
Nisa sedikit
memundurkan wajahnya, “Anggota lima monyet” jawab Nisa santai, kakinya perlahan
melangkah mundur, menatap mata Reyvan berapi api membuatnya sedikit merasa
takut, setelah dirasa ada celah Nisa segera meluncurkan aksinya “KAAABUUUUUR”
teriak Nisa.
Namun sekuat
apapun Nisa berlari, dia merasa kalau sedang berlari ditempat, nyatanya dia
sama sekali tak berpindah posisi.
“Lo mau
kemana?” tanya Reyvan, tangan kanannya memegang bagian belakang kerah baju
Nisa.
“heeee” nisa
tersenyum malu.”pulang” jawab Nisa tanpa dosa.
Reyvan
mencibikan bibirnya,”enak aja, ngatain orang sembarangan trus mau pulang gitu
aja?jangan harap”. Kini Reyvan mendapat cara agar bisa berlama lama dengan
Nisa.
Nisa memilih
memundurkan badan sebelum dia kehabisan nafas karna tercekik kerah baju yang
Reyvan tarik.“lepasin kakak yang ganteng, baik hati, dan tidak sombong”. Pinta
Nisa memelas dengan menatap Reyvan dengan tatapan menggoda.
Jantung
Reyvan dibuat berdisko saat tatapan mereka beradu,”Apa kau sedang menggodaku?”
“Siapa?aku?”
Nisa menunjuk dirinya sendiri, “kalau iya kenapa?” semakin mendekatkan wajahnya
dengan Reyvan jarak mereka kini hanya tinggal beberapa senti, bahkan keduanya
bisa merasakan nafas satu sama lain.
Reyvan
dengan berat menelan salivanya, mendapat perlakuan seperti itu dari Nisa
membuat adiknya menegang, lelaki mana yang akan tahan bila berada diposisi
Reyvan, kini justru giliran dia yang belingsetan bingung harus berbuat apa,
perlahan Reyvan berjalan mundur mencoba menghindari tatapan menggoda Nisa.
Namun
bukannya menjauh, Nisa dengan senyum menggodanya semakin mendekat kearah Reyvan
hingga dia terjatuh keatas ranjangnya sendiri. “Mau apa lo?” tanya Reyvan kebingungan,
bahkan dia merasa kalau dirinya yang terpojokan.
Gadis itu terus
saja mendekat, perlahan kakinya menaiki ranjang, membuat Reyvan semakin
ketakutan, bukannya apa Reyvan hanya takut kalau iya hilang kendali, apalagi
tatapan Nisa terus saja menggoda, “Ya Tuhan selamatkanlah Aku”.
Bukan hanya
Reyvan lelaki manapun pasti akan dibuat belingsetan menahan gairah, gadis
didepannya ini sangatlah pandai menggoda, wajahnya yang cantik bibirnya mungil
bewarna pink, kulitnya putih bersih, lelaki mana yang tak tergoda.
“Jangan
pernah menyentuh wanita yang bukan mahrammu Rey, haram”. Sepenggal kalimat
almarhum Bundanya yang selalu terngiang ditelinga Reyvan, “Bunda ampuni Aku”.
“Pergi Kau
__ADS_1
gadis keciiiilll”. Reyvan melempar guling yang ada didekatnya kearah Nisa,
namun dengan cepat Nisa berhasil berkilah,
Buakannya
pergi Nisa justru kembali merangkak semakin mendekati Reyvan, semakin dekat
semakin dekat hingga membuat Reyvan terbentur sandaran kasur, “MAU APA KAU?”
teriak Reyvan kini tubuhnya tertutup oleh bantal, Nisa menarik bantal yang
Reyvan gunakan sembagai tameng.
“AKU INGIIIINNNN?”. Ucap Nisa tepat di telinga
Reyvan, membuat pria menutup mata, tubuh
Reyvan dibuat menegang, pikirannya melayang kemana mana. Apa yang sebenarnya
gadis ini inginkan? Reyvan seperti seorang gadis yang akan dilecehkan, tunggu
dulu diakan laki laki?kenapa justru dia yang ketakutan?oh adiknya sungguh
sungguh menegang bahkan keringat mengucur menahan gejolak.
Reyvan
merasa dirinya sangat terpojok, perlakuan Nisa benar benar membuatnya
kehilangan akal, dengan mata yang tertutup dia memegangi benda pusaka miliknya,
“LEPAS!!! PERGI!! MAU APA KAU GADIS LIAR?, AKU MASIH PERJAKA?”.
“Hub Hub
Hub hahaha” taawa Nisa pecah begitu mendengar kata kata Reyvan, tawanya menjadi
jadi saat melihat Reyvan memegangi pusakanya “Apa yang kau pikirkan pria
gila?”. Nisa masih saja tertawa bahkan tawanya terdengar semakin keras hingga
sudut matanya mengeluarkan air mata.
