
"Ehh kok gitu sieh sik Ria, padahal dia bilangnya sama gue bakalan maafin elo, baper banget deh dia jadi cewek."
"Hu hu, pokoknya gue gak mau tahu ya Rom, lo harus membuat gue dan Ria baikan titik, Ria itu adalah sahabat gue, sebelumnya gue gak pernah punya masalah sama dia, dan gara-gara elo dia jadi marah sama gue."
"Elo nangis Kas." Romeo bertanya karna Kasih memperdengarkan suara tangisnya dengan sangat jelas.
"Gak, gue ketawa."
"Masak gara-gara Ria marah sama elo, terus lonya nangis sampai segininya sieh, elahh, kayak anak kecil saja."
"Bukan karna itu sialan."
"Lha terus."
"Hu hu, gue baru saja menolak Dika."
"Bagus donk."
"Apanya yang bagus, gue jadi sakit hati begini, itu yang lo bilang bagus."
"Ya bukan begitu maksud gue, jangan suudzon dulu donk Kas." Romeo dengan sabar menjelaskan, "Maksud gue, bagus kalau elo nolak Dika, Dikakan sudah dijodohkan oleh orang tuanya."
"Tapi hati gue sesak Romeo, sakit hati gue hu hu, belum apa-apa, gue sudah harus melupakan cinta pertama gue."
"Ya udah kalau gitu, lo pacaran sama gue aja kalau gitu Kas."
"Ihh sialan lo ya Rom, gue lagi sedih juga lo becandain, emang dasar teman lucnut lo."
Dari seberang terdengar Romeo terkekeh.
"Hmm, lo mau keluar gak."
"Keluar, ngapain."
"Ya jalan-jalanlah, siapa tahu gitu hati lo membaik gitu kalau sudah jalan."
"Gue lagi bokek."
"Elahh, terus apa guna gue nieh."
"Lo mau jadi ATM berjalan gue gitu."
"Ya gak gitu juga kali Kasih ngomongnya."
Kasih terdiam tidak menanggapi.
"Jadi gimana, mau gak jalan sama gue."
"Tapi kalau gue mau apa-apa, elo yang bayarin ya."
"Iya, insaallah."
"Kok pakai insaallah sieh."
"Iya iya, lo mau apa saja gue bayarin asal lo seneng deh."
"Akhirnya lo ada gunanya juga ya."
"Ehh sik sialan, padahal selama ini gue selalu berguna untuk lo, lo gak ingat jasa-jasa gue ke elo."
__ADS_1
"Pakai diingetin tentang jasa-jasa lagi, perhitungan banget sieh sama teman sendiri."
"Lo mending siap-siap gieh, ngoceh mulu kapan berangkatnya coba."
"Iya, lo matiin makanya."
"Iya."
Begitu sambungan terputus, Kasih berlari keluar kamarnya menuju kamar mandi, tujuannya hanya sekedar cuci muka, tidak mungkinkan dia keluar dengan wajah berantakan habis menangis begitu.
*****
Kalau di Jakarta ya, tempat pilihan orang untuk refresing mana lagi kalau bukan mall, dan Romeo juga mengajak Kasih ke mall.
"Lo mau ngapain dulu nieh."
"Muter-muter keliling mall saja deh agar gue capek dan gak sakit hati lagi." jawab Kasih ngasal.
"Ngaco lo ya, kenapa tidak ke GBK saja sana."
Kasih mendengus.
Romeo kemudian berjalan meninggalkan Kasih, Kasih yang tidak ingin ditinggal otomatis mengejar langkah Romeo.
"Ehh tunggu gue donk Rom, mungkin tinggal saja, katanya mau menghibur gue, bagaimana sieh lo."
"Habisnya lo kelamaan mikirnya."
"Lo mau kemana." Kasih bertanya, sekarang kesannya dia yang nemenin Romeo, bukan Romeo yang nemenin dia untuk menghiburnya.
"Toko baju."
"Iya."
"Bener." mata Kasih yang sembab sedikit berbinar saat Romeo mengiyakan kata-katanya.
"Iya."
"Ahkk baiknya Romeo." kini Kasih benar-benar bisa tersenyum setelah seharian dia hanya menangis dan menangis.
