
Putra berlari secepat mungkin ke arah lapangan bola basket. Karena setiap Kasih kesal atau mendapatkan masalah, maka Kasih akan berjalan masuk ke dalam lapangan basket sambil melempar bola, dan berteriak meluapkan emosinya.
"Kasih..." Teriak Putra memanggil, dan matanya menatap sekeliling, namun apa yang ia cari tidak terlihat sama sekali di tempat tersebut. Lalu Putra berlari ke arag tribun, menyusiri kursi yang tersusun dengan sangat rapi, berharap Kasih ada di sana membaringkan diri. Namun apa yang Putra harapkan sangat berbeda dengan kenyataannya. Karena Kasih sama sekali tidak berada di sana. Putra lalu mengatur nafasnya mencoba berfikir dengan sangat jernih.
"Dimana Kasih?" tanya Dito yang baru saja masuk di susul oleh Citra. Putra tidak menjawan, dia justru kembalu berjalan secapat mungkin ke luar dari dalam lapangan.
"Dit, gue khawatir dengan Kasih." Kata Citra, sambil menarik lengan Dito.
"Gini aja, coba lu telpon ponsel ibunya Kasih. Siapa tahu ajak Kasih udah pulang." Ide Dito. Dan benar saja Citra langsung menghubungi ibunya Kasih, namun saat panggilan terhubung ibunya Kasih kira jika Kasih yang menelpon dengan menggunakan ponsel milik Citra, dan dari sini Citra tahu, jika Kasih sama sekali tidak pulang ke rumah ibunya.
__ADS_1
"Cit, lu sahabat Kasih. Apa lu ngak tahu tempat Kasih biasanya pergi?"
"Ngak.." Jawab Citra sambil menggelengkan kepalanya.
Dito menepuk jidatnya. Persahabatan apa yang dimiliki oleh mereka yang sama sekali tidak tahu tempat yang sering sahabatnya singgahi. Lalu Dito kembali memutuskan untuk keluar dari lapangan bola basket. Kini Dito menjadi buntu. Buntu karena tidak tahu harus mencari Kasih kemana lagi, karena Dito belum sepenuhnya tahu tentang Kasih. Dan Dito juga bingung bagaimana cara menghubungi Kasih, sedangkan Kasih tidak memiliki ponsel.
Putra memarkir motornya, lalu berlari ke arah tepi pantai.
"Kasih." Teriak Putra sambil terus berjalan dan melihat arah sekeliling pantai, Putra berharap jika Kasih akan berada di tempat ini. Hingga beberapa saat kemudian, harapan Putra menjadi kenyataan saat Putra melihat dari kejahuan seorang gadis yang selalu membuat hatinya berdebar. Seorang gadis yang membuat dirinya yang biasanya tampak tenang, kini menjadi gelisah. Yah, Kasih, dialah gadis yang mampu membuat Putra menjadi pria yang hangat dan hanya dialah satu-satunya gadis yang mampu membuat hati Putra luluh.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Putra lalu berlari ke arah Kasih. Dan saat telah sampai Putra lalu memeluk tubuh Kasih dari arah belakang. Tentu Kasih di buat kaget dengan pelukan yang tiba-tiba, namun Kasih tahu betul siapa yang telah memeluknya. Setelah beberapa tahun berlalu, harum parfum itu masih menempel jelas di hidung Kasih. Kasih hafal betul harum tubuh Putra.
"Jangan buat gue khawatir Kas." Ucap Putra dengan lembut di samping kuping sebelah kiri Kasih.
Kasih berusaha menahan air matanya. Selama beberapa tahu ini, pelukan yang dulu Kasih rasakan kini kembali terulang lagi.. Kasih mengatur nafasnya, memantapkan hati dan pikirannya.
"Lepasin gue." Kata Kasih. Namun bukannya melepaskan pelukannya, Putra justru semakin memeluk dengan erat. Dan bahkan dengan sangat lincahnya, entah bagaimana kini tubuh Kasih sudah berhadapan dengan tubuh Putra. Kasih bahkan dapat mendengar dengan jelas suara datak jantung Putra yang berdetak dengan sangat cepat. Lalu beberapa saat kemudian Putra mengusap pucuk kepala Kasih.
"Maafin gue Kas. Maafin gue."
__ADS_1