
Kendatipun kulitnya merah terbakar matahari, dia tetap saja tampan. Bisa kubayangkan sepuluh tahun lagi badannya yang kurus akan berubah di penuhi otot.
Kulitnya akan jauh lebih gelap daripada sekarang dan tentu saya senyumannya akan jauh lebih bercahaya sekaligus berbahaya.
Mungkin Dave akan jadi atlet sepak bola
atau mungkin atlet renang. Dave akan terlihat sangat berkilau dalam siraman cahaya matahari.
Omong - omong tentang matahari, dalam
mimpi ini sama sekali tidak terlihat sosok matahari, bahkan di balik awan pun tidak ada.
Seolah Alam memancarkan cahayanya sendiri, tidak terlalu terang, namun Tegal janggal. Kurasa Dave lupa memimpikan matahari.
"apakah besok kau akan datang lagi dan bercerita padaku?"
"ya, besok tapi jangan mimpi badai lagi.
Aku benci badai.? Dalam hati aku menambahkan, " Aku juga benci banjir, dinosaurus, dan semua yang membahayakan.
"janji?" Dave mengacungkan jari kelingkingnya. dasar anak kecil.
"Janji."
Aku terpak6 mengikuti caranya berjanji. jari
kelingking kami saling terkait. Dave tersenyum. senyum khas yang hanya dimiliki oleh anak kecil yang masih polos.
"senyum polos penuh kabahagiaan.?
Seberkas kabut menyusup di antara aku dan Dave. perlahan meluas hingga membungkus semua alam mimpi.
Sosok Dave terlihat samar dan akhirnya menghilang. semuanya menghilang dan di gantikan oleh deretan perabot yang sangat ku kenal.
__ADS_1
Lemari bercermin lebar di dinding sebelah kiri, tumpukan buku pelajaran yang saling tumpang - tindih tidak beraturan di dinding sebelah kanan, dan seperangkat audio set kebanggaan ku di dinding depan, persis bersebelahan dengan. pintu kamarku yang terkunci rapat.
...****************...
" Hei bangun,!" Lisa menggedor - gedor pintu kamarku dengan ritme mudah di bapak 1,2...,. 2,3....
" Iya, Mom....," aku menjawab tepat setelah hitungan ke - 3 gedorannya berhenti, tapi Lisa masih berkoar tentang aku.
Yang akan terlambat kuliah dan sarapan yang hampir dingin. Aku melirik jam Beker di atas meja. pukul 08.30. Bagus. Tidak bisakah satu hari saja dalam hidupku aku akan tepat waktu pada kegiatan yang di mulai sebelum jam sebelas siang.?
Tidak ada waktu untuk berkeluh kesah. Tanpa pikir panjang aku melompat berdiri, tapi sesuatu pada kakiku membuatku jatuh terguling menghantam lantai dengan dahi sebagai tumpuan.
Jeritan pilu bergema, menyeruak keluar dari kamarku sehingga membuat seisi rumah berlari ke atas kemudian mengetuk keras pintu kamarku.
sebuah pemikiran mengerikan berkelabag di dala. kepalaku.
"TIDAK!!!!!!"
Tidak ada lagi suara ketukan. pada hitungan ke 3 pintu kamarku terbuka.
Samuel dan Jacob berhasil mendobraknya
dalan satu dorongan .Lisa bergerak lincah di antara mereka lalu menghampiriku
"Yobel, kau tidak apa - apa sayang.??
Tangan halus itu meraihku, membalikan
tubuhku.
Dan memeluknya erat. Bengkak dahiku tertempel kuat di dadanya, tapi tetap saja sakit. Aku mengasuh, " awwwww....."
__ADS_1
" Apa yang terjadi? Sam bertanya.
Sementara itu Jacob memeriksa jendela kamarku sambil berharap dapat menemukan orang asing yang berniat mencederaiku.
Tentu saja mustahil. Kamarku ada di lantai dua dengan daun jendela yang tertutup rapat.
"Apa yang terjadi, sanyang? Apakah mimpi buruk lagi?" Lisa mendapatkan jawaban dalam kebisuanku.
"Seberapa buruk?" suaranya melemah. Lisa ikut merasakan kepanikan ku. Tangannya gemetar.
Samuel dan Jacob diam menunggu.
Aku menghentakkan kaki dengan panik.
"Putri duyung ! Kakiku berubah menjadi ekor duyung!"
Lis menatapku ngeri. Sam membeku sejenak, kemudian bersama - sama
dengan Jacob menarik bed cover dan selimut
yang terlilit pada bagian bawah tubuhku.
Berhasil. semua lilitan kain itu lepas. Jacob melemparkan ya begitu saja ke salah satu sudut ruangan, lalu aku melihat ke bawah.
Disana ada kakiku, masih tetap terbelah dua sebagaimana mestinya, kaki manusia.
...****************...
__ADS_1
...****************...