KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
KESEDIHAN KASIH


__ADS_3

Dika turun dari sepeda motornya dan mendekati Kasih, dia menoleh ke arah sepeda yang dituntun oleh Kasih.


"Sepeda lo kenapa Kas."


"Rantainya putus Dik."


"Disekitar sekolahan kita gak ada bengkel Kas."


"Iya gue tahu."


"Maksud gue, lo mau gue anter gak ke bengkel."


"Gak usah, bisa sendiri kok gue." Kasih menolak.


"Akan lo tuntun tuh sepeda sampai nemuin bengkel."


"Ya iyalah, masak gue panggul."


Dika terkekeh, "Kalau lo mau, gue bisa anterin lo agar gak capek."


"Gimana caranya lo nganterin gue, elonyakan pakai motor."


"Ya gampanglah itu, lo tinggal duduk dibelakang dan letakkan tuh sepeda ditengah-tengah."


"Ogah ah berat, lebih baik gue tuntun saja kayak gini."


"Lo tunggu ya bentar."


"Ehh, lo mau ngapain." tanya Kasih namun Dika sudah keburu kabur tanpa menjawab pertanyaan Kasih.


"Mau ngapain sieh dia." gumam Kasih dan menunggu beberapa saat.


Gak lama, sebuah mobil berhenti didekatnya, dari sana keluarlah Dika dan juga Agil.


"Kas, lo taruh sepeda elo dibagasi."


"Ehh." bingung Kasih tidak mengerti.


"Gue pinjem mobilnya Agil supaya gampang membawa sepeda lo ke bengkelnya."

__ADS_1


"Duhh, jadi gak enak gue Dik, lo pakai minjem mobilnya Agil segala lagi."


"Lo gak perlu merasa tidak enak begitu Kasih, apapunkan akan Dika lakukan untuk elo." timpal Agil tersenyum penuh arti.


"Maksudnya." tanya Kasih tidak konek.


"Nohh." Agil mengedikkan dagunya ke arah Dika, "Tanya saja sendiri sama orangnya."


Kasih beralih memandang Dika, namun Dika mengatakan, "Gak usah difikirin kata-katanya Agil, lebih baik kita nyari bengkel saja untuk memperbaiki sepedanya elo."


"Hmmm."


Dika mengangkat sepeda Kasih dan meletakkannya dibagasi mobil.


"Gill, lo bawa motor gue ya." Dika melemparkan kunci motor tersebut yang dengan sigap ditangkap oleh Agil.


Setelah Kasih dan dirinya sudah duduk nyaman didalam mobil, barulah Dika menjalankan mobil milik sahabatnya itu.


*****


Entahlah apa yang ada difikiran Dika saat ini, intinya dia fikir, ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya setelah gagal waktu diroftop waktu itu gara-gara Romeo, padahal kalau melihat situasi dan kondisi saat ini, jelas ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan pada seorang gadis, sudah macet-macetan dijalan raya, bau matahari karna seharian disekolah, benar-benar bukan yang tepat untuk mengungkapkan perasaan, tapi toh Dika tetap ingin mengutarakan perasaannya pada Kasih, dia tidak ingin menunda-nunda lagi.


"Hmmm." gumam Kasih tanpa menoleh.


"Gue suka sama lo."


Barulah saat Dika mengatakan hal tersebut, Kasih dengan cepat menoleh, untung saja lehernya tidak sampai keseleo, "Dika bilang apa tadi, dia bilang dia suka sama guekan." batin Kasih, "Ini gue gak salah dengerkan, dia akhirnya nyatain perasaannya sama gue, tapi sayangnya dia sudah dijodohkan, guekan disini bukan perebut calon tunangan orang." batin Kasih nelangsa.


"Nieh anak kenapa diam aja sieh, jawab kek, bikin gue deg-degan saja." suara hati Dika saat Kasih tidak kunjung merespon kata-katanya.


"Lo suka gue Dika." Kasih malah mengulangi, padahalkan jawaban yang diharapkan dari Kasih adalah jawaban iya.


"Hmmm, mungkin lebih tepatnya adalah gue cinta sama lo Kas." Dika mengatakannya dengan gamblang supaya Kasih mengerti semengerti ngertinya.


