
"Tuhkan, gara-gara elo Dika gak jadi ngomong sama gue." ketus Kasih begitu Dika sudah tidak kelihatan.
"Emang mau ngomong apa sieh dia." balas Romeo santai tanpa beban.
"Ya mana gue tahu, elonyakan keburu datang sebelum Dika sempat ngomong." Kasih benar-benar dibuat kesal deh dengan Romeo sehingga bawaannya pengen marah terus.
"Ya tinggal ngomong ajakan apa susahnya sieh."
"Ya Dika gak mau ngomong karna ada elo tolol."
"Terus kenapa kalau ada gue."
"Isss, sialan, kok lo gak ngerti-ngerti juga sieh, dasar bebal, ya mana mungkinlah Dika ngomong, orang dia mau ngomongin hal yang penting."
"Elahh santai aja kali neng, jangan ngegas gitu, tuh air liur sampai muncrat kayak air mancur." ledek Romeo yang membuat Kasih mendelik saking kesalnya.
"Lagian kalau mau ngomong kenapa gak ngomong aja coba, guekan orangnya bisa jaga rahasia, jadi dia gak perlu takut gue bakalan ngember."
Wajah Kasih bertambah asam deh tuh mendengar kata-kata Romeo yang seperti orang yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Apa dia mau nembak lo ya." duga Romeo dan dugaan Romeo memang 100% benar.
"Mungkin." jawab Kasih lemah.
"Bukannya Dika sudah dijodohkan."
"Iya."
"Terus."
"Terus apa."
"Ya tanggapan lo gimana."
"Tentang apa."
"Ya kalau Dika nembak lo, lo jawab apa." Romeo memperjelas maksudnya, "Gak mungkin lo nerima diakan, gak mungkinkan lo ngerebut dia dari sik Arin yang sudah dijodohkan dengan Dikakan."
"Hmmm." Kasih mendesah berat, "Gue juga gak tahu."
"Lho, kok bisa gak tahu sieh." cecar Romeo.
"Sudah ahkk, gue gak mau bahas hal beginian, lagian juga belum tentu jugakan Dika mau nembak gue."
"Kalau memang beneran Dika nembak lo gimana, lo jawab apa coba." ternyata Romeo masih tidak melepaskan topik tersebut.
"Sudah gue bilang jangan bahas hal ini, saat ini gue lagi gak mau mikir tentang hal-hal begituan." tandas Kasih, "Lagian kenapa lo jadi cerewet begini sieh Rom, bukannya lo lagi marah sama gue."
"Gue marah sama lo." Romeo jadi heran sendiri mendengar kata-kata Kasih, "Kapan gue marah sama lo."
__ADS_1
"Bukannya tadi pagi lo marah-marah saat gue ajak ngomong, emang itu bukan yang namanya marah." dengan gregetan Kasih mengingatkan akan perihal tadi pagi.
"Ohh itu, gue cuma lagi PMS aja Kas, lo tahu sendirikan kalau lagi PMS, bawaannya pengen marah mulu gitu."
Jawaban Romeo diluar prediksi BMKG tersebut berhasil membuat Kasih yang tadinya berwajah asam itu tertawa ngakak, "Hahahaa." Kasih tertawa sambil memegang perutnya.
Melihat Kasih yang tertawa membuat Romeo ikutan tertawa, dua remaja itu kini tertawa bersama untuk beberapa saat.
"Duhh, sakit perut gue." gumam Kasih.
"Nahh gitu donk ketawa, jangan asam mulu tuh wajah neng, gak enak tahu dilihat." komen Romeo.
"Wajah gue asamkan gara-gara elo juga." Kasih balik menyalahkan.
"Ya bukan salah gue doank kalau gue tiba-tiba nongol disini, inikan masih area sekolah, dan semua murid SMA PERTIWI berhak untuk datang kemari." Romeo menolak untuk disalahkan, "Lagian Dika gak modal banget nembaknya, masak nembaknya disekolah, dia harusnya membuat kesan yang indah donk dengan menembak elo ditempat romantis, dimenara eifel contohnya."
Kasih mendelik, "Jangan ngaur lo kalau ngomong."
"Seriusan, kalau gue nieh ya, gue pasti bakalan nembak wanita yang gue sukai ditempat romantis, bukan disekolahan kayak gini, momen-momen indah seperti itukan harus berkesan dan membekas."
