
"Kasihhhhh, Kasihhh." ibu Mira berteriak memanggil putrinya yang sudah beranjak akan pergi ke sekolah.
Kasih yang saat ini tengah buru-buru karna mengejar sang kakak karna minta diantar ke sekolah terpaksa mengerem langkahnya dan berbalik sambil ngedumel, "Apa sieh mi, Kasih buru-buru nieh."
"Ini lho." ibu Mira mengangkat kotak bekal yang ada ditangannya, "Ibu hampir lupa."
"Kasih gak mau bawa bekal ma."
"Ini bukan untuk kamu Kasih." jelas ibu Mira, "Ini untuk Romeo."
"Untuk Romeo." ulang Kasih tidak percaya, ternyata ibunya sesayang itu sama Romeo, buktinya, Romeo dibuatin bekal segala, sementara dia yang anak kandungnya sama sekali tidak dibuatkan bekal.
"Iya, ini sebagai tanda terimakasih ibu karna anak baik itu memberikan resep kue untuk ibu." beritahu ibu Mira dengan bibir tersenyum, "Ini bolu pandan yang ibu bikin semalam."
"Ohh ya, Kasih kok tidak tahu kalau mama bikin kue."
"Ya bagaimana kamu bisa tahu kalau kamu semalam langsung tidur setelah makan malam."
"Terus untuk Kasih masih disisainkan kuenya mi."
Ibu Mira nyengir, "Sudah habis Kasih." lisannya merasa bersalah, namun sedetik kemudian dia malah menyalahkan Kasih, "Salah kamu sendiri semalam kamu tidur, ya kuenya dihabiskan oleh ayah dan abang kamu, untungnya ibu sudah lebih dulu menyisihkan untuk Romeo."
Kasih hanya bisa mendesah berat melihat sang mama yang lebih mementingkan anak orang lain ketimbang dirinya.
"Nahh ini." ibu Mira menjejalkan taperware tersebut ditangan putrinya, "Tolong dikasihin ke Romeonya ya, dan jangan lupa bilang terimakasih gitu."
"Hmmm." dengus Kasih berbalik dan keluar, dan begitu dia tiba diluar, ternyata abangnya sudah berangkat, hal ini membuat Kasih menyalahkan ibunya karna menahannya barusan, "Yahhh, bang Taran sudah berangkat lagi, ini gara-gara mami sieh ahhh." keluhnya kesal, "Terpaksa deh gue harus naik angkot."
Saat Kasih berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot, sebuah motor melaju ke arahnya, dan tidak perlu bertanya siapa sik pengendara karna Kasih sudah sangat mengenal sik pengendara beserta dengan motor-motornya itu, siapa lagi kalau bukan sik Romeo, beberapa hari ini sudah beberapa kali Romeo mengantar jemputnya.
Dan motor yang ditunggangi oleh Romeo tepat berhenti didekat Kasih, cowok remaja berperawakan jangkung itu menaikkan kaca helm fullfacenya dan menyapa Kasih, "Pagi Kasih."
"Gue udah tahu kali kalau ini pagi." balas Kasih asam.
__ADS_1
"Aduhh, lo kenapa Kas, kok pagi-pagi udah jutek aja lo."
Kasih bukannya menjawab, dia malah menyodorkan taperware berisi kue dari ibunya kepada Romeo, "Niehh buat lo."
"Buat gue." mata Romeo berbinar senang, "Dari ibu ya." sambil mengambil taperware tersebut dari tangan Kasih dengan penuh minat, dia akan langsung membukanya namun saat tangannya sudah akan membukanya, Kasih mencegahnya, "Ehh Rom, kalau mau makan entar aja disekolah, telat entar kita."
"Iya elo benar juga."
Romeo kembali menyerahkan tuh taperware pada Kasih, "Tolong donk masukin ke tas gue."
Kasih melakukan apa yang diperintahkan oleh Romeo dan setelah itu barulah dia naik.
Setelah Kasih duduk dengan nyaman dibelakang, barulah Romeo melajukan motornya.
"Kata mami gue, tuh kue sebagai ucapan terimakasih karna elo telah memberikannya buku resep membuat kue."
"Gitu aja pakai bilang makasih segala sik tante."
