
Hening, gelap tapi hangat adalah sensasi yang dapat kurasakan saat ini. Aku memandang takjub sekaligus pusing. Sebenarnya berapa banyak buku yang harus ku baca!
Sudah 5 buku yang sudah ku baca tapi sialnya tidak ada petunjuk sama sekali mengenai kutukan mimpi ini.
Aku memijit kepalaku yang mulai terasa pusing, bahkan penglihatan ku terasa tidak normal, semua mulai terlihat kabur.
Brak!
Aku terkesiap saat diri ini hampir saja tertimpa beberapa buku. Tapi untungnya dengan siaga Kevin menarik tubuhku, sehingga kejadian buruk tidak terjadi.
"Terima kasih"
Aku menatap Kevin begitu lekat, bahkan sangat lekat hingga aku tidak sadar bahwa...
"Hah?"
Kevin dengan tiba tiba menutup mulutku dengan tangannya. "Diamlah, sepertinya ada seseorang yang datang" bisik Kevin tepat ditelinga ku.
Kami berdua sama sama diam membisu untuk beberapa saat. Saat dirasa orang itu sudah pergi Kevin melepaskan bekapan tangannya. "Maaf, aku hanya terlalu waspada" ujarnya.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan. Tapi tiba-tiba, entah datang dari mana sesosok seperti bayangan hitam mendatangi kami berdua!
Melihat hal itu aku langsung menarik tangan Kevin, membawanya pergi. "Ada apa?" tanya Kevin.
Aku pun berseru panik. "Entahlah, tapi sebuah bayangan hitam kini sedang mengejar kita berdua. Dan tepat dibelakang mu!"
Setelah mengatakan itu, Kevin mendongak melihat kebelakang. Benar saja sesosok bayangan hitam terlihat sedang mengejar.
Seperti tahu bahwa ini adalah sesuatu yang buruk dengan cepat Kevin memikirkan sebuah ide meloloskan diri. Kevin menggenggam tanganku dengan erat ketika dia memberi aba aba.
"Mira dengarkan aku, pada hitungan ketiga kita berbalik"
"Apa, kamu sudah gila!"
"Tidak, percayalah kepadaku"
"Ah, baiklah, kurasa otakku terasa buntu untuk berpikir"
Sialnya saat panik seluruh akal sehat ini seperti menghilang begitu saja. Ini benar benar membuatku kesal!
Kevin mulai berhitung. Dan aku itu membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat. "Satu, dua.....tiga!"
Kami berdua berbalik, dan berlari menuju bayangan hitam tersebut.
Aku menggenggam erat tangan Kevin. Saat kupikir ini adalah ide konyol tiba tiba saja....
"Belok ke kanan!
__ADS_1
Perintah Kevin membuat ku seketika melakukan manuver yang ekstrim. Sedikit saja melakukan kesalahan, dapat dipastikan aku akan menabrak rak buku ini!
Kini aku dapat melihat sebuah pintu, ini adalah ide cemerlang. Aku tidak mengetahui bahwa ternyata ada pintu rahasia!
Kami berdua berlari dengan tergesa gesa saat dirasa bayangan itu hampir saja menangkap kami berdua. Dan....
Brak!
Krek!
Aku dan Kevin akhirnya bisa bernapas lega. Untung di detik-detik terakhir kami berhasil memasuki ruangan ini dan mengunci pintu dengan rapat.
Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib kami berdua kedepannya.
Tapi tidak lama aku meruntuki kebodohan ku ini. Kenapa aku tidak menyadari bahwa semua itu hanyalah jebakan!
"Kevin..." panggilku.
Kevin menatap ku seolah bertanya apa yang terjadi.
"Lihatlah.."
Astaga ini gila, bagaimana bisa semua ini terjadi. Saat ini, kami berdua sedang berada di sebuah ruangan yang penuh dengan genangan darah!
Kevin yang sudah sadar, terkejut panik tidak terkendali hingga membuatnya mundur beberapa langkah. "Hei, Mira. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi?"
Pertanyaan yang Kevin ajukan sepertinya tidak dapat kujawab dengan sempurna. Karena aku saja tidak tahu.
"Apa? tapi bukankah seharusnya kita tidak sadarkan diri terlebih dahulu sebelum mengalaminya"
"Ya itu benar. Dan kita memang sudah tidak sadarkan diri"
Kevin menatap ku dengan tatapan bingung. "Kapan itu terjadi?"