Romeo melangkahkan kakinya memasuki toko yang menjual barang-barang branded, Kasih yang menyadari kemana langkah kaki Romeo reflek menahan lengan cowok tersebut.
"Kenapa sieh."
"Inikan toko mahal Rom."
"Iya terus."
"Mmm, lo beneran mau beli baju disini."
"Ya iyalah."
"Tapi ini toko mahal."
"Iya gue tahu tanpa lo kasih tahu Kasih, terus masalahnya apa."
"Apa lo tetap membelikan gue pakaian meskipun ditoko mahal ini."
"Tentu saja."
__ADS_1
"Tapi pasti harga yang dijual ditoko ini mahal-mahal." Kasih kok katanya berputar-putar deh.
"Iya emang Kasih, namanya juga toko yang menjual barang-barang brended." Romeo yang sudah kesal dengan tingkah Kasih menarik tangan Kasih memasuki toko tersebut, "Udah yuk."
"Lo pilih-pilih aja sana dibagian yang memajang baju-baju cewek." tunjuk Romeo pada area dimana perlengkapan cewek tersedia.
"Gak jadi deh."
"Lho, kok gak jadi."
"Gak enak gue."
"Lo gak enak karna harga disini mahal-mahal gitu."
"Hmmm, iya."
"Dengar ya Kasih, gue itu punya cukup uang untuk membelikan elo apapun yang lo mau."
"Gak usah deh Rom."
"Lo pokoknya harus pilih, kalau gak, gue gak mau nganterin lo pulang." ancamnya memaksa, dia kemudian membalikkan tubuh Kasih dan mendorongnya pelan ke arah area yang memajang perlengkapan cewek.
"Ya udah deh, karna elo memaksa, apa boleh buat."
Bahkan Kasih tidak berani melihat harga yang tertera dilabel barang-berang tersebut, "Duhh, sumpah deh gue benar-benar tidak enak kalau gini." Kasih berencana memilih entah baju atau apapun itu, intinya dia akan pilih yang paling murah.
"Saat tengah memilih-milih, Kasih mendengar sebuah suara yang familiar menyapanya dari belakang, "Kasih."
Kasih langsung berbalik dan menemukan Ria tengah menatapnya dengan tatapan seolah-olah mengatakan, lo ngapain disini, inikan toko mahal.
"Ria." gumam Kasih, dia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Ria disini, dan Kasih bisa melihat dari mata Ria kalau sahabatnya itu masih marah kepadanya.
"Lo ngapain disini Kas." meskipun masih marah sama Kasih, Ria bertanya karna penasaran, sebenarnya tidak perlu bertanya juga sieh, mengingat ini adalah toko pakaian, setiap orang ya datang ke toko tersebut jelaslah untuk membeli pakaian, tidak mungkinkan membeli sembako.
"Gue mau beli baju Ri, lo juga ya."
"Iya." jawab Ria tidak antusias, dalam hati Ria berkata, "Emang Kasih ada uang untuk membeli baju disini."
"Kas, lo udah dapat baju yang lo suka." Romeo yang membawa baju yang dia inginkan datang menghampiri Kasih.
Mendengar suara dari laki-laki yang disukainya, Ria berbalik, "Romeo."
"Ehh, elo Ri."
"Kasih bersama dengan Romeo, kenapa mereka bisa jalan berdua." Ria bertanya dalam hati.
"Kalian...."
"Gue ngajak Kasih jalan, ceritanya nieh anak lagi galau tingkat tinggi karna dia habis nolak Dika." Romeo menjelaskan.
"Apa." kaget Ria tidak percaya, "Lo nolak Dika Kas."
"Iya, guekan gak bisa sama dia karna dia sudah dijodohkan." saat nama Dika disebut-sebut membuat Kasih kembali bersedih.
"Kasih nolak Dika, terus Romeo menghiburnya dengan mengajaknya jalan-jalan, Romeo kok perhatian banget sama Kasih." Ria benar-benar iri dengan Kasih, dia yang menyukai Romeo, malah Kasih yang beruntung bisa dekat-dekat dengan Romeo.
Meskipun masih marah sama sahabatnya itu, terbersit juga sieh rasa kasihan dihati Ria melihat Kasih yang tidak bisa bersatu dengan cowok yang dia cintai.
*****
__ADS_1