
Malam kian
larut dengan cekatan Nisa membantu Mina istri Darmo yang bertugas menyiapkan
makanan untuk para pegawai bengkel, sebenarnya tugas Mina hanya menyiapkan
makan siang namun karna bengkel sedang banyak pekerjaan para pegawai akan
lembur dan tentu saja memerlukan asupan tenaga agar bisa bekerja lebih
giat, untuk itu Mina menyiapkan makan
malam.
“Suku cadang
apa saja mas yang harus segera kita beli?” tanya Nisa disela sela makan malam
bersama seluruh pegawai bengkelnya yang Nisa anggap seperti keluarga sendiri.
“Banyak dek,
akhir akhir ini pelanggan sedang menggandrungi motor motor klasik, jadi
kebutuhan onderdil lawas yang kita bututhkan lebih” jawab Fahmi masih dalam
mode mengunyah makanan.
“Huh” Nisa
menghela nafas meletakan kembali nasi yang akan dia masukan kedalam mulutnya
menggunakan tangan. “Baiklah tolong Mas Fahmi catat apa saja yang kita
bututhkan, biar Nisa pesan lewat Online biar nggak ribet bawa”
“tapi uang
untuk beli onderdil sudah habis dek? Mau pake uang yang mana?”
“aku masih
ada uang tabungan mas, santai” Nisa tersenyum kearah Fahmi dan karyawan lain.
“kalau
begitu gaji aku minggu ini buat tambahan beli onderdil aja dek, biar dapet
banyak, kan kalau beli banyak lebih murah?”.
“Iya nduk
gajiku juga ambil aja buat beli onderdil” sahut Darmo
“kami juga”
Ucap Ali memandang kearah Dani meminta persetujuan,
“ ah a-iya”
jawab Dani kikuk, karna dia terlalu fokus dengan makan malamnya.
“T-api...”
“ah sudah
nduk jangan dipikirin” sergah Darmo “uang minggu lalu masih cukup kok, kan
akhir akhir ini bengkel kita lagi rame, penghasilan kita juga bertambah apalagi
kau selalu memberi kami bonus lebih itu sudah lebih dari cukup, jadi terima
saja, kan katamu kita keluarga jadi nggak boleh ada penolakan untuk bantuan
dari keluarga” ucap Darmo sambil melirik Ali dan Dani.
“Iya nisa
kita kan keluarga, susah senang sama sama” sahut Ali.sukses membuat Nisa
meneteskan air mata haru. Memeluk satu persatu karyawannya termasuk Mina.
Nisa begitu
terharu dengan perhatian yang diberikan oleh para karyawan ayahnya, mereka
begitu dekat layaknya keluarga apalagi Darmo pria itu menganggap Nisa seperi
anaknya sendiri.
Keesokan
harinya
Pagi telah menyambut semua orang yang sedang memulai hari, begitu juga Nisa jika kemarin dia tidur dengan masalah sebagai pengantar tidurnya namun tak membuat keesokan pagi di terbangun dengan kesedihan, dia adalah Nisa yang selalu tersenyum meski beban hidup menggunung, dia tetap bersemangat meski badai menghalau langkahnya mengawali hari.
Hari ini dia akan mendapatkan hiburan menarik disekolah, dia berangkat dengan senyuman mengembang dibibirnya membayangkan reaksi peserta Mos setelah mendapat kejutan darinya.
“Nis ngapain
__ADS_1
sih kita berangkat naik sepeda gini? Sekolah kita jauh, capek tau!” omel Lisa
yang kakinya tersa pegal mengayuh sepeda. Hari ini Nisa mengajaknya berangkat
sekolah menggunakan sepeda.
“Biar lebih
sehat Lisa, lagian bersepeda itu membakar banyak kalory kan lumayan lemak lo berkurang,
nggak perlu susah susah diet” jelas Nisa disertai seulas senyum, senyuman
mengejek.
“Lo ngatain
gue gendut?” lirik Lisa sinis
“Nggak, lo
yang ngomong sendiri” Nisa terkekeh
“Lo emang
nyebelin Nis” cibir Lisa sambil membelokan sepeda ke arah halaman sekolah,
Kedua sahabat
itu memakakirkan sepeda masing masing, kemudian melangkah menuju aula.
“Nis ngapain
sih lo nyuruh anak baru bawa bekal dan baju yang lama nggak dipakai?” tanya
Lisa melihat Nisa keduanya sedang berjalan beriringan.
“Ntar lo
juga bakal tau” jawab Nisa dengan pandangan lurus kedepan.
“lo itu
selalu penuh misteri”
“nah itu lo
tau”
Lisa
mencibikan bibir mendengar ucapan Nisa, gadis itu memang suka sekali membuat
orang penasaran. Setibanya di aula Nisa menyiapkn beberapa keperluan untuk
Nisa.
“Nis”
panggil Lisa sambil membantu Nisa memilah kertas mirip seperti slot arisan.
“hehm”
“lo lagi ada
masalah ya?” tanya Lisa.
“hem”
“sory gue
nggak bisa bantu”
“hehm”
“kok lo Cuma
ham hem ham hem doang sih” kesal Lisa mendengar jawaban Nisa yang terkesan
mengacuhkannya.
“heh ****
mulut gue lagi kesumpelan peniti, lagian gue juga tahu lo nggak bisa bantu gue”
gertak Nisa yang sebenarnya sedang kesusahan mengaitkan kertas dengan pipa yang
ditempeli paku.
“ih lo kok
ngegas sih”
“lo yang
sinting temen lagi ribet malah tanya tanya, bukannya bantuin pegang”.
Kegiatan Mos
hari ini bertemakan lingkungan hidup, kemarin Nisa mengumumkan hal apa saja
__ADS_1
yang harus peserta Mos bawa hari ini, semua orang dibuat penasaran dengan
maksud dan tujuan Nisa menyuruh peserta Mos membawa bekal makanan yang dikemas
di kertas bungkus dan baju lama mereka.
“saya kasih
waktu 10 menit untuk kalian ganti baju” titah Nisa sambil melirik jam tangannya
“setelah itu
berkumpul dilapangan” lanjutnya “Di mulai dari sekarang”, mendengar titah Nisa
para peserta Mos bergegas menuju ruang ganti, mereka harus cepat terlambat
sedikit saja mereka akan di beri hukuman yang nyeleneh oleh Nisa.
“apa sih
yang lo rencanain?” tanya Galang melihat Nisa yang tersenyum menatap siswa baru
yang gupuh karna perintah Nisa.
“nanti lo
bakal tau jawabannya”
“lo itu
penuh misteri Nis” galang menatap teduh kearah Nisa
“dan lo
orang ke sekian kalinya yang ngomong ke gue kayak gitu?” Nisa terkekeh dengan
pandangan lurus kedepan.
Galang adalah
teman satu angkatan dengan Nisa jabatannya di Osis adalah wakil ketua, namun
sama dengan anggita Osis yang lain dia sama sekali tak diberi tahu tentang
kegiatan Mos yang mereka jalani, Nisa selalu punya kejutan yang mampu membuat
orang mati penasaran dibuatnya.
Kemarin saja
dia meminta peserta Mos membuat tas dari paralon dan topi dari anyaman bambu
dan yang paling parah mereka disuruh keliling komplek sambil memunguti sampah
disepanjang jalan, yang tentu saja membuat peserta Mos yang kebanyakan dari
kaum berada dibuat malu semalu malunya memunguti sampah layaknya pemulung.
“nih kita
bakal ngapain ya?”
“nggak tau,
kak Nisa orangnya penuh misteri”
“jangan
jagan di nyuruh kita nanem taneman, ih gue jijik pegang tanah”
“iya gue
juga”
Itulah
sepenggal percakapan peserta Mos yang Nisa dengar saat berada di kamar mandi
sekolah dia sengaja berdiam diri ditoilet untuk mengetahui reaksi apa yang
diberikan oleh adik kelasnya saat diberi tugas nyeleneh dari Nisa, Nisa
tersenyum kecil mendengar keluhan dari beberapa peserta Mos, dia sedikit merasa
puas dengan apa yang dia lakukan, “setidaknya mereka tau apa yang mereka nggak
tau” itulah ucapan Nisa menanggapi keluh kesah para peserta Mos.
Setelah seluruh
peserta dan anggota Osis berkumpul Nisa mengarahkan mereka keluar area sekolah,
Nisa menggiring semuanya menuju area persawahan yang letaknya tidak jauh dari
sekolah Nisa. Semua hanya menuruti arahan yang Nisa berikan, untuk masalah satu
ini tidak ada satupun yang berkilah, bagi mereka Nisa sudah seperti kepala
sekolah yang bisa seenak jidatnya mengatur kegiatan sekolah dan lebih parahnya
__ADS_1
seluruh staf, guru, bahkan kepala sekolah menyetujui setiap kegiatan yang Nisa
ambil.