"Mungkin saja saat kau menangkap tubuhku sebelum mengenai beberapa buku yang berjatuhan. Karena saat itu aku merasakan penglihatan yang kabur dan pusing yang luar biasa. Karena biasanya, itu adalah tanda-tanda bahwa aku akan memasuki dunia mimpi"
Kevin menghela napas setelah aku menjelaskan apa yang terjadi. "Jadi bayangan yang mengejar kita hanyalah sebuah trik untuk membuat kita berdua masuk ke dalam dunia mimpi, bukan?"
"Lebih tepatnya untuk membuat mu ikut masuk ke dalam dunia mimpi bersamaku. Kupikir butuh dorongan lain untuk membuat mu mengalami dunia mimpi atau yang kusebut dengan kutukan mimpi. Dan ingat untuk berhati-hati, karena ketika kamu terluka disini, itu artinya kamu benar benar terluka di dunia nyata"
"Baiklah, aku sudah mengerti semua yang kamu jelaskan"
Tepat ketika kami sama-sama dalam kondisi panik, tiba tiba saja dunia yang kami masuki berubah.
Lebih tepatnya kini, kami berdua berada di atap sekolah?
"Aku rasa kita sekarang berada di atap sekolah" ujar Kevin.
__ADS_1
Aku hanya mendengar penuturan Kevin dan memperhatikan sekitar. "Eh?"
Hujan turun dengan begitu deras. Kevin menarik tubuhku mencari tempat berteduh.
"Bukankah kamu bilang apa yang kita alami disini berarti juga terjadi di dunia nyata. Jadi aku tidak ingin kamu hujan-hujanan, karena aku tidak ingin kamu sakit"
Aku mendengus geli mendengar gombalan Kevin. Bisa bisanya disaat seperti ini dia malah menggombal.
Dan tidak lama kemudian terlihat sesuatu. Dari bawah sana sepertinya beberapa orang sedang berseteru hebat, dan yang lebih mengejutkan adalah bahwa yang sedang berseteru adalah aku dan Klara!
"Apa yang sebenarnya kamu rencanakan Klara, kenapa kamu begitu licik!" tanya Mira dengan penuh frustasi.
Klara tertawa kecil. "Apakah semua ini salahku? bukankah kamu yang melanggar peraturan kutukan mimpi, Amiradian?"
Dan sesuatu yang gila terjadi. Dengan kejam Klara menusuk leher Mira, hingga Mira tewas ditempat dengan bermandikan darah. "Sekarang semuanya sempurna..." Melihat Mira yang sudah tidak bernyawa, Klara tertawa puas.
Aku menutup mulut tidak percaya. Dan dari bawah sana datang seseorang.
Kevin bertepuk tangan merasa puas. Ia merangkul bahu Klara, lalu mencium kening gadis tersebut. "Kerja yang bagus..."
Dan semuanya mulai terasa kabur...
"Hah, hah, hah..."
Aku memegang leherku yang terasa sakit saat kami berdua sudah sadarkan diri. Aku menatap tajam Kevin dengan tatapan takut.
Tanpa menunggu apapun, aku berlari pergi. Kevin yang melihat, berusaha mengejar. "Amiradian, kumohon tunggu!" teriak Kevin.
Tapi kaki ini terasa sangat takut untuk berhenti. Napas yang berat dan tubuh yang bergetar ketakutan kini aku rasakan.
"Aku tidak ingin berhenti!"
Hingga...
Hap!
Kevin memeluk diriku dengan erat, tidak mau melepaskan. Sekuat apapun, sekencang apapun dan sesakit apapun karena aku pukuli, dia tidak akan membiarkan diriku pergi.
"Kumohon dengarkan aku, aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"
Aku menatap takut Kevin. "Tidak, aku tidak akan percaya!"
Dan dengan sangat kuat aku memukul dada Kevin, hingga membuat dia meringis menahan sakit.
Dia menangkap tanganku dan menatap diriku. "Amiradian, ku mohon percayalah. Bahwa aku, Kevin Derdirio tidak akan pernah menyakiti dirimu bahkan secuil pun!"
Tubuhku membeku, dan bibirku diam membisu. Dibawah guyuran hujan, untuk pertama kalinya aku merasakan takut yang luar biasa terhadap seseorang yang bernama...
__ADS_1
"Kevin Derdirio..."
Bersambung...