KUTUKAN MIMPI

KUTUKAN MIMPI
Eps 48 : Terlalu banyak berpikir


__ADS_3

"Hah...!"


Aku tersadar semua hanyalah ilusi semata, semua terlihat baik baik saja. Tapi rasa sakit itu masih tersisa. Aku merasakan sakit yang luar biasa di jantungku.


Sensasinya sama seperti dalam bayangan hanya saja tidak ada darah kali ini. Aku melihat Fina yang terlihat seperti melamun memikirkan sesuatu.


Aku merasakan kaki ku sulit untuk digerakkan seolah ada yang mengganjal. Semua mulai terlihat gelap, aku menyadari mimpi itu akan kembali menyerang diriku.


Sekuat mungkin aku berusaha melawan tapi rasa sakit ini semakin terasa menyakitkan.


"Aku tidak boleh membiarkan mimpi itu kembali, setidaknya tidak untuk saat ini..."


Aku menutup telinga ku, bisikan itu terus saja terdengar. Aku tidak ingin mendengarkan nya, aku tidak mau dia kembali. Aku tidak boleh membiarkan nya.


"Tidak boleh..."


Tapi...


Tiba tiba saja terlintas bayangan dalam pikiran ku. Ada darah yang menetes, semua terlihat begitu gelap. Suara tetesan yang menggema di kepalaku.


"Darah yang menetes..."


Setelah mengatakannya bisikan itu ikut menghilang seperti tersapu oleh angin.


Rasa sakit ini perlahan mulai menghilang walau masih tersisa.


"Darah yang menetes..."


Pada akhirnya kata kata itu terus menggema dipikirkan ku mengikuti berjalannya malam.


🖤🖤🖤🖤


Ke esokan harinya....


Aku terbaring di tempat tidur ku memikirkan kejadian semalam. Kata kata itu terus saja memenuhi benakku. Apa yang ingin di sampaikan olehnya.


Aku melihat jam yang terus berdetak tiada henti.


Tapi sayangnya aku tidak dapat menemukan jawabannya.


"Ah sudahlah, aku tidak peduli..."


Pada akhirnya aku kembali melupakan hal itu, lagipula sesuai moto ku.


"Selama bukan urusan ku aku tidak peduli..."


Aku kemudian bangun bersiap pergi sekolah, tidak akan ada habisnya jika terus dipikirkan. Toh ini bukan pertama kalinya.


Aku hanya ingin hidup dengan tenang, sesuai keinginan ku.


Aku menuruni tangga menuju ruang makan. Tapi sepertinya dia tidak ada, aku menanyakannya keberadaan dirinya.

__ADS_1


"Bi..mama dimana ?"Tanyaku.


"Nyonya baru saja pergi, sepertinya keluar negeri lagi soalnya bibi liat nyonya bawa banyak barang..." jelas nya.


"Oh.. makasih bi..." jawabku.


"Sepertinya dia sedang sibuk akhir akhir ini, tapi bukankah perusahaan sedang dalam kondisi stabil, tapi kenapa dia terlihat sangat sibuk, ada yang aneh..."


Entah kenapa akhir akhir ini aku merasa ada yang aneh terhadap mamaku. Kenapa dia begitu sibuk padahal kondisi perusahaan sedang stabil.


Aku tidak pernah melihat nya sesibuk seperti ini selama hidupku. Selama ini aku memata matai kondisi perusahaan secara diam diam.


Tapi tidak ada masalah sama sekali, menurutku ada yang janggal.


Aku memijit kepalaku yang terasa pusing, seperti akhir akhir ini aku terlalu banyak berpikir. Benar benar seperti bukan diriku yang biasanya selalu santai.


Aku menghela nafas panjang dengan apa yang kupikirkan. Kenapa bukannya merasa simpati karena dia sedang sibuk tapi aku malah mencurigai nya.


Tapi jujur aku tidak sama sekali memiliki rasa simpati sedikit pun terhadap nya sekarang. Akhir akhir ini rasa simpati ku mulai menghilang.


Kenyataan nya aku hanya berpura pura peduli terhadap nya. Aneh sekali bukan, aku begitu peduli terhadap sahabat ku tapi tidak dengan orang tua ku sendiri.


Kenyataan aku merasa acuh terhadap dirinya. Aku tidak peduli sekalipun dia terluka atau pun terlibat masalah.


Seolah hubungan kami hanya seperti seorang pencipta dan barang hasil ciptaan, tidak lebih.


