KISAH KASIH DISEKOLAH

KISAH KASIH DISEKOLAH
07. Seenak Jidat


__ADS_3

Malam kian


larut dengan cekatan Nisa membantu Mina istri Darmo yang bertugas menyiapkan


makanan untuk para pegawai bengkel, sebenarnya tugas Mina hanya menyiapkan


makan siang namun karna bengkel sedang banyak pekerjaan para pegawai akan


lembur dan tentu saja memerlukan asupan tenaga agar bisa bekerja lebih


giat,  untuk itu Mina menyiapkan makan


malam.


“Suku cadang


apa saja mas yang harus segera kita beli?” tanya Nisa disela sela makan malam


bersama seluruh pegawai bengkelnya yang Nisa anggap seperti keluarga sendiri.


“Banyak dek,


akhir akhir ini pelanggan sedang menggandrungi motor motor klasik, jadi


kebutuhan onderdil lawas yang kita bututhkan lebih” jawab Fahmi masih dalam


mode mengunyah makanan.


“Huh” Nisa


menghela nafas meletakan kembali nasi yang akan dia masukan kedalam mulutnya


menggunakan tangan. “Baiklah tolong Mas Fahmi catat apa saja yang kita


bututhkan, biar Nisa pesan lewat Online biar nggak ribet bawa”


“tapi uang


untuk beli onderdil sudah habis dek? Mau pake uang yang mana?”


“aku masih


ada uang tabungan mas, santai” Nisa tersenyum kearah Fahmi dan karyawan lain.


“kalau


begitu gaji aku minggu ini buat tambahan beli onderdil aja dek, biar dapet


banyak, kan kalau beli banyak lebih murah?”.


“Iya nduk


gajiku juga ambil aja buat beli onderdil” sahut Darmo


“kami juga”


Ucap Ali memandang kearah Dani meminta persetujuan,


“ ah a-iya”


jawab Dani kikuk, karna dia terlalu fokus dengan makan malamnya.


“T-api...”


“ah sudah


nduk jangan dipikirin” sergah Darmo “uang minggu lalu masih cukup kok, kan


akhir akhir ini bengkel kita lagi rame, penghasilan kita juga bertambah apalagi


kau selalu memberi kami bonus lebih itu sudah lebih dari cukup, jadi terima


saja, kan katamu kita keluarga jadi nggak boleh ada penolakan untuk bantuan


dari keluarga” ucap Darmo sambil melirik Ali dan Dani.


“Iya nisa


kita kan keluarga, susah senang sama sama” sahut Ali.sukses membuat Nisa


meneteskan air mata haru. Memeluk satu persatu karyawannya termasuk Mina.


Nisa begitu


terharu dengan perhatian yang diberikan oleh para karyawan ayahnya, mereka


begitu dekat layaknya keluarga apalagi Darmo pria itu menganggap Nisa seperi


anaknya sendiri.


Keesokan


harinya


Pagi telah menyambut semua orang yang sedang memulai hari, begitu juga Nisa jika kemarin dia tidur dengan masalah sebagai pengantar tidurnya namun tak membuat keesokan pagi di terbangun dengan kesedihan, dia adalah Nisa yang selalu tersenyum meski beban hidup menggunung, dia tetap bersemangat meski badai menghalau langkahnya mengawali hari.


Hari ini dia akan mendapatkan hiburan menarik disekolah, dia berangkat dengan senyuman mengembang dibibirnya membayangkan reaksi peserta Mos setelah mendapat kejutan darinya.


“Nis ngapain

__ADS_1


sih kita berangkat naik sepeda gini? Sekolah kita jauh, capek tau!” omel Lisa


yang kakinya tersa pegal mengayuh sepeda. Hari ini Nisa mengajaknya berangkat


sekolah menggunakan sepeda.


“Biar lebih


sehat Lisa, lagian bersepeda itu membakar banyak kalory kan lumayan lemak lo berkurang,


nggak perlu susah susah diet” jelas Nisa disertai seulas senyum, senyuman


mengejek.


“Lo ngatain


gue gendut?” lirik Lisa sinis


“Nggak, lo


yang ngomong sendiri” Nisa terkekeh


“Lo emang


nyebelin Nis” cibir Lisa sambil membelokan sepeda ke arah halaman sekolah,


Kedua sahabat


itu memakakirkan sepeda masing masing, kemudian melangkah menuju aula.


“Nis ngapain


sih lo nyuruh anak baru bawa bekal dan baju yang lama nggak dipakai?” tanya


Lisa melihat Nisa keduanya sedang berjalan beriringan.


