
Aku membaringkan tubuhku dengan nyaman. Kini aku hanya perlu memikirkan cara untuk memberitahu nya saja.
Brangkas data itu berisi foto foto pribadi Indri, ternyata benar Lili tidak pernah membiarkan dirinya sendiri. Bahkan tersimpan foto foto yang tidak seharusnya.
Tapi jika dipikir-pikir ternyata tidak sesulit dugaan ku. Lalu kenapa mimpi ini justru meneror hidupku.
"Ini terlalu mudah..."
Jika begitu selama ini wajah polos itu hanya topeng belaka. Dia memanfaatkan wajahnya yang terlihat polos untuk menipu semua orang.
"Hebat sekali..."
Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang setidaknya untuk saat ini.
Ke esokan harinya...
Aku berlari menuju kelas tak kala mendapatkan kabar dari Kevin. Berani nya orang itu melukai seseorang yang berharga bagiku.
"Berhenti! " teriak ku tak kala melihat Fina yang sudah hampir kehabisan nafas.
Aku mendapatkan kabar bahwa Indri tiba tiba saja datang dan mencekik leher Fina. Sontak saja hal itu membuat ku khawatir.
"Apa yang telah kamu lakukan! " ucapku dengan nada tinggi.
Tapi bukannya menjawab dia justru kembali berusaha mencekik Fina. Tapi sayangnya kali ini tidak akan kubiarkan.
Peletak...
Dengan gesit aku berhasil mematahkan tangan nya. Terdengar suara rintihan terdengar. Aku menatap Indri dengan tajam.
"Sekali lagi kutanyakan, apa yang kamu lakukan ?!"
"Aku hanya sedikit bercanda saja...' jawabnya dengan nada yang begitu lirih.
Pele...tak...
Aku tersenyum mendengar jawaban darinya dan membuat ku semakin bersemangat untuk melakukan nya.
Peletak...
"Ahkk...! " Terdengar teriakan rintihan nya semakin keras.
"Jawab aku dengan benar Indriani! "
"Baiklah, tapi kumohon lepaskan tanganku dulu..."
"Awas saja jika kamu berani menipuku! "
Aku melepaskan tangannya tapi sebelum itu dia harus...
Peletak...
Aku kembali mematahkan tangan nya sebelum benar benar melepaskan nya. Terlihat semua orang ketakutan atas apa yang telah ku perbuat.
Tapi sialnya Indri berusaha menipuku dengan melarikan diri tapi untungnya Kevin berhasil menghadang.
"Lepaskan! " teriak Indri.
"Akan ku lepaskan setelah urusan kita selesai..." ucap Kevin dengan datar.
"Dan kamu Ami cepat datang ke ruangan ku, kita sudah tidak punya banyak waktu "
"Aku akan menyusul! "
Setelah kepergian Kevin aku menghampiri Fina dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi entah kenapa Fina justru tiba tiba saja pergi meninggalkan ku.
Aku menatap Fina dengan heran, ada apa dengan sikapnya akhir akhir ini. Kenapa Fina seperti selalu berusaha menghindari diriku.
Aku berniat menyusul Fina tapi kemudian aku teringat akan ucapan Kevin. Aku pun mengurungkan niatku dan memilih pergi menemui Kevin.
__ADS_1
Aku berjalan meninggalkan kelas dengan berbagai pertanyaan tentang Fina.
"Ada apa dengan nya..."
Tok...Tok...Tok...
Aku membuka pintu dan terlihat Kevin dan Indri telah menunggu ku. Aku kemudian memutuskan untuk duduk di sebelah Kevin saja.
"Apa kamu membawanya ? " tanya Kevin.
"Hmm...ini dia " jawabku sembari memberikan nya.
Kevin memperhatikan foto yang kudapatkan dengan teliti. Terlihat dia begitu serius menanggapi perihal semua ini.
Setelah itu Kevin menunjukkan foto tersebut kepada Klara. Klara yang melihatnya dengan cepat mengambil paksa foto tersebut.
Terlihat matanya berkaca-kaca dengan apa yang telah dilihat olehnya. Dapat kulihat tangannya bergetar dengan hebat.
Dia memeluk dirinya sendiri dan menanyakan bagaimana bisa kami mendapatkan foto itu.
"Bagaimana mungkin ?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Aku mendapatkan nya setelah meretas data pribadi milik seseorang " jawabku dengan santai.
"Siapa ? " tanyanya.
"Dia..." tepat sebelum aku menyelesaikan kalimat ku dengan cepat kevin memotong.
"Kamu tidak perlu tahu " jawab nya dengan datar.
BRAK...
Terlihat Indri dengan kesal memukul meja mendengar kata kata Kevin. Aku yang melihatnya tentu saja merasa kan sesuatu yang janggal.
"Katakan siapa! " bentak Indri.
Terlihat Indri seperti kehilangan akal sehatnya dia benar benar sudah gila.
