KUTUKAN MIMPI

KUTUKAN MIMPI
Eps 51 : Saling memanfaatkan


__ADS_3

"Hah...Hah...Hah... "


Aku terbangun dan memeriksa leherku yang terasa sesak. Mimpi itu benar benar sangat menakutkan.


Tapi kemudian aku menyadari bahwa bukan hanya aku seorang diri disini. Terlihat Kevin sepertinya sudah sadarkan diri.


Begitu pun dengan Klara yang sudah kembali normal. Kini aku benar benar sudah bisa bernafas lega.


Tapi entah kenapa aku merasa ada yang kurang, sepertinya aku melupakan sesuatu. Bukankah seharusnya ada satu orang lagi disini.


"Tapi siapa..."


"Apa yang sedang kamu pikirkan ?" tanya Kevin kepadaku.


"Aku merasa seperti ada yang kurang " jawabku.


"Apa yang kamu maksud Fina ?" (Kevin)


"Fina...? "(Mira)


"Hmm...tadi dia sempat kemari untuk menjenguk mu tapi dia tiba tiba saja pamit pergi, sepertinya dia ada urusan " (Kevin)


"Ah... sepertinya begitu..."(Mira)


"Apa hubungan kalian berdua baik baik saja ?" (Kevin)


"Tidak perlu dipikirkan..." (Mira)


Aku melihat ke arah jendela, tidak seperti biasanya Fina seperti ini. Aku mulai merasakan perubahan terhadap sikap Fina.


Aku juga mulai merasa bahwa akhir akhir ini sepertinya aku sudah jarang bersama nya. Tapi menurut ku ini lebih baik.


Aku tidak ingin melibatkan Fina dalam hal ini, aku tidak ingin dia terluka.


"Klara apa kamu tadi bermimpi ?" tanyaku.


"Sepertinya tidak... " jawab Klara dengan lirih.


"Lalu...? " (Mira)


"Aku hanya merasa, tidak bagaimana jika suatu saat nanti mimpi itu benar benar membunuh ku..." (Klara)


"Jika begitu jangan dipikirkan..." (Mira)


"Apa kamu gila "(Klara)


"Tidak, lagi pula apa salahnya jika mati lebih cepat " (Mira)


"Kamu memang benar benar gila !" (Klara)


Aku terdiam mendengar nya. Sepertinya benar bahwa aku memang sudah gila. Mimpi itu sepertinya bisa saja menjadi kenyataan.


"Apakah aku seorang pembunuh..."


Aku melihat Klara, sepertinya tidak semua mimpiku terhubung ke padanya. Mungkin hanya beberapa mimpi saja.


Aku membaringkan tubuhku, aku benar benar sangat mengerikan saat itu. Tidak bisa kubayangkan bagaimana bisa aku menjadi seperti itu.

__ADS_1


"Apa benar itu adalah aku..."


Aku memejamkan mataku membayangkan mimpi itu. Darah dan pisau, sepertinya aku pernah mengalami hal serupa.


"Ah...aku mengingatnya..."


Di awal aku bermimpi aku sering sekali mendapatkan bayangan seseorang ingin menusukku dengan pisau.


Dan darah mungkin adalah bukti penyesalanku di masa lalu. Masa dimana menjadi awal mimpi buruk ku.


Tapi yang menjadi pertanyaan besar nya apa hubungan semua ini.


Aku memandang wajah Kevin untuk beberapa saat.


"Apa mungkin aku memang harus melibatkan nya..."


Aku benar benar merasa bingung tentang apa yang harus ku pilih. Apakah aku harus...


"Jika kamu memang ingin melibatkan diriku aku tidak merasa keberatan..." ucap Kevin tiba tiba.


Aku tersenyum mendengar nya. Sepertinya dia mulai memahami jalan pikiran ku.


"Sepertinya kamu mulai memahami ku "(Mira)


"Mudah saja, cukup menjadi egois " (Kevin)


Aku tertawa senang mendengar nya. Benar sekali apa yang diucapkan oleh nya.


"Apa kamu tidak takut akan kematian ?" tanyaku.


