Kubawa Pergi Cintaku

Kubawa Pergi Cintaku
Epi 74. Apa yang terjadi??


__ADS_3

***Masih lanjut dengan kehidupan anak-anak Dirgantara dan friends nya .


Happy reading readers***.


Setelah hampir 3 jam bercengkrama dengan Michael,Rose dan David kembali pulang.Walaupun berat meninggalkan rumah yang terasa damai ini,tetapi Rose terpaksa kembali kerumahnya.


"Nanti kita kesini lagi waktu weekend,jangan sedih." David melihat raut wajah Rose yang muram,berat rasanya meninggalkan tempat yang menerimanya tanpa terdengar pertengkaran didalamnya.


"Ingin rasanya kubawa Michael tinggal bersama,bagaimana pun dia tanggung jawabku." guman Rose.


"Gila..!" mau dibilang orang nanti kau punya anak diluar nikah,!" seru David dengan keras kepada Rose.


"Terserah orang mau bilang apa,hidup-hidup ku sendiri." ucap Rose,dan matanya terus memandang keluar jendela mobil.


"Memang itu kehidupanmu,tapi kau harus memikirkan masa depanmu." ingatkan David.


"David bawa aku kesana." pinta Rose.


"Oke,tapi jangan lama-lama.Hari mau hujan." kata David.


Setelah 15 menit,mobil berhenti ditempat yang hening.Rose dan David turun dan berjalan menyusuri jalan kecil.


Rose berhenti dan berlutut,diikuti oleh David yang juga berlutut disamping Rose.


"Apa kabar,maaf aku tidak membawa bunga." Rose mengusap-usap batu nisan tersebut.


"Hai Lucia,apakabar mu?" David menyapa Lucia ditempat tidur abadinya.


"Lucia,dia sudah besar.Kau tahu dia mirip kamu,mata besarnya." lirih suara Rose.


"Kami akan menjaganya,jangan khawatir dia hidup bahagia dengan Lisa." ucap David.


"Suatu hari,dia akan tinggal bersamaku.Itu janjiku." Rose berjanji didepan makam penyelamatnya.


"Kalau kau tidak menolongku,mungkin kau tidak disini.Mungkin aku yang akan menjadi ibu Michael." Rose mengingat kisah kelamnya.


"Sudah Rose,sudah takdir." hibur David melihat Rose begitu sedih didepan makam.


"Aku belum bisa melupakannya David,dia yang selalu kuhina dulu.Tapi dia yang menyelamatkanku." ratap Rose didepan makam Lucia yang disebutkannya sebagai penyelamatnya.


"Dia tak pernah marah ketika aku menyebutnya sebagai anak panti asuhan,sebenarnya aku tidak pernah membencinya.Aku hanya iri karena dia tak pernah sedih kalau pun dia tinggal dipanti asuhan.Sedangkan aku hidup bersama orang tua tapi tidak bisa tersenyum seperti dirinya." cerita Rose,kenapa dia kerap membully Lucia saat SMA.


"Sudah tidak usah di ingat lagi,kita pulang hari sudah mendung ." ajak David.


David membawa Rose meninggalkan lokasi pemakaman,dengan berat Rose melangkahkan kakinya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Β 


"Tan,om....!" Jesy melihat kedatangan Dina dengan Johandy memasuki rumah.


"Jesy,bagaimana keadaanmu sayang.Jason tidak menjahilinmu kan?" tanya Dina.


"Mana berani kak Jason jahilin Jesy." kata Jesy kepada Dina.


"Bising kakak dengar suara tangisanmu,makanya kakak tidak menjahilinmu." ucap Jason yang baru keluar dari ruang kerjanya,karena mendengar suara mommynya.


"Kakak jangan mulai lagi..!"ingatkan Dina .

__ADS_1


Jesy senang melihat Jason diperingati Dina agar jangan menganggu Jesy.


"Honey,mas masuk kamar dulu.Rasanya badan mas letih semua." Johandy beranjak menuju kamarnya dilantai atas.


"Mas mau Dina bawakan apa kekamar?"


"Mas ingin makan bakso yang lewat tadi,kok sepertinya enak kelihatan." sebelum masuk kerumah tadi,mobilnya melewati abang-abang tukang bakso dorong.


"Daddy,biasanya tidak suka jajan sembarang." kata Jason kepada mommynya dengan heran.


"Mungkin karena Daddy kurang sehat,jadi pingin makan bakso gitu."kata Dina.


"Daddy sakit.?" tanya Jason.


"Mau flu,divilla sering turun hujan." kata Dina.


"Sana tunggu tukang baksonya" kata Dina.


"Jesy juga pingin makan bakso tok..tok.." kata Jesy.


"Bakso tok..tok apa?" Jason heran dengan perkataan Jesy.


"Itu bakso yang lewat,mukulnya tok..tok.." kata Jesy sambil menampilkan senyum kecilnya.


"Mana ada tukang bakso bunyinya tok...tok." kata Jason.


