Kubawa Pergi Cintaku

Kubawa Pergi Cintaku
Epi 77. Sakit jantung


__ADS_3

**Hai readers jumpa lagi kita,baik saja semua.


Happy reading ya.


Masih lanjutkan flash back ya**.


"Paling tidak suka,melihat orang pura-pura bahagia." Suara Rose datar tanpa emosi.


"Kalau belum mengenalnya jangan beri penilaian." kata Lisa.


Rose beranjak meninggalkan kantin,dan Lisa dan David membiarkan saja Rose pergi.


"Kenapa Rose seperti itu,mana teman kita yang baik dulu?" tanya Lisa pada David.


"Aku juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu,Rose sekarang bukan Rose yang ceria dahulu."


"Kita harus membawa teman kita itu kembali,jangan sampai kita benar-benar kehilangannya."kata Lisa.


Dalam perjalanan menuju kelasnya,Rose terserempak dengan Lucia.Dia menatapnya dengan tajam.


"He murid baru jangan sok cantik ya." setelah selesai berkata,Rose menyenggol Lucia saat melewatinya.


"Siapa dia,kenapa dia membenciku?" pertanyaan berkecamuk didalam pikiran Lucia.


"Ada apa Lucia..?" Meta melihat Lucia tertegun lama didepan kelasnya.


"Tidak apa-apa.." ujar Lucia.


"Ayo kita masuk." ajak Lucia kepada Meta.


Sejak pertemuan pertama dengan Rose,Lucia berusaha untuk menghindarinya.Tapi hari inj Lucia telat pulang karena dia terlalu asik membaca diperpustakan.


"Sudah gelap..." lingkungan sekolah sudah sepi,Lucia keluar dari lingkungan sekolahnya.Di dekat gang Lucia mendengar suara orang bertengkar dan dua orang gadis sedang di aniaya.


"He...apa yang kalian lakukan..?" Lucia melihat Lisa sudah tergeletak tak berdaya dan Rose sudah bersimpuh didepan dua orang pria dengan tak berdaya juga.


"lepaskan mereka..!" teriak Lucia dengan keras.


"Ha..ha..sok jadi penyelamat." ucap pria yang membawa pukulan bisbol.


"Bram,ayo kita pergi.."


"Nanti Josh,kita nikmati dulu sipenyelamat ini." kata Bram,dengan jalan secara perlahan dia mendekati Lucia.


"Jangan ganggu dia,dia tidak bersalah." ucapan yang lirih keluar dari mulut Rose.


"Ayo Bram,jangan ganggu dia.." Josh menarik tangan Bram,tapi Bram mendorongnya sehingga Josh terjungkal kelantai.


Lucia mundur sambil memegang kayu kecil.


"Jangan dekati aku...!" teriak Lucia,tetapi Bram tidak mengubris.Dia terus melangkah mendekati Lucia.


Dia menarik Lucia dan memeluk dan mencium Lucia dengan brutal.


"Bram...jangan lakukan." Josh berusaha menghentikan Bram,tapi tidak berhasil.


"Jangan...!" Lucia terus berontak tapi tenaganya kalah jauh.


Didepan Rose,Josh,Bram memperkosa Lucia dengan kasar.Sehingga Lucia pingsan.


Setelah selesai melakukan aksi bejatnya ,Bram meninggalkan 3 gadis tidak berdaya.


Sebelum pergi diberikannya ancaman terhadap Rose.


"Ingat jangan kau usik aku lagi." ancam Bram.


"Ayo..." Bram menyeret Josh yang terpaku tidak berdaya melihat nasib tragis yang diterima Lucia.


"Lucia,bangun.." Rose merangkak mendekati Lucia yang pingsan,tapi panggilannya tidak berhasil membangunkan Lucia.

__ADS_1


"Ini salahku,jika aku tidak melaporkan nya.Dia tidak mungkin melakukan ini padamu." Rose melaporkan Bram cs kepada kepala sekolah,karena menggunakan narkotika di sekolah.


Sebenarnyanya Rose dan Bram berteman,mereka sering bertemu di club.Saat cinta Bram ditolak Rose,Bram sangat sakit hati,sehingga dia menyebarkan bahwa dia dan Rose sudah pernah tidur bersama.Dan Rose sangat sakit hati,dan dia melaporkan Bram cs.Tapi dia lupa bahwa Bram ada putra donatur tempat dia bersekolah.


"Rose.!"David tiba,setelah tadi Rose sempat memberikan pesan.


"Apa yang terjadi?" tanya David setelah melihat Lisa tidak bergerak dan Lucia dengan pakaian yang jauh dari layak.


"Bawa lucia dan Lisa kerumah sakit." perintah Rose.


David membawa Lisa dan Lucia kerumah sakit,David membawanya kerumah sakit orangtuanya,sehingga kasus ini dapat ditutupinya.


Nasib malang menimpa Lisa dan Lucia,Lisa akibat pukulan yang mengenai pinggangnya.Lisa mengalami kelumpuhan.


Sedang Lucia,setelah kejadian perkosaan itu,dia mengalami gangguan psikis.Dia tak dapat berbicara dan dia diam terus,apalagi ketika diketahui akibat perkosaan tersebut.Lucia hamil membuat jiwanya semakin terganggu.