Aku menghela nafas panjang mendengar penjelasan Kevin. Jika begitu apa boleh buat, toh dia yang memaksa.


"Aku akan menjelaskan intinya saja..."


"Intinya aku dan Klara mendapatkan suatu mimpi yang tidak biasa, dimana mimpi itu menuntun kami berdua untuk membantu seseorang lewat mimpi..."


"Tapi disinilah masalahnya, jika kami menolak dan mengabaikan mimpi yang kami dapatkan maka mimpi itu tidak segan segan untuk mencelakai dan bahkan membunuh kami..."


"Luka leher yang kami dapatkan adalah salah satunya, intinya jika kami menurutinya kami berdua akan berhadapan dengan kematian tapi jika kami menolak maka kematian adalah jawabannya..." jelas ku.


"Dan masalahnya kalian bukanlah orang yang peduli, bukan..." (Kevin)


"Sayangnya itu benar, aku bukanlah orang yang munafik, selama itu bukan urusanku maka aku tidak akan peduli..." (Mira)


"Aku mengerti, lalu apa yang kalian berdua mimpi kan ?" (Kevin)


"Hal ini berhubungan dengan perundungan yang terjadi di sekolah " (Mira)


"Di sekolah ? "(Kevin)


"Aku bermimpi bahwa si pelaku perundungan itu dibunuh oleh seseorang..." (Mira)


"Sepertinya gadis itu tidak berbohong, lalu oleh siapa ?" (Kevin)


"Si korban..." (Klara)


"Apa kalian serius...! (Kevin)

__ADS_1


"Tidak, aku sangat serius..." (Klara)


"Lalu apa yang harus aku lakukan "(Kevin)


"Saat aku mengintrogasi nya dia pernah bilang bahwa dia tidak boleh sendirian, Kevin sebaiknya jangan keluarkan dia terlebih dahulu..." (Mira)


"Bagaimana caranya ?" (Kevin)


"Kamu pikirkan saja sendiri, lagi pula kamu harus berguna, bukan ?" (Mira)


"Hmm..." (Kevin)


"Lalu bagaimana keadaan korban saat ini..." (Klara)


"Dia masih berada di rumah sakit, tapi kondisinya sudah membaik " (Kevin)


"Jadi begitu, Kevin tolong awasi..." (Klara)


"Akan ku usahakan..." (Kevin)


Aku memandang wajah Kevin, sepertinya dia memang berguna.


"Seharusnya aku memanfaatkan nya dari dulu..."


Hal ini pasti akan sangat merepotkan tapi mau tidak mau aku harus melakukannya.


"Kevin, kenapa kamu mau membantu kami berdua begitu saja ?" (Klara)


"Apa yang sebenarnya ingin kamu dengar ?" (Kevin)


"Aku mencurigaimu, bukankah Mira adalah musuh mu ?" (Klara)


"Memang benar bahwa dia adalah musuhku, tapi apakah kamu lupa bahwa dia juga adalah kekasih ku sekarang..."


"Aku tidak mau terluka, karena jika Mira terluka maka aku pasti akan merasakan hal yang sama..."


"Aku melindunginya karena aku tidak mau hatiku terluka, aku tidak mau dia pergi meninggalkan ku karena aku tidak ingin ditinggalkan..."


"Intinya aku melakukan semua ini demi diriku sendiri..." jelas Kevin.


Aku tersenyum mendengar nya.


"Astaga kamu benar benar jujur, tapi apa boleh buat justru karena hal inilah Mira tertarik kepada mu..."


"Tapi begitu lah cara kita hidup dengan saling memanfaatkan satu sama lain..."


"Tapi ingatlah jika kamu tidak berhati hati dalam menjaganya jangan salahkan aku jika aku berhasil merebut nya..." (Klara)


"Tidak akan pernah terjadi..."


Aku tertawa senang, walaupun saat ini aku merasa kesulitan tapi entah kenapa aku justru malah merasa nyaman.


"Aku berharap ini tidak akan pernah berakhir..."


BERSAMBUNG...


THANK YOU 🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2