
"Maafin gue Kas, Maaf." Lirih Putra.
Kasih menangis di dalam diamnya mendengar penuturan kata maaf yang keluar dari bibir Putra, ingin sekali Kasih membalas pelukan Putra sambil berkata 'gue yang salah, bukan lu Put, bukan!' tapi Kasih pendam semuanya, Kasih tidak ingin kejadian yang lalu kembali terjadi, Kasih tidak ingin dirinya menjadi sebab alasan rumah tangga kedua orang tua Putra, maka dari itu Kasih hanya memilih diam, saat Putra memeluk tubuhnya.
Hati mana yang tak bergetae merasakan pelukan yang selama ini sangat dirindukan oleh orang yang ia cintai, namun Kasih berusaha menutup semua itu demi agar bisa menjadi kebaikan bersama.
Hingga beberapa saat kemudian Kasih berkata.
"Lepasin gue Put."
__ADS_1
"Lima menit lagi." Pinta Putra sambil terus memeluk tubuh Kasih, memeluk erat seakan tidak ingin berpisah. Ya, Kasih memberi kesempatan karena lima menit buka hal yang sulit. Dan terlebih lagi, mungkin ini pelukan yang akan di rasaka terakhir kalinya oleh Kasih, mengingat dirinya kini sedang menderita penyakit yang mematikan.
Setelah lima menit berlalu, Putra melerai pelukannya, dan menangkup kedua pipi Kasih dengan kedua tangannya. Putra menatap wajah Kasih dengan tatapan yang begitu merindukan. Sedangkan Kasih, ia mencoba mengalihkan pandangannya ke arah pantai, Kasih tidak ingin Putra melihat cinta dari dalam matanya.
"Kas, jangan pernah pergi tanpa kabar. Jangan bikin gue panik Kas." Kata Putra setelah cukup lama memandang wajah Kasih.
Kasih menoleh lalu tersenyum melihat wajah Putra,.
Kasih berjalan ke arah bibir pantai.
__ADS_1
"Jelasin, apa alasan lu ninggalin gue? Jelasin? Dan apa masalah lu, sehingga lu buat gur jadi mainan baru di sekolah lu? Jelasin?" Teriak Kasih dengan nafas yang memburu, dengan detak jantung yang berdetak dengan sangat cepat, sehingga seperti ingin keluar dari tempat semestinya ia berada.
"Kenapa? Kenapa lu diam? Ayo jawab." Kasih menoleh ke arah Putra yang kini sedang diam mematung sambil menundukkan kepalanya melihat butiran pasir. "Karena gue miskin? Iya? Gue miskin dan ngak selevel ma lu, makanya lu ninggalin gue?"
"Kas, ngak! Ngak kaya gitu." Bantah Putra dengan ucapan Kasih. Toh memang sebenarnya Putra mencintai Kasih dengan sangat tulus tanpa memandang siapa Kasih dan dari mana asal usulnya. Putra murni mencintai Kasih karena sifat yang Kasih miliki yang begitu sempurna di mata Putra.
"Cukup Put, cukup sudah. Lu dan gue, sama sekali ngak ada hubungan apapun lagi. Jadi please, jangan ganggu hidup gue lagi." Kata Kasih sambil berjalan menjauh dari Putra. Kasih berjalan dengan air mata yang jatuh menbasahi pipinya. Tidak gampang mengucapkan kata itu, tidak gampang melepas pria yang begitu kita rindukan dan kita cintai. Sangat tidak gampang. Namun Kasih harus ikhlas melepas semuanya demi kebaikan bersama. Toh Kasih juga sadar, umurnya tidak lama lagi, dan Kasih tidak ingin membuat Putra menangisi kepergiannya. Biarlah saat ini hubungan mereka benar-benar brrakhir.
Beberapa langkah Kasih berjalan menjauh tiba-tiba penglihatan Kasih mulai kabur.
__ADS_1
"Tidak! Jangan sekarang. Please, jangan sekarang." Gumam Kasih sambil membuka tutup matanya dan memegang kepalanya yang terasa amat sakit. Dan Putra yang dari arah belakang melihat Kasih yang berjalan seperti kehilangan keseimbangan. Dan untuk saja, Putra dengan sigap berlari ke arah Kasih, dan Kasih pun jatuh pingsan di dalam pelukan Putra.