Aku melihat Kevin tidak percaya, bagaimana mungkin Kevin bisa mengatakan hal seperti itu. Apa dia berniat memeras Indri.
"Apa pun akan kuberikan! "
"Jika begitu bagaimana jika kamu memberiku satu miliar dan aku akan membantu mu "
Aku semakin tidak percaya akan apa yang telah terjadi. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang ini.
"Kevin bukankah tidak seharusnya kamu melakukan hal ini " ucapku mengingat kan Kevin.
"Apa yang salah akan hal itu, lagi pula tidak ada yang gratis di dunia ini Amiradian bukankah begitu cara kita hidup " (Kevin)
Aku terdiam mendengar penjelasan Kevin, benar apa yang dikatakan nya. Aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.
"Tapi bukankah satu miliar terlalu besar ?" (Mira)
"Ku rasa tidak, perlu kamu ketahui orang tuanya memberikan dana kepada sekolah ini dengan jumlah yang sangat fantastis jadi ku rasa satu miliar adalah nominal yang kecil baginya..."
" Jadi bagaimana menurut mu Indri ? " (Kevin)
"Apa kamu berusaha memeras ku ?" (Indri)
"Aku tidak berniat memeras mu tapi hanya memberikan tawaran yang saling menguntungkan " (Kevin)
"Kalian sama saja, sama sama busuk " (Indri)
"Jadi bagaimana ? " (Kevin)
"Baiklah aku menerimanya..." (Indri)
"Baiklah jika begitu kamu harus segera mengirimkan nya " (Kevin)
__ADS_1
"Tidak perlu basa basi! " (Indri)
Dengan cepat Indri mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Terlihat dia mengeluarkan cek dan menulis nominal yang diminta oleh Kevin kemudian memberikan nya.
"Sudah selesai, tapi ingatlah jangan sekali kali berniat menipuku! " ancam Indri.
"Tenang saja..." jawab Kevin dengan santai.
"Lalu sebenarnya siapa yang telah mengambil foto ini ? " tanya Indri.
Tapi bukannya menjawab Kevin malah menulis sesuatu dan kemudian memberikan nya kepada Indri.
"Datang lah ke tempat ini, aku tidak bisa memberi tahu mu disini " ucap Kevin sambil menatap ke arah pintu.
Aku mengerti maksud Kevin, seseorang telah menguping pembicaraan kami. Begitu pun dengan Indri.
"Baiklah nanti malam aku akan datang " ucap Indri kemudian pergi.
Setelah kepergian Indri aku bertanya apa yang sebenarnya direncanakan oleh orang ini.
"Apa yang kamu rencanakan ?" tanyaku dengan serius.
Terlihat Kevin tersenyum mendengar pertanyaan yang ku lontarkan. Aku memutar bola mataku malas melihat tingkahnya.
"Menurut mu apa lagi ?" (Kevin)
"Kevin jelaskan dengan benar! " (Mira)
"Astaga ada apa dengan otak licik mu akhir akhir ini ? " (Kevin)
"Kevin Derdirio! " (Mira)
"Baiklah, aku hanya mengambil kesempatan, bukankah seharusnya kamu mencurigai seseorang yang menolong mu tanpa meminta imbalan ? " (Kevin)
"Aku tidak mengerti " (Mira)
"Aku hanya memastikan sesuatu " (Kevin)
"Apa yang kamu pastikan ?" (Mira)
"Bukankah kamu sudah mendengar kabar bahwa Indri mengalami gangguan jiwa akhir akhir ini " (Kevin)
"Hmm..." (Mira)
"Seharusnya jika orang normal tidak akan memberikan uangnya semudah ini tanpa tanda bukti yang jelas, tapi lain halnya dengan Indri, dia terlihat seperti orang yang putus asa, tanpa berpikir panjang dia dengan mudah mempercayai kita begitu saja..."
"Lagi pula aku memiliki rencana lain, sepertinya indri tanpa sadar akan membawa pelaku itu dengan sendirinya " (Kevin)
"Bagaimana mungkin ?" (Mira)
"Ada seseorang yang menguping pembicaraan kita dari awal dan itu artinya dia sudah curiga kepada kita berdua, akan sulit menangkap nya jika kita membiarkan lebih lama lagi..." (Kevin)
"Apa kamu berpikir untuk menangkap nya nanti malam ?" (Mira)
"Hmm..." (Kevin)
"Tapi bukankah itu terlalu berbahaya ?" (Mira)
"Tenang saja aku punya rencana..."(Kevin)
"Terserah tapi kuharap kamu berhati-hati " (Mira)
"Apa maksudmu, tentu saja kamu akan terlibat " (Kevin)
"Apa...? "
Kemudian dengan senyum smirk nya Kevin berjalan mendekati ku. Aku yang melihatnya tentu saja merasa waspada.
Tapi kemudian tiba tiba saja dia...
__ADS_1
BERSAMBUNG....
THANK YOU 🖤🖤🖤🖤