KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
04. ALIM


__ADS_3

“Wow amazing”.  Nisa merasa takjub dengan apa


yang ia lihat saat ini,saat pertama kali memasuki kawasan asrama, Matanya takberhenti mengedarkan pandangan keseluruh asrama. Bagaimana tidak, jika asrama pada umumnya penghuninya menempati kamar yang berjajar bagaikan rumah susun,namun berbeda dengan asrama ini, setiap penghuninya menempati kamar layaknya


kamar hotel dengan fasilitas lengkap seperti food court, gym, kolam renang, dangazebo  dibeberapa titik. Jika orang awammemasuki asrama ini pasti akan mengira jika ini Hotel bintang 5.


Nisa perlahan menyusuri koridor asrama, dia tampak bingung menoleh kekanan kekiri celingukan mencari dimana pria menyebalkan itu, “gimana ini?” gumam Nisa yang nampak gusar mondar mandir sambil menenteng handphonenya; “Oh ya **** ****,ngapain nggak gue telpon aja”.


Baru saja Nisa akan menelfon hpnya telah berdering duluan


“Hallo?...”  Nisa mengangkat telfonnya.


“Lo jalan apa ngesot sih?”. Kesal suara diseberang yang dapat dipastikan kalau itu adalah pria yang Nisa cari.


“NGESOT!”.jawab nisa kesal. “gue udah sampai, tapi gue nggak ngerti tempat lo dimana?”


“Udah sekarang lo tinggal naik aja kelift, ruangan gue dilantai paling atas, gue tunggu didepan ruangan gue, 3 menit nggak sampai, gue share vidio kita”. Ucap Reyvan.


“T-api....”


“Dimulai dari sekarang”. Reyvan menutup sambungan telfonnya,


“SIAALLL!”ucap Nisa geram, kemudian dia segera mencari dimana letak  lift berada, setelah menemukannya Nisa segera masuk dan memencet tombol paling atas “lantai 5” gumamnya, “sial gue dikerjain”umpat Nisa, ingin rasanya membanting Hp yang ia pegang.


Tak lama kemudian pintu lift terbuka, pertanda kalau Nisa telah sampai pada lantai dimana pria itu berada,Nisa segera melangkah keluar lift, namun dia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri didepan lift tepat saat pintu  lift terbuka.


Pria itu berdiri mematung sambil bersilang dada.”hehm 2 menit 59 detik”. Ucapnya sambil


menatap jam yang melekat di pergelangan tangannya, sukses membuat mulut Nisa menganga dengan apa yang diucapkan Reyvan “Dasar edan”.


“Ikut gue”. Titah reyvan saat membalikkan badan, kemudian berjalan menuju ruangannya.Nisa hanya mengangguk mengikuti kemana Reyvan melangkah.


Nisa yang emosinya telah sampai dipuncak ubun ubun dibuat takjub saat memasuki


ruangan yang dia yakini merupakan ruangan pria edan itu. Ruangan itu sangat indah dengan desain interior bernuansa monokrom.khas para pria.


“Gue mau lo bersihin ruangan gue, setelah itu lo boleh pulang”. Ucap Reyvan setelah duduk di kursi kebesarannya. Namun Nisa tak menggubris,“Hey, lo denger nggak”, gertak Reyvan saat merasa ucapannya tak kunjung direspon.

__ADS_1


Nisa sepertinya benar benar tak mendengar ucapan Reyvan, dia justru berjalan ke arah balkon yang sedari tadi membuat Nisa penasaran “MasyaAllah apik.eeee”. Teriak Nisa sambil melempar tasnya asal kemudiam berjingkrak, dia begitu bahagia melihat pemandangan hamparan sawah dengan parit kecil disampingnya, sepertinya Reyvan sengaja memilih ruangan dibagian belakang agar bisa melihat pemandangan yang hijau nan asri.


Reyvan yang merasa geram menghampiri Nisa,“Dasar bocil” gumam Reyvan.


PLAAAAK


“ups” ucap Nisa, kini dia tak sengaja menampar pipi Reyvan saat merentangkan tangannya. Nisa bebalik badan menatap Reyvan “sory” ucapnya kemudian kembali menghadap kerah luar balkon.


“Kenapa kau begitu agresif bocil”. Reyvan memegang pipinya yang memerah karna Nisa,


kemudian berdiri sejajar dengan Nisa.


“Salah sendiri nggak bersuara,mana gue kalau lo nyamperin gue disini, oh ya Nama


gue Nisa om, bukan bocil”. Ucap Nisa kesal namun dengan tatapan lurus kedepan.


“Gue juga, nama gue Reyvan bukan om”, ucap Reyvan menirukan gaya bicara Nisa sambil


melipat kemejanya keatas.


