
Kasih tersenyum dan menjawab, "Selamat pagi juga Dika."
"Kasih makai parfum yang elo beliin kemarin lho Dik." lapor Ria lengkap dengan senyum menggodanya.
Dari bawah meja yang mereka tempati Kasih menendang kaki Ria, Ria tahu sahabatnya itu malu karna dia telah melaporkan tentang dirinya yang menggunakan parfum yang dibelikan oleh Dika, dan bukannya berhenti, Ria malah semakin senang menggoda Kasih dengan melanjutkan kalimatnya yang belum kelar, "Dan Kasih bilang kalau dia sangat suka lho aroma parfumnya, katanya lo pinter milihnya."
"Ohh ya, benarkah." mata Dika terlihat berbinar saat mendengar pengakuan tersebut dari Ria.
"Ehh iya." jawab Kasih salting, padahalkan dia tidak bilang begitu, Ria memang terlalu melebih-lebihkan.
Dika tersenyum puas karna mengetahui kalau Kasih memakai parfum yang dia belikan, "Kalau lo suka, ntar kapan-kapan gue beliin lagi buat lo Kas."
Kasih buru-buru menolak, "Ehh jangan Dika, gak usah, hehe."
"Kalau Dika mau beliin elo ya gak usah ditolak donk Kasih, ya gak Dika."
"Iya Kasih, gue suka kok kalau lo menghargai pemberian gue, jadi gue harap, lo jangan sungkan ya sama gue."
"Iya Dika, terimakasih sebelumnya, tapi beneran deh gak parlu."
Disaat seperti itulah Romeo datang, tuh anak langsung menghampiri meja Kasih dan menyapa, "Hai semuanya, pada ngumpul nieh ceritanya." dengan senyum ceria dan super manisnya yang dia pamerkan, dan hal itu membuat Ria yang memang sejak awal menyukai Romeo makin klepek-klepek dibuatnya.
"Pagi Romeo." Ria yang membalas, "Iya nieh, kami lagi membahas tentang parfum."
"Parfum." ulang Romeo heran, "Ada apa dengan parfum." keponya.
"Kasih." Ria melirik ke arah Kasih yang duduk disampingnya, "Dia dibeliin parfum sama Dika."
"Ohh." Romeo membulatkan bibirnya tidak antusias, "Ohh ya Kasih, ini buat elo." Romeo memberikan setangkai mawar merah yang sejak tadi dipegangnya sama Kasih.
Kasih mengambil bunga pemberian Romeo tersebut lengkap dengan ekpresi bingungnya, "Kenapa lo ngasih gue bunga, dalam rangka apaan nieh." tanyanya.
Dika tidak suka melihat hal tersebut, Ria juga begitu, tapi rasa tidak suka mereka tentu saja hanya bisa dipendam dalam hati saja.
"Gak dalam rangka apa-apa, tadi dilampu merah, ada ibu-ibu yang jual bunga, ya gue beli saja, kan kasihan ibunya, dan karna gak tahu mau ngasih siapa, makanya gue kasihin ke elo." jawab Romeo apa adanya tanpa melihat ekpresi Dika dan Ria.
"Ada gue Romeo, kenapa gak kasihin ke gue saja, kenapa Kasih sieh yang lo kasih, lo gak lihat apa mata gue menampakkan rasa suka yang kentara sama lo." kata-kata yang hanya bisa Ria teriakkan dalam hati.
"Ohh, gue fikir lo lagi ulang tahun." ujar Kasih sambil mencium bunga tersebut.
"Ohh ya satu lagi nieh Kas." Romeo kemudian membuka resleting tasnya dan mengeluarkan sebuah buku dari sana dan mengulurkannya pada Kasih, "Niehh."
Kasih mengambil tuh buku dan membaca sampulnya yang ternyata adalah kumpulan cara membuat kue, sebelum Kasih membuka bibirnya, Romeo lebih dulu berkata, "Tuh buku bukan untuk lo, itu untuk tante."
__ADS_1
"Ohh untuk mami."
"Hmmm."
"Ntar kapan-kapan gue ke rumah lo lagi, bantuin tante bikin kue lagi."
"Hmmm." Kasih hanya menjawab hmm hmmm doank.
"Lo ke rumahnya Kasih Rom." Dika bertanya.
"Iya, karna gak tahu harus kemana, makanya gue kefikiran untuk ke rumahnya Kasih dan sekalian bantuin ibunya Kasih bikin kue, sayangnya kuenya gosong." Romeo terkekeh mengingat kejadian kemarin.
"Jadi lo bisa bikin kue juga Rom, mau donk diajarin." sela Ria, dan dia sangat berharap kalau Romeo mengiyakan keinginannya.
"Mana bisa gue bikin kue Ria, hanya bantu ibunya Kasih doank kok."
"Lo dekat ya dengan keluarganya Kasih." Dika tidak bisa menyembunyikan keketusan dalam suaranya saat mengatakan hal tersebut, namun sepertinya, Romeo yang saat ini suasana hatinya tengah cerah secerah mentari dipagi hari itu tidak menyadari akan hal itu.
"Cuma sama tante Mira doank sieh, kalau om Yahya dan bang Taran sieh gak terlalu."
Dika iri, dia juga ingin mengenal keluarga Kasih lebih jauh, karna biar bagaimanapun, dia menyukai Kasih, dan dia juga seharusnya mengambil hati keluarganya Kasih, tapi sebelum itu, tentunya dia juga harus mengambil hati Kasih terlebih dahulu.
Dan suara bell masuk mengintrupsi obrolan keempat remaja tersebut.
"Ehh, Kas Kas Kas." Romeo memanggil Kasih yang kebetulan baru dari toilet setelah tadi mengisi perutnya dikantin.
Mendengar suara Romeo yang memanggilnya membuat Kasih otomatis menoleh, dan tampaklah Romeo berjalan ke arahnya, cowok remaja itu tampak kepayahan membawa setumpuk diktat dengan kedua tangannya.
"Apaan Rom." tanya Kasih saat Romeo sudah berada didekatnya.
"Bantuin donk."
"Maksud lo bantuin bawa tuh diktat."
"Iya, ini semua mau difoto kopi, ini sebagai hukuman dari ibu Ida karna gue gak ngerjain tugas ekonomi."
"Dihhh, ogah." tolak Kasih mentah-mentah tanpa disortir, "Itukan hukuman untuk lo, jangan bebanin dosa lo juga donk ke gue."
"Ya Tuhan Kasih, gitu amet deh lo sama teman sendiri, bantuin napa, membantu teman itu dapat pahala lho."
"Apaan deh Romeo, jangan bawa-bawa pahala deh ihhh, bikin gue gak tega saja nolaknya."
"Makanya bantuin Kasih, berat lho ini."
__ADS_1
"Hmmm." Kasih mendengus, namun dia mengambil sebagian dari tumpukan diktat yang ada ditangan Romeo.
Melihat hal tersebut membuat Romeo tersenyum puas karna bebannya sedikit berkurang.
"Yukkk." ajaknya.
Mereka berdua berjalan menuju ruang kopsis dimana disana tersedia jasa foto kopian.
Setibanya dikopsis, Romeo dan Kasih meletakkan tuh diktat diatas meja dan meminta penjaga kopsis yaitu ibu Suswita untuk memfoto kopi diktat-diktat tersebut sesuai dengan perintah ibu Ida.
"Bu, tolong difoto kopi ya."
"Aduhh, maaf ya, mesin fotokopinya lagi rusak tuh, saya sudah panggil tukang servis sieh, tapi belum datang-datang tukang servisnya." ucap ibu Suswita terlihat menyesal dengan keadaan tersebut.
"Yahh, harus fotokopi dimana nieh."
"Kalian fotokopinya didepan sekolah saja."
"Ayok Kas." ujar Romeo.
"Ahh gak deh Rom, lo saja, gue capek nieh."
"Ntar gue traktir elo deh didepan."
"Gue udah makan, jadi gak tertarik."
"Ntar gue beliin albumnya BTS."
Janji yang dikeluarkan oleh Romeo tersebut langsung dah tuh membuat Kasih mode on, gadis remaja itu langsung bangkit dari duduknya, "Beneran."
"Iya."
"Tapi itu mahal lho."
"Demi lo, akan gue beliin deh, tapi, lo harus bantuin gue dulu bawa-bawa nieh diktat kedepan."
"Oke siap, semaunya gue yang bawa juga gak apa-apa." sekarang Kasih begitu bersemangat setelah diiming-imingi dengan albumnya BTS, memang ya, banyak para remaja yang mengidolakan boyband asal Korea Selatan tersebut.
Romeo hanya tersenyum simpul, dalam hati berkata, "Iming-imingi saja dia tentang BTS, nieh anak langsung semangat membantu."
Bahkan saking semangatnya, Kasih berjalan cepat didepan, dia bahkan dengan tidak sabar berkata, "Ayok cepetan etdahh, lo lelet amet deh jalannya."
"Iya sabar, pelan saja kenapa sieh."
__ADS_1
****