
Suasana terasa sunyi menenangkan. Angin yang berhembus dari balik jendela. Menemani seseorang kini sedang terpuruk.
Mira semakin menyalahkan dirinya. Kenangan yang mampu membuat dirinya kembali terjatuh. Semakin Mira mengingat kenangan itu semakin hancur hati nya.
"Kenapa mimpi itu membuat ku mengingat kenangan lama yang justru ingin kulupakan ?" Tanya Mira kepada dirinya.
Mira mengingat dengan jelas kenangan masa kecilnya. Kenangan saat itu....
(Flasback 9 tahun yang lalu...)
Terlihat Mira sedang menangis tertunduk. Dia sedang berada di rumah sakit menunggu kabar dari dokter.
Mira menyesal andaikan saja dia tidak memutuskan untuk keluar pasti saat ini semua baik baik saja. Mira sungguh menyesal karena dirinya kini adiknya terluka.
"Maafkan kakak Ryan... "
Mira mulai mengingat kenangan bersama adiknya. Tertawa, menangis, dan kesal karena hal sepele.
"kumohon jangan ambil adikku... "
Hanya Ryan yang selalu untuknya. Dikala sedang sedih Ryan selalu datang menghibur dan masa kala ketika tertawa bersama.
"*Ku**mohon biarkan adikku bersama denganku lebih lama lagi. kumohon... "
"Bertahanlah Ryan adikku*... "
Air mata mulai mengalir membasahi pipi Mira. Dia memeluk dirinya berusaha untuk tegar. Sekali lagi dirinya meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Mira tersenyum menyembunyikan luka.
Tapi takdir berkata lain.
Adiknya kini telah pergi meninggalkan dirinya bersama kenangan.
"Dan ini adalah salahku... "
Terdengar tangisan mengema di ruangan. Mira, ayah dan ibunya larut dalam kesedihan.
Tapi ayah Mira datang dan.
PLAK...
Dia menampar pipi kecil Mira. Mira memegang pipinya yang terasa berdenyut. Mira melihat wajah ayahnya. Dendam dan benci menggambarkan ekspresi ayahnya.
"APA KAMU PUAS. KINI SATU SATUNYA PENGHALANG BAGIMU TELAH PERGI. BENAR BUKAN SELAMA INI KAMU MEMBENCI RYAN PUTRAKU. KERENA SELAMA INI SAYA LEBIH MENYAYANGI RYAN. INIKAN YANG KAMU HARAPKAN. BENAR BUKAN!!!"
Maki terdengar Mira hanya bisa menundukkan kepalanya. Sungguh hatinya benar benar hancur adiknya telah pergi dan kini ayahnya dengan tega menyalahkan semua kepadanya.
Tapi bukankah itu adalah kenyataan nya. Semua ini memang salah nya. Harusnya dia menerima saja semua perlakuan itu.
Tapi bukankah dirinya juga berhak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Mira menatap ibunya meminta penjelasan.
DEG....
Mira semakin hancur tak kala melihat wajah ibunya. Seolah ibunya juga menyalahkan dirinya.
"jadi begitu... "
Mira mengepalkan kuat tangannya menerima perlakuan ayahnya. Seolah tanpa hati ayah Mira memukul, meninju, dan bahkan membanting tubuh kecil Mira.
Tidak hanya itu ayahnya terus saja memberi umpatan kotor kepadanya. Sekalipun kepala sudah mengeluarkan darah sekalipun bibirnya sudah berdarah tidak ada rasa simpati sedikit pun.
Pada akhirnya Mira hanya bisa pasrah menerima semua ini.
__ADS_1
Mira terjatuh semua terasa gelap. Darah bercucuran dari kepalanya. Tidak ada cahaya yang terlihat sedikitpun. Tubuhnya sudah mati rasa terasa sangat ringan.
Mira menutup mata air mata yang mengalir tanda rasa sakit hati nya. Kini penyesalan akan selalu membayangi kehidupan nya. Hingga akhirnya Mira kehilangan kesadaran.
"Maafkan kakak Ryan... "
Mira membuka mata. Ia kemudian berusaha untuk duduk. Mira memegang kepalanya yang terasa pusing. Mira mendengar suara berisik dari luar.
"Apa yang terjadi di sana ?" Tanya Mira.
Mira berusaha berjalan dan membuka pintu. Terlihat orang orang berlalu lalang begitu saja. Mira merasa heran bagaimana mereka bisa di sini. Dan alasannya apa.
Mira kemudian melihat bendera kuning di meja. Kini Mira mengingatnya. Ini pasti adalah acara
pemakaman adiknya. Mira berlari menuruni tangga walaupun rasa sakit menghantam.
Mira tidak ingin melewatkan pemakaman Ryan. Tapi sayangnya dirinya terlambat adiknya sudah dimakamkan. Dan dirinya kini sudah terlambat.
Mira menangis dan berlari menuju kamarnya. Dia mengunci pintu. Mira menutup mulut berusaha menahan tangisnya. Kenapa orang tuanya tidak menunggu dirinya.
Tapi hasilnya sia sia air mata ini lolos tanpa izinnya.
Mira memukul dadanya yang terasa sakit. Mira menyalahkan dirinya.