Reyvan menghela nafas “hem,, bersihin ruangan gue”,


“Bersihin ruangan doang? Kecil...” Nisa menjetikan kedua jarinya dihadapan Reyvan.Kemudian berbalik badan memasuki ruangan Reyvan kembali.


"Ruangan ini keliahatan bersih, lalu apanya yang harus dibersihkan?” tanya Nisa sambil memperhatikan seisi ruangan.


Reyvan mengeyeritkan dahi menatap gadis cantik itu, “Bukan ruangan ini, tapi itu?” Reyvan menunjuk pintu yang terhalang oleh lemari buku.


“Ok” Nisa berjalan menuju pintu yang dimaksud oleh Reyvan, mencoba untuk membuka pintu itu namun sulit,”sepertinya dikunci” gumam Nisa menoleh pada Reyvan.


"Apasih maumu? jangan macem macem" ancam Nisa saat Reyvan berada sangat dekat dengannya,


jika saat ini ada orang lain pasti mereka akan mengira jika Reyvan sedang memeluknya, jarak mereka hanya sekian senti bahkan nisa dapat mencium wangi parfum Reyvan.


"Pikiran lo terlalu kotor" ucap Reyvan kini tangannya dengan lincah menekan pasword pintu kamarnya. “Bersihin kamar gue!” titah Reyvan saat pintu terbuka.


"Ah syukurlah” Nisa mengelus dadanya “tapi aku harus tetap berhati hati dengan pria edan ini"batinnya, kemudian melangkah memasuki kamar reyvan, dilihatnya ranjang dengan sprey ambu radul seperti habis ada pertarungan sengit di atas ranjang, dia menatap Reyvan curiga.

__ADS_1


"Hey! Ngapain lo liatin gue kayak gitu?” Reyvan merasa terintimidasi dengan tatapan yang Nisa berikan.


Nisa segera membuang muka,"hehm, nggak, yaudah, gue mulai, tapi setelah itu gue pulang"  Reyvan mengangguk.


Sebenarnya apa sih maunya?kan punya banyak cleaning servis kenapa mesti gue yang disuruhberesin nih kamar?gulat Nisa dengan pemikirannya sendiri.


Sebenarnya membereskan kamar adalah hal yang mudah bagi Nisa, karna dirumahnya semua pekerjaan dilakukan sendiri, tidak ada pembantu yang bisa dia suruh, kalaupun ada pasti Nisa akan kalang kabut tak mampu untuk menggaj, makan aja susah..


Gadis itu bekerja dengan begitu cekatan hanya dalam 30 menit kamar yang semula lebih buruk dari kapalpecah kini telah terlihat bersih kinclong, ditangan gadis itu jangankan debu,lalatpun akan tergelincir jika hinggap dilantai.


“Ah beres”. Ujar Nisa merenggangkan tangan.


“Udah beres?cepet banget?baru aja mau gue tinggal ngopi”, ujar seseorang besandar dipintu.


Nisa menoleh mendapati Reyvan bersilang dada,”udah bos”


“Lo beresin apa lo buang barang barang gue?” hardik Reyvan berjalan kearah Nisa.


Nisa merasa jengkel dengan ucapan Reyvan, tak tau apa dia sampai berkali kali tersetrum karna tak biasa menggunakan vacum cleaner “Ya gue buang, kelaut”. Sahut Nisa.


Reyvan tersenyum tipis melihat Nisa yang kesal, entah kenapa melihat gadis itu jengkel membuat


hatinya bahagia.


“ngapain senyum senyum nggak jelas?wah jangan jangan kesambet”, cerocos Nisa yang melihat Reyvan senyum senyum sendiri.


“gue itu orang alim,mana mungkin kesambet? Lo kali?”


“Aliiiim?Anggota lima monyet iya, hahaha?” ejek Nisa sambil membayangkan Reyvan berwajah mirip monyet,


“lucu tuh”.


Hidung reyvan seketika kembang kempis mendengar ejekan Nisa, bagaimana bisa wajahnya yang tampan disandingkan dengan para monyet, dengan kekesalan dia berjalan menghampiri Nisa dan berdiri tepat didepan


tubuh Nisa, dia sedikit menunduk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Nisa.”lo tadi ngatain gue apa” tanya Reyvan dengan suara pelan namun terkesan menyeramkan.


Nisa sedikit memundurkan wajahnya, “Anggota lima monyet” jawab Nisa santai, kakinya perlahan melangkah mundur, menatap mata Reyvan berapi api membuatnya sedikit merasa takut, setelah dirasa ada celah Nisa segera meluncurkan aksinya “KAAABUUUUUR” teriak Nisa.

__ADS_1


__ADS_2