersama bos? Sepertinya bos menyukainya”, tebak Ivan.


“Cih, lo


tau? Kedatanganmu menganggu kesenanganku”, Reyvan mecibikan mulutnya kesal.


“Maafkan


saya bos, saya melihat pintu kamar bos terbuka, saya kira bos sedang bersantai


sendirian”. Terang Ivan,


“Sudahlah,


lupakan, gue minta semua informasi tentangnya harus ada saat gue membuka mata


esok hari! Paham ?” Titah Reyvan menatap Ivan serius.


“Baik Bos?” ah syukurlah bos bisa membuka hatinya. Batin Ivan


“Apa lo udah


bosen kerja?” tanya Reyvan menyelidik, menatap Ivan yang tak kunjung beranjak


dari ruang kerjanya.


“Ah maaf


bos” Ivan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jujur dalam hatinya ia merasa


bahagia, melihat Reyvan bisa kembali menerima kehadiran wanita dihidupnya.


Ngapain masih disini? Gue masih banyak urusan”, Reyvan menggertak Ivan yang tak


kunjung meninggalkan ruangannya


“Heeee sory


bos, saya pamit” Ivan membungkukan badan kemudian berbalik badan,


“Dari tadi


napa?” omel Reyvan, menatap Ivan yang berjalan memungunginya.


Di tempat


lain Nisa sedang menunggu ojek online yang dia pesan 5 menit yang lalu, gadis


itu terlihat gusar, sebelumnya dia menerima telpon dari Fahmi yang mengabarkan


kalau rentenir menagih hutang dibengkelnya, orang tua Nisa memiliki hutang


sebesar 100 juta yang digunakan sebagai biaya operasi neneknya yang terkena


penyakit jantung. Kalau saja saat itu keadaan neneknya tidak kritis dan dokter


tidak memaksa untuk segera dilakukan operasi, tentu ayahnya tidak akan


berurusan dengan rentenir.


“Mb Nisa


ya?” tanya tukang ojol  yang menghampiri


Nisa yang sedang berdiri di pinggir jalan.


“Iya pak” sahut


Nisa menghampiri tukang ojol tersebut.


“Sesuai


aplikasi ya mbak alamatnya?” lanjut tukang ojol itu sambil memperlihatkan layar


hpnya.


"Iya

__ADS_1


pak jalan Agus Salim,” ucap Nisa membenarkan, kemudian tangannya dengan reflek


menerima kemudian memakai helm yang tukang ojol itu berikan. Di sepanjang jalan


Nisa tampak cemas memikirkan nasib para pegawai bengkelnya.


Sesampainya


di depan bengkel Nisa segera turun dan tak lupa membayar tagihan ojeknya.


Setelah itu dia segera berlari kecil menuju kedalam bengkelnya


“Assalammu’alaikum”


Nisa mengucap salam


“Wa”alaikum


salam” secara serempak karyawannya menjawab salam yang Nisa ucapkan.


“alhamdulillah


dek kamu udah pulang” sahut Fahmi menhampiri Nisa, “Huh rentenir itu menagih


tanpa ampun dek, mereka mngobrak abrik bengkel” Fahmi menghela nafas “mereka


memaksa agar kita membayar bunga untuk bulan ini, aku nggak punya pilihan lain


dek semua uang hasil penjualan onderdil dan ongkos servis 1 minggu ini terpaksa


aku berikan pada mereka, mereka mengancam akan menghabisi kami, jika tak


memberi mereka uang sepeserpun”.


Nisa


menghela nafas panjang setelah mendengarkan semua keluh kesah fahmi “maaf ya


mas, aku udah buat mas dan lainnya terancam”. Nisa menatap satu persatu karyawannya.


“nggak papa


dek, kami yang minta maaf nggak bisa bantu apa apa” ucap Pak Darmo salah satu


karyawan tertua di bengkel.


“Iya dek”


“iya” sahut


karyawan yang lainnya.


“nggak papa


kok, yang penting semuanya baik baik saja, oh ya sudah pada makan apa belum


ini?” tanya Nisa mencoba mengalihkan pembicaraan,”pastinya belum kan? Ya sudah


kalau gitu Nisa ganti baju dulu ya? setelah itu kita makan bersama”. Gadis itu


tersenyum kemudian melangkah pergi menuju rumahnya yang letaknya 5 rumah dari


bengkel.


Para


karyawan saling melempar pandang mereka begitu salut dengan Nisa, gadis itu


masih


terlihat


tegar dengan beban berat yang dia alami saat ini,meskipun gadis itu masih


berusia 18 tahun namun pemikirannya sangat dewasa, tak pernah mengeluh dan tak


pernah menyusahkan orang lain.


“beruntungnya


pak tono memiliki putri seperti Nisa” ucap Ali salah satu pegawai bengkel.


“Bukan pak


tono yang beruntung, tapi suaminya kelak,” sahut Darmo menimpali ucapan Ali,


Ali menatap


heran kearah Pak Darmo “ kenapa bisa suaminya yang beruntung lek?”


“hahaha kau


masih belum paham?” Ucap Darmo merangkul pundak Ali “besok kau akan tahu


jawabannya”.

__ADS_1


__ADS_2