
"Hah...? "
Aku terkejut dengan apa yang telah dilakukan oleh Kevin. Dia mengunci pergerakan ku dan berdiri tepat menghadap ku. Dapat kurasakan nafasnya yang memburu mengenai wajahku.
"Tunggu dulu, apa yang kamu lakukan ?" tanyaku setenang mungkin.
Sebisa mungkin aku berusaha bersikap tenang walaupun jantung ku terus berdetak tidak karuan.
Orang ini benar benar sulit ditebak tingkah lakunya.
Tapi kemudian entah kenapa sepersekian detik matanya menunjukkan ekspresi serius. Suasana yang tadinya canggung berubah dalam sekejap.
"Ada apa ?" tanyaku.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu terhadapku ?" tanya Kevin.
Aku memejamkan mataku untuk sesaat. Bohong jika aku bilang tidak tapi sayangnya sekarang bukanlah waktu yang tepat.
"Aku selalu merasakannya, aku telah jatuh cinta kepadamu jauh sebelum kamu mencintaiku, Kevin Derdirio aku mencintaimu..."
"Tidak, aku tidak merasakan apapun " jawabku dengan datar.
Kevin melihat mataku dan kemudian menghela nafas. Terlihat wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa.
"Sepertinya aku harus lebih keras lagi untuk mendapatkan mu, entah sampai kapan aku harus berjuang tapi ingatlah satu hal Ami, aku mencintaimu..."
"I love you..." ungkap Kevin kepadaku.
Aku tertunduk mendengar semua ini. Ada rasa senang dihatiku tapi disaat yang sama aku juga merasakan sesak.
Sesak atas kebohongan yang selama ini telah ada. Tapi apalah daya semua sudah terjadi tidak ada lagi gunanya menyesali semua ini.
"Maafkan aku..."
Malam harinya...
Aku memecah keheningan malam dengan mobilku. Seperti yang sudah direncanakan oleh Kevin, hari ini kami akan menyelesaikan semua ini.
Tidak butuh waktu lama untuk ku sampai, dapat kulihat Kevin sudah menunggu ku. Aku berjalan menghampiri nya dengan sesantai mungkin.
"Dia ada di sana..."
Aku menyadari keberadaan nya sepertinya dia sedang mengawasi ku. Entah sudah ke berapa kalinya aku diawasi.
"Maaf membuat kalian menunggu lama " sapa ku.
"Tidak perlu basa basi langsung saja ke intinya! " tegas Indri.
Aku memandang wajah Kevin untuk mendapatkan persetujuan. Kevin yang melihatnya memberiku tanda.
"Baiklah..."
"Akan kukatakan siapa yang mengambil fotomu secara diam diam tapi kuharap kamu bisa bersikap tenang " ingat ku kepada Indri.
"Iya..." jawab Indri.
"Dia adalah Klara..." (Mira)
BRAK...
Dengan kesal Indri memukul meja, dapat kulihat rasa kesal yang dirasakan oleh nya. Tapi tiba tiba saja...
"Darah yang menetes..."
Aku memegang kepalaku yang terasa pusing. Kevin yang melihat keadaan ku kemudian bertanya.
"Ada apa ?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Dia kembali..." jawabku dengan sedikit lirih.
Tik... Tik...Tik...
Suara genangan itu kembali menggema di seluruh kepala ku. Sebisa mungkin aku menahannya.
"Mau kemana kamu ?!" teriak Kevin tak kala melihat kepergian Indri.
Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami berdua berlari mengejar Indri.
"Jangan sampai lolos! " teriak Kevin.
"Jangan menghalangi ku! " teriak Indri dengan perasaan kesal.
Dapat kulihat rasa kesal yang begitu mendalam tapi sayangnya orang itu bodoh bisa bisanya dengan mudah masuk ke dalam jebakan.
"Mira! "
Dengan cepat aku mengambil posisi dan kemudian...
BRUGHH...
Akhirnya kami bisa menangkap pelaku yang sebenarnya!
Aku mengunci pergerakan tubuhnya tepat seperti apa yang telah kami rencanakan. Dia pasti akan datang!
"Lepaskan! " berontak nya.
Indri yang melihat semuanya hanya bisa duduk tidak percaya. Ternyata semua ini telah direncanakan.