"Ada,kak Jason saja tidak pernah dengar."


"Sudah jangan ribut terus,tunggu sana bakso lewat.nanti kalau lewat panggil." setelah memberikan pesan,kemudian Dina pergi menyusul suaminya kekamar.


Β 


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Β 


"Gembul,nyanyi yang kuat.Biar nanti orang lewat kasih uang,lumayan untuk beli bakso." kata Jason.


"Jesy bukan pengamen ya!" ujar Jesy dengan juteknya.


Jason senang berhasil menggoda Jesy,setelah beberapa hari ini dia bertemu Jesy hanya sekilas saja.Karena kesibukannya dikantornya.


Tok...tok....tok.


"Bakso..bakso..!" seru Jesy berteriak kegirangannya.


"Pak,panggilkan baksonya.Suruh masuk." perintah Jason kepada Satpam rumahnya.


"Ya.." jawab pak satpam.


Setelah dipanggil,tukang bakso masuk kerumah mewah keluarga Dirgantara.Pertama-tama ragu untuk masuk,karena tak biasanya orang kaya seperti keluarga Dirgantara mau makan masuk jalanan.


"Betul,yang punya rumah mau makan bakso?" tanya abang tukang bakso kepada Satpam,si abang tukang bakso masih ragu untuk memasuki rumah mewah didepannya.


"Benar,ayo masuk." satpam membawa abang tukang bakso menuju tempat Jason dan Jesy duduk.


"Abang tukang bakso,mari-mari sini Jesy mau beli🎢."Jesy memanggil tukang dengan bernyanyi,membuat tukang bakso dan satpam tertawa.


"Abang jangan pedas ya." kata Jesy,dan air liurnya sudah ingin jatuh,mencium harum kuah bakso.

__ADS_1


"Ya neng.." jawab tukang bakso.


Setelah selesai meramu bakso pesanan Jesy,abang tukang bakso memberikan baksonya kepada Jason dan Jesy.


Johandy dan Dina keluar menuju tempat bakso,setelah mendapatkan pesan lewat handphone dari Jason.


"Bang baksonya jangan pakai mie,dan saos." kata Johandy kepada abang tukang bakso,Johandy duduk disebelah Jason.Melihat bakso yang dimakan Jason,membuat Johandy menelan ludahnya saking berseleranya melihat bakso punya Jason.


Setelah pesanannya tiba,dengan lahap Johandy menyantapnya.


Dina menatap Johandy dengan heran,karena tidak biasanya Johandy mau bakso.Apalagi bakso yang dorong,karena tidak terjamin kebersihannya menurut Johandy.


"Honey,lambat sekali makannya." Johandy melihat bakso yang dimakan Dina masih banyak,sedangkan punya Johandy hanya tersisa kuahnya.


"Masih kenyang,tadi dipesawat makan cemilan." kata Dina.


"Sini untuk mas makan saja,mubazir jika dibuang." Johandy menggeser mangkok bakso Dina menjadi kehadapannya,sebelum dijawab oleh Dina.


"Mas ini lapar apa doyan sih?" heran Dina melihat kelakuan suaminya.


"Doyan.." jawab Johandy masih asyik dengan baksonya.


"Bang satu lagi seperti yang tadi." Johandy menambah pesanan baksonya lagi.


"Dad,tidak dikasih makan di villa oleh mommy ya?" tanya Jason.


Dina mendelikan matanya kearah Jason,sedangkan Johandy masih tetap setia menyantap baksonya.


Jason sudah selesai dengan baksonya,sedangkan Dina karena baksonya diambil alih oleh Johandy.


Yang masih menikmati baksonya tinggal Johandy dan Jesy.


"Jesy mau tambah lagi baksonya?" tanya Johandy kepada Jesy.


"Sudah om,lambung Jesy sudah full." tolak Jesy.


"Jangan tawari lagiJesy Dad,nanti tambah bulat badannya seperti bakso." ledek Jason pada Jesy.


"Kak Jason,Jesy tidak bulat ya."


"Sekarang,dulu bulat seperti bakso." Jason menggembung pipinya mengejek Jesy.


Jesy merengut dan bibirnya manyun kedepan.


Β 


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Β 


"Mba Yanti,apakabar?" Dina memberikan pelukan kepada mba Yanti,begitu juga Yanti menyambut pelukan Dina.


"Baik Dina."


"Kenapa sendiri,Rose tidak ikut?" Dina tidak melihat keberadaan Rose menemani Yanti.


"Tadi kata ada acara dengan teman-temannya." kata Yanti mengenai Rose.


"Bagaimana keadaan mas Dika?"

__ADS_1


"Mba memberikan mas Dika kesempatan lagi Dina." ucap mba Yanti.


"Baguslah mba,bagaimana pun masih ada cinta diantara mba dan Mas Dika." ada rasa senang dalam diri Dina,bahwa orang yang pernah membantunya dulu telah mengambil keputusan yang tepat.dengan menyingkirkan egonya masing-masing.


__ADS_2