Beberapa hari kemudian....
Kini hidup Mira bagaikan neraka. Tubuh Mira di penuhi oleh lebam dan luka. Bahkan Mira telah berhenti sekolah. Dia terus dikurung di rumah tidak sekalipun diizinkan keluar.
Ayahnya tidak henti henti menyiksa Mira. Setiap hari dirinya selalu disiksa tanpa ampun. Dipukuli, ditinju, ditampar dan dicaci maki.
Bahkan Mira tidak diberi makan secara layak. Bahkan ibunya sendiri sudah tidak peduli lagi. Walaupun Mira disiksa di depan matanya tidak terbesit sedikitpun untuk menolong.
Dia selalu saja memegang foto Ryan.
Mira menangis memeluk dirinya. Kini hidupnya sudah benar benar hancur. Baik luar dalam tidak ada yang tersisa. Perlahan lahan hatinya mulai mati rasa.
Hingga akhirnya....
Suatu pagi Mira terlihat tengah menyiapkan sarapan.
Hari ini ayahnya akan pulang besok. Jadi Mira bisa beristirahat dari semua perlakuan ayahnya.
Terlihat dengan telaten Mira menyuapi Ibunya. Semenjak kematian Ryan ibunya menjadi depresi. Dia tidak mau melakukan apapun. Termasuk untuk makan.
Tapi tiba tiba
PRANG...
Ibunya tiba tiba melemparkan piring. Mira terkejut melihatnya kenapa ibunya menjadi seperti ini.
"Pergi.. " Perintah Ibu Vira.
"Tapi bu... setidaknya ibu makan terlebih dahulu " Bujuk Mira.
Tapi bukannya mendengar mamanya justru menampar Mira.
Mira memegang pipinya yang terasa sakit. Air mata ini selalu lolos begitu saja.
"Kenapa mama menampar Mira " Tanya Mira.
Mira tentu saja syok atas apa yang terjadi. Selama ini mamanya tidak pernah sekalipun berlaku kasar kepadanya.
__ADS_1
Tapi hari ini....
"SAYA MENYESAL TELAH MELAHIRKAN KAMU. ANDAI SAJA SAYA TIDAK MELAHIRKAN KAMU MUNGKIN PUTRAKU TIDAK AKAN PERNAH PERGI!"
DEG....
Kini bahkan mamanya juga turut menyalahkan dirinya. Mira mengepalkan tangannya dengan kuat.
"SELAMA INI KAMU HANYA MENJADI BEBAN UNTUKKU. LIHAT APA YANG KAMU PERBUAT. KAMU TELAH MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI. LEBIH BAIK KAMU MATI!!!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong. Mamanya juga menyalahkan dirinya. Apa mamanya tidak mengerti apa yang sudah dirasakan olehnya.
Dipukul, dihina, di larang bersekolah, tidak di beri makan dan bahkan tubuhnya sudah di penuhi oleh luka lebam.
Apa mamanya tidak berusaha mengerti perasaannya. Dia juga sama sama terluka.
"LEBIH BAIK KAMU MATI!!! " (Mama Vira)
"Stop.. "
"Apa mama perna memikirkan perasaan Mira. Ma.. Mira juga sedih, Mira juga hancur. Mira telah kehilangan seseorang yang Mira sayangi. Dan bahkan Mira bahkan menerima semua perlakuan ayah. Tapi mama dengan mudahnya menyalahkan Mira Juga "
"JIKA BEGITU LEBIH BAIK MAMA BUNUH MIRA!!!"
Mira memukul dadanya. Mira berteriak mengeluarkan semua yang selama ini dirinya pendam.
Mama Vira yang melihat hal itu menjadi syok. Mama Vira akhirnya menyadari perbuatan nya. Tidak seharusnya dirinya ikut menyalahkan Mira. Mira tidak bersalah.
Mira hanya korban disini.
Mama Vira bangun dan memeluk putrinya.
"Lepas... "Tangis Mira.
"Maafkan mama Mira. Maafkan mama... " Maaf mama Vira mengelus rambut putrinya.
Tapi tanpa diduga ayahnya datang dan langsung menampar Mira.
Lagi lagi dan lagi pipinya mendapatkan tamparan. Tapi perbedaannya kini rasa sakit itu mulai menghilang.
Mira berlari dan mengunci pintu kamar nya. Mira menangis dan berteriak. Sudah cukup dirinya mendapatkan perlakuan ini. Sudah cukup.
"Lebih baik kamu mati "
Kata kata itu membayangi pikiran Mira.
Bukankah lebih baik Mira ikut menyusul Ryan. Ya itu jauh lebih baik.
Mira kemudian mengambil pisau karter di lacinya. Dia sudah menyerah dengan semua ini.
Air mata yang terjatuh menandakan sudah banyak luka yang dirasakan oleh Mira.
Mira menyayat pergelangan tangannya. Terlihat warna yang begitu indah keluar. Entah kenapa walau terasa sakit Mira justru menikmati nya.
Mira mulai kehilangan kesadaran. Mira menutup matanya.
"Selamat tinggal... "
(Flasback berakhir)
BERSAMBUNG...
__ADS_1
THANK YOU 💕💕💕