"Fiuh... akhirnya berakhir juga..." ucap Klara keluar dari persembunyiannya.
"Kamu! " teriak Indri tidak percaya.
"Hah...?!" gerutu Klara.
Kevin datang menghampiri ku dan kemudian mengambil alih tubuh gadis ini. Kemudian kami semua pergi menuju suatu tempat.
Di dalam perjalanan...
"Lepaskan aku! " berontak gadis ini.
Aku melihat wajah Indri. Walaupun pelakunya sudah tertangkap tapi sepertinya hal itu tidak membuat Indri tenang.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi ?" tanya Indri dengan gugup.
"Kamu akan tahu nanti, tunggu saja..." jawab Kevin.
Setelah memakan waktu yang cukup lama akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Terlihat sebuah lapangan kosong terlihat.
Aku dan Klara mempersiapkan segalanya sedangkan Kevin menjaga gadis itu. Setelah selesai kami mendudukkan gadis itu di sebuah kursi.
"Duduk kan dia di sana! " titah ku.
Mendengar hal itu Kevin mendudukkan gadis tersebut di sana. Kami membuka topeng yang selama ini terpasang.
Indri yang melihat nya terkejut tidak percaya. Tapi lain halnya dengan aku, Klara dan Kevin. Kami justru merasa bingung dengan tanggapan Indri.
"Kenapa...?" tanya Indri.
"Maafkan aku Indri ini hanya salah paham saja...!" (Lili)
"Kamu, kamu, siapa kamu, kenapa kamu meneror hidupku, kenapa tidak ada seseorang yang mengerti ku, kenapa, kenapa semua orang sama saja, kenapa...?" (Indri)
Indri terus berteriak seperti orang gila, tidak kami sudah menyadarinya.
"Mereka berdua sama sama gila..."
__ADS_1
Kami hanya terdiam menyaksikan semua nya. Tidak ada salah satu pun dari kami yang berniat menghentikan drama ini.
Di tengah keributan mereka berdua kami justru merasa nyaman. Sepertinya kami memang sudah gila.
Bisa bisanya kami justru menikmati pertunjukan kedua orang gila ini.
"Hei, apa yang rencana mu selanjutnya ?" tanya Klara.
"Tunggu saja " (Kevin)
"Tunggu dulu, jangan bilang kamu tidak memiliki rencana selanjutnya! " (Klara)
"Ternyata kamu peka juga..." (Kevin)
"Apa! " (Klara)
Terlihat Klara tidak percaya akan apa yang telah didengar oleh nya. Walaupun sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama.
Tapi sepertinya ini baru saja dimulai...
Aku, Kevin dan Klara berdiri melihat apa yang telah terjadi. Mereka berdua sudah di luar kendali. Dan sepertinya pertunjukan sudah berakhir.
Kami sempat kesulitan menghadapi mereka berdua. Tapi sialnya mimpi itu kembali menyerang ku dan Klara.
Pada akhirnya kami berdua tidak sadarkan diri...
"Hei bangun! "
Tik...
"Hei bangun! "
Tik...
"Hei bangun "
Tik...
"Hei bangun"
"Bangunlah! "
Aku membuka mataku dan terkejut atas apa yang telah terjadi. Terlihat Kevin panik dengan keadaan ku.
"Hah... syukur lah kamu sudah sadar..." ucap Kevin sambil memelukku.
Aku memegang kepalaku yang terasa pusing, dapat kurasakan darah segar mengalir dari kepalaku.
"Apa yang sebenarnya terjadi..."
Kini pertanyaan itu memenuhi benakku.
Aku melihat sekitar dan sialnya mereka sudah tidak ada. Aku menatap Kevin meminta penjelasan.
"Mereka berhasil kabur..." (Kevin)
"Kenapa kamu tidak mengejarnya ?!" (Mira)
"Bagaimana bisa aku meninggalkan kalian berdua! " (Kevin)
Aku terdiam sesaat, kemudian aku melihat ke arah Klara. Dia sedang tidak sadarkan diri untuk saat ini.
Aku dan Kevin kemudian memutuskan untuk pergi mengejar mereka berdua. Tapi entah kenapa perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Sial..."
BERSAMBUNG....
__ADS_1
THANK YOU 🖤🖤🖤🖤