*****
Ria hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Kasih.
Gak lama setelah itu, terlihat Dika memasuki kelas, kalau biasanya hanya dengan melihat Dika saja hati Kasih berbunga-bunga, tapi tidak untuk kali ini, gadis remaja itu terlihat cembrut, pasalnya dilengan Dika melingkar sebuah tangan putih mulus milik Arin, gadis cantik yang sejak kelas 10 menyukai Dika, namun sampai detik ini Dika tidak pernah membalas perasaan Arin.
"Lepasin Rin." begitu melihat Kasih, Dika berusaha melepaskan belitan tangan Arin dilengannya, Dikakan tidak ingin kalau sampai Kasih berfikir yang tidak-tidak.
"Apaan sieh Dik, orang aku mau gandeng kamu." jawab Arin tidak tahu malu.
"Malu Rin dilihat banya orang."
"Cuek aja kali, ngapain harus malu, anggap saja mereka semua batu." ujar Arin cuek, "Lagipulakan kita sudah dijodohin."
Jderr
__ADS_1
Bagaikan bom atom yang meledak dengan dahsyat dipagi yang cerah itu, itulah yang dirasakan oleh Kasih saat mendengar apa yang dikatakan oleh Arin barusan, meskipun tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka, tapi hati Kasih sesak dan sakit mendengar fakta yang keluar dari bibir Arin.
"Apa, Dika dan Arin dijodohkan." bathin Kasih tidak terima, "Tapi kenapa gue harus sakit hati, bukannya gue dan Dika tidak ada hubungan apa-apa ya, kita hanya teman sekelas doankkan." Kasih berusaha untuk menghibur dirinya, sayangnya, rasa sesak itu ternyata tidak kunjung minggat dari hatinya.
Sementara itu, Ria yang duduk disamping sahabatnya memandang Kasih dengan prihatin, dia hanya bisa mengelus punggung Kasih hanya sekedar untuk memberi penguatan kepada sahabatnya tersebut.
"Rin, bisa gak jangan ungkit-ungkit masalah perjodohan tersebut, lagiankan kita masih SMA." Dika melirik Kasih dengan perasaan tidak enak.
"Kenapa sieh Dik kamu kok sensitif gitu saat aku ngomong tentang masalah perjodohan kita, aku saja sudah tidak sabar lho menunggu acara pertunangan kita, seenggaknyakan hal itu bisa mengikat kita."
"Apaan sieh Rin, ini tuh sekolah, tempat menuntut ilmu, jadi bisa gak gak usah bawa-bawa tentang perjodohan."
Nieh anak dua malah berdebat sehingga mereka sukses menjadi tontonan anak-anak dikelas IPS 3.
"Ihh, kamu kok gitu sieh Dik." Arin cembrut, meskipun begitu, dia tidak melepaskan tangannya dari lengan Dika.
"Rin, kamu mending ke kelas kamu gieh sana, bentar lagi bell lho." usir Dika, dia mulai risih dengan Arin.
"Anterinnnn." rengek Arin manja.
"Apa sieh Rin, gak usah manja deh." Dika kali ini sepertinya sudah kesal dengan Arin.
"Anterin Dika." Arin malah nyolot, "Ntar anak-anak cowok yang suka iseng gangguin aku lagi, merekakan gak bisa lihat cewek cantik, langsung pada keluar deh sifat tengilnya."
Agar semua urusan cepat kelar, Dika akhirnya mengiyakan, "Baiklah baiklah, ayok aku anterin."
Bibir Arin yang tadinya maju sampai dua centi kini membentuk sebuah lengkungan, "Ayokk."
Dua insan itu berjalan keluar meninggalkan kelas XI IPS 3.
"Dika sudah dijodohin Ri." Kasih mengatakan hal tersebut dengan suara lemah, suara itu sudah cukup untuk memberitahu Ria kalau sahabatnya itu tengah patah hati setelah mendengar berita tentang Dika dan Arin yang dijodohkan oleh orang tua mereka.
"Tapi Dika sepertinya gak mau Kas dijodohin sama sik Arin itu." Ria mencoba untuk menghibur sahabatnya yang tengah bergalau ria.
__ADS_1
"Tapi tetap sajakan mereka dijodohkan."
*****