
Hai masih berkenan baca cerita ini,tidak lama lagi mungkin tamat.Tapi belum pasti juga ntar lagi tamat.🤗🤗
Jam menunjukkan pukul 5 pagi,Rose terbangun.Dan dia memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing.
"Ah pusing..!" Rose meringis menahan pusing yang menerpa kepalanya.
"Di mana ini..?"ketika dilihatnya dia terbangun ditempat yang asing,dan dilihatnya pria tidur tertelungkup disampingnya,hanya mengenakan celana pendek tanpa mengunakan baju.
Dengan kesal Rose menendang pria tersebut,sehingga pria tersebut terjengkang kelantai dan kaget.
"Aduh....!" teriakan David mengema didalam kamar tersebut.
"Kenapa loe bawa gw kesini...!?" hardik Rose sembari matanya melotot,menatap David yang masih berada dilantai.
"Kemana harus gw bawa loe,ke rumah bunda?" biar gw digorok ayah bunda loe" balas David.
"Kenapa gw mabuk?" Rose masih memijat kepalanya.
"Loe minum seperti minum air putih."
"Minum itu jangan main embat saja non." David berdiri dan beranjak menuju dapur,tak lama kemudian dia memberikan segelas air jeruk.
"Minum ini,biar hilang efek mabuk loe."
Rose meminum gelas yang diberikan David,dia mengeryitkan dahinya karena merasakan asam jeruk tersebut.
"Kenapa loe kumat lagi?" karena setahu David,Rose sudah meninggalkan dunia gemerlapnya.Semenjak musibah menimpa sahabat karibnya.
"Mereka ribut lagi,dulu mereka ribut karena tidak ada uang.Sekarang mereka ribut karena ada uang,mereka kira aku tidak tahu mereka ribut." Rose mengutarakan keluh kesahnya,dan David dengan setia mendengarkannya.
"Kalau loe kecewa dengan orangtuamu,jangan lampiaskan kepada diri sendiri.Yang rugi loe." nasihat David kepada temannya tersebut.
"Capek jadi orang miskin,setiap hari bangun cepat.Langsung ke restoran." kata Rose lagi.
"Siapa bilang loe miskin,loe itu sederhana bukan kaum jetset."
"Gw mau hidup seperti kaum jetset,tidak perlu bangun pagi.Untuk pergi kepasar yang bau.Kemana-mana naik motor."
"Sudah,nanti loe akan jadi orang kaya." kata David.
"Gw rindu Lisa.." tiba-tiba Rose mengingat nama sahabatnya.
"Besok kita kesana." janji David untuk menemui Lisa.
Â
Â
"Bul....gembul..!" suara Jason mengetuk pintu kamar Jesy,tapi pintu kamarnya tidak juga terbuka.
"Mana Jesy..?" tanya Jason kepada seorang maid yang dilihatnya.
"Nona berada dihalaman belakang,bersama nyonya dan Tuan." kata maid tersebut.
"Cepat sekali gembul bangun." gumannya.
Jason beranjak ke halaman belakang dan dilihatnya kedua orangtuanya sedang tertawa bersama Jesy.
Melihat kedatangan Jason,Daddynya berhenti tertawa.
"Kenapa lama bangunnya Son..?" tanya Johandy.
"Tadi malam agak lama tidurnya Dad,meyelesaikan pekerjaan,ada yang belum selesai."
__ADS_1
"Kalau disini pekerjaan jangan dibawa,istirahat dulu otak." kata Johandy kepada Jason.
"Daddy juga kesini karena ada kerjaan kan.?" tanya Jason.
Dina hanya tersenyum mendengar percakapan dua pria dalam hidupnya itu.
"Kalian sama-sama workaholic." sindir Dina.
Jesy dengan santainya duduk disamping Dina,dia tak memperdulikan Jason yang memperhatikannya sejak tadi.
"Gembul,tidak takut nanti badanmu bulat seperti bola?" Jason melihat makanan dihadapan Jesy begitu banyak.
"Biarin..wek..!" balas Jesy.
"Jason,Jesy lagi masa pertumbuhan.biarin makan banyak." kata Johandy membela Jesy.
"Ya om,Jesy lagi masa pertumbuhan." Jesy sedang dibela Johandy.
"Pertumbuhan kesamping iya,kalau keatas tidak." ledek Jason,membuat bibir Jesy mengerucut.
"Jason,kamu suka sekali ganggu Jesy.Dulu Melisa terus kamu ganggu."ingatkan Dina.
Jason dan Daddynya tertawa mendengar perkataan mommynya,tapi tidak dengan Jesy dia masih jengkel dengan Jason.
Jason bangkit dari duduknya,dan ditariknya tangan Jesy untuk mengikutinya.
"Ayo kita jalan-jalan,biar makanan yang masuk ke lambungmu tidak jadi lemak." Jason menarik tangan Jesy,tanpa memperdulikan protes Jesy.
"Tidak mau kak,Jesy masih mau makan." Jesy terus meronta,untuk melepaskan tarikan tangan Jason.