Aku bahkan tidak pernah menanyainya tentang bagaimana kondisi nya. Apakah sehat atau sedang sakit. Aku benar benar tidak peduli.


Mungkin karena hal itu aku jadi terbiasa tanpa dirinya dan kemudian mulai merasa tidak peduli terhadap nya.


"Sepertinya aku terlalu banyak berpikir..." batinku.


Jujur saja kini aku mulai menyadari sesuatu, biasanya aku selalu bersikap acuh. Tapi kini aku bahkan mulai memikirkan sesuatu yang dulu ku anggap sebagai hal sepele.


Tapi ternyata bisa menyebabkan sesuatu yang besar di kemudian hari.


"Sudahlah, lebih baik aku berangkat saja..."


Aku pun memutuskan pergi, hal ini jauh lebih baik dibandingkan terus berpikir sesuatu yang tidak akan ada habisnya.


Di sekolah...


Aku termenung di dekat jendela, aku selalu mengambil tempat duduk di dekat jendela. Menurut ku ini tempat yang pas untuk terkena sapuan angin.


Tapi kemudian si perusak suasana datang menghancurkan ketenangan ku.


"Mira, kamu disuruh ke ruang osis buat interogasi si pelaku perundungan..."


"Kenapa aku, bukannya itu tugas Kevin ?" tanyaku.


"Hari ini Kevin ada urusan penting sama kepala sekolah jadinya dia ngak bisa..."

__ADS_1


Aku menghela nafas mendengar hal ini. Tugasku sebagai wakil ketua osis saja sudah sangat melelahkan di tambah lagi dengan tugas si ketos ini semakin menambah beban hidup ku saja.


"Baiklah aku akan segera ke sana..." jawabku.


Aku pun dengan berat hati melangkahkan kakiku, jujur saja aku merasa heran. Kenapa akhir akhir ini banyak tugas Kevin yang beralih ke padaku.


Apa ini memang rencananya untuk menjahili ku, benar benar menyebalkan.


Aku kemudian memasuki ruangan ketua osis ini. Dapat dilihat seorang gadis tengah duduk, tapi entah kenapa aku merasakan sesuatu yang buruk terhadap nya.


Dia benar benar terlihat sangat ketakutan, aku menyadari nya. Dia adalah siswi yang terlibat perundungan saat di kantin.


"Sepertinya dia sudah membuat ulah lagi..."


"Baiklah, sebutkan nama mu ! " (Mira)


"Indriani..." (Indri )


Aku membaca laporan tentang nya. Dijelaskan dia telah mendorong seorang siswi dari tangga hingga menyebabkan dia kritis di rumah sakit.


"Benar benar nekat ya..."


"Kenapa kamu melakukan hal ini, apa kamu tidak memikirkan akibatnya ?" (Mira)


" A..ku hanya berusaha melindungi diri..." jawabnya dengan lirih.


Aku mengangkat alisku sebelah, apa yang dia maksud melindungi diri.


"Dengan cara mendorong nya hingga kritis, begitu kah ?" (Mira)


"Tidak aku tidak bermaksud menyebabkan hal ini terjadi, aku hanya berusaha untuk melindungi diri, dia tidak membiarkan ku sendiri !" (Indri)


"Apapun alasan yang kamu lontarkan tidak menutup tidak kejahatan yang telah kamu lakukan, mungkin kamu akan dikeluarkan dari sekolah..." (Mira)


Brak...!


"TIDAK, KAMU TIDAK MENGERTI, AKU TIDAK BOLEH SENDIRIAN, DIA...DIA...PASTI AKAN MENCELAKAI KU, ORANG GILA ITU INGIN MEMBUNUH KU, KU MOHON TOLONG AKU...KU MOHON..." (Indri)


Aku terkejut dengan apa yang telah dia lakukan. Kenapa dia bisa ketakutan seperti itu, tidak ini bukan ketakutan akibat rasa bersalah.


Terlihat dia menangis, siswi itu mundur beberapa langkah menyadari tindakannya. Dia benar benar terlihat ketakutan.


Aku berusaha mengatur napas ku, dia memang terlihat menakutkan saat ini.


"Tapi bukankah selama ini kamu telah melakukan perundungan terhadap nya, bagaimana mungkin aku bisa percaya dengan cerita mu, mungkin saja kamu mengarang cerita..." (Mira)


Aku melihat matanya, dia benar benar terlihat ketakutan seolah berkata...


"Ku mohon tolong aku..."


BERSAMBUNG...

__ADS_1


THANK YOU 🖤🖤🖤


__ADS_2