“Buka
matamu ?” titah Nisa namun Reyvan tak merespon. “Hey kenapa kau ini? Buka
matamu” gertak Nisa namun tidak ada tanda tanda Reyvan membuka mata, dengan sigap
Nisa duduk tepat didepan Reyvan kemudian
Hey nggak mungkin dia pingsan Kini giliran Nisa yang dibuat
panik menepuk nepuk pipi Reyvan, menggoyangkan tubuhnya, namun pria itu tak
merespon, “Bagaimana ini?” gumam Nisa bersilang dada. Dengan segera Nisa meraih
tas yang tadi dia taruh diatas ranjang tepat disebelah kanan Reyvan, dia
mencoba mengambil minyak kayu kemudian berniat mengoleskannya pada Reyvan.
Tangannya dengan segera membuka tutup botol
minyak itu, menuangkannya sedikit diujung jari kemudian mendekatkannya pada
hidung Reyvan berharap setelah pria itu menghirupnya maka dia akan sadar.
“HEY
sadarlah, kumohon” Pinta Nisa dia kemudian berinisiatif mengoleskan minyak kayu
putih itu keperut Reyvan. Dengan ragu Nisa membuka perlahan kancing kemeja yang
Reyvan gunakan,
“hey
perut mu bagus juga, six pack” mentoel perut Reyvan kemudian mengolesinya
dengan minyak,“Gini kan jadi hangat” gumanya.
“Wajahnya
ganteng juga”, tak sengaja Nisa mengamati wajah Reyvan yang tampak damai
“hidungnya mancung,kek perosotan, huhm bulu matanya lentik pantes kek cewek”
Nisa terkekeh, kemudian pandangannya turun kebawah tepat dimulut Reyvan
“Bibirnya seksyh, sayang kena hipertensi marah marah mulu” Nisa mengerucutkan bibir
setelah mengatakan hal itu, karna setiap mereka bertemu Reyvan selalu marah
marah nggak jelas.
__ADS_1
Nisa
termenung sejenak menutup matanya, pikirannya sedang berpetualang entah kemana.
FUUH hembusan angin membuat Nisa membuka
mata. "Udah puas ngayalin gue?" pertanyaan Reyvan membuat Nisa
membulatkan mata, kemudian sedikit menjauhkan badannya yang condong kearah
Reyvan. "Kamu udah sadar???" Nisa tampak berfkir."Jadi dari tadi
lo nggak pingsan?" Reyvan mengangguk. "DASAR" Nisa memukul lengan
Reyvan namun tangannya terlebih dahulu dicekal oleh Reyvan.
Reyvan
menaikan dagu “Mau apa hum?” Nisa menatap mata Reyvan, saat ini dia merasa
sangat malu.
“Gue ngerti,
lo pasti malu hahaha” Reyvan menertawakan kebodohan Nisa.
Gadis itu
membuang muka,“Ngapain gue malu, lo tu yang nyalinya ciut” Reyvan mengeryitran
dahi.
“ lepas,pergi,
mau apa lo dasar gadis liar, gue masih perjaka” ejek Nisa menirukan ucapan Reyvan
dengan mencibir cibirkan mulutnya, melihat hal itu membuat Reyvan gemas, tidak
tahukah gadis itu sedari tadi Reyvan berusaha menahan diri,
“Apa?malu?ha...”
ucapan Nisa terhenti.
Cup
Dengan secepat
kilat Reyvan membungkam mulut Nisa dengan bibirnya, ********** dengan kasar bahkan
dia menarik tengkuk Nisa agar lebih leluasa, Nisa yang sudah kehabisan nafas
mendorong dada Reyvan sekuat tenaga, namun apalah daya tenaganya tak sebanding
dengan Reyvan.
“BOS”
panggil seseorang yang nyelonong masuk
tanpa permisi. Reyvan yang kaget melihat kedatangan Ivan secara tiba tiba
segera melepas panggutannya, sedang Nisa berusaha menghirup oksigen sebanyak
banyaknya sebelum dia mati karna kehabisan Nafas.
“Ma’af” ucap
Ivan membuat tubuh Nisa seketika menegang dengan berat menoleh kebelakang
mendapati Ivan sedang berdiri sambil memegangi beberapa dokumen, kini wajahnya
memerah karna marah dan menahan malu.
“Ada apa?”
tanya Reyvan tanpa beban, dia berusaha mengalihkan perhatian Ivan yang
memandang intens kearah Nisa.
“Hem, anu
bos” Ivan tampak gelagapan tertangkap basah sedang memandang Nisa. “Ada file
yang harus bos tanda tangani segera”.
“Ok,
pergilah nanti gue susul”. Ivan mengangguk kemudian pergi.
Sepeninggal Ivan,
Reyvan memiringkan badan menatap Nisa yang sedang menunduk “Mau dilanjut”,
tanya Reyvan tepat ditelinga Nisa dengan senyuman licik. Gadis itu menoleh
__ADS_1
menatap Reyvan tajam “Kau jahat” ucapnya lirih namun terdengar getir air
matanya tak kuasa dia bendung, mengalir begitu saja.