Dan saat melahir anaknya,Lucia meninggal.


ย 


๐Ÿ–คFlash back end๐Ÿ–ค


ย 


Rose menutup album,dan membaringkan badannya.Album terus berada dalam dekapannya sampai dia tertidur.


"Aku membenci anak orang kaya." dalam tidurnya dia berucap.


ย 


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


ย 


Hari ini Jesy masuk ke asrama,sejak semalam Jesy sudah bersiap.memasukan barang-barangnya ke koper.


Jesy membuka pintu kamarnya,dan dilihat sosok yang selalu mengganggunya berada didepan pintu.


"Ada apa kak..?" tanya jesy.


"Ini obat,untuk persiapan diasrama jika dibutuhkan." Jason menyerahkan kotak obat kepada Jesy.


Jesy membuka kotak obat tersebut dan melihat bermacam-macam berada didalamnya.


"Banyak sekali kak,apa Jesy kakak suruh buka apotik di asrama?" heran Jesy melihat isi kotak tersebut.


Jason menyentil kening Jesy,sehingga Jesy mengaduh kesakitan.


"Kak Jason,nanti kening Jesy cacat kalau terus kak Jason sentil.Nanti Jesy jelek tidak ada yang mau dengan Jesy." gerutunya.


"Baguslah.." Jason meninggalkan Jesy yang masih cemberut.


"Dasar orangtua..!" seru Jesy.


"Kakak dengar ya.." suara Jason menegurnya.


Jason masuk kekamarnya,kemudian duduk dia disofa yang ada dikamarnya.Jason mengeluarkan selembar foto dan menatap foto tersebut dengan tersenyum.


"Tiga tahun,aku akan menunggumu." mata tajamnya memandang foto tersebut,kemudian dia menyimpan kembali foto itu ketempat semula.


"Besok rumah ini akan sepi,biasanya suaranya memenuhi rumah ini." Jason berbaring dan tangannya dijadikannya menjadi bantal.


Tak lama kemudian matanya mulai meredum dan napasnya mulai teratur.


ย 


๐Ÿ‚๐Ÿ‚


ย 

__ADS_1


"Sayang hati-hati diasrama ya." kata Dina kepada Jesy.


"Ya tan,jaga adik baby ya tan.." kata Jesy.


"Jesy,kalau tidak betah bilang.Biar om suruh Jason jemput." kata Johandy.


"Tidak om,Jesy harus bertahan." Jesy mengingat taruhannya dengan Jason lagi.


"Enak saja kak Jason menang nanti." batin Jesy.


"Ayo Jesy,sudah siang." kata Jason,kemudian dia mengangkat koper Jesy kedalam mobil.


"Kak Melisa belum balik ya?" tanya Jesy karena tidak melihat keberadaan Melisa.


"Belum,tadi dijemput Simon." kata Dina.


"Ayo gembul.." Jason sudah duduk dikursi kemudi.


"Sabar kak Jason." kata Jesy.


Jesy masuk kedalam mobil tapi bukan didepan disisi Jason,tapi dikursi belakang.Dia sengaja.


"Gembul,kak Jason bukan supir.Pindah kedepan." perintah Jason.


"Kak Jason,cerewet.."


Jesy pindah kekursi depan,dan wajahnya cemberut.


"Kenapa muka cemberut begitu?" saat dilihatnya wajahnya Jesy cemberut.


"Kakak nyuruh Jesy cepat-cepat,Jesy belum ketemu kak Melisa."


"Kalau nunggu Melisa,malam baru pulang." kata Jason.


"Kak Melisa kemana sih..?"


" Katanya tadi,mau ketemu mamanya Simon." kata Jason.


"Kalau kak Jason,kapan ketemu mamanya kak Rose..?" pertanyaan Jesy membuat Jason menghentikan mobilnya dengan mendadak,sehingga membuat Jesy kaget dan berteriak.


"Kak Jason,kenapa berhenti mendadak." teriak Jesy.


Jason menangkup wajah Jesy dengan kedua tangannya,sehingga muka mereka saling berhadapan.


"Kak Jason mau apa..?" Jesy gugup ditatap Jason begitu dekat,dan napas Jason terasa sampai diwajahnya.


"Ingat di otak kecilmu gembul,jangan sebut nama wanita lain dari bibirmu ini" ingatkan Jason.


"Nama Melisa juga tidak boleh..?" tanya Jesy dengan polosnya.


"Apa kau ingin menjodohkanku dengan Melisa?" tanya Jason.


"Tidak..!"Melisa kan adik kak Jason."


"Aku tidak ingin dengar,kau ingin menjodohkan diriku dengan siapapun."


"Ya kak.." suara Jesy lirih.


Jason mendekatkan bibirnya kekening Jesy,dan mengecupnya.


"Ingat kecupanku ini di asrama." Jason melanjutkan perjalanannya kembali,dilihatnya Jesy terdiam duduk dengan kaku setelah menerima ciuman dikeningnya.


Jesy tak berani menatap Jason dan jantungnya berdebar-debar.


"Apa aku sakit jantung." pikirnya,setelah jantungnya berdebar dan badannya lemasnya.


***Bersambung


Happy reading readers๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜๐Ÿ’˜***

__ADS_1


__ADS_2