KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
Bab 37


__ADS_3

Perlahan Kasih membuka mata, hal pertama yang ia lihat yaitu Putra. Putra dengan setianya berada di sampingnya sambil menggenggam tangannya. "Put." Panggil Kasih.


"Lu udah sadar Kas. Mana yang sakit? Apa perlu gue bawa lu ke rumah sakit?" Ucap Putra yang begitu sangat mengkhawatirkan Kasih. Ya, Kasih memang sudah sadar, namun wajahnya masih terlihat sangat pucat.


"Tolong, panggilin gue Citra." Kata Kasih, dan dengan cepat Putra keluar memanggil Citra yang memang sejak tadi menunggu di depan ruang uks.


Citra langsung masuk ke dalam dan di susul oleh Dito.


"Kas, lu ngak papa kan?" Tanya Citra sambil meletakkan telapak tangannya di jidat Kasih.


"Kas.." Ucap Dito yang juga merasa khawatir. Karena semenjak mengenal Kasih, sudah sering Dito melihat Kasih pingsang. "Lu ngak punya penyakin kan?" Timpal Dito, membuat Citra menatap ke arah Dito, sedangkan Kasih dia kaget mendengar ucapan Dito.


Putra hanya diam berdiri di bawah kaki Kasih.

__ADS_1


"Gue pengen cuman berdua aja ama Citra." Kata Kasih setelah cukup lama terdiam.


"Tapi Kas." Ucap Putra dan Dito serentak. Mereka tidak ingin keluar karena ingin menjaga Kasih sampai Kasih merasa baikan.


"Ini keputusan Kasih, gue harap lu semua pada mengerti." Kata Citra, membuat kedua pria itu saling diam dan memutuskan untuk keluar demi menjaga perasaan Kasih. Toh, bagi putra dan Dito, ada Citra yang bisa menjaga Kasih selama mereka berada di luar menunggu Kasih.


Saat keduanya pria iti tersebut keluar, Citra langsung meraih kursi dan duduk tepat di samping brangkar tempat Kasih berbaring. Citra tahu, jika pasti ada sesuatu hal yang akan di katakan oleh Kasih.


"Kas, lu baik-baik aja kan? Ayo ngomong Kas."


"Kasih milik gue. Jadi jangan harap lu bisa ngambil dia dari gue." Kata Dito dengan tegas memberitahukan pasa Putra, agar Putra tidak lagi mengganggu dan menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya. Namun Putra tidak menjawab ia hanya tersenyum tipis mendengar ucapan sepupunya itu.


"Gue peringatin sama lu, jangan deketin Kasih lagi." Timpal Dito kemudian, sehingga Putra menoleh ke arah Dito.

__ADS_1


"Biar Kasih yang nentuin dia pilih gue apa lu."


"Okey, kita bersaing sehat, gue ngak mau lu curang dan gue juga ngak mau lu jahatin Kasih. Mulai sekarang kita biarin Kasih yang nentuin dia mau jalan sama siapa." Dito memperjelas semuanya agar Putra tidak lagi mengintimidasi siswa-siswi untuk memberikan pelajaran pada Kasih. Dan juga untuk agar Putra bisa tahu posisinya jika Kasih tidak akan mungkin jatuh cinta dengannya. Ya, Dito percaya kalau dirinya pasti yang akan menjadi pemenang, dan Kasih tidak akan mungkin memilih Putra mengingat Putra selalu berlaku seenaknya pada Kasih.


"Atur semau lu aja. Asal lu jangan nangis kalau Kasih cinta sama gue." Kata Putra lalu pergi dari sana. Putra tidak ingin lagi berdebat dengan sepupunya itu.


•••


"Kas, lu baik-baik aja kan? Ayo ngomong Kas."


"Cit. Gue ngak baik-baik aja. Kondisi gue semakin menurun. Tolong ambilin gue obat di dalam tas." Tanpa menunggu waktu lebih lama Citra berlari keluar dari ruang uks, dan saat berada di depan pintu, Citra mengatakan pada Dito agar tidak masuk ke dalam. Karena Kasih ingin menenangkan diri seorang diri. Dan beberapa saat kemudian Citra kembali datang dengan membawa tas Kasih yang berisikan obat yang selalu Kasih minum jika merasa pusing. Dengan cepat Citra memberikan obat kepada Kasih.


"Gue tanya ibu yah. Biar ibu bisa jagain kamu."

__ADS_1


"Ngak Cit. Ngak usah. Aku ngak mau buat ibu repot." Tolak Kasih.


Dan tanpa sepengetahuan Citra ternyata Putra melihat Citra yang berlari sambil membawa tas sekolah Kasih.


__ADS_2