Johandy terus menatap Jason yang membawa Jesy pergi dari hadapannya dan Dina.
"Honey,perhatikan tidak.Selama ada Jesy,Jason seperti semakin sering tertawa." kata Johandy kepada Dina.
"Mungkin karena ada yang bisa dijahilinnya." kata Dina.
"Huk..uk..."
"Kenapa honey..?"Johandy mengusap-usap punggung Dina.
"Ucapan mas tadi membuat Dina kaget." Dina mengambil air untuk menghentikan batuknya.
"Kenapa dengan ucapan mas,apa ada yang salah?" tanya Johandy.
"Jesy masih 15 tahun,6 bulan lagi baru 16 tahun." perjelas Dina.
"Terus,kenapa..?"
"Jason,24 tahun mas..!"
"Terus..!"
"Jarak usia mereka sangat jauh." tegaskan Dina.
"Apa bedanya dengan kita honey,mas 55 tahun sedangkan honey 44 tahun." kata Johandy menyamakan dirinya dan Dina.
Yang beda,waktu itu honey sudah kuliah.Sedangkan Jesy masih SMA..." kata Johandy.
"Tapi mas,Jason sudah mau Dina jodohkan dengan Rose.Rose itu anaknya baik dan sederhana.pasti cocok dengan Jason kita yang sederhana juga." kata Dina kepada Johandy.
"Jaman sekarang tidak ada main jodoh-jodohan,biar mereka secara alami menentukan pasangannya." kata Johandy.
"Saya tidak memaksakan,hanya menyarankan mana tahu Jason bisa bersama Rose." kata Dina.
"Kita serahkan pada anaknya,tapi jika Jason menyukai Jesy Saya tidak melarangnya Karena kita sudah mengenal orang tuanya." kata Johandy.
__ADS_1
"Ya sih mas,kedua anak kita bersama orang yang sudah kita kenal sejak kecil.Tidak takut kita melepaskannya."
Simon mereka sudah mengenalnya sejak lama,selain sahabatan dengan Jason.Simon juga putra dari rekan bisnis johandy dahulu saat masih merintis usahanya.Apalagi Jesy putri dari sahabat Dina dan Badi asistennya Johandy yang sangat dipercayainya.
\*\*\*\*\*\*
"Kak kita mau kemana..?"Jesy merasa lelah,karena Jason membawanya berjalan sangat jauh.
"Jalan-jalan saja,biar pipi chuby ini hilang." Jsson menarik kedua pipi Jesy dengan gemasnya.
"sakit kak Jason." Jesy meringis,mengusap pipinya yang menjadi korban kegemasan Jason.
"Maaf ya,habis kak Jason gemas lihat pipi gembul ini." Jason berjalan pelan menyusuri pasir putih.
"Kak lihat,mangganya sudah kuning."Jesy menunjukkan kekebun mangga dengan senang.
"Makanan saja di otakmu gembul." Jason mengelus rambut Jesy.
"Ayo kak kita kesana." Jesy berlari-lari kecil menuju perkebunan mangga.
"Non Jesy." sapa pekerja dikebun mangga tersebut,karena mereka sudah mengenalnya.
"Pak jangan panggil nona saya bilang dulukan." Jesy memprotes panggilan terhadap dirinya.
"Maaf Jesy,bapak lupa.Sudah lama tidak datang." kata bapak tersebut.
Melihat kedatangan Jason belakangan,bapak tersebut juga menyapanya.
"Nak Jason juga ikut..?" sapa bapak tersebut.
"Ya pak,refresing dulu." jawab Jason.
"Nak Simon dan Melisa?"
"Tidak ikut pak."
"Melisa masih di Jepang ya..?"
"Ya pak.."
Tanpa mereka sadari,Jesy sudah naik dan nongkrong di pohon mangga." Jesy melemparkan kulit mangga pada Jason, baru Jason sadar bahwa Jesy sudah berada diatas pohon.
"Nak Jesy ayo turun,biar bapak saja yang ambilkan."
"Lebih enak nangkring disini pak." Jesy mengupas mangga dengan giginya tanpa dicuci terlebih dahulu.
"Gembul cuci dulu,jorok." ingatkan Jason,tapi Jesy tidak mengindahkannya.
"Enak kak manis,ayo naik." ajak Jesy
untuk Jason mengikutinya naik.
"Kakak masih mau jadi manusia,bukan monyet." ledek Jason kepada Jesy.
Jesy melemparkan biji mangga sisa yang di makannya,sehingga hampir mengenai kepala Jason kalau saja Jason tidak cepat menghindarinya.
"Gembul turun,kakak tinggal." Jason beranjak meninggalkannya,melihat Jason meninggalkannya pergi.Dengan cepat dan lincah Jesy meloncat turun,karena pohon mangga itu tidak terlalu tinggi.
"Kak Jason tunggu." teriak Jesy dengan suara yang kerasnya.
Dengan berlari Jesy mensejajarkan langkah kakinya dengan Jason.
**Bersambung
Hai semua terimakasih yang masih mau membaca cerita ini.
__ADS_1
Happy reading readers**.