Kasih diam, kalau boleh jujur, dia belum sepenuhnyakan bisa menghilangkan perasaannya sama Dika, tapi meskipun perasaan itu masih ada, bukan berarti dia mau menerima pernyataan cinta yang disampaikan oleh Dika.


"Kas." tegur Dika karna Kasih diam terus, padahal Dika sudah deg-degan parah menunggu jawabannya, "Kenapa lo diam aja, lo gak mau gitu menjawab pertanyaan gue." Dika memberanikan dirinya untuk mengatakan hal tersebut.


"Hmmm, kita sebaiknya berteman saja ya Dik." lisan Kasih, dia tidak mau dengan menerima Dika akan membuat sakit perasaan calon tunangannya.

__ADS_1


"Teman." ulang Dika tidak percaya, "Teman ya." Dika nyengir, padahal hatinya sumpah sakit banget ditolak secara halus oleh cewek yang dia cintai sejak kelas.


"Iya Dika, sebaiknya kita berteman saja ya." kata Kasih mengkonfirmasi, "Kenapa aku harus mengalami hal ini ya Tuhan, disaat aku mencintai seseorang dan dia juga menyukaiku, tapi orang itu sudah dijodohkan, huhu, tragis banget seih kisah cinta gue." yang Kasih bisa lakukan hanya bisa menangis dalam hati meratapi kisah cintanya yang kandas sebelum dimulai.


"Apa lo gak ada perasaan sama gue Kasih, gue fikir selama ini lo juga menyukai gue." Dika mengucapkan kata-kata itu dalam hati, dan kata yang dia ucapkan dilisan adalah, "Baiklah, kayaknya memang itu yang terbaik ya."


"Maaf ya Dik karna gue menolak elo."


"Tidak apa-apa Kasih, gak usah merasa bersalah begitu."


Kasih sebenarnya lebih nelangsa daripada Dika, tapi dia bisa menyembunyikannya dengan baik.


*****


"Hu hu hu....." Kasih menangis sepanjang sore itu begitu dia tiba dikamarnya, gimana tidak, kisah cinta pertamanya harus kandas sebelum dimulai.


Stok tisu dirumahnya bahkan habis, kamarnya kotor dengan sampah tisu berserakan dihampir semua lantai kamarnya.


"Sedih banget sieh hidup gue, guekan juga ingin merasakan indahnya cinta, hu hu hu, tapi gue harus terpaksa menolak Dika karna gue gak mau menyakiti hati calon tunangannya." gumamnya ditengah derasnya guyuran air matanya.


Saat tengah meratapi nasib percintaannya itulah ponselnya yang masih tersimpan rapi didalam tasnya berbunyi, tapi sedikitpun Kasih tidak berminat untuk melihat siapakah gerangan yang menelponnya, Kasih lebih memilih untuk menangis.


Namun, Kasih sepertinya tidak bisa cuek setelah ponselnya berdering untuk ketiga kalinya, hal tersebut membuatnya kesal, "Siapa sieh, ganggu gue aja." rutuknya sembari meraih tasnya untuk mencari benda tersebut.


"Romeo, mau ngapain sieh dia."


Dengan gerakan kasar Kasih menggeser simbol telpon berwarna hijau, "Apa." ketusnya begitu sambungan terhubung.


"Duhh, galaknya sik mbak."


"Lo mau ngapain sieh nelpon-nelpon gue, ganggu aja lo." karna badmood, Kasih malah menyalurkannya sama Romeo yang tidak tahu apa-apa, tapi juga Kasih masih marah sieh sama Romeo perihal kejadian tadi pagi disekolah gara-gara kue gosong buatan Ria, dan Ria belum juga membuka pintu maafnya untuk Kasih.


"Lo kenapa sieh, bukannya semua masalah dengan Ria sudah kelarnya." yang Romeo tahu sieh memang seperti itu karna Ria bilang akan memaafkan Kasih, sayangnya, kata iya yang diucapkan oleh Ria hanya dibibir saja.


"Kelar apaan, Ria masih marah sama gue, belum kelihatan hilalnya sama sekali untuk maafin gue."


"Masak sieh, Ria sendiri lho yang bilang sama gue kalau dia bakalan maafin elo Kas."


"Buktinya, Ria masih belum maafin gue, dia masih nyuekin gue, lo gak benar-benar minta maaf ya sama dia." tuduh Kasih.

__ADS_1


*****


__ADS_2