"Ohh ya, dulu lo nembak mantan lo yang waktu itu mencari lo dimana, di maldive atau Italia."
"Gue gak mau mengingat hal tersebut." sepertinya Romeo memang benar-benar sudah move on sehingga dia ogah mengingat saat dulu dia menyatakan perasaannya sama Nayla.
"Dulu cinta, sekarang gak mau diingat."
"Sudah cukup, jangan bahas masa lalu gue Kasih."
"Tapi nanti, kalau elo ya, gue bakalan nembak lo dibawah menara eifell Kas."
"Hahaha." Kasih tertawa, ya tertawalah dia, baginya lawakan Romeo terlalu berlebihan, "Bercanda lo gak lucu Rom."
"Kalau gue serius gimana."
"Hmmm." Kasih tampak berfikir, dia memang masih menganggap Romeo tengah bercanda, "Kalau lo membelikan gue tiket ke Paris dan beneran nembak gue dibawah menara eifell seperti yang lo katakan, tentunya gue mau donk." Kasih memberikan jawaban bercanda juga.
"Oke, lo udah berjanji yang bakalan nerima gue kalau gue nembak lo dibawah menara eifell."
"Iya." jawab Kasih, dia tidak menganggap serius apa yang dikatakan oleh Romeo, dia sangat yakin kalau Romeo bercanda.
"Jadi, saat sik Dika nembak lo, lo wajib hukumnya untuk nolak dia."
"Ehh."
"Iya kalau lo nerima Dika ya gak mungkin donk Kasih kalau gue nembak lo."
"Iya insaallah." jawab Kasih dengan suara mendesis.
"Oke, gue pegang ya janji lo."
__ADS_1
"Lha, emang lo serius gitu mau nembak gue."
"Sepertinya iya."
"Duhh, jangan bikin geli gini donk Rom, elahh, lo ada-ada saja." Kasih terkekeh.
"Gue...."
"Kasihhh." Romeo terpaksa menghentikan ucapannya saat sebuah suara terdengar memanggil Kasih, dan reflek Romeo dan Kasih barengan menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah Ria yang datang menyusul Kasih begitu dilihatnya Dika sudah duluan kembali.
"Romeo, dia ngapain disini bersama Kasih." Ria bertanya dalam hati sembari melangkahkan kakinya mendekati Kasih dan Romeo yang saat ini berdiri berhadapan.
"Ada apa Ri." Kasih bertanya saat Ria sudah berada didekatnya.
"Mmm, gak ada sieh, tadi gue lihat Dika sudah kembali ke kelas, dan lonya belum, makanya gue berniat nyusulin elo kemari."
"Ohh, gue fikir gue dicariin guru sehingga lo sampai nyusul gue."
"Lo gak sepenting itu kali sampai dicari."
"Iya benar juga."
"Dika ngomong apa sama lo."
"Gak sempet ngomong dia, keburu pengganggu ini datang." Kasih mengedikkan dagunya ke arah Romeo.
"Pantas saja wajah Dika terlihat bete."
"Lo juga jadi pengganggu Ri." sela Romeo.
Kasih dan Ria dengan cepat menoleh ke arah Romeo untuk mencaritahu maksud cowok tersebut.
"Elahh, tegang amet wajah lo berdua, bercanda gue." Romeo nyengir.
"Ishh dasar sialan lo Rom." Kasih memukul lengan Romeo pelan.
*****
Saat jam sekolah berakhir, Romeo mendapat notifikasi pesan dari adiknya yang berbunyi.
Juliet : Kak Romeo, aku ada didepan sekolah kakak sekarang
"Juliet, ngapain dia kesekolahku." batinnya bertanya, Romeo bergegas membereskan alat-alat tulisnya dan langsung ngacir keluar untuk menemui sang adik.
Saat keluar dari gerbang sekolah, Romeo melihat adiknya yang tengah berdiri dengan bersandar pada mobil berwarna hitam melambai ke arahnya, gadis remaja itu tersenyum lebar saat melihat kakaknya.
"Kak Romeooo." teriaknya antusias.
Romeo balas tersenyum dan berjalan mendekat, namun Romeo menghentikan langkahnya saat melihat wanita cantik berambut panjang keluar dari pintu mobil, dan wanita cantik itu adalah mamanya sendiri, mama Indah, tadi Romeo fikir adiknya datang diantar oleh sopir, tahunya sang adik ternyata datang menemuinya bersama dengan mama mereka.
__ADS_1
****