“Ntar lo


juga bakal tau” jawab Nisa dengan pandangan lurus kedepan.


“lo itu


selalu penuh misteri”


“nah itu lo


tau”


Lisa


mencibikan bibir mendengar ucapan Nisa, gadis itu memang suka sekali membuat


orang penasaran. Setibanya di aula Nisa menyiapkn beberapa keperluan untuk


Nisa.


“Nis”


panggil Lisa sambil membantu Nisa memilah kertas mirip seperti slot arisan.


“hehm”


“lo lagi ada


masalah ya?” tanya Lisa.


“hem”


“sory gue


nggak bisa bantu”


“hehm”


“kok lo Cuma


ham hem ham hem doang sih” kesal Lisa mendengar jawaban Nisa yang terkesan


mengacuhkannya.


“heh ****


mulut gue lagi kesumpelan peniti, lagian gue juga tahu lo nggak bisa bantu gue”


gertak Nisa yang sebenarnya sedang kesusahan mengaitkan kertas dengan pipa yang


ditempeli paku.


“ih lo kok


ngegas sih”


“lo yang


sinting temen lagi ribet malah tanya tanya, bukannya bantuin pegang”.


Kegiatan Mos


hari ini bertemakan lingkungan hidup, kemarin Nisa mengumumkan hal apa saja

__ADS_1


yang harus peserta Mos bawa hari ini, semua orang dibuat penasaran dengan


maksud dan tujuan Nisa menyuruh peserta Mos membawa bekal makanan yang dikemas


di kertas bungkus dan baju lama mereka.


“saya kasih


waktu 10 menit untuk kalian ganti baju” titah Nisa sambil melirik jam tangannya


“setelah itu


berkumpul dilapangan” lanjutnya “Di mulai dari sekarang”, mendengar titah Nisa


para peserta Mos bergegas menuju ruang ganti, mereka harus cepat terlambat


sedikit saja mereka akan di beri hukuman yang nyeleneh oleh Nisa.


“apa sih


yang lo rencanain?” tanya Galang melihat Nisa yang tersenyum menatap siswa baru


yang gupuh karna perintah Nisa.


“nanti lo


bakal tau jawabannya”


“lo itu


penuh misteri Nis” galang menatap teduh kearah Nisa


“dan lo


orang ke sekian kalinya yang ngomong ke gue kayak gitu?” Nisa terkekeh dengan


pandangan lurus kedepan.


Galang adalah


teman satu angkatan dengan Nisa jabatannya di Osis adalah wakil ketua, namun


sama dengan anggita Osis yang lain dia sama sekali tak diberi tahu tentang


kegiatan Mos yang mereka jalani, Nisa selalu punya kejutan yang mampu membuat


orang mati penasaran dibuatnya.


Kemarin saja


dia meminta peserta Mos membuat tas dari paralon dan topi dari anyaman bambu


dan yang paling parah mereka disuruh keliling komplek sambil memunguti sampah


disepanjang jalan, yang tentu saja membuat peserta Mos yang kebanyakan dari


kaum berada dibuat malu semalu malunya memunguti sampah layaknya pemulung.


“nih kita


bakal ngapain ya?”


“nggak tau,


kak Nisa orangnya penuh misteri”


“jangan


jagan di nyuruh kita nanem taneman, ih gue jijik pegang tanah”


“iya gue


juga”


Itulah


sepenggal percakapan peserta Mos yang Nisa dengar saat berada di kamar mandi


sekolah dia sengaja berdiam diri ditoilet untuk mengetahui reaksi apa yang


diberikan oleh adik kelasnya saat diberi tugas nyeleneh dari Nisa, Nisa


tersenyum kecil mendengar keluhan dari beberapa peserta Mos, dia sedikit merasa


puas dengan apa yang dia lakukan, “setidaknya mereka tau apa yang mereka nggak


tau” itulah ucapan Nisa menanggapi keluh kesah para peserta Mos.


Setelah seluruh


peserta dan anggota Osis berkumpul Nisa mengarahkan mereka keluar area sekolah,


Nisa menggiring semuanya menuju area persawahan yang letaknya tidak jauh dari


sekolah Nisa. Semua hanya menuruti arahan yang Nisa berikan, untuk masalah satu


ini tidak ada satupun yang berkilah, bagi mereka Nisa sudah seperti kepala


sekolah yang bisa seenak jidatnya mengatur kegiatan sekolah dan lebih parahnya

__ADS_1


seluruh staf, guru, bahkan kepala sekolah menyetujui setiap kegiatan yang Nisa


